Kamis, 13 April 2017

GET OUT

 
Awalnya kami menonton film ini awalnya ngasal saja. Boro-boro cari resensinya, siapa pemeran, seperti apa posternya atau cuplikan yang biasa terpampang di loket penjualan karcis saja sama sekali tidak kami lihat lebih dulu. Alasannya simple, hanya itu yang layak kami tonton. Sabtu siang menjelang sore itu anak-anak kami mengajak nonton bioskop selain karena telah cukup lama – lebih dari dua bulan – kami tidak pergi ke bioskop, mereka ingin nonton film nasional dengan genre horor kesukaan mereka, Danur I Can See Ghost. 

Berhubung istri saya sama sekali tidak tertarik dengan film horor, kami putuskan untuk mencari film yang berbeda dengan anak-anak. Alternatifnya ada Get Out, Ghost in The Shell, The Boss Baby, dan Beauty and The Beast. Ghost in The Shell langsung dicoret dari daftar walaupun belakangan ketahuan bukan film horor. Dua film berikutnya? Hmm…akan terlihat aneh bila pasangan seperti kami menonton film tersebut tanpa membawa anak-anak. Padahal jujur saja sebetulnya saya sangat suka film animasi anak-anak. Sebutlah Despicable Me, Monster Inc, Frozen, hingga Moana dan lain-lain sudah saya tonton. 

Membaca cast di awal film dijamin akan mengernyitkan dahi karena tidak ada pemeran papan atas. Walaupun bukan pula sekelas papan penggilesan. Film diawali dengan kegundahan Chris (diperankan Daniel Kaluuya) yang diajak sang pacar, Rose (diperankan oleh pendatang baru Allison Williams) untuk mengunjungi orang tuanya lantaran selama ini Rose tak pernah bercerita bahwa dia menjalin hubungan dengan pria berkulit hitam. Penah dengar nama dua pemeran di atas? Saya sih belum. Tahu sendiri kan, masalah ras di sana seakan tidak pernah selesai dan inilah yang oleh sutradara Jordan Peele dengan pintarnya diangkat ke kisah film dengan alur cerita yang ringan. Ya, ringan. Ternyata inilah alasan saya menyukai film anak-anak. Biasanya film yang rumit hanya akan membuat saya tertidur di gedung bioskop yang dingin. 

Tetapi walau ringan, film ini tetap menjadi thriller yang berkelas lewat skenario kuat yang juga ditulis oleh sang sutradara. Diawali adegan penculikan seorang kulit hitam oleh seseorang bertopeng besi, istri saya sempat merasa salah pilihan tontonan ketika selanjutnya banyak adegan mengagetkan dan menegangkan selayaknya thriller yang lain. Tidak diragukan lagi Get Out adalah film yang mengandalkan cerita yang disusun dengan seksama untuk membuat penonton terpaku pada kursi bioskop sampai filmnya habis. Terpaku pada kekuatan karakter pemain yang ternyata pada akhir film kita baru bisa membaca beberapa ekspresi bahwa mereka adalah pemain peran baik sebagai penipu calon korban maupun korban yang antara berada dalam pengaruh hipnotis dan pengaruh implan otak. 

Kembali ke cerita, ternyata kedua orang tua Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy (Catherine Keener) tetap menyambut sangat baik dan memperlakukan Chris dengan hangat. Chris sendiri merasa betah, meski saat dalam perjalanan dia dan sang kekasih sempat mengalami kejadian aneh seaneh sikap dua pelayan kulit hitam mereka yang belakangan ternyata mereka adalah kakek dan nenek Rose. Selain itu, dia juga sama sekali tak menyadari bahwa orang tuanya pacarnya itu memiliki benang merah dengan penculikan seorang pria berkulit hitam di di awal cerita. 

Lama-kelamaan Chris mulai merasakan sesuatu yang janggal. Dia mulai mencari-cari informasi, hingga kemudian bertemu dengan seorang pria berkulit hitam dalam sebuah pesta di rumah tersebut. Pria itu menghampirinya dan tiba-tiba berteriak histeris menyuruhnya untuk segera pergi. Hal yang sangat menarik dari Get Out misteri utama cerita yang tersimpan rapi yang membuat penonton mengalami hal yang sama dengan karakter Chris dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan menggiring kita menemukan jawabannya 10 menit terakhir. 

Hingga akhir cerita saya baru nyadar bahwa film ini termsuk low budget menilik settingan film dan properti yang digunakan. Dengan kejeniusan sang sutradara, hal tersebut tidak terasa karena setiap alur film dibuat sedemikian menarik dengan ketegangan-ketegangan. Pantas saja karena film ini diproduksi oleh Blumhouse Production yang juga memproduksi film-film horror berbudget murah tapi sukses di pasar seperti Insidious, The Purge, Oija, Sinister atau yang paling fenomenal Paranormal Activity.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar