Senin, 16 Januari 2017

Separuh Asu


Awalnya saya menganggap bahwa anjing adalah binatang menjijikkan, berperangai buruk dan menyebalkan (mungkin) karena doktrin yang telah berhasil tertanam selama berpuluh tahun dalam benak saya dan jutaan orang lainnya melalui keterwakilannya sebagai kata umpatan, kasar level dua di bawah kata baj*ngan. Saya tidak tahu asal muasalnya mengapa makhluk ciptaan Allah itu digunakan untuk memaki, pun tidak faham apa kesalahan kusir gerobak sapi sehingga namanya dijadikan kata umpatan level satu. Yang saya tahu hanyalah menurut pandangan agama saya bahwa air liur dan kotoran anjing itu termasuk najis berat dan dagingnya haram dikonsumsi. 

Saya lahir dan besar di lingkungan yang nyaris tidak ditemukan anjing liar di sekitar tempat tinggal. Paling ada satu atau dua peliharaan warga yang dilepas, dan itu yang membuat saya sewaktu kecil ketakutan setiap melihat anjing. Mengapa? Mungkin karena mereka merasa sebagai binatang langka (tidak seperti kucing) kebanyakan anjing yang saya kenal pasti belagu, sok galak dan agresif. Apalagi di depan tuannya. Kalau ibu minta untuk belanja ke warung, saya akan suka rela lebih memilih memutar jalan melalui tujuh bukit halimun dan lima lembah berduri daripada lewat depan rumah tetangga yang memelihara anjing. 

Dari kecil saya lebih suka memelihara kucing kampung. Alasannya simpel, yang doyan nasi tempe sisa makanan saya ya cuma kucing meskipun kadang-kadang suka naik meja makan mendahului saya mengambil jatah tempe. Kesukaan saya memelihara kucing akhirnya menurun ke anak-anak saya (baca artikel sebelumnya di sini). Bukan hanya kucing, mereka juga menyukai semua jenis binatang dan lucunya, semua binatang akan dipanggil dengan nama panggilan kucing peliharaannya. Makanya jangan heran, dalam liburan bernuansa adventure keluarga kami di Lombok dan Bali kemarin banyak sekali yang disebut Momo. Sapi, kerbau, kambing, monyet liar, dan…. anjing liar. Mengherankan memang dimana pulau Lombok yang biasa disebut pulau seribu masjid banyak berkeliaran momo liar. Eh, anjing liar. Malah Fey, bungsu kami minta untuk memelihara di rumah setiap binatang yang ditemui. Sapi, kerbau, monyet… 

Ternyata nama asli Gepeng adalah Ical. Semua penduduk Gili Asahan mengenalnya karena sifatnya yang playboy
Agak sedikit berbeda kalau anak-anak agak lama berinteraksi dengan binatang yang ditemuinya, mereka akan dinamakan dengan apa saja sesuai imajinasinya. Misalnya waktu di desa Batu Putih, Sekotong menunggu penyeberangan ke Gili Asahan anak-anak bermain dengan dua ekor kucing yang dinamai Nga dan Wow, yang diambil dari suara masing-masing. Dua hari di Gili Asahan, segera anak-anak akrab dengan Gepeng, kucing yang dinamai dari bentuk badannya. Malah si Gepeng dibiarkan makan di atas meja bersama-sama kami yang sedang menyantap ikan bakar di tepi pantai nan biru bening. 

Di Sembalun kaki gunung Rinjani tempat saya 20 tahun yang lalu memulai pendakian, kami bertemu seekor kucing kecil yang oleh anak-anak dinamai kucing adat karena ditemui di rumah adat Suku Sasak. Uniknya si kucing adat ini seperti tahu diajak interaksi dan diperhatikan lalu mengikuti kami terus bahkan sampai mendaki bukit Selong, turun lagi dan diam di kolong mobil seolah tidak mau ditinggal. Hiks… 

Si Kucing Adat mengikuti kami sampai Bukit Selong  
Dan begitulah Kawan, tidak hanya manusia binatangpun juga memliliki naluri untuk disayang dan diperhatikan. Mereka juga akan memberikan respon balik setiap tindakan kita, tidak terkecuali anjing yang sebelumnya saya anggap menyebalkan. Sedikit cerita yang merubah pandangan saya tentang anjing adalah di Pantai Kuta Lombok. Saat itu kami membawa sendiri bekal makan siang karena dua hari sebelumnya mengalami kelaparan sebab kesulitan menemukan warung makan mengingat tempat yang kami datangi adalah daerah sepi termasuk tidak lazim bagi wisatawan lain. Seperti daerah lain di Pantai Kuta banyak sekali anjing liar berkeliaran dan setelah diusir hanya tertinggal satu ekor setia menunggu kami makan makan bekal nasi bungkus dengan tatapan mata memelas. Mata itu mengingatkan saya pada Momo, dan baiklah kita namai saja demikian. 

Momo berteduh menunggui saya berfoto di tepi pantai
 Momo ini tidak seperti tipikal anjing yang terpatri dalam benak saya. Arogan, rese, galak dan agresif. Dia hanya diam saja menunggui kami makan dan menjaga jarak seolah dia tahu bahwa tubuhnya mengandung najis berat. Akhirnya nasi bungkus yang sengaja tidak saya habiskan dilahap dengan cepat oleh Momo hingga bersih dengan dijilatinya. Terpaksa saya harus menggunakan plastik sebagai sarung tangan untuk membuang bungkusnya ke tempat sampah. Apa yang terjadi setelah itu? Mirip si kucing adat Momo mengikuti ke mana-mana. Saya ke tepi pantai untuk berfoto-foto dia berteduh menunggui di bawah pohon, ke minimarket dia setia menunggu di luar sampai terakhir kali mata memelasnya melepas kepergian kami ke obyek wisata berikutnya. 

Hmmm..... Kok jadi pengen memelihara anjing ya? 

Kucing di Gili Asahan rata-rata bersih dan sehat. Tebak apa yang dimainkan anak-anak di belakang? Betul.... tablet dan smartphone!

Banyaknya bangunan tak terpakai milik perusahaan budidaya mutiara dimanfaatkan kambing untuk beristirahat

Keluarga monyet di Pusuk Sembalun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar