Jumat, 28 April 2017

Roti Sisir


Mungkin penamaan makanan ini agak sensitif dan membuat baper bagi sebagian orang, termasuk saya. Lha bagaimana tidak kalo setangkup roti saja kok dinamakan benda yang sudah bertahun lamanya tidak saya butuhkan. Apa ya ndak ada nama lain? Roti stapler misalnya, atau roti sikat gigi, roti jam wekker, roti bunga tulip Babah Liong, roti payung teduh atau apalah wong bentuknya juga begitu-begitu saja sebagaimana layaknya roti. Masih mending kalau bentuknya menyerupai pisang yang dalam satuannya ada yang disebut sisir. Ah sudahlah apa arti sebuah nama, yang penting rasanya Bung! 

Bagi generasi sekarang mungkin tidak banyak lagi yang mengenal roti ini karena sekarang banyak ragam jenis roti dan makanan tercipta dari berbagai merk. Tapi bagi generasi (agak) jadul roti ini memiliki kenangan tersendiri. Saya tidak tahu persis kapan mulai ada, yang jelas tahun 80an saat SD saya gemar sekali makanan ini. Berbentuk agak menyerupai setengah lingkaran dan biasanya berlapis dua atau tiga berlapis gula dan mentega yang lezat, lidah saya tidak lupa rasanya sampai saat ini. Bisa jadi jaman dulu belum banyak ragam roti atau memang beliau juga suka, yang jelas Ibu saya sering membawakan oleh-oleh roti sisir dibanding Bapak yang membawakan roti semir yang tak kalah lezatnya. Silakan dibayangkan sendiri seperti apa bentuk roti semir. Saya malas membahasnya. 

Seperti Kamis malam minggu lalu di minimarket kawasan parkir bandara Adi Sucipto Yogyakarta, kenangan masa kecil roti sisir menuntun tangan saya untuk mengambil sebungkus roti sisir disamping sebotol air mineral untuk menemani perjalanan Yogya – Solo dengan mobil sewaan. Sedikit lega setelah landing di kota ini saya baru tersadar perut minta diisi setelah berjam-jam dalam kondisi panik dan tidak menentu melupakan makan siang. Pagi sebelumnya, agak kaget juga menerima kabar dari kakak perempuan saya bahwa Bapak disarankan untuk operasi hernia. Whaat? Sejak kapan Bapak menderita sakit, wong baru 2 minggu sebelumnya beliau pulang dari Jakarta dan selama tiga minggu di rumah tetap saja tidak bisa diam mengerjakan ini dan itu padahal saya hanya minta untuk mengawasi tukang cat di rumah. 

Memang begitulah Bapak, di usianya yang 72 tahun kondisi fisiknya sangat prima. Tidak pernah mau berhenti mengerjakan sesuatu yang bahkan yang menurut kami, anak-anaknya, sudah tidak seharusnya dilakukan oleh orang seusianya. Saya paling ngeri melihat beliau naik tangga sekedar membetulkan atau membersihkan sesuatu yang tinggi. 
Hari itu juga saya memonitor terus perkembangan dan siangnya bertambah kaget waktu Ibu sms (padahal biasanya komunikasi lewat WA) bahwa Bapak akan dioperasi sore itu juga. Setahu saya hanya kondisi luar biasa yang mengharuskan demikian, seperti keputusan untuk mengoperasi sesar istri saya hampir 17 tahun lalu saat air ketuban terlanjur habis. Satu hal yang sedikit melegakan adalah suara Bapak di ujung telefon yang suaranya sama sekali tidak terlihat sebagai orang sakit. 

Siang itu juga langsung saya putuskan untuk pulang ke Solo dengan hanya memberi tahu kakak-kakak karena saya tahu persis Ibu akan melarang kalua saya beri tahu. Sambil menyelesaikan pekerjaan saya intip tiket ke Solo via online. Setengah tidak percaya melihat angka 7 digit di layar gawai, tambah syok mendengar jawaban agen travel langganan saya 15 menit berikutnya yang mengabarkan habis untuk semua tujuan Solo, Semarang dan Yogya bahkan transit Surabaya atau Denpasar telah ludes. Ada apa ini? Sementara long week end masih dua hari lagi. Tapi apapun yang terjadi saya tetap mengarahkan setir pulang ke rumah dan dengan sedikit persiapan segera menuju bandara dengan taksi. Sebelumnya saya telah minta bantuan teman-teman protokoler bandara untuk mengusahakan tiket ke Solo, Yogya atau Semarang. Alhamdulillah dalam perjalanan saya menerima infomasi tiket ke Yogya berhasil didapat dan akan boarding 45 menit lagi. Thanks sobat… 

Kamis malam pukul 22.00 sambil mengucap salam perlahan kubuka kamar VVIP 6 RS Kustati Solo. Ibuku tampak kaget melihat kedatanganku, sementara Bapak tak kalah kagetnya mencoba untuk bangun menyambut kedatanganku, lupa bahwa pengaruh bius masih membuat tubuh bagian bawah tidak mapu digerakkan. Tapi dari situ saya sudah cukup lega melihat langsung kondisi beliau yang bugar meskipun sebelumnya kakak sudah memberitahu bahwa sesaat setelah operasipun beliau tetap mampu aktif berkomunikasi. 

Setelah sedikit berbasa basi menanyakan kabar akhirnya saya tahu alasan operasi yang mendadak sore tadi. Memang sebetulnya penyakit hernia yang diderita Bapak belum pada tahap yang mengkhawatirkan, malah sebetulnya dokter menawarkan apabila masih akan berikhtiar penyembuhan non operasi. Tapi pertimbangan Ibu dan kakak-kakak agar sekalian tuntas dioperasi saja dan kebetulan kondisi hari itu semuanya telah memenuhi syarat untuk operasi. Dokter ada, ruang rawat tersedia, kondisi kesehatan Bapak yang Alhamdulillah selalu prima (tekanan darah, gula darah dsb dalam kondisi normal) dan hari itu seperti biasa Bapak menjalankan puasa sunnah. 

Sekali lagi terasa lega, baru terasa perut mulai lapar. Sambil tetap ngobrol dengan Bapak dan Ibu segera kurogoh backpack mengambil sisa roti sisir yang tadi dibeli di bandara. Kali ini terasa lebih lezat daripada yang telah saya makan di perjalanan tadi. Lembut, gurih, manis tercecap di lidah meski dinikmati di rumah sakit. Rasanya persis 36 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1980 waktu saya kelas 2 SD harus dirawat di rumah sakit lantaran demam berdarah, roti sisirlah satu satunya makanan yang masuk ke perut kecil saya waktu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar