Kamis, 12 Juli 2018

Djogja, Sebuah Evolusi Kota (Bagian Setunggal)


Yogyakarta (menurut EYD), atau jika dengan ejaan lama akan tertulis Jogjakarta. Dalam percakapan sehari-hari justru ejaan lama ini (Jogja) yang sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari oleh orang luar Yogya karena wong Yogya sendiri pasti menyebut ‘Yoja’. Bagaimana dengan Djokdjakarta? Itu namanya mengeja lamakan ejaan lama yang telah lama tidak dipakai. Yang lama-lama malah semakin salah kaprah berevolusi menjadi Djokja. Ini yang sering dipakai oleh produk kekinian semisal pakaian hingga makanan yang ‘dikhas-khaskan’ sebagai produk hasil kearifan lokal. Ah sudahlah apa arti sebuah nama... yang pasti kawan akan tahu kota yang disebut di atas. Itu lho, yang mas Katon Bagaskara membuat lagu bertajuk kota ini dalam album kedua bandnya, KLa Project. 

Di masa itu, yang terlintas di benak orang gak akan jauh-jauh gudeg dan Malioboro tempat orang duduk bersila begitu mendengar Yogyakarta. Bagi saya pribadi, mungkin baru tahun 92-an mengenalnya. Ini tidak terlepas dari perkenalan saya dengan seorang sohib kental hingga sekarang yang kebetulan bernama sama, Arief. Sebelumnya, sejak kecil kunjungan saya ke Yogya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan (boleh sebelah kanan atau sebelah kiri, sama saja bro). Tahun itu pula saya mulai gemar naik kereta api untuk pulang ke kampung halaman meskipun harus nyambung bus lagi untuk sampai Wonogiri, kota kelahiran saya. Sepenggal kisah saya di Wonogiri dapat kawan baca di sini. Pengalaman tiga tahun bersekolah di Solo saya dengan cepat bisa membedakan suasana kedua kota (yang seharusnya) kembar hasil pemecahan Kerajaan Mataram Islam ini. Meski lebih kecil tapi menurut saya Yogya lebih ramai, bersahabat, dan nyaman untuk ditinggali. 
  
Saking kami berdua sulit untuk dipisahkan di mana-mana: kuliah, nongkrong, makan di warung, sholat di masjid, posko mapala, sampai jalan-jalan ke luar kota, untuk menghindarkan kebingungan Arief yang mana oleh senior kami Alm. Joko ia diberi nama Arpan dan saya Arlen. Boleh percaya boleh tidak nama ini terbawa terus sampai kini bahkan di kantorpun kami biasa dipanggil dengan nama itu. Tapi mohon maaf karena satu dan lain hal asal muasal nama jululan kami masing-masing sengaja disamarkan. 
Kenapa mulai gemar kereta api? Setidaknya ada dua sebab. Pertama, setahun merantau saya mulai merasakan bagaimana buruknya layanan bus antar kota dimana saya merasa bahwa perlakuan awak bus ke penumpang benar-benar sebagai penumpang. Yaitu orang yang numpang. Maksudnya numpang tanpa bayar, bukan sebagai konsumen yang mesti dilayani. Kedua, sohib saya itu orangnya gak bakalan mau naik bis karena dijamin akan mabok darat. Hanya kereta apilah moda tranaportasi yang ramah untuknya. Sejak jatuh cinta dengan Yogya acap kali libur kuliah saya menyempatkan barang sehari dua hari singgah di rumah Arief sekedar untuk berjalan-jalan dan menikmati masakan ibundanya yang sangat lezat. Mau naik gunung atau main ke pantai bersama komunitas, Arpan selalu membuka lebar pintu rumahnya sebagai basecamp. 

Di kala itu saya mulai tebiasa berbincang akrab dengan tukang becak, calo stasiun sampai pedagang malioboro menggunakan bahasa prokem Yogya (yang kuncinya adalah saling menukar posisi huruf ha na ca ra ka) agar disangka sebagai sesama ‘wong Yoja’ hanya untuk menawar tarif atau harga. Atau saat terjadi sedikit gesekan dengan sesama anak muda cukup dengan bilang “jape methe dab..” dan masalah selesai. Atau meminjam (dengan imbalan tentunya) gitar dari pengamen jalanan saat bersama kawan-kawan nongkrong di alun-alun utara untuk sekedar nyanyi bersama. Saat itu saya rasakan aroma persahabatan sangat kental seiring saya mulai hafal jalanan tanpa bantuan google maps atau waze. 

Yogya dulu sama seperti halnya kota lain yang 'biasa-biasa saja', kehidupan mengalir sebagaimana mestinya sebuah kota di Jawa. Kendaraan, delman, becak hilir mudik seperlunya. Denyut nadi kehidupan keraton, politik pemerintahan hingga para waria yang mangkal di pinggiran rel berjalan sebagaimana mestinya. Satu hal yang menonjol adalah statusnya sebagai kota pelajar mencirikan begitu banyaknya 'pawyatan luhur' berdiri di kota ini. Kelak status ini yang membuat perubahan signifikan wajah Yogya – setidaknya yang saya ikuti perkembangannya di media – menjadi sebuah kota yang multikultur, nyaris metropolis dan sedikit banyak aroma hedonis mulai terasa. 

Lulus kuliah tahun dan memasuki dunia kerja tahun 1995 membuat saya semakin jarang main ke Yogya terlebih setelah memasuki jenjang pernikahan di tahun 1999. Meskipun saya memperistri orang Magelang dan kondisinya mengharuskan kami setiap kali pulang mudik menuju dua kota (Magelang dan Wonogiri), Yogya hanya selintas saja kami lewati itupun melewati jalan ring road utara. Kurun waktu tahun 2000-an kemacetan mulai terasa di setiap antrian traffic light ring road membuat saya mulai memilih jalur alternatif melalui luar kota (Krasak-Prambanan) atau sekalian jalur segar Selo membelah gunung Merapi – Merbabu. 

(bersambung)

Senin, 30 April 2018

Cerita Sabtu Sore


Aplikasi google map berwarna merah pekat pertanda kemacetan parah di seputaran stasiun Gambir, tujuan saya sore kemarin untuk mengantar si bungsu jalan-jalan bersama rombongan sekolahnya. Sebetulnya sedari pagi obrolan di beberapa WA group mengabarkan kemacetan sekitar monas yang saya sendiri kurang tertarik menyimak karena toh sudah sangat sering monas digunakan untuk show of force menghimpun massa bertajuk apapun mulai aksi solidaritas sampai pesta-pestaan mengatasnamakan rakyat. 

Hari makin sore mendekati waktu kumpul sementara dari chat si bungsu mengabarkan beberapa temannya terjebak macet. 

“Tugu Tani macet Yah… temenku ngak bergerak sudah sejam” katanya. 

Tak mau bernasib sama, segera saja kuputar otak bagaimana caranya sampai tujuan dengan cepat. Ojek? Bagaimana mungkin kami kan bertiga plus satu kopor. Busway? Selama bus Transjakarta tak bersayap pasti idem tak berdaya. Lagipula mesti naik dari mana... Kereta? Ini paling memungkinkan. Tapi bagaimana caranya, seumur umur kami belum pernah naik Commuter Line (CL). Duluuuu sih pernah sekali naik kendaraan rakyat ini waktu layanan kereta belum bereformasi dan kereta masih bernama... apa ya, saya lupa. Maklum, sudah 20an tahun yang lalu. 

Di kota lain negara tetangga semisal KL atau Singapura saya bisa dengan mudah menemukan cara bagaimana membeli tiket dan informasi tujuan dengan cepat. Tapi ini Jakarta vroh... Dengan niat agar tidak ketinggalan kereta, bismillah mobil saya belokkan ke salah satu gedung dengan tempat parkir yang memadai di depan stasiun Cikini, setelah sebelumnya tidak menemukan tempat parkir di stasiun Manggarai. 
 
"Lompat pagar saja pak, kalau pintu masuknya jauh di sana" sambil menunjuk 100 meter ke arah kiri. kata seorang Bapak berbaik hati melihat kami celingukan mencari pintu masuk.

Ah, bapak.... terima kasih atas petunjuknya. Bapak benar-benar mencerminkan orang Indonesia deh... Dalam hal ini kepedulian dan kendablegannya. Akhirnya dengan jalan sedikit memutar, tanya-tanya petugas bagaimana cara menggunakan kartu (kebetulan kami punya kartu pembayaran elektronik salah satu bank) sampailah kami di peron lantai atas. 

Begitu masuk ke dalam gerbong saya meraskan aroma modern seperti di negara tetangga. Informasi suara berupa stasiun, peringatan untuk berhati-hati dalam dua bahasa. Di dinding kereta terpampang rute stasiun jaringan CL. Hmmm…. Ndeso sekali ya saya. Seingat saya penyatuan beberapa jenis kereta menjdi CL dulu sempat diwarnai protes masyarakat tertutama mengenai besaran tarifnya. Iseng-iseng biar keliatan membaur bertanyalah saya ke penumpang sebelah, eh baru tahu bahwa kereta tidak berhenti di stasiun Gambir. Nah, malah semakin keliatan ndesonya kan? 

Dituntut bertindak cepat, kembali saya buka google map untuk tahu stasiun terdekat dari Gambir. Oke, stasiun Gondangdia yang notabenenya stasiun pertama setelah Cikini. Sampai keluar dari stasiun saya tidak juga tahu berapa tarif yang harus kami bayar untuk perjalanan tadi. Keluar dari stasiun langsung saja naik bajaj biru yang (lagi-lagi) baru pertama kali saya naiki setelah 20an tahun lalu familier dengan bajaj orange 2 tak yang suaranya aduhai itu... 

Dari cerita si abang bajaj yang masih kental logat ngapaknya, ternyata di monas diadakan pesta rakyat yang membuat kemacetan luar biasa dari pagi. Ini pula yang membuat si abang mematok harga lebih tinggi karena dari siang tidak bisa bergerak ke mana-mana. 

"Tigapuluh pak..." 

Ketika saya tanya kenapa enggak ikut pesta rakyat, kan lumayan dapat sembako sambil saya tunjuk beberapa orang berjalan kaki menenteng kardus di antara kemacetan. Kali ini sambal menebak, (tanpa mengurangi rasa hormat) toh rakyat seperti dia yang disasar penggagas acara. 

“Saya nggak mau dibodohi dua kali” ujarnya tanpa memerinci kekecewaan apa yang pernah dia dapatkan.  sayapun malas untuk bertanya menghindari obrolan yang mengarah ke politik.

"Tidak sebanding antara yang didapat dengan perjuangannya pak. Dari pagi sudah pada datang. Antre berjam-jam mana desak-desakan lagi. Bayangkan saja sampai hari gini baru bisa pulang". Di tengah kemacetan, sebagai Ayah yang baik dari dua anak generasi milenial saya memposting video untuk live di Instagram. heheheheee.... Kalah narsis deh kalian wahai anak-anakku.


Selap selip menembus macet, alhamdulillah sampai Gambir 30 menit sebelum rombongan anak masuk ke Stasiun. Turun dari bajaj langsung saja bajaj diperebutkan beberapa emak dan bapak-bapak yang bisa dipastikan peserta pesta rakyat yang tidak mendapatkan tumpangan bis seperti berangkatnya. Naik kendaraan umum juga mustahil karena sopir kesulitan menjangkau tempat itu. Merasa di atas angin, abang bajaj memasang tarif tinggi. 

"Mahal amat?" Protes emak-emak calon penumpang. 

"Lah, kan empok yang habis dapet bingkisan" jawabnya cuek sambil menutup pintu dan meninggalkan calon penumpang. 

"Ah, bingkisan apaan...." setengah menggerutu si empok terpaksa menelan kecewa. Begitu yang sayup saya sambil bergegas masuk stasiun. 

Singkat cerita, setelah sholat Maghrib dan si bungsu telah berkumpul bersama teman-teman dan gurunya, kami harus kembali ke Cikini untuk mengambil mobil. Waktu menunujukkan pkl 19.15 dan kepadatan lalu lintas mulai mencair. Kembali kami harus berebut bajaj dengan calon penumpang lain yang masih mencoba menawar ongkos barangkali mempertimbangkan cost & benefit yg diperoleh dari pesta tadi siang. 

Di perjalanan Gambir-Cikini yang masih padat merayap, abang bajaj yg (lagi-lagi) berlogat ngapak punya banyak cerita tentang apa yang dinamatkan pesta rakyat tadi. Tapi maaf, berhubung kegiatan pesta rakyat ditengarai berhubungan dengan kelompok tertentu dan rentan untuk menjadi debat, saya lebih baik mengungkap apa yang diutarakan si abang bajaj. 

Dalam perjalanan pulang setelah mengambil mobil, saya merenungi pelajaran yang telah didapat sore ini. Bagaimana berinteraksi dengan banyak orang, mempraktikkan ilmu komunikasi yang diperoleh di beberapa pelatihan, hingga mencoba beberapa moda transportasi yang sudah lama sekali saya tinggalkan dan sekaligus memperkenalkannya kepada anak yang menurut pendapatnya sebagai sesuatu yang seru. Terlebih lagi merasakan betapa pentingnya arti pembagian gratis bagi sebagian masyarakat kita meskipun kadang-kadang akhirnya kenyataan tidak sesuai dengan harapan. 

Kalau sudah begini, memang tidak ada satupun nikmat Tuhan yang pantas untuk didustakan.

Senin, 15 Januari 2018

Coba Kau Katakan Padaku


Kegundahanku belakangan ini -kalau boleh jujur- memang bersumber pada kesalahanku sendiri yang terlalu menuruti keinginan tanpa banyak petimbangan. Tapi di sisi hatiku yang lain terselip pembenaran "apa salahnya jika yang diidamkan sejak dulu tiba-tiba ada di depan mata?", toh kesempatan belum tentu datang dua kali. Pasti para motivator manajemen hebat sekelas Mario Teguh, Tung Desem Waringin hingga Naek L. Tobing akan tersenyum puas mendukung keputusanku. Atau kebodohanku. 

Semua berawal beberpa bulan lalu ketika kami, beberapa kawan (sebetulnya telah sangat lama saling mengenal) yang mulai merasa mapan dalam usia dan ekonomi, ingat ya, baru merasa… tiba-tiba makin akrab karena tersatukan oleh kegemaran yang sama. Apa lagi sih kebahagiaan dan kesempurnaan para pria, selain kalau dalam istilah jawa bila sudah memliki 5 hal yang biasa disebut sebagai wanito, wismo, turonggo, kukilo, dan curigo. 
  
Perlu penjelasan? Baiklah… wanita, wisma…. cukup jelas lah ya. Turangga, secara harfiah berarti kuda. Maksudnya pria mesti mempunyai tunggangan yang bisa mengantar ke mana-mana. Tidak harus Honda HRV, nanti malah dikira kasubdit atau kepala kantor. Tapi Honda Scoopy sudah masuk kriteria ini. Kukila, berarti burung. Pria harus punya burung. Bukan maksudnya burung dalam sangkar GT Man atau Rider, tapi burung sebagai kelangenan, hoby, atau sesuatu yang diminati. Jangan pula diartikan Minati Atmanegara, karena secara siklus hidup sudah menjelang expired. Boleh jadi golf, fotografi, koleksi miniatur, atau sepeda sebagai hobi (bukan kategori turangga). Yang terakhir curiga, maknanya keris yang dimaksud yaitu “sesuatu yang bisa diandalkan” mungkin itu berupa cadangan deposito, mertua kaya raya namun sakit-sakitan, keahlian/profesi/jabatan dan sebagainya. 

Kembali ke topik ya… perkenalanku dengannya memang berasal dari teman-teman tadi, dan saya telah kebablasan dengan salah satu efek buruk pengaruh pertemanan. Jujur saja, sosoknya pasti menjadi impian pria bahkan sejak masa akil balig dan sebagai bocah yang normal dibersarkan di era Ali Topan, sejak kecil idaman sayapun ingin memiliki yang seperti dia. Berawal dari melihat fotonya di grup WA, jumpa darat pertama membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun sudah agak berumur tapi posturnya yang ramping tinggi semampai dengan kaki jenjang saya yakin masih mampu membuat pria menatap ngiler. 

Kini secara sah dan meyakinkan dia telah jadi milikku. Dengan selembar surat yang meskipun bukan berupa sepasang buku hijau coklat terbitan Kementerian Agama namun secara hukum agama telah terjadi akad dan penyerahan mahar. Harusnya senang dong sudah bisa memiliki? Iya betul di satu sisi. Tapi di sisi lain bingung bagaimana caranya membawa pulang dan selama belum dibawa pulang dan dititipkan di sautu tempat statusnya hanya akan menjadi simpanan. Belum tentu istri saya setuju kalau saya bawa pulang. Sebagai perempuan pasti alasannya klasik, yang di rumah sudah ada. Bagaimana berbaginya, bisa adil apa tidak, dll. Sempat terbersit sedikit penyesalan mengapa dulu saya tidak minta pertimbangan istri sebelum meminangnya. Tapi mungkinkah…? 

Coba kau katakan padaku, Kawan…. Apa yang seharusnya aku lakukan? 













catatan : gambar di atas hanyalah untuk ilustrasi semata, wujud asli simpanan saya adalah sbb :