Kamis, 02 Februari 2017

Kisah Syedih Momo


Masih ingat cerita kucing kesayangan anak kami? Namanya panggilannya Momo, yang dalam bahasa jepang berarti abu-abu. Walaupun warna bulunya memang abu-abu tapi anak saya menamakannya bukan karena itu. Bukan pula karena mirip asesoris racing mobil karena bentuknya gak ada mirip-miripnya sama sekali dengan setir, shifter knob maupun pedal, baik dalam posisi berdiri, duduk maupun berbaring. Tapi karena bulunya panjang dan tidak rapi mirip kemoceng. Tau kemoceng kan? Kalo gak tau berarti masa kecil Anda menyenangkan karena tidak pernah disuruh ibu buat bersih-bersih rumah. Nah, dari nama momo tersebut akhirnya saya modifikasi nama panjangnya agar terdengar lebih elegan dengan embel-embel gelar keraton, Raden Roro Dyah Ayu Kusumowardhani. Maksudnya biar tidak kebanting dengan nama kucing kami yang hilang sebelumnya, Timbul Hadiprayitno atau biasa dipanggil Timmy. 

Pada tulisan sebelumnya sudah saya ceritakan bagaimana pada akhirnya anak saya mengerti dan memahami bagaimana tanda-tanda kucing birahi setelah berhari-hari khawatir peliharannya menunjukkan gejala sakit. Singkat cerita setelah beberapa kali dicarikan jodoh kucing milik teman, putus nyambung atau sekedar flirting dengan kucing tetangga, sempat pedekate dengan ikan koi, setelah move on dari patah hati karena ternyata tidak berjodoh dengan burung gereja yang sering mampir balkon rumah, akhirnya kami mendapat pinjaman kucing pejantan dari mbak Sri Chaerul, teman kantor saya. Beliau berbaik hati meminjamkan Omo (kebetulan namanya mirip) sesama kucing Persia yang In shaa Insya Allah bagus dari segi nasab, akhlak dan rupanya. Pokonya ideal dan sekufu lah dengan Momo… 

Namun rupanya usaha besanan saya dengan mbak Sri tidak berjalan mulus. Beberapa hari pertama di rumah saya si Omo malu-malu ngumpet terus di bawah sofa dan sekalinya keluar akan digalakin sama Momo. Kepalanya dijitak, punggungnya dicakar, wajahnya disetrika, tangannya disiram air keras, makanannya dicampur air kloset dan sebagainya. Pernah dengar kisah sedih TKW disiksa majikan di luar negeri? Ya mirip-mirip itulah nasib Omo. Mudah-mudahan mbak Sri tidak membaca kisah memilukan ini. Lama kelamaan si Omo menyerah. Dua hari tidak makan membuat tubuhnya kurus kering seperti tulang terbungkus kulit bulu. Wajah garangnya layu. Entah sakit atau lagi mogok makan saya tidak tahu persis karena waktu si Omo kuliah dulu saya tidak tahu apakah dia termasuk aktivis yang suka protas protes atau bukan. 

Hari berikutnya saya bawa Omo ke dokter hewan dan beruntung kasusnya tidak dibawa ke Komnas HAM (Komite Nasional Hak Asasi Meong) dan hanya diberi vitamin penambah nafsu makan dan obat gangguan pencernaan saja. Kalau kasusnya diperpanjang pasti saya ikut repot harus menghadapi wartawan infotainment yang berdatangan tak kenal waktu. Dua hari diberi obat menunjukkan perbaikan yang signifikan seiring dengan telah melunaknya perlakuan Momo yang semakin welcome. Seminggu berikutnya keduanya semakin akrab walaupun kadang-kadang kalau ketemu mereka masih malu-malu kucing. Yah, mau bagaimana lagi wong mereka kucing beneran. Dua minggu berikutnya adalah proses yang saya tidak perlu ceritakan di sini. Meooooong.… ;)

Sepulang Omo kembali ke si empunya, beberapa minggu kemudian meninggalkan tanya bagi anak-anak apakah si Momo hamil atau tidak karena sudah tidak lagi menampakkan gejala birahi dan perutnya masih six pack juga. Berikutnya mereka googling mencari tahu tentang masa dan ciri-ciri kehamilan seekor kucing. Kali ini bertambah satu nara sumber, seorang dokter hewan ibu teman sekolah Salma. Salah satu tanda kehamilan kucing yang menggembirakan anak-anak adalah puting susu Momo yang membesar sebagaimana layaknya mamalia lain yang disiapkan untuk menyusui anaknya kelak. Jadi sampai sini dapat disimpulkan bahwa yang tidak menyusui anak itu namanya papalia. Bukan mamalia. Masih penasaran, Fey minta supaya Momo diperiksa oleh dokter hewan untuk memastikannya. Oalah ndhuk…. 

Dan berita gembira datang juga. Momo dinyatakan hamil oleh dokter hewan di pet shop langganan kami, Paws n Claws. Bukannya sengaja diperiksakan, tapi waktu mau di-grooming oleh dokter hewan tidak disarankan karena dikhawatirkan penanganan waktu mandi akan mengganggu janin. Duuh… ini kucing apa manusia sih? Sampai di situ fikiran saya melayang ke kucing liar di pasar inpres Pondok Bambu yang dalam keadaan hamil besar harus mencari makan di tumpukan sampah atau di sekitar lapak dengan resiko ditendang atau ditimpuk kalau dianggap mengganggu manusia. Hiks…. Poor cat

Dan hari-hari berikutnya adalah penantian kelahiran karena kucing memerlukan 2 sampai 3 bulan kehamilan sampai melahirkan anaknya. Perhitungan sejak Omo pulang maka HPL-nya adalah pertengahan hingga akhir Januari. Selama waktu itu anak-anak benar-benar memperlakukan Momo bak seorang ratu. Diberi banyak makan mulai dari cat food, ayam rebus, berbagai macam buah-buahan hutan, mie ayam Bangka hingga nasi jamblang Cirebon. Tiap hari dielus-elus dan semua kebutuhannya disiapkan seperti tisu basah, sepatu, pantyliner hingga tusuk gigi. Bahkan saya dilarang bersin terlalu keras kalau Momo sedang tidur. Takut mengagetkan kata mereka. 

Akhirnya tibalah hari kelahirannya, Minggu siang 29 Januari kemarin setelah sejak sehari sebelumnya si Momo mengitari seluruh sudut rumah mencari Rumah Sakit Bersalin yang nyaman. Kata anak-anak menjelaskan dari google bahwa kucing akan mencari tempat beranak yang gelap, sepi, dan jauh dari manusia. Oleh karena itu anak-anak sudah menyiapkan alas handuk di beberapa tempat tersembunyi yang sudah pernah disurvey Momo. Sejak Sabtu sore Momo sudah terlihat gelisah mondar-mandir ke tempat persembunyiannya dan menjadi lebih manja, suka guling-guling dengan wajah memelas. Pada tahap ini saya jadi teringat hampir 17 tahun lalu saat menunggu kelahiran anak pertama. Hehehee… 

Pas proses melahirkan, kedua anak saya tidak kalah sibuk dengan HP masing-masing. Salma si sulung aktif berkomunikasi via whatsapp dengan temannya yang anak dokter hewan, sementara adiknya, Feyza googling tentang proses persalinan. Sesekali keduanya diskusi saling mencocokkan informasi yang mereka peroleh. Sayang sekali si bayi kucing tidak berumur panjang. Sesaat setelah dilahirkan si Momo bukannya menjilati sisa plasenta yang menutupi seluruh tubuh tapi malah ditinggal pergi. Waktu saya bantu membersihkan selaput yang menutupi jalan pernafasan dengan kain lembut, sepertinya sudah terlambat. Apa mau dikata, barangkali Momo harus lebih bersabar memiliki kucing kecil yang lucu. yang sabar ya Mo....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar