Rabu, 31 Mei 2017

Umrah (A Pilgrim's Journey Eps 7)



Thawaf umroh saat itu bukan tanpa perjuangan dengan sesaknya umat Islam dari seluruh penjuru dunia berniat hal yang sama. Bagaimana nati dengan towaf ifadah? Pasti akan lebih penuh sesak lagi. Baru kali ini saya menyaksikan satu dari keagungan Allah yang mana telah menciptakan berbagai ras manusia di muka bumi, dan semua terkumpul di Masjidil Haram. Walaupun berbeda-beda tetapi hanya satu tujuan mereka, yaitu mencari ridlo Illahi sebagai insan yang bertaqwa. Terasa benar firman Allah 
‘Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’ (QS. 49:13). 
Tidak lama kami telah berbaur dengan ribuan manusia - tua muda, laki-laki perempuan, dari yang gagah tinggi besar sampai yang tua bongkok hingga tubuhnya nyaris 90 derajat - memulai putaran thowaf pada rukun Hajar Aswad. Untuk menandai garis lurus pojok Ka’bah sebagai garis start dan finish sekaligus perhitungan putaran thowaf, di sisi kanan (pada bangunan masjid) terdapat lampu sebagai tanda. Satu putaran baru terselesaikan namun keringat telah membasahi kepala dan seluruh tubuh karena teriknya sinar matahari saat itu meskipun waktu baru menunjukkan pukul 10. Tapi apalah artinya panas jika tak dirasakan dalam hati yang tenggelam dalam kekhusyukan ibadah. 

Singkat cerita 7 putaran telah terselesaikan setelah berjuang sekuat tenaga agar tidak terpisah dari rombongan. Meskipun telah berusaha, namun tubuh kecil orang Indonesia dan sifatnya yang rata-rata suka mengalah tak urung membuat rombongan kami terpencar juga, terdorong kadang menjauhi ka’bah, kadang dekat dengan ka’bah. Jamaah Afrika dan Turki rata-rata paling solid mempertahankan rombongan meskipun harus mengesampingkan adanya jamaah lain. Main dorong saja yang dianggap mengganggu di depannya. Ya sudahlah, mending melakukan thowaf dalam rombongan kecil saja daripada ibadah terganggu konsentrasi agar tidak terlepas dari rombongan besar atau hati dongkol disikut orang berbadan gede. Hitam lagi… 

Selepas thowaf, kami segera mencari tempat belakang Maqam Ibrahim guna melakukan sholat 2 rokaat. Lagi-lagi perlu perjuangan ekstra untuk mencari sekedar sejengkal ruang kosong untuk melakukan sholat. Meskipun sudah menggunakan jurus 'mata elang mencari mangsa' saya mencari tempat, tak urung harus sholat terpisah dari istri juga karena sulitnya mencari tempat untuk sholat bersama. Itupun dengan posisi sujud dagu nyaris menempel dengan dengkul. Mirip orang meringkuk kedinginan. 

Seusai sholat segera saja kami mencari air zamzam disamping itulah yang dicontohkan oleh Nabi saw, tubuh ini rasanya hampir mengalami dehidrasi selepas terpanggang matahari saat thowaf. Setelah memanjatkan doa ‘Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an wa rizqon waasi’an wa syifaa’an min kulli daa’in’ (Ya Allah aku memohon padamu ilmu yang manfaat, rizqi yang luas, obat dari segala penyakit), dinginnya air zamzam terasa nikmat sekali membasahi kerongkongan. Subhanallah, pertama kali minum air zamzam langsung dari sumbernya makin merasakan kedekatan hamba yang hina ini dengan penciptanya. 

Ritual terakhir dari rangkaian umroh adalah sa’i atau berlari lari kecil dari bukit shofa dan bukit marwa sebanyak tujuh kali sebagaimana perjuangan Siti Hajar mencari air untuk Ismail putra tercintanya. Memasuki putaran keempat, jalur sa'i semakin sempit karena jamaah yang akan sholat dzuhur telah menampati mas’a (jalur sa’i). Semakin lama jalur bertambah sempit, ditambah lagi dengan anjuran membaca doa pada waktu baik di shofa maupun marwa sambil menghadap kiblat. Ini sulit dilakukan karena ketika berhenti untuk berdoa pasti ditabrak dari belakang. Minimal didorong. Akhirnya doa dibacakan sambil tetap berjalan saja. Sa’i selesai tepat saat iqomah dikumandangkan. 

Berhubung sudah tidak lagi bisa berjalan karena sesaknya manusia, saya langsung sholat di tempat itu meskipun di depan saya tetap dijadikan lalu lalang orang lain. Bahkan sempat harus sujud di bawah langkah kaki yang berwarna hitam. Buka karena jarang dicuci tapi memang karena begitu sejak beliau sang empunya kaki dilahirkan. Sebetulnya mas’a ini walaupun menempel tatapi dianggap terpisah dari Masjidil Haram dan bukan bagian dari masjid. Oleh karenanya perempuan yang sedang berhalangan tetap diperkenankan melakukan sa’i. 

Keinginan saya untuk khusyuk dalam ibadah cukup berhasil merubah sikap yang semula sulit untuk mengalah menjadi penuh tepo seliro terhadap orang lain. Sikap ini juga yang membuat saya dan istri terpisah dari rombongan. Usai sholat Dzuhur kami berdua segera menuju meeting point favorit, di depan Zamzam tower. Lautan putih sempat membuat kebingungan mencari di mana rombongan kami. Alhamdulillah syal warna pink yang sebelumnya sempat saya keluhkan karena warnanya kurang maskulin (lagipula Februari masih 3 bulan lagi) cukup memandu rombongan untuk berkumpul kembali. Pengalaman Ikbal sebagai penyelenggara memilih warna itu ternyata karena warna-warna yang lain –merah, biru, hijau, kuning, dan sebaginya- sudah terlalu banyak digunakan oleh rombongan lain. 

Bagian yang paling disukai ibu-ibu : belanja
Saat menunggu bis datang, karena di sekitar Masjidil Haram banyak sekali toko-toko penjual souvenir beberapa ibu-ibu tidak tahan untuk tidak sekedar window shopping atau sekedar bertanya harga-harga souvenir yang sebetulnya telah dibelinya di pasar tanah abang. Mungkin hanya sekedar membandingkan harga saja. Menjelang waktu Ashar telah sampai di penginapan untuk (benar-benar) beristirahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar