Senin, 30 April 2018

Cerita Sabtu Sore


Aplikasi google map berwarna merah pekat pertanda kemacetan parah di seputaran stasiun Gambir, tujuan saya sore kemarin untuk mengantar si bungsu jalan-jalan bersama rombongan sekolahnya. Sebetulnya sedari pagi obrolan di beberapa WA group mengabarkan kemacetan sekitar monas yang saya sendiri kurang tertarik menyimak karena toh sudah sangat sering monas digunakan untuk show of force menghimpun massa bertajuk apapun mulai aksi solidaritas sampai pesta-pestaan mengatasnamakan rakyat. 

Hari makin sore mendekati waktu kumpul sementara dari chat si bungsu mengabarkan beberapa temannya terjebak macet. 

“Tugu Tani macet Yah… temenku ngak bergerak sudah sejam” katanya. 

Tak mau bernasib sama, segera saja kuputar otak bagaimana caranya sampai tujuan dengan cepat. Ojek? Bagaimana mungkin kami kan bertiga plus satu kopor. Busway? Selama bus Transjakarta tak bersayap pasti idem tak berdaya. Lagipula mesti naik dari mana... Kereta? Ini paling memungkinkan. Tapi bagaimana caranya, seumur umur kami belum pernah naik Commuter Line (CL). Duluuuu sih pernah sekali naik kendaraan rakyat ini waktu layanan kereta belum bereformasi dan kereta masih bernama... apa ya, saya lupa. Maklum, sudah 20an tahun yang lalu. 

Di kota lain negara tetangga semisal KL atau Singapura saya bisa dengan mudah menemukan cara bagaimana membeli tiket dan informasi tujuan dengan cepat. Tapi ini Jakarta vroh... Dengan niat agar tidak ketinggalan kereta, bismillah mobil saya belokkan ke salah satu gedung dengan tempat parkir yang memadai di depan stasiun Cikini, setelah sebelumnya tidak menemukan tempat parkir di stasiun Manggarai. 
 
"Lompat pagar saja pak, kalau pintu masuknya jauh di sana" sambil menunjuk 100 meter ke arah kiri. kata seorang Bapak berbaik hati melihat kami celingukan mencari pintu masuk.

Ah, bapak.... terima kasih atas petunjuknya. Bapak benar-benar mencerminkan orang Indonesia deh... Dalam hal ini kepedulian dan kendablegannya. Akhirnya dengan jalan sedikit memutar, tanya-tanya petugas bagaimana cara menggunakan kartu (kebetulan kami punya kartu pembayaran elektronik salah satu bank) sampailah kami di peron lantai atas. 

Begitu masuk ke dalam gerbong saya meraskan aroma modern seperti di negara tetangga. Informasi suara berupa stasiun, peringatan untuk berhati-hati dalam dua bahasa. Di dinding kereta terpampang rute stasiun jaringan CL. Hmmm…. Ndeso sekali ya saya. Seingat saya penyatuan beberapa jenis kereta menjdi CL dulu sempat diwarnai protes masyarakat tertutama mengenai besaran tarifnya. Iseng-iseng biar keliatan membaur bertanyalah saya ke penumpang sebelah, eh baru tahu bahwa kereta tidak berhenti di stasiun Gambir. Nah, malah semakin keliatan ndesonya kan? 

Dituntut bertindak cepat, kembali saya buka google map untuk tahu stasiun terdekat dari Gambir. Oke, stasiun Gondangdia yang notabenenya stasiun pertama setelah Cikini. Sampai keluar dari stasiun saya tidak juga tahu berapa tarif yang harus kami bayar untuk perjalanan tadi. Keluar dari stasiun langsung saja naik bajaj biru yang (lagi-lagi) baru pertama kali saya naiki setelah 20an tahun lalu familier dengan bajaj orange 2 tak yang suaranya aduhai itu... 

Dari cerita si abang bajaj yang masih kental logat ngapaknya, ternyata di monas diadakan pesta rakyat yang membuat kemacetan luar biasa dari pagi. Ini pula yang membuat si abang mematok harga lebih tinggi karena dari siang tidak bisa bergerak ke mana-mana. 

"Tigapuluh pak..." 

Ketika saya tanya kenapa enggak ikut pesta rakyat, kan lumayan dapat sembako sambil saya tunjuk beberapa orang berjalan kaki menenteng kardus di antara kemacetan. Kali ini sambal menebak, (tanpa mengurangi rasa hormat) toh rakyat seperti dia yang disasar penggagas acara. 

“Saya nggak mau dibodohi dua kali” ujarnya tanpa memerinci kekecewaan apa yang pernah dia dapatkan.  sayapun malas untuk bertanya menghindari obrolan yang mengarah ke politik.

"Tidak sebanding antara yang didapat dengan perjuangannya pak. Dari pagi sudah pada datang. Antre berjam-jam mana desak-desakan lagi. Bayangkan saja sampai hari gini baru bisa pulang". Di tengah kemacetan, sebagai Ayah yang baik dari dua anak generasi milenial saya memposting video untuk live di Instagram. heheheheee.... Kalah narsis deh kalian wahai anak-anakku.


Selap selip menembus macet, alhamdulillah sampai Gambir 30 menit sebelum rombongan anak masuk ke Stasiun. Turun dari bajaj langsung saja bajaj diperebutkan beberapa emak dan bapak-bapak yang bisa dipastikan peserta pesta rakyat yang tidak mendapatkan tumpangan bis seperti berangkatnya. Naik kendaraan umum juga mustahil karena sopir kesulitan menjangkau tempat itu. Merasa di atas angin, abang bajaj memasang tarif tinggi. 

"Mahal amat?" Protes emak-emak calon penumpang. 

"Lah, kan empok yang habis dapet bingkisan" jawabnya cuek sambil menutup pintu dan meninggalkan calon penumpang. 

"Ah, bingkisan apaan...." setengah menggerutu si empok terpaksa menelan kecewa. Begitu yang sayup saya sambil bergegas masuk stasiun. 

Singkat cerita, setelah sholat Maghrib dan si bungsu telah berkumpul bersama teman-teman dan gurunya, kami harus kembali ke Cikini untuk mengambil mobil. Waktu menunujukkan pkl 19.15 dan kepadatan lalu lintas mulai mencair. Kembali kami harus berebut bajaj dengan calon penumpang lain yang masih mencoba menawar ongkos barangkali mempertimbangkan cost & benefit yg diperoleh dari pesta tadi siang. 

Di perjalanan Gambir-Cikini yang masih padat merayap, abang bajaj yg (lagi-lagi) berlogat ngapak punya banyak cerita tentang apa yang dinamatkan pesta rakyat tadi. Tapi maaf, berhubung kegiatan pesta rakyat ditengarai berhubungan dengan kelompok tertentu dan rentan untuk menjadi debat, saya lebih baik mengungkap apa yang diutarakan si abang bajaj. 

Dalam perjalanan pulang setelah mengambil mobil, saya merenungi pelajaran yang telah didapat sore ini. Bagaimana berinteraksi dengan banyak orang, mempraktikkan ilmu komunikasi yang diperoleh di beberapa pelatihan, hingga mencoba beberapa moda transportasi yang sudah lama sekali saya tinggalkan dan sekaligus memperkenalkannya kepada anak yang menurut pendapatnya sebagai sesuatu yang seru. Terlebih lagi merasakan betapa pentingnya arti pembagian gratis bagi sebagian masyarakat kita meskipun kadang-kadang akhirnya kenyataan tidak sesuai dengan harapan. 

Kalau sudah begini, memang tidak ada satupun nikmat Tuhan yang pantas untuk didustakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar