Jumat, 14 September 2018

Keteladanan Ibrahim dalam Evolusi 27 Tahun

 
Di kawasan kampus yang asri di kota sejuk itu kutinggalkan engkau nak, untuk memulai menapaki duniamu sendiri karena usiamu sudah cukup pantas untuk itu. Ayah tidak tahu apa yang berkecamuk dalam pikiranmu, barangkali tak jauh beda dengan yang ada dalam pikirkan Ayah 27 tahun yang lalu saat yang sama eyangmu melepas kepergian Ayah. Yang pasti kesibukanmu menyelesaikan seabreg tugas sebelum masa orientasi cukup menyembunyikan kegalauanmu. Kulihat wajahmu tenang saja waktu Ayah berpamitan hendak berangkat ke bandara untuk kembali ke Jakarta, tidak ada air mata seperti waktu berpisah dengan mama dan adikmu sehari sebelumnya. Meskipun anak sulung tapi di mata ayah kamu tetap seorang gadis kecil manja, yang masih sering minta gendong, suka gigit-gigit pundak dan suka memonopoli Ayah dari mama dan adikmu. 
27 tahun sebelumnya, aku tidak tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran orang tuaku saat melepasku untuk menapaki duniaku sendiri, di usia yang cukup pantas untuk memulainya. Yang aku ingat hanya ibu dan bapak melepasku dari rumah, tanpa pelukan tanpa air mata. Aku tahu bukan mereka tidak ingin melepasku sampai terminal bus. Seandainya memungkinkan pasti keduanya mengantarku pergi ke Jakarta dan bukan hanya kakakku yang mengantarku sampai terminal.

Bagi mereka, dan juga aku, Jakarta adalah kota yang sama sekali jangankan diinjak, dibayangkanpun belum pernah. Bisa jadi karena sedikitpun tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa sejak saat itu aku tidak pernah bersama lagi dengan keduanya sampai saat ini, tak terlihat sedikitpun kegalauan di raut wajahnya. Ya, sejak mulai kuliah di Jakarta hingga bekerja dan berumah tangga hingga saat ini saya belum berkesempatan untuk berdinas di kota asal saya. Praktis hanya liburan atau pas ada tugas saja saya bisa mengunjungi orang tuaku sejak masih sendiri, membawa (calon) istri, membawa bayi hingga anak-anakku dewasa. 
Waktu bersama anak terasa cepat berlalu bahkan banyak yang terlambat menyadarinya. Sumber : Beardo
Ayah tak pernah membayangkan begitu cepatnya waktu berlalu. Masih lekat dalam ingatan setiap detil waktu yang kujalani sejak Allah titipkan engkau kepada kami, orang tuamu. Bagaimana sejak pertama kali engkau pulang dari rumah sakit bersalin ayahlah yang berani memandikanmu, awal engkau masuk sekolah, masa-masa ayah harus meninggalkanmu, adik dan mamamu karena bertugas di luar kota, hingga tiba gilirannya engkau harus meniggalkan kami untuk kuliah di luar kota seperti ayah dulu, 27 tahun yang lalu. Ayah rasa telah cukup kita melewatkan waktu bersama, setiap detik waktu terlalu sayang untuk dilewatkan tanpa mendampingimu tumbuh dewasa. Engkau tahu ayah dan mama jarang menghabiskan waktu sekedar berkumpul dengan teman masing-masing. Engkau tahu ayah menunda membeli sepeda motor idaman demi menunggumu memiliki dunia sendiri terlebih dahulu, sebelum menekuni hobi yang tertunda. 

Kalau dulu eyangmu dulu tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ayah tidak bisa berkumpul lagi dengan mereka mungkin karena budhe dan pakdhemu semuanya kuliah (dan akhirnya sampai saat ini) bekerja masih di kota yang sama. Beda dengan kami - ayah dan mamamu - karena sama-sama perantau jadi tahu konsekuensi dan sudah mempersiapkan mental sebelumnya bahwa bisa jadi engkau akan mengikuti jejak kami, mengikuti takdir Illahi bila engkau menemukan kehidupan tidak bersama-sama dengan kami. Engkau juga mesti bersiap nak, bisa jadi kelak engkau baru menyadari ketika ayah sudah mulai kesulitan mengingat sesuatu, atau perlu engkau tuntun agar tidak nyasar berjalan. 
Sewaktu pertama kali berangkat kuliah ke Jakarta, seperti orang tuaku aku juga sama sekali tidak membayangkan bahwa sampai saat ini tidak pernah tinggal bersama orang tua lagi, dan itu sedikit banyak membentuk opini dan bagaimana cara kita memandang orang tua. Yang sangat saya rasakan adalah, selalu membayangkan kondisi orang tua masih tetap seperti waktu kita meninggalkan mereka. Padahal 27 tahun yang lalu bapak dan ibu saya masih sumuran saya saat ini.

Terus terang saya sempat merasa berat menerima kenyataan bahwa mereka sudah sepuh, sudah mulai kesulitan untuk bangkit dari tempat duduk, mulai sulit untu cepat berjalan, dan mulai kesulitan untuk mengingat sesuatu. Saya hampir menangis waktu menyadari bahwa bapak sudah sepuh dan harus saya tuntun beliau di keramaian agar tidak lepas dari rombongan waktu menjalankan ibadah umrah tahun lalu. 
Ibu, Bapak, Salma, Mama menuruni Bukit Uhud, Desember 2017
Ah, sudahlah tak perlu se-mellow itu. Waktu terus berjalan dan sunnatullah setiap orang pasti menua. Setiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Jodoh, rejeki, mati itu sudah ada garisnya. Bukankah anak itu hanya titipan, sejatinya mereka itu tetap kepunyaan Allah. Orang tua hanya menerima titipan saja, dan selayaknya orang yang diberi amanah dititipi mereka wajib menjaga sebaik-baiknya dan memberinya didikan yang baik sesuai aturan yang telah digariskan oleh si Empunya. Sekaligus memberinya bekal yang cukup untuk kehidupan si anak nantinya. Bekal itu tidak hanya berupa materi, tapi yang paling penting adalah bekal iman dan taqwa. Mudah-mudahan bekal iman yang ayah tanamkan (baik langsug maupun lewat guru sekolah dan guru ngajimu) cukup untukmu nak, hanya itu yang bisa kami beri. Selebihnya carilah sendiri. Ilmu agama tak akan pernah habis dipelajari. 

Baik-baik di sana ya nak, ayah akan sering-saring datang menengokmu. Ayahpun sebetulnya suka dengan kesejukan kota Malang, tempat 24 tahun lalu ayah PKL. Banyak tempat wisata yang belum habis ayah kunjungi, atau adventure menantang yang perlu diulang seperti bersepeda downhill di Batu dan Bromo. Bermotor trail di pasir berbisik hingga bukit telettubies masih sebatas dalam angan-angan. Ayuk aja sih kalau mau ikut, tapi Ayah tahu engkau tidak suka dibonceng pakai motor trail, seperti punya ayah yang selalu engkau bilang jelek seperti belalang itu. Kau bilang joknya terlalu sempit dan keras. (seperti apa motornya? silakan lihat di sini). Eh, ayah juga masih pengen mencoba mengulang mendaki Gunung Semeru seperti 25 tahun lalu lho... Kalau engkau mau ikut minimal ngecamp di tengah dinginnya kabut Ranukumbolo boleh juga deh. Dan rencana-rencana itu sudah tersusun rapi di agenda Ayah karena Ayah tahu persis, 'sambil menengokmu' adalah alasan manjur untuk mendapat ijin dari mamamu. Tapi jangan bilang ke mama ya... 
 
Arief 'Manyun', Ace, Budi 'Inyong', Krisna 'Abah', Ari Husna, Johanes 'Blonthang', Aku, dan Hendra di Ranupane sesaat sebelum mendaki Gunung Semeru, awal 1993

Oh iya, hari raya qurban kemarin kebagian daging enggak? pasti enggak lah ya, wong kita bukan mustahiq... Nggak apa-apa kalau nggak bisa makan daging qurban. Sewaktu-waktu engkau pengen tinggal beli saja di warung atau restoran. Karena itu akan membuat ayah dan mamamu bisa menikmati lezatnya makan enak tanpa memikirkanmu sedang makan apa di sana. Jangan samakan Ayah dengan eyangmu. Eyangmu dulu tidak pernah bisa enak makan setiap hari raya qurban karena memikirkan Ayah sedang makan apa. Eits, jangan ketawa dulu, nanti mungkin engkau pada gilirannya juga akan merasa seperti itu. 

Bicara masalah qurban, apa yang dapat engkau petik dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diikuti muslim seluruh dunia saat ini? Berqurban. Ya, berqurban. Ayah yakin engkau pasti sudah hafal di luar kepala bagaimana kisahnya. Dimulai dari ditinggalkannya Nabi Ismail AS bersama ibundanya di padang gurun tandus tanpa bekal apapun. Pasti sulit membayangkan seperti apa gurun tandus itu karena akhir tahun lalu engkau lihat sendiri sekarang sudah jauh berubah bahkan mamamu bisa belanja tas braun buffel di tempat itu. Sudah, jangan pikirkan koleksi tas mama, kita kembali ke keteladanan Nabi Ibrahim yang karena ketaatannya pada perintah Allah ta'ala terpaksa dengan berat meninggalkan anak dan istrinya. Pasti jauh lebih berat dibanding ayah harus meninggalkanmu di Malang. Setidaknya engkau tidak bertanya 'ya ayahku, apakah ini perintah Tuhamnu?' sehingga ayah tidak perlu menjawab 'ya, ini perintah Tuhanku'.

Baik-baik di sana ya nak, belajarlah untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri. Jika kehabisan bekal tak perlu engkau berlari-lari kecil antara bukit shafa dan marwa tujuh kali yang engkau tahu sendiri, jauh kan? Cukup carilah ATM terdekat. Kalau lupa PINnya ingatlah nama kedua kucing kesayanganmu, Raden Roro Dyah Ayu Kusumowardhani dan Raden Thomas Tirto Samudro. Kalau saldonya mulai menipis tinggal kasih tahu Ayah. Bila engkau lapar dan terlalu mager untuk ke warung pesan saja layanan antar atau go-food via aplikasi yang terinstall di gawaimu, itu sesuatu yang tidak bisa dilakukan Nabi Ismail dulu.

Mas'a (tempat sa'i) antara Safa dan Marwa sekarang
Bila engkau haus, tak perlulah kau menangis dan menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Sekali lagi jangan, karena engkau belum sesoleh Nabi Ismail. Alih-alih keluar air zamzam dari lantai kamar, justru itu akan mengganggu penghuni kamar kos di bawahmu. Cukuplah turun ke dapur, di sana ada dispenser air mineral. Kalau kebetulan sedang kosong tinggal ganti saja galonnya, kalau nggak kuat minta tolong mas Zaki. Pasti dia mau bantu. Percayalah sekarang semua serba mudah nak, tidak seperti kesulitan yang dirasakan Nabi Ismail. 

Jika nanti ayah datang ke Malang tanpa memberimu tahu sebelumnya, jangan deg-degan. Ayah hanya mau kasih surprise saja. Bukan datang dalam rangka menjalankan perintah Allah untuk menyembelihmu. Bukan, anakku. Tidak mungkin Allah memerintahkan Ayah seperti itu lalu menggantikanmu dengan kambing gibas. Lagipula ayah kan belum sesoleh Nabi Ibrahim untuk diuji maha berat seperti itu. Juga belum sesoleh beliau untuk diberi amanah dalam bentuk Siti Hajar dan Siti Sarah sekaligus. Uhuk... Dan jangankan disembelih, waktu kecil digigit hamster saja engkau nangis. Ingat nggak nak, akhirnya hamster peliharaan Ayah mati dibanting adikmu. Syediih... 

Terakhir, ayah akan buka satu rahasia. Tapi jangan bilang mamamu ya. Begini, duluu banget ayah pernah naksir seorang gadis adik kelas waktu SMA. Tidak perlu dijelaskan kelanjutannya wong cuma sebatas naksir saja. Nah, ayah pernah mendengar dia akhirnya melanjutkan studinya kuliah di kampus yang sama dengaanmu, Universitas Brawijaya. Jadi dia kakak kelasmu. Bisa jadi selepas kuliah selanjutnya dia menemukan kehidupannya tetap di kota ini. Dan bisa jadi suatu saat engkau tak sengaja bertemu dengannya, entah di pasar, kampung warna Jodipan, atau di CFD jalan Ijen seperti cerita dalam sinetron yang tidak pernah kita tonton itu lho. 

Kalau saja engkau bertemu dengannya, kau boleh memanggil dia 'kak' karena dia kakak kelasmu. Jangan panggil 'mbak' karena tidak ada yang namanya mbak kelas. Jangan panggil 'tante' karena dia bukan adik ayahmu, apalagi panggil 'bunda' karena.... ah sudahlah. Sampaikan salam ayah saja ya.... kalau ditanya bilangin kalau ayah sekarang botak dan gemuk. Seperti Danny De Vito. Jangan terlalu jujur kalau sebetulnya lebih mirip Vin Diesel ya.... Oh iya, katakan juga kalau ayah tengah menjalani kehidupan yang sempurna bersama engkau, mama, adik, dan kedua kucingmu. 


Kamis, 12 Juli 2018

Djogja, Sebuah Evolusi Kota (Bagian Setunggal)


Yogyakarta (menurut EYD), atau jika dengan ejaan lama akan tertulis Jogjakarta. Dalam percakapan sehari-hari justru ejaan lama ini (Jogja) yang sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari oleh orang luar Yogya karena wong Yogya sendiri pasti menyebut ‘Yoja’. Bagaimana dengan Djokdjakarta? Itu namanya mengeja lamakan ejaan lama yang telah lama tidak dipakai. Yang lama-lama malah semakin salah kaprah berevolusi menjadi Djokja. Ini yang sering dipakai oleh produk kekinian semisal pakaian hingga makanan yang ‘dikhas-khaskan’ sebagai produk hasil kearifan lokal. Ah sudahlah apa arti sebuah nama... yang pasti kawan akan tahu kota yang disebut di atas. Itu lho, yang mas Katon Bagaskara membuat lagu bertajuk kota ini dalam album kedua bandnya, KLa Project. 

Di masa itu, yang terlintas di benak orang gak akan jauh-jauh gudeg dan Malioboro tempat orang duduk bersila begitu mendengar Yogyakarta. Bagi saya pribadi, mungkin baru tahun 92-an mengenalnya. Ini tidak terlepas dari perkenalan saya dengan seorang sohib kental hingga sekarang yang kebetulan bernama sama, Arief. Sebelumnya, sejak kecil kunjungan saya ke Yogya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan (boleh sebelah kanan atau sebelah kiri, sama saja bro). Tahun itu pula saya mulai gemar naik kereta api untuk pulang ke kampung halaman meskipun harus nyambung bus lagi untuk sampai Wonogiri, kota kelahiran saya. Sepenggal kisah saya di Wonogiri dapat kawan baca di sini. Pengalaman tiga tahun bersekolah di Solo saya dengan cepat bisa membedakan suasana kedua kota (yang seharusnya) kembar hasil pemecahan Kerajaan Mataram Islam ini. Meski lebih kecil tapi menurut saya Yogya lebih ramai, bersahabat, dan nyaman untuk ditinggali. 
  
Saking kami berdua sulit untuk dipisahkan di mana-mana: kuliah, nongkrong, makan di warung, sholat di masjid, posko mapala, sampai jalan-jalan ke luar kota, untuk menghindarkan kebingungan Arief yang mana oleh senior kami Alm. Joko ia diberi nama Arpan dan saya Arlen. Boleh percaya boleh tidak nama ini terbawa terus sampai kini bahkan di kantorpun kami biasa dipanggil dengan nama itu. Tapi mohon maaf karena satu dan lain hal asal muasal nama jululan kami masing-masing sengaja disamarkan. 
Kenapa mulai gemar kereta api? Setidaknya ada dua sebab. Pertama, setahun merantau saya mulai merasakan bagaimana buruknya layanan bus antar kota dimana saya merasa bahwa perlakuan awak bus ke penumpang benar-benar sebagai penumpang. Yaitu orang yang numpang. Maksudnya numpang tanpa bayar, bukan sebagai konsumen yang mesti dilayani. Kedua, sohib saya itu orangnya gak bakalan mau naik bis karena dijamin akan mabok darat. Hanya kereta apilah moda tranaportasi yang ramah untuknya. Sejak jatuh cinta dengan Yogya acap kali libur kuliah saya menyempatkan barang sehari dua hari singgah di rumah Arief sekedar untuk berjalan-jalan dan menikmati masakan ibundanya yang sangat lezat. Mau naik gunung atau main ke pantai bersama komunitas, Arpan selalu membuka lebar pintu rumahnya sebagai basecamp. 

Di kala itu saya mulai tebiasa berbincang akrab dengan tukang becak, calo stasiun sampai pedagang malioboro menggunakan bahasa prokem Yogya (yang kuncinya adalah saling menukar posisi huruf ha na ca ra ka) agar disangka sebagai sesama ‘wong Yoja’ hanya untuk menawar tarif atau harga. Atau saat terjadi sedikit gesekan dengan sesama anak muda cukup dengan bilang “jape methe dab..” dan masalah selesai. Atau meminjam (dengan imbalan tentunya) gitar dari pengamen jalanan saat bersama kawan-kawan nongkrong di alun-alun utara untuk sekedar nyanyi bersama. Saat itu saya rasakan aroma persahabatan sangat kental seiring saya mulai hafal jalanan tanpa bantuan google maps atau waze. 

Yogya dulu sama seperti halnya kota lain yang 'biasa-biasa saja', kehidupan mengalir sebagaimana mestinya sebuah kota di Jawa. Kendaraan, delman, becak hilir mudik seperlunya. Denyut nadi kehidupan keraton, politik pemerintahan hingga para waria yang mangkal di pinggiran rel berjalan sebagaimana mestinya. Satu hal yang menonjol adalah statusnya sebagai kota pelajar mencirikan begitu banyaknya 'pawyatan luhur' berdiri di kota ini. Kelak status ini yang membuat perubahan signifikan wajah Yogya – setidaknya yang saya ikuti perkembangannya di media – menjadi sebuah kota yang multikultur, nyaris metropolis dan sedikit banyak aroma hedonis mulai terasa. 

Lulus kuliah tahun dan memasuki dunia kerja tahun 1995 membuat saya semakin jarang main ke Yogya terlebih setelah memasuki jenjang pernikahan di tahun 1999. Meskipun saya memperistri orang Magelang dan kondisinya mengharuskan kami setiap kali pulang mudik menuju dua kota (Magelang dan Wonogiri), Yogya hanya selintas saja kami lewati itupun melewati jalan ring road utara. Kurun waktu tahun 2000-an kemacetan mulai terasa di setiap antrian traffic light ring road membuat saya mulai memilih jalur alternatif melalui luar kota (Krasak-Prambanan) atau sekalian jalur segar Selo membelah gunung Merapi – Merbabu. 

(bersambung)

Senin, 30 April 2018

Cerita Sabtu Sore


Aplikasi google map berwarna merah pekat pertanda kemacetan parah di seputaran stasiun Gambir, tujuan saya sore kemarin untuk mengantar si bungsu jalan-jalan bersama rombongan sekolahnya. Sebetulnya sedari pagi obrolan di beberapa WA group mengabarkan kemacetan sekitar monas yang saya sendiri kurang tertarik menyimak karena toh sudah sangat sering monas digunakan untuk show of force menghimpun massa bertajuk apapun mulai aksi solidaritas sampai pesta-pestaan mengatasnamakan rakyat. 

Hari makin sore mendekati waktu kumpul sementara dari chat si bungsu mengabarkan beberapa temannya terjebak macet. 

“Tugu Tani macet Yah… temenku ngak bergerak sudah sejam” katanya. 

Tak mau bernasib sama, segera saja kuputar otak bagaimana caranya sampai tujuan dengan cepat. Ojek? Bagaimana mungkin kami kan bertiga plus satu kopor. Busway? Selama bus Transjakarta tak bersayap pasti idem tak berdaya. Lagipula mesti naik dari mana... Kereta? Ini paling memungkinkan. Tapi bagaimana caranya, seumur umur kami belum pernah naik Commuter Line (CL). Duluuuu sih pernah sekali naik kendaraan rakyat ini waktu layanan kereta belum bereformasi dan kereta masih bernama... apa ya, saya lupa. Maklum, sudah 20an tahun yang lalu. 

Di kota lain negara tetangga semisal KL atau Singapura saya bisa dengan mudah menemukan cara bagaimana membeli tiket dan informasi tujuan dengan cepat. Tapi ini Jakarta vroh... Dengan niat agar tidak ketinggalan kereta, bismillah mobil saya belokkan ke salah satu gedung dengan tempat parkir yang memadai di depan stasiun Cikini, setelah sebelumnya tidak menemukan tempat parkir di stasiun Manggarai. 
 
"Lompat pagar saja pak, kalau pintu masuknya jauh di sana" sambil menunjuk 100 meter ke arah kiri. kata seorang Bapak berbaik hati melihat kami celingukan mencari pintu masuk.

Ah, bapak.... terima kasih atas petunjuknya. Bapak benar-benar mencerminkan orang Indonesia deh... Dalam hal ini kepedulian dan kendablegannya. Akhirnya dengan jalan sedikit memutar, tanya-tanya petugas bagaimana cara menggunakan kartu (kebetulan kami punya kartu pembayaran elektronik salah satu bank) sampailah kami di peron lantai atas. 

Begitu masuk ke dalam gerbong saya meraskan aroma modern seperti di negara tetangga. Informasi suara berupa stasiun, peringatan untuk berhati-hati dalam dua bahasa. Di dinding kereta terpampang rute stasiun jaringan CL. Hmmm…. Ndeso sekali ya saya. Seingat saya penyatuan beberapa jenis kereta menjdi CL dulu sempat diwarnai protes masyarakat tertutama mengenai besaran tarifnya. Iseng-iseng biar keliatan membaur bertanyalah saya ke penumpang sebelah, eh baru tahu bahwa kereta tidak berhenti di stasiun Gambir. Nah, malah semakin keliatan ndesonya kan? 

Dituntut bertindak cepat, kembali saya buka google map untuk tahu stasiun terdekat dari Gambir. Oke, stasiun Gondangdia yang notabenenya stasiun pertama setelah Cikini. Sampai keluar dari stasiun saya tidak juga tahu berapa tarif yang harus kami bayar untuk perjalanan tadi. Keluar dari stasiun langsung saja naik bajaj biru yang (lagi-lagi) baru pertama kali saya naiki setelah 20an tahun lalu familier dengan bajaj orange 2 tak yang suaranya aduhai itu... 

Dari cerita si abang bajaj yang masih kental logat ngapaknya, ternyata di monas diadakan pesta rakyat yang membuat kemacetan luar biasa dari pagi. Ini pula yang membuat si abang mematok harga lebih tinggi karena dari siang tidak bisa bergerak ke mana-mana. 

"Tigapuluh pak..." 

Ketika saya tanya kenapa enggak ikut pesta rakyat, kan lumayan dapat sembako sambil saya tunjuk beberapa orang berjalan kaki menenteng kardus di antara kemacetan. Kali ini sambal menebak, (tanpa mengurangi rasa hormat) toh rakyat seperti dia yang disasar penggagas acara. 

“Saya nggak mau dibodohi dua kali” ujarnya tanpa memerinci kekecewaan apa yang pernah dia dapatkan.  sayapun malas untuk bertanya menghindari obrolan yang mengarah ke politik.

"Tidak sebanding antara yang didapat dengan perjuangannya pak. Dari pagi sudah pada datang. Antre berjam-jam mana desak-desakan lagi. Bayangkan saja sampai hari gini baru bisa pulang". Di tengah kemacetan, sebagai Ayah yang baik dari dua anak generasi milenial saya memposting video untuk live di Instagram. heheheheee.... Kalah narsis deh kalian wahai anak-anakku.


Selap selip menembus macet, alhamdulillah sampai Gambir 30 menit sebelum rombongan anak masuk ke Stasiun. Turun dari bajaj langsung saja bajaj diperebutkan beberapa emak dan bapak-bapak yang bisa dipastikan peserta pesta rakyat yang tidak mendapatkan tumpangan bis seperti berangkatnya. Naik kendaraan umum juga mustahil karena sopir kesulitan menjangkau tempat itu. Merasa di atas angin, abang bajaj memasang tarif tinggi. 

"Mahal amat?" Protes emak-emak calon penumpang. 

"Lah, kan empok yang habis dapet bingkisan" jawabnya cuek sambil menutup pintu dan meninggalkan calon penumpang. 

"Ah, bingkisan apaan...." setengah menggerutu si empok terpaksa menelan kecewa. Begitu yang sayup saya sambil bergegas masuk stasiun. 

Singkat cerita, setelah sholat Maghrib dan si bungsu telah berkumpul bersama teman-teman dan gurunya, kami harus kembali ke Cikini untuk mengambil mobil. Waktu menunujukkan pkl 19.15 dan kepadatan lalu lintas mulai mencair. Kembali kami harus berebut bajaj dengan calon penumpang lain yang masih mencoba menawar ongkos barangkali mempertimbangkan cost & benefit yg diperoleh dari pesta tadi siang. 

Di perjalanan Gambir-Cikini yang masih padat merayap, abang bajaj yg (lagi-lagi) berlogat ngapak punya banyak cerita tentang apa yang dinamatkan pesta rakyat tadi. Tapi maaf, berhubung kegiatan pesta rakyat ditengarai berhubungan dengan kelompok tertentu dan rentan untuk menjadi debat, saya lebih baik mengungkap apa yang diutarakan si abang bajaj. 

Dalam perjalanan pulang setelah mengambil mobil, saya merenungi pelajaran yang telah didapat sore ini. Bagaimana berinteraksi dengan banyak orang, mempraktikkan ilmu komunikasi yang diperoleh di beberapa pelatihan, hingga mencoba beberapa moda transportasi yang sudah lama sekali saya tinggalkan dan sekaligus memperkenalkannya kepada anak yang menurut pendapatnya sebagai sesuatu yang seru. Terlebih lagi merasakan betapa pentingnya arti pembagian gratis bagi sebagian masyarakat kita meskipun kadang-kadang akhirnya kenyataan tidak sesuai dengan harapan. 

Kalau sudah begini, memang tidak ada satupun nikmat Tuhan yang pantas untuk didustakan.

Senin, 15 Januari 2018

Coba Kau Katakan Padaku


Kegundahanku belakangan ini -kalau boleh jujur- memang bersumber pada kesalahanku sendiri yang terlalu menuruti keinginan tanpa banyak petimbangan. Tapi di sisi hatiku yang lain terselip pembenaran "apa salahnya jika yang diidamkan sejak dulu tiba-tiba ada di depan mata?", toh kesempatan belum tentu datang dua kali. Pasti para motivator manajemen hebat sekelas Mario Teguh, Tung Desem Waringin hingga Naek L. Tobing akan tersenyum puas mendukung keputusanku. Atau kebodohanku. 

Semua berawal beberpa bulan lalu ketika kami, beberapa kawan (sebetulnya telah sangat lama saling mengenal) yang mulai merasa mapan dalam usia dan ekonomi, ingat ya, baru merasa… tiba-tiba makin akrab karena tersatukan oleh kegemaran yang sama. Apa lagi sih kebahagiaan dan kesempurnaan para pria, selain kalau dalam istilah jawa bila sudah memliki 5 hal yang biasa disebut sebagai wanito, wismo, turonggo, kukilo, dan curigo. 
  
Perlu penjelasan? Baiklah… wanita, wisma…. cukup jelas lah ya. Turangga, secara harfiah berarti kuda. Maksudnya pria mesti mempunyai tunggangan yang bisa mengantar ke mana-mana. Tidak harus Honda HRV, nanti malah dikira kasubdit atau kepala kantor. Tapi Honda Scoopy sudah masuk kriteria ini. Kukila, berarti burung. Pria harus punya burung. Bukan maksudnya burung dalam sangkar GT Man atau Rider, tapi burung sebagai kelangenan, hoby, atau sesuatu yang diminati. Jangan pula diartikan Minati Atmanegara, karena secara siklus hidup sudah menjelang expired. Boleh jadi golf, fotografi, koleksi miniatur, atau sepeda sebagai hobi (bukan kategori turangga). Yang terakhir curiga, maknanya keris yang dimaksud yaitu “sesuatu yang bisa diandalkan” mungkin itu berupa cadangan deposito, mertua kaya raya namun sakit-sakitan, keahlian/profesi/jabatan dan sebagainya. 

Kembali ke topik ya… perkenalanku dengannya memang berasal dari teman-teman tadi, dan saya telah kebablasan dengan salah satu efek buruk pengaruh pertemanan. Jujur saja, sosoknya pasti menjadi impian pria bahkan sejak masa akil balig dan sebagai bocah yang normal dibersarkan di era Ali Topan, sejak kecil idaman sayapun ingin memiliki yang seperti dia. Berawal dari melihat fotonya di grup WA, jumpa darat pertama membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun sudah agak berumur tapi posturnya yang ramping tinggi semampai dengan kaki jenjang saya yakin masih mampu membuat pria menatap ngiler. 

Kini secara sah dan meyakinkan dia telah jadi milikku. Dengan selembar surat yang meskipun bukan berupa sepasang buku hijau coklat terbitan Kementerian Agama namun secara hukum agama telah terjadi akad dan penyerahan mahar. Harusnya senang dong sudah bisa memiliki? Iya betul di satu sisi. Tapi di sisi lain bingung bagaimana caranya membawa pulang dan selama belum dibawa pulang dan dititipkan di sautu tempat statusnya hanya akan menjadi simpanan. Belum tentu istri saya setuju kalau saya bawa pulang. Sebagai perempuan pasti alasannya klasik, yang di rumah sudah ada. Bagaimana berbaginya, bisa adil apa tidak, dll. Sempat terbersit sedikit penyesalan mengapa dulu saya tidak minta pertimbangan istri sebelum meminangnya. Tapi mungkinkah…? 

Coba kau katakan padaku, Kawan…. Apa yang seharusnya aku lakukan? 













catatan : gambar di atas hanyalah untuk ilustrasi semata, wujud asli simpanan saya adalah sbb :