Jumat, 14 September 2018

Keteladanan Ibrahim dalam Evolusi 27 Tahun

 
Di kawasan kampus yang asri di kota sejuk itu kutinggalkan engkau nak, untuk memulai menapaki duniamu sendiri karena usiamu sudah cukup pantas untuk itu. Ayah tidak tahu apa yang berkecamuk dalam pikiranmu, barangkali tak jauh beda dengan yang ada dalam pikirkan Ayah 27 tahun yang lalu saat yang sama eyangmu melepas kepergian Ayah. Yang pasti kesibukanmu menyelesaikan seabreg tugas sebelum masa orientasi cukup menyembunyikan kegalauanmu. Kulihat wajahmu tenang saja waktu Ayah berpamitan hendak berangkat ke bandara untuk kembali ke Jakarta, tidak ada air mata seperti waktu berpisah dengan mama dan adikmu sehari sebelumnya. Meskipun anak sulung tapi di mata ayah kamu tetap seorang gadis kecil manja, yang masih sering minta gendong, suka gigit-gigit pundak dan suka memonopoli Ayah dari mama dan adikmu. 
27 tahun sebelumnya, aku tidak tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran orang tuaku saat melepasku untuk menapaki duniaku sendiri, di usia yang cukup pantas untuk memulainya. Yang aku ingat hanya ibu dan bapak melepasku dari rumah, tanpa pelukan tanpa air mata. Aku tahu bukan mereka tidak ingin melepasku sampai terminal bus. Seandainya memungkinkan pasti keduanya mengantarku pergi ke Jakarta dan bukan hanya kakakku yang mengantarku sampai terminal.

Bagi mereka, dan juga aku, Jakarta adalah kota yang sama sekali jangankan diinjak, dibayangkanpun belum pernah. Bisa jadi karena sedikitpun tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa sejak saat itu aku tidak pernah bersama lagi dengan keduanya sampai saat ini, tak terlihat sedikitpun kegalauan di raut wajahnya. Ya, sejak mulai kuliah di Jakarta hingga bekerja dan berumah tangga hingga saat ini saya belum berkesempatan untuk berdinas di kota asal saya. Praktis hanya liburan atau pas ada tugas saja saya bisa mengunjungi orang tuaku sejak masih sendiri, membawa (calon) istri, membawa bayi hingga anak-anakku dewasa. 
Waktu bersama anak terasa cepat berlalu bahkan banyak yang terlambat menyadarinya. Sumber : Beardo
Ayah tak pernah membayangkan begitu cepatnya waktu berlalu. Masih lekat dalam ingatan setiap detil waktu yang kujalani sejak Allah titipkan engkau kepada kami, orang tuamu. Bagaimana sejak pertama kali engkau pulang dari rumah sakit bersalin ayahlah yang berani memandikanmu, awal engkau masuk sekolah, masa-masa ayah harus meninggalkanmu, adik dan mamamu karena bertugas di luar kota, hingga tiba gilirannya engkau harus meniggalkan kami untuk kuliah di luar kota seperti ayah dulu, 27 tahun yang lalu. Ayah rasa telah cukup kita melewatkan waktu bersama, setiap detik waktu terlalu sayang untuk dilewatkan tanpa mendampingimu tumbuh dewasa. Engkau tahu ayah dan mama jarang menghabiskan waktu sekedar berkumpul dengan teman masing-masing. Engkau tahu ayah menunda membeli sepeda motor idaman demi menunggumu memiliki dunia sendiri terlebih dahulu, sebelum menekuni hobi yang tertunda. 

Kalau dulu eyangmu dulu tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ayah tidak bisa berkumpul lagi dengan mereka mungkin karena budhe dan pakdhemu semuanya kuliah (dan akhirnya sampai saat ini) bekerja masih di kota yang sama. Beda dengan kami - ayah dan mamamu - karena sama-sama perantau jadi tahu konsekuensi dan sudah mempersiapkan mental sebelumnya bahwa bisa jadi engkau akan mengikuti jejak kami, mengikuti takdir Illahi bila engkau menemukan kehidupan tidak bersama-sama dengan kami. Engkau juga mesti bersiap nak, bisa jadi kelak engkau baru menyadari ketika ayah sudah mulai kesulitan mengingat sesuatu, atau perlu engkau tuntun agar tidak nyasar berjalan. 
Sewaktu pertama kali berangkat kuliah ke Jakarta, seperti orang tuaku aku juga sama sekali tidak membayangkan bahwa sampai saat ini tidak pernah tinggal bersama orang tua lagi, dan itu sedikit banyak membentuk opini dan bagaimana cara kita memandang orang tua. Yang sangat saya rasakan adalah, selalu membayangkan kondisi orang tua masih tetap seperti waktu kita meninggalkan mereka. Padahal 27 tahun yang lalu bapak dan ibu saya masih sumuran saya saat ini.

Terus terang saya sempat merasa berat menerima kenyataan bahwa mereka sudah sepuh, sudah mulai kesulitan untuk bangkit dari tempat duduk, mulai sulit untu cepat berjalan, dan mulai kesulitan untuk mengingat sesuatu. Saya hampir menangis waktu menyadari bahwa bapak sudah sepuh dan harus saya tuntun beliau di keramaian agar tidak lepas dari rombongan waktu menjalankan ibadah umrah tahun lalu. 
Ibu, Bapak, Salma, Mama menuruni Bukit Uhud, Desember 2017
Ah, sudahlah tak perlu se-mellow itu. Waktu terus berjalan dan sunnatullah setiap orang pasti menua. Setiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Jodoh, rejeki, mati itu sudah ada garisnya. Bukankah anak itu hanya titipan, sejatinya mereka itu tetap kepunyaan Allah. Orang tua hanya menerima titipan saja, dan selayaknya orang yang diberi amanah dititipi mereka wajib menjaga sebaik-baiknya dan memberinya didikan yang baik sesuai aturan yang telah digariskan oleh si Empunya. Sekaligus memberinya bekal yang cukup untuk kehidupan si anak nantinya. Bekal itu tidak hanya berupa materi, tapi yang paling penting adalah bekal iman dan taqwa. Mudah-mudahan bekal iman yang ayah tanamkan (baik langsug maupun lewat guru sekolah dan guru ngajimu) cukup untukmu nak, hanya itu yang bisa kami beri. Selebihnya carilah sendiri. Ilmu agama tak akan pernah habis dipelajari. 

Baik-baik di sana ya nak, ayah akan sering-saring datang menengokmu. Ayahpun sebetulnya suka dengan kesejukan kota Malang, tempat 24 tahun lalu ayah PKL. Banyak tempat wisata yang belum habis ayah kunjungi, atau adventure menantang yang perlu diulang seperti bersepeda downhill di Batu dan Bromo. Bermotor trail di pasir berbisik hingga bukit telettubies masih sebatas dalam angan-angan. Ayuk aja sih kalau mau ikut, tapi Ayah tahu engkau tidak suka dibonceng pakai motor trail, seperti punya ayah yang selalu engkau bilang jelek seperti belalang itu. Kau bilang joknya terlalu sempit dan keras. (seperti apa motornya? silakan lihat di sini). Eh, ayah juga masih pengen mencoba mengulang mendaki Gunung Semeru seperti 25 tahun lalu lho... Kalau engkau mau ikut minimal ngecamp di tengah dinginnya kabut Ranukumbolo boleh juga deh. Dan rencana-rencana itu sudah tersusun rapi di agenda Ayah karena Ayah tahu persis, 'sambil menengokmu' adalah alasan manjur untuk mendapat ijin dari mamamu. Tapi jangan bilang ke mama ya... 
 
Arief 'Manyun', Ace, Budi 'Inyong', Krisna 'Abah', Ari Husna, Johanes 'Blonthang', Aku, dan Hendra di Ranupane sesaat sebelum mendaki Gunung Semeru, awal 1993

Oh iya, hari raya qurban kemarin kebagian daging enggak? pasti enggak lah ya, wong kita bukan mustahiq... Nggak apa-apa kalau nggak bisa makan daging qurban. Sewaktu-waktu engkau pengen tinggal beli saja di warung atau restoran. Karena itu akan membuat ayah dan mamamu bisa menikmati lezatnya makan enak tanpa memikirkanmu sedang makan apa di sana. Jangan samakan Ayah dengan eyangmu. Eyangmu dulu tidak pernah bisa enak makan setiap hari raya qurban karena memikirkan Ayah sedang makan apa. Eits, jangan ketawa dulu, nanti mungkin engkau pada gilirannya juga akan merasa seperti itu. 

Bicara masalah qurban, apa yang dapat engkau petik dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diikuti muslim seluruh dunia saat ini? Berqurban. Ya, berqurban. Ayah yakin engkau pasti sudah hafal di luar kepala bagaimana kisahnya. Dimulai dari ditinggalkannya Nabi Ismail AS bersama ibundanya di padang gurun tandus tanpa bekal apapun. Pasti sulit membayangkan seperti apa gurun tandus itu karena akhir tahun lalu engkau lihat sendiri sekarang sudah jauh berubah bahkan mamamu bisa belanja tas braun buffel di tempat itu. Sudah, jangan pikirkan koleksi tas mama, kita kembali ke keteladanan Nabi Ibrahim yang karena ketaatannya pada perintah Allah ta'ala terpaksa dengan berat meninggalkan anak dan istrinya. Pasti jauh lebih berat dibanding ayah harus meninggalkanmu di Malang. Setidaknya engkau tidak bertanya 'ya ayahku, apakah ini perintah Tuhamnu?' sehingga ayah tidak perlu menjawab 'ya, ini perintah Tuhanku'.

Baik-baik di sana ya nak, belajarlah untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri. Jika kehabisan bekal tak perlu engkau berlari-lari kecil antara bukit shafa dan marwa tujuh kali yang engkau tahu sendiri, jauh kan? Cukup carilah ATM terdekat. Kalau lupa PINnya ingatlah nama kedua kucing kesayanganmu, Raden Roro Dyah Ayu Kusumowardhani dan Raden Thomas Tirto Samudro. Kalau saldonya mulai menipis tinggal kasih tahu Ayah. Bila engkau lapar dan terlalu mager untuk ke warung pesan saja layanan antar atau go-food via aplikasi yang terinstall di gawaimu, itu sesuatu yang tidak bisa dilakukan Nabi Ismail dulu.

Mas'a (tempat sa'i) antara Safa dan Marwa sekarang
Bila engkau haus, tak perlulah kau menangis dan menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Sekali lagi jangan, karena engkau belum sesoleh Nabi Ismail. Alih-alih keluar air zamzam dari lantai kamar, justru itu akan mengganggu penghuni kamar kos di bawahmu. Cukuplah turun ke dapur, di sana ada dispenser air mineral. Kalau kebetulan sedang kosong tinggal ganti saja galonnya, kalau nggak kuat minta tolong mas Zaki. Pasti dia mau bantu. Percayalah sekarang semua serba mudah nak, tidak seperti kesulitan yang dirasakan Nabi Ismail. 

Jika nanti ayah datang ke Malang tanpa memberimu tahu sebelumnya, jangan deg-degan. Ayah hanya mau kasih surprise saja. Bukan datang dalam rangka menjalankan perintah Allah untuk menyembelihmu. Bukan, anakku. Tidak mungkin Allah memerintahkan Ayah seperti itu lalu menggantikanmu dengan kambing gibas. Lagipula ayah kan belum sesoleh Nabi Ibrahim untuk diuji maha berat seperti itu. Juga belum sesoleh beliau untuk diberi amanah dalam bentuk Siti Hajar dan Siti Sarah sekaligus. Uhuk... Dan jangankan disembelih, waktu kecil digigit hamster saja engkau nangis. Ingat nggak nak, akhirnya hamster peliharaan Ayah mati dibanting adikmu. Syediih... 

Terakhir, ayah akan buka satu rahasia. Tapi jangan bilang mamamu ya. Begini, duluu banget ayah pernah naksir seorang gadis adik kelas waktu SMA. Tidak perlu dijelaskan kelanjutannya wong cuma sebatas naksir saja. Nah, ayah pernah mendengar dia akhirnya melanjutkan studinya kuliah di kampus yang sama dengaanmu, Universitas Brawijaya. Jadi dia kakak kelasmu. Bisa jadi selepas kuliah selanjutnya dia menemukan kehidupannya tetap di kota ini. Dan bisa jadi suatu saat engkau tak sengaja bertemu dengannya, entah di pasar, kampung warna Jodipan, atau di CFD jalan Ijen seperti cerita dalam sinetron yang tidak pernah kita tonton itu lho. 

Kalau saja engkau bertemu dengannya, kau boleh memanggil dia 'kak' karena dia kakak kelasmu. Jangan panggil 'mbak' karena tidak ada yang namanya mbak kelas. Jangan panggil 'tante' karena dia bukan adik ayahmu, apalagi panggil 'bunda' karena.... ah sudahlah. Sampaikan salam ayah saja ya.... kalau ditanya bilangin kalau ayah sekarang botak dan gemuk. Seperti Danny De Vito. Jangan terlalu jujur kalau sebetulnya lebih mirip Vin Diesel ya.... Oh iya, katakan juga kalau ayah tengah menjalani kehidupan yang sempurna bersama engkau, mama, adik, dan kedua kucingmu.