Senin, 20 Maret 2017

Monokrom


Udara segar pagi musim penghujan ramah memenuhi rongga paru-paruku. Sementara mata lekat memandang nyaris tidak ada atmosfer yang berubah sepanjang jalan yang kususuri masih sama seperti 27 tahun yang lalu saat masih berseragam abu-abu putih bersama teman-teman. Deretan kantor, toko, pasar, taman kota, terminal masih berada di tempat semula. Bahkan tulisan nama tokopun sebagian masih sama semenjak aku baru mulai bisa membaca dan selayaknya anak yang baru bisa membaca hobinya semua tulisan yang ada di sekitarnya. Ini mungkin malah sudah nyaris 40 tahun berselang. Ada toko Erlangga, Sembodro, Baru, dan lainnya. Patung dua macan mangap di depan tukang gigi di dekat lampu bangjo Ponten masih setia memamerkan deretan rapi giginya (mungkin itu hubungannya icon macan dengan produk yang dijual). Semuanya membawaku sejenak terlempar ke masa silam puluhan tahun sebelumnya dimana aku menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota ini.
Masih seperti dulu
Inilah Wonogiri, Kawan. Kota kecil yang bagi sebagian perantau malu tidak secara terang-terangan untuk mengakuinya. Stigma negatif sebagai kota yang tidak berkembang karena kondisi alam yang tandus memang sempat melekat dan itu yang membuat sebagian perantau malu berterus terang. Seringkali aku mesti bertanya detil kepada Pakdhe Komar, pedagang mi ayam di pengkolan Jalan Poncol untuk mengetahui asalnya dari Girimarto. Atau Mbakyu Jasmine, penjual jamu gendong keliling asal Nambangan Selogiri. Rata-rata mereka akan mengatakan asal mereka dari Solo. Kalaupun 10 tahun belakangan aku mengatakan akan pulang kampung ke Solo, itu bukan dalam rangka malu mengakui kota kelahiranku tapi karena memang tujuan mudik telah berubah karena perpindahan domisili orang tua. 

Sebenarnya aku tak lebih dari 11 tahun saja tinggal di kota ini, usia 4 sampai lulus SD, dan selama 3 tahun masa SMA dan boleh dikata hanya sepenggal kecil dari perjalanan hidup. Namun masa kecil hingga remaja menyimpan banyak kisah yang tak terlupakan. Itulah mengapa saya langsung konfirmasi kehadiran saat menerima undangan reuni SMA tanggal 12 Maret berselang yang menurutku terlalu sayang untuk dilewatkan. Terlebih banyak teman sekolah yang sama sekali lost contact selama lebih dari 25 tahun. 25 tahun itu seperempat abad, Kawan. Reuni adalah waktu yang tepat untuk menyusun lagi kepingan-kepingan memori yang terserak dan tertumpuk panjangnya perjalanan waktu.
Aku masih ingat benar pertama kali menginjakkan kaki di halaman SMA N 1 Wonogiri tahun 1988. Saat itu merasa benar-benar terasing. Bagaimana tidak? Selepas menamatkan SMP di Solo praktis hanya teman-teman yang pernah satu SD saja yang kukenal. Aris, Jenar, Kandar, Alfi, Anton, dan Atik. Sementara mayoritas adalah lulusan SMP N 1 yang karena Bapak menjadi guru di SMP tersebut membuatku lebih cepat dikenal daripada aku mengenal teman-teman baruku. Lingkungan sekolah lamaku yang membuatku terbiasa bergaul dengan teman perempuan berjilbab, membuatku lebih cepat menghafal teman perempuan dari bentuk rambutnya daripada teman laki-laki. Bahkan sampai sekarang (meskipun bertemu lagi 27 tahun setelahnya) aku masih ingat betul jenis dan potongan rambut mereka. Dari sekian banyak teman perempuan, hanya satu yang membuatku cepat kuingat.
Itulah masa-masa yang menurut penuturan Pak Mulyadi, perwakilan guru yang dalam sambutannya dikatakan masa pencarian jati diri yang biasanya ditandai dengan kenakalan, usil, kreatif dan sebagainya sambil  mencontohkan beberapa kejadian yang entah sengaja atau tidak diakukan oleh satu orang saja seperti sabotase sepeda motor guru, menamai ulang tugas siswa lain dan sebagainya. Di akhir acara ‘si tersangka’ memohon maaf sambil mencium tangan sang guru yang dulu dikerjainya. Hmmm…cukup mengharukan.
Bu Yuli, KepalaSMA N 1 Wonogiri memberikan sambutan
Tak bisa dipungkiri, mengutip Bu Yuli sang Kepala Sekolah, yang paling seru adalah kisah asmara yang terjalin di sekolah. Meskipun tidak semua mengalaminya tapi bisa dipastikan ada benih-benih ketertarikan lawan jenis terjadi di SMA. Uniknya, di angkatan 91 ada sepasang murid yang menjadi ikon kisah cinta yang sekarang lagi di-booming-kan lagi dengan film sesuai nama mereka, Galih dan Ratna, mengadop dari film dan novel Gita Cinta dari SMA era tahun 70-an. Hanya saja perbedaannya pasangan ini tidak pernah terlibat dalam kisah asmara, malah penuturan Galih dalam sambutannya mewakili alumni, pernah naksirpun tidak. Ah, yang bener…

Galih, yang belakangan kuketahui keturunan Perancis akhirnya menjadi salah satu sahabat baikku hingga sekarang karena kebetulan mengambil kuliah yang sama, profesi yang sama, bahkan istriku dan istrinya juga berteman baik. Sementara Ratna, aku tidak banyak mengenal mantan anggota paskibra ini karena selepas lulus SMA nyaris tak sekali bertemu sebelum reuni kali ini. Secara fisik, bila disandingkan keduanya tak kalah dengan yang membintangi film tersebut.
 
The real Galih dan Ratna
Salah satu guru yang paling fenomenal saat itu yang hadir adalah Pak Soelarno, yang kami tahu beliau tidak suka dengan julukannya, Pak Tlenik. Entah dari mana asalnya setahuku julukan itu diturunkan dari senior kami. Mungkin dari senior dari seniornya lagi tanpa bisa ditelusuri lagi asal muasalnya. Beliau adalah sosok yang unik, misterius, serius dan cukup angker terlebih mata pelajaran yang dibawakannya adalah ‘hantu’ bagi sebagian orang, matematika. Satu hal yang yang lekat dalam ingatan kami adalah kebiasaannya yang secara humanis pada pertemuan pertama dan terakhir beliau tidak memberikan teori ataupun rumus matematika, tapi malah nuturi (memberikan nasehat) kepada murid-muridnya. Yang tidak terbantahkan dari pernyataan beliau adalah ‘Wong pinter kalah karo wong bejo’ (Orang pandai kalah dengan orang yang beruntung). Yes, absolutely true, Sir!. Perjalanan kami yang sudah cukup matang banyak membuktikan petuah Bapak.
The Legendary Pak Larno
Masalah atur mengatur jalan hidup, secara pribadi aku sangat puas dengan kedewasaan berfikir dan bersikap kawan-kawan semua. Maklumlah memang umur kita sudah menjelang setengah abad beberapa tahun lagi. Biasanya dalam setiap reuni pasti ada beberapa orang yang segan berpartisipasi karena masih adanya anggapan bahwa reuni dijadikan ajang pemer kesuksesan yang membuat beberpa kawan yang jalan hidupnya kurang beruntung merasa kurang nyaman. Alhamdulillah itu tidak terjadi baik reuni kelas maupun reuni angkatan. Barangkali karena sudah cukup amazed ketemu kawan lama dengan perubahannya masing-masing, percakapan yang kudengar hanya seputar “masih ingat aku nggak”, “kamu siapa ya”, “anakmu berapa”, atau “sekarang tinggal di mana”. 

Kami bahkan tidak perlu tahu kehidupan rumah tangga gadis yang pernah ditaksir. Atau si culun yang kini menjadi trainer ternama. Semua gembira berbaur tanpa mempedulikan lawan bicaranya itu siapa. Mengutip catatan FB sahabat saya Ade, mungkin ada di antara kami adalah pejabat eselon 2 atau 3 di pemerintahan, atau pengusaha dengan banyak karyawan, ataupun karyawan biasa, ibu rumah tangga, tapi kami lepaskan semua itu dan semua menyatu seperti waktu masih berseragam putih abu-abu. Sehari, kami benar-benar lupa umur ditingkahi canda tawa yang seperti pernah dilakukan 27 tahun sebelumnya. 

Hingga kini lebih seminggu setelah reuni masih banyak yang belum bisa move on dari suasana reuni ditilik dari ramainya 3 grupchat WA yang saya ikuti. Berbagai kisah kenangan masih sering dilontarkan di antara percakapan kondisi terkini yang membuat kami tersenyum kecil mengenang kembali serpihan puzzle dari perjalanan yang telah dilewati. Ada kisah manis dan getir tergambar di situ, sebuah gambar yang tak mungkin lagi dihapus atau dilukis kembali. Serpihan puzzle monokrom yang selayaknya disikapi sebagaimana adanya. Karena itu hanya menjadi bagian dari lukisan bersar kami masing-masing yang penuh warna. 
 

Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu
Kali pertama di hidupku
Manusia lain memelukku
Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu
Kue cokelat balon warna-warni
Pesta hari ulang tahunku
Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah
Kau melukis aku

(Monokrom-Tulus)
Ini memang bukan peserta reuni. Tapi pecel mi pentil yang sempat kinikmati pagi di CFD benar-benar enak dan murah. Sepincuk mi pecel dan dua tempe (gembus dan benguk) dihargai hanya 4 ribu rupiah. Sangat jauh dari harga jualannya Venny Rose yang minggu depan naik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar