Kamis, 16 Februari 2017

Mutiara yang Hilang

Maaf, saya tak hendak membahas lagu yang awalnya dinyanyikan Oma Ernie Djohan dan yang sempat dipopulerkan kembali di tahun 90-an oleh Tante Yuni Shara ini. Juga sedang tidak ingin menyanyi karena suara saya benar-benar kurang layak dan jika mengikuti kontes idol-idolan, pasti akan ditolak jauh sebelum ketemu Mas Anang, nggak tau kalau Mas Dhani bagaimana. Tapi saya ingin membahas tentang budidaya mutiara Lombok, produk andalan Lombok yang sangat prestisius itu. Siapa yang tidak kenal mutiara? Tidak kurang Ratu Elizabeth I, Elizabeth II dan Cleopatra diceritakan sangat gemar memakai perhiasan mutiara pada mahkota dan asesoris lainnya. 

Tidak ada sejarah mencatat kapan pertama kali mutiara ditemukan, karena baik Ernie Djohan maupun Yuni Shara belum melaporkan adanya kehilangan. Diperkirakan para nelayan kuno secara tidak sengaja menemukannya saat mencari ikan atau rumput laut. Hanya terdapat beberapa literatur yang menyebutkan bahwa raja-raja kuno Romawi menghiasi mahkotanya dengan mutiara, dan bahkan saking berharganya mutiara menjadi barang favorit rampasan perang. Selain Bangsa Romawi, Orang-orang Persia, Cina dan India selalu melengkapi keindahan dan kecantikan penampilannya dengan mutiara. 

Dermaga bekas perusahaan bududaya mutiara
Liburan saya awal tahun kemarin mengunjungi Lombok tak lengkap rasanya tanpa melihat budidaya mutiara yang menjadi andalan daerah ini. Kebetulan pula tempat kami menginap di Gili Asahan terdapat bekas kantor budidaya mutiara yang tak terpakai lagi karena masa kejayaannya telah lewat (ceritanya dapat disimak di sini). Awalnya saya sempat mengira bekas-bekas fasilitasnya sudah tidak terpakai sama sekali tapi ternyata di laut masih ada sisa-sisa karamba yang masih digunakan. Kebetulan waktu jalan-jalan pagi mengelilingi pulau saya melihat beberapa orang dengan perahu mendatangi semacam rumah terapung yang berada di ujung dermaga kemudian melakukan aktifitas, membuat saya kepo dan mendatangi mereka. 

Ternyata mereka adalah karyawan perusahaan mutiara yang tersisa. Pak Syamsi, yang tertua di antara mereka menjelaskan keberadaan perusahaan yang dimiliki oleh orang Jakarta kerabat Cendana. 

“Rumahnya kalau tidak salah di daerah Kemang. Bapak kenal?” Tanyanya seraya menyebut sebuah nama setelah mengetahui asal saya dari Jakarta. 

“Dahulu di sini ramai pak, segala fasilitas ada. Kantor, masjid, mess karyawan, klinik, showroom, pembangkit listrik dan sebagainya” sambil menunjuk satu per satu bekas instalasi dimaksud yang kini dikuasai oleh kambing dan sapi. 

Bekas kantor dan showroom/gallery
“Bangunan di seberang itu, yang juga sudah tidak terpakai, kantor perusahaan kami juga”. Sambungnya merujuk sebuah reruntuhan di Batu Putih, daratan Pulau Lombok. 

Beliau mengisahkan masa kejayaan mutiara 20-an tahun yang lalu. “Bisa melampaui harga emas” katanya. Kini, masa kejayaan itu telah surut sejak negara api menyerang makin maraknya mutiara air tawar yang prosesnya budidayanya lebih murah dan mutiara sintetis asal tiongkok yang makin sempurna mendekati asli dari sisi kualitas, warna, maupun kilaunya. Mutiara sintetis biasanya terbuat dari keramik, kulit/kerang, gelas/kaca atau bahkan plastik. 

Sambil bercerita beliau terus bekerja membersihkan kerang dari kotoran yang menempel berupa cacing, hama, dan kotoran yang akan memengaruhi pertumbuhan kerang dan hasil mutiara. Jenis kerang yang banyak dibudidayakan di pulau ini adalah spesies Pinctada maxima atau biasa dikenal sebagai ratu mutiara. Dari penanaman pertama, kerang ditempatkan pada jaring untuk masa 2 bulan pertama. Setelah tumbuh lebih besar akan dipindahkan ke keranjang besi setelah dibersihkan. Sebetulnya masih ada proses yang dimulai sejak larva kerang yang dipelihara di tangki dalam ruang tertutup dengan sangat hati-hati, dan diberi pakan berupa plankton secara berkala. 

Rekan-rekan Pak Syamsi sibuk membersihkan kerang
Keseluruhan proses dari pemeliharaan larva sampai panen bisa mencapai 2 tahun. Dapat dibayangkan berapa besar biaya operasional yang harus ditanggung selama itu, tidak mengherankan menurutnya banyak pengusaha yang gulung tikar. 

“Dari 68 pengusaha menjadi sekitar 6 atau 8 saja” tuturnya tanpa merinci tahun berapa data tersebut diperoleh. 

’Orang Jakarta’ yang mempekerjakan Pak Syamsi masih berbaik hati meneruskan usahanya meskipun tertatih-tatih. Ratusan karyawannya sekarang tinggal tak lebih dari 20 yang bertahan. “Inilah dinamika usaha pak, tak selamaya berjalan mulus”. 

Setelah banyak ngobrol kesana kemari tentang mutiara, gantian Pak Syamsi yang kepo tentang Jakarta. “Gimana kabar umat Islam di sana, pak? Besok ada jadwal sidang lagi. Apakah teman-teman terus mengawal? Sebetulnya saya ingin sekali ke sana.” Tentu saja pertanyaan yang membuatku kaget, bagaimana seorang yang jauh dari Jakarta bisa sedemikian peduli dengan kasus penistaan agama. Sementara boro boro saya tahu ada jadwal sidang, wong hari-hari sebelumnya disibukkan rencana liburan. 

“Luar biasa pak, dua kali aksi damai jutaan umat yang hadir” jawabku mengalihkan topik. “Berkilo-kilo jalan dipakai untuk sholat Jumat, kalau tidak berangkat sejak subuh jangan harap mendekati Monas. Orang tua, anak-anak tumplek blek jadi satu, bla bla bla….” sambungku panjang lebar tentang apa yang kuketahui mengenai aksi 411 dan 212 dibumbui detil kondisi Jakarta. Dengan antusiasme tinggi diselingi dengan celetukan dan pertanyaan saudara-saudara baru saya di rumah apung ini. 

Perasaan lega menyelimuti ketika saya berpamitan sambil mengucap salam. Lega karena tidak ada satupun pertanyaan apakah saya ikut aksi tersebut, yang hanya menjadi mimpi bagi mereka. 

Abandoned

Tidak ada komentar:

Posting Komentar