Senin, 15 Januari 2018

Coba Kau Katakan Padaku


Kegundahanku belakangan ini -kalau boleh jujur- memang bersumber pada kesalahanku sendiri yang terlalu menuruti keinginan tanpa banyak petimbangan. Tapi di sisi hatiku yang lain terselip pembenaran "apa salahnya jika yang diidamkan sejak dulu tiba-tiba ada di depan mata?", toh kesempatan belum tentu datang dua kali. Pasti para motivator manajemen hebat sekelas Mario Teguh, Tung Desem Waringin hingga Naek L. Tobing akan tersenyum puas mendukung keputusanku. Atau kebodohanku. 

Semua berawal beberpa bulan lalu ketika kami, beberapa kawan (sebetulnya telah sangat lama saling mengenal) yang mulai merasa mapan dalam usia dan ekonomi, ingat ya, baru merasa… tiba-tiba makin akrab karena tersatukan oleh kegemaran yang sama. Apa lagi sih kebahagiaan dan kesempurnaan para pria, selain kalau dalam istilah jawa bila sudah memliki 5 hal yang biasa disebut sebagai wanito, wismo, turonggo, kukilo, dan curigo. 
  
Perlu penjelasan? Baiklah… wanita, wisma…. cukup jelas lah ya. Turangga, secara harfiah berarti kuda. Maksudnya pria mesti mempunyai tunggangan yang bisa mengantar ke mana-mana. Tidak harus Honda HRV, nanti malah dikira kasubdit atau kepala kantor. Tapi Honda Scoopy sudah masuk kriteria ini. Kukila, berarti burung. Pria harus punya burung. Bukan maksudnya burung dalam sangkar GT Man atau Rider, tapi burung sebagai kelangenan, hoby, atau sesuatu yang diminati. Jangan pula diartikan Minati Atmanegara, karena secara siklus hidup sudah menjelang expired. Boleh jadi golf, fotografi, koleksi miniatur, atau sepeda sebagai hobi (bukan kategori turangga). Yang terakhir curiga, maknanya keris yang dimaksud yaitu “sesuatu yang bisa diandalkan” mungkin itu berupa cadangan deposito, mertua kaya raya namun sakit-sakitan, keahlian/profesi/jabatan dan sebagainya. 

Kembali ke topik ya… perkenalanku dengannya memang berasal dari teman-teman tadi, dan saya telah kebablasan dengan salah satu efek buruk pengaruh pertemanan. Jujur saja, sosoknya pasti menjadi impian pria bahkan sejak masa akil balig dan sebagai bocah yang normal dibersarkan di era Ali Topan, sejak kecil idaman sayapun ingin memiliki yang seperti dia. Berawal dari melihat fotonya di grup WA, jumpa darat pertama membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun sudah agak berumur tapi posturnya yang ramping tinggi semampai dengan kaki jenjang saya yakin masih mampu membuat pria menatap ngiler. 

Kini secara sah dan meyakinkan dia telah jadi milikku. Dengan selembar surat yang meskipun bukan berupa sepasang buku hijau coklat terbitan Kementerian Agama namun secara hukum agama telah terjadi akad dan penyerahan mahar. Harusnya senang dong sudah bisa memiliki? Iya betul di satu sisi. Tapi di sisi lain bingung bagaimana caranya membawa pulang dan selama belum dibawa pulang dan dititipkan di sautu tempat statusnya hanya akan menjadi simpanan. Belum tentu istri saya setuju kalau saya bawa pulang. Sebagai perempuan pasti alasannya klasik, yang di rumah sudah ada. Bagaimana berbaginya, bisa adil apa tidak, dll. Sempat terbersit sedikit penyesalan mengapa dulu saya tidak minta pertimbangan istri sebelum meminangnya. Tapi mungkinkah…? 

Coba kau katakan padaku, Kawan…. Apa yang seharusnya aku lakukan? 













catatan : gambar di atas hanyalah untuk ilustrasi semata, wujud asli simpanan saya adalah sbb :