Kamis, 16 November 2017

Jangan Salahkan Gajah Mada


Derap langkah kuda dengan iringan prajurut gagah berani meninggalkan kepulan debu tipis memecah keheningan sore itu. Mentari yang tengah menuju peraduan di balik laut biru masih menyisakan kehangatan seolah menyambut keberhasilan pasukan Sultan Babullah (1570-1583) setelah mengalahkan pasukan Portugis di Benteng di Kastela (Santo Paolo Pedro) dan mengambil jenazah ayahnya, Sultan Khairun yang dibunuh secara kejam oleh tentara Portugis didalam benteng tersebut. 

Di belakang sana, semburat keemasan puncak Gunung Gamalama menambah suasana syahdu. Lirih iringan tetabuhan terasa makin jelas di telinga saya seiring dengan memudarnya imajinasi derap kaki prajurit nan gagah menjadi lincah gerak kaki bocah kecil seirama dengan hentakan iringan tifa. Sejurus kemudian di depan saya beberapa murid SD menarikan Soya Soya Sisi, tarian tradisonal Maluku Utara yang diadopsi dari tari Soya Soya yaitu suatu tarian yang menggambarkan patriotisme pasukan Sultan Babullah. Dalam perkembangannya di kemudian hari tarian ini menjadi ritual penyambutan tamu kehomatan yang berkunjung ke Kesultanan Ternate. 

Siswa SDN 44 Ternate mempersiapkan tari Soya Soya Sisi, penghormatan bagi tamu
Tapi hari ini, 23 Oktober 2017 kamilah yang menjadi tamu kehormatan itu. Para relawan Kemenkeu Mengajar 2 SDN 44 Kota Ternate yang datang untuk sekedar berbagi inspirasi ke anak negeri. Rasanya sulit dibayangkan bahwa 3 hari sebelumnya saya masih meringkuk menggigil di atas kasur. Kalaulah tidak ingat keseruan acara Kemenkeu Mengajar tahun lalu mungkin saya akan lebih merelakan tiket promo yang dibeli jauh hari hangus ketimbang menempuh perjalanan ribuan kilometer demi bertemu wajah polos dan bening mata anak-anak pewaris negeri di Jazirah Al Mulk bagian timur Indonesia ini. 

"piss...."
 
Mengulang sukses gelaran tahun lalu, masih dalam rangka memperingati Hari Oeang ke 71 Kementerian Keuangan kembali mengadakan acara bertajuk Kementerian Keuangan Mengajar 2, suatu kegiatan non DIPA berupa kegiatan mengajar sehari di SD tentang profesi atau bidang pekerjaan yang ada di kemenkeu. Kegiatan ini bertujuan agar anak-anak paham dan diharapkan dapat terinspirasi terhadap peranan negara dalam pendidikan dan kehidupan mereka. Maksud Non DIPA? Sederhananya kami harus membiayai sendiri segala biaya yang timbul dalam kegiatan tersebut dan instansi hanya memberi dispensasi tidak masuk kerja selama satu hari. Bila tahun lalu hanya dilaksanakan di 5 kota dengan melibatkan 600 relawan, tidak tanggung-tanggung tahun ini diselenggarakan secara serentak di 51 kota/kabupaten, 138 sekolah, 36.614 siswa dan 2.500an relawan. 

Biaya yang harus dikeluarkan relawan itu mulai dari akomodasi (terutama bila memilih luar kota), bahan/materi ajar, hingga perlengkapan lenong yang perlu demi menarik perhatian anak-anak. Ini sangat penting, karena mereka adalah kids jaman now yang tidak bakal bisa diberi penjelasan hanya dengan metode auditorial saja, Bila tidak dilengkapi dengan visual dan kinestetik, siap-siap saja mati gaya menghadapi anak-anak yang super aktif itu. Kemudian masih diperlukan lagi perangkat pendukung lain seperti banner, backdrop, asesoris seperti topi, alat tulis dan sebagainya. Kalau ditanya kok mau-maunya sih keluar biaya sendiri? Ya, justru saya tanya balik mengapa tidak, tidak kurang yang telah kita dapatkan dari pengabdian kita ke negeri ini dan tidak ada salahnya sesekali berbagi untuk berkontribusi bagi kemajuan generasi mendatang. Banyak trik dan tips untuk mendapatkan akomodasi murah yang bisa dicari di internet, bukan?

Waktu seumuran anak ini, saya belum pernah berfoto bersama petugas Bea Cukai lho...
Bila tahun lalu saya memilih kota Denpasar untuk berpartisipasi sebagai relawan pengajar (cerita selengkapnya di sini), tahun ini saya tertantang untuk turut menginspirasi anak usia sekolah di kota Ternate. Bukan kebetulan, beberapa alasan bagi saya mendatangi negeri para raja tersebut. Pertama, siapa yang tidak kenal kejayaan Kesultanan Ternate – Tidore? Asal tidak ngantuk waktu pelajaran IPS waktu SD pasti mengenal kejayaan serta kekayaan alam yang dimilikinya di masa lampau. Kekayaan itu yang membuat bangsa lain ngiler untuk menguasai. Kedua, saya tertarik dengan cerita dua orang sahabat baik yang sering meng-explore Ternate dan Maluku Utara dengan cara mereka masing-masing. Mereka adalah Arif Wibowo (www.arifkancil.com) dan Shiddiq Gandhi, rekan seprofesi yang bertugas di sana. Alasan ketiga, boleh dong sekalian travelling, hehehe....

Di luar dugaan di sini saya banyak bertemu dengan kawan-kawan baru relawan yang satu ide dengan saya. Ada Mbak Yanti dari Jakarta (yang ternyata punya hidden agenda), Teh Efie dari Bandung, Dion dari Kupang, Mbak Ida dari Klaten, ada yang dari Manado, dan satu lagi dari mana saya lupa namanya. Masih wilayah Maluku Utara tapi perlu 10 jam mengarungi laut untuk menuju Ternate. Salut Kawan... Kesimpulan pertama, Maluku Utara saja luas apalagi Indonesia.

Itulah mengapa hari ini saya berada di sini, di depan ratusan murid SD dan disambut bak tamu penting usai upacara bendera yang khidmat. Kusapu pandanganku ke arah anak-anak yang akan menjadi muridku hari ini, mencari dan mengantisipasi adanya sosok Gentho yang menjadi “hantu” seperti di Denpasar tahun lalu. Hmmm....harapan saya tidak ada. Dan itu menjadi pelajaran bagi saya, bahwa bisa jadi satu harapan terpenuhi tapi mungkin muncul masalah lain. Sejauh ini saya telah menarik kesimpulan kedua, berharap atau berdoalah yang lengkap.

Di sebelah kanan saya adalah Pak Musafak, Kepala Bea Cukai Ternate yang mendadak menjadi Inspektur Upacara

“Selamat pagi anak-anak...” sapaku. 

“Selamat pagi Bapak” jawab mereka kompak. Termasuk kompak dalam melafalkan “e” seperti caraku melafalkan ‘setan’. 

Menurut penjelasan MC acara penyambutan seorang pak guru yang saya bahkan lupa menanyakan namanya atau memperhatikan nama di dada kanannya, jangankan dalam percakapan sehari-hari, bahkan cukup sulit mencari MC kelas provinsi sekalipun yang bisa dengan tepat melafalkan huruf ‘e’. Ditambahkan oleh guru kelahiran Manado yang menghabiskan waktu belajarnya di pesantren Gontor, S1 di Malang dan S2 di Solo ini bahwa biasanya tes pertama seorang MC terutama bila ada tamu dari Jakarta adalah simpel, cukup melafalkan huruf itu. Okelah kita sebut saja dia Pak Guru MC. 

Selanjutnya mengalir saja, mereka sangat antusias mengetahui saya datang dari Jakarta. 

“Setinggi apa monas itu Bapak?” tanya salah seorang murid. 

Setengah gelagapan karena tidak tahu persisnya, kujawab diplomatis “Sangat tinggi Nak, kira-kira sepuluh kali batang kelapa. Tapi setinggi apapun Monas, cita-citamu harus lebih tinggi dari itu” 

“Anak-anak, tahukah kalian di mana kekayaan alam terbesar beberapa abad yang lalu tersimpan? Yang membuat bangsa kulit putih berebutan menguasai tanah dan kekayaan berbentuk rempah-rempah itu?” 

Kriik kriik…..mereka diam. 

“Tidak usah kalian mencarinya jauh-jauh. Tanah itu ada di sini, di bawah kalian. Yang setiap hari kalian injak. Berbanggalah…. Kejayaan nusantara berabad-abad lalu berawal dari sini. Tidak ada apa-apa di Jawa, tidak ada apa-apa di Jakarta. Setelah kalian besar, bangunlah tanah kelahiranmu karena kalau bukan akan masuk bangsa lain yang mengincar dan bisa jadi sejarah akan terulang. Kuasai cara becocok tanam, cara menangkap dan bududaya ikan agar kalian dapat mengembalikan kejayaan rempah seperti berabad lalu. Ingat, kejayaan itu yang membuat bangsa Eropa ingin memiliki dan menguasai tanah ini. Contohlah kegigihan Sultan Khairun dan Sultan Babullah…! Panjang lebar saya gambarkan bagaimana kita dimanja dengan limpahan kekayaan alam dari yang Mahakuasa. 

Mereka masih diam, pandangan matanya entah antusias entah tersihir atau apa. Puas sekali rasanya bisa membangkitkan inspirasi mereka, paling tidak harapanku seperti itu. Rasa-rasanya saat itu saya menjadi Bung Karno yang diberi 10 orang pemuda. 

Sesi selanjutnya barulah saya memberikan materi sesuai petunjuk yang diberikan Shiddiq sekalu koordinator kota Ternate untuk Kemenkeu Mengajar 2 sehari sebelumnya, yaitu penanaman nilai-nilai luhur dan nilai-nilai Kementerian Keuangan kepada murid dan motivasi untuk menggapai apapun cita-cita mereka. Seperti tahun lalu, sesi ini suara saya nyaris tenggelam dalam keriuhan celotehan mereka. Kesimpulan ketiga, Denpasar = Ternate.

Satu, dua, tiga..... terbangkan cita-citamu dan ketuklah pintu langit agar tercapai suatu hari nanti
Yang menarik bagi saya ialah saat siang hari saat kegiatan belajar selesai. Murid-murid berkumpul di lapangan upacara untuk menerbangkan cita-cita yang diwakili oleh pesawat kertas buatan masing-masing yang tertulis nama dan cita-citanya. Itu adalah simbol bahwa cita-cita harus setinggi mungkin. Beragam profesi ada di situ, yang bisa dipastikan beberapa jam sebelumnya beberapa di antara mereka belum tahu cita-cita yang sekarang mereka tulis. Pajak, Bea Cukai, Bendahara dan sebagainya. 

Usai itu, pemberian cindera mata dan bunga dari pihak sekolah dan murid-murid. Di sini baru terlihat perbedaan usia dimana relawan muda dan ganteng menjadi pusat perhatian, diajak foto bersama, ditarik-tarik, dimintai tanda tangan, diberi banyak bunga yang sampai akhir acara saya tidak mendapatkan satupun. Bahkan belakangan saya ketahui sudah ada WA group antara relawan dengan murid-murid yang menggunakan profil Putra, pegawai Bea Cukai muda di KPBC Ternate. Kesimpulan keempat, bila Kawan ingin berpartisipasi dalam kegiatan kerelawanan atau minimal ingin mendapat bunga, mulailah sejak muda.
Putra sang idola
Kemeriahan sambutan luar biasa masih berlanjut. Di ruang kantor SD telah tertata rapi dua meja hidangan, satu menu nasional dan satu menu tradisinal. Sebagai omnivora sejati saya dengan lahap menyantap berbagai olahan sayuran dan ikan yang saya tak perlu bertanya apa nama masakannya dan apa nama ikannya. Mungkin kalau tahu lima jenis ikan yang ada di meja, saya akan mendapatkan sebuah sepeda dari Pak Presiden Jokowi. Setelah perut kenyang, tambah lagi kebahagiaan saya ketika rombongan kami didaulat ibu-ibu guru untuk menari bersama mereka mengikuti irama musik. Kata mereka, itu sudah menjadi budaya setempat. Ya, siapa tak kenal tarian Poco poco. Dari sinilah tarian itu yang lamaaa sekali jadi iringan wajib senam di Jakarta sebelum tergusur Maumere. 

Makin muda makin banyak bunga. Paling kiri Bobye, pegawai Bea Cukai Ternate asli Maluku kawan sekantor saya di Tanjung Priok 9 tahun yang lalu. Dia yang paling komunikatif dengan murid-murid. 
“Program pertukaran pelajar itu banyak postifnya lho Pak” sambung Pak Guru MC dalam obrolannya. “Entah mengapa itu seperti tidak ada kelanjutan lagi. Saya bertahun-tahun merantau di Jawa masih kesulitan dalam adaptasi. Tentang kebudayaan kita yang sangat beragam, adat istiadat dan sebagainya” 

“Betul Pak” jawab saya “Negara kita luas sekali, keberagaman harus kita jaga. Saling memahami dan menghormati adalah kuncinya”. Nyambung nggak ya? Pokoknya itulah maksud saya. Jangan sampai Sumpah Palapa Patih Gajah Mada ternoda. Kesimpulan kelima, Patih Gajah Mada turut menyumbang keuntungan maskapai penerbangan nasional karena banyak rekan seprofesi kami terpaksa LDR sehingga bolak balik ke tempat tugas dan homebase akibat wilayah Majapahit cikal bakal Indonesia terlalu luas.

Pak Guru MC melanjutkan “Termasuk dalam hal Bahasa, perlu juga Bapak ketahui bahwa anak-anak di sini dalam berkomunikasi sulit memahami Bahasa Indonesia baku yang diucapkan orang Jakarta” 

Makjlebbb…. Seketika terbayang tatapan mata anak-anak di kelas tadi. Dan di situ kadang saya merasa sedih. (Yang ini tidak usah disimpulkan).






Bonus :

3 komentar: