Selasa, 10 Januari 2017

Jangan Lamar Gadis Sade!

 
Kalau Kawan jatuh hati dan ingin menikahi gadis Sade, salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, jangan coba-coba untuk bersikap gentlemen dengan mendatangi orang tuanya dan melamarnya baik-baik. Alih-alih simpati yang didapat, orang tua si gadis pasti akan marah karena merasa terhina karena itu dianggap ‘membeli’ anak gadisnya. Lantas bagaimana jika serius ingn menikahinya? Gampang, culiklah si gadis! 

Sade dikenal sebagai dusun yang masih mempertahankan adat dan menjaga keaslian desa suku Sasak, suku asli pulau Lombok, meski berlokasi persis di samping jalan raya. Jangan bayangkan sebuah kampung adat seperti halnya Baduy yang jauh dari akses jalan. Ada 150 Kepala Keluarga (KK) di Sade dengan penduduk sekitar 700 orang yang kesemuanya masih berkerabat. Dulu, penduduknya banyak yang menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari). Tapi sekarang, banyak penduduk Sade sudah meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya. 
Pemandu kami di beranda rumah
Islam waktu telu merupakan sisa proses penyebaran agama Islam di Lombok di mana telu (tiga) bukan hanya waktu sholatnya namun juga mencerminkan tiga kesatuan yang dijadikan pedoman, yakni Islam, Hindu, dan animisme. Waktu telu tersebut digambarkan dalam jumlah anak tangga rumah tradisonal mereka dari beranda ke ruangan yang lebih atas terdiri dari dapur dan kamar tidur anak gadis sekaligus tempat melahirkan. Setelah murni menjalankan syariat Islam, ditambahkan lagi 2 anak tangga dari pintu utama ke beranda sehingga kesemuanya berjumlah 5 yang melambangkan rukun Islam. Penempatan dapur di ruang yang lebih tinggi dimaksudkan untuk mengurangi resiko kebakaran mengingat material rumah terdiri dari bahan yang mudah terbakar seperti kayu, bambu, beratapkan jerami beralaskan tanah. 
Dapur yang berada di ruang lebih tinggi. 
Ruang tidur anak gadis merangkap ruang melahirkan

Ada satu hal unik pada lantai tanah rumah tradisional Sasak yang dinamakan ‘bale’ tersebut, yaitu kebiasaan warga desa mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. Bukan sembarang kotoran kerbau, tapi dipilih yang fresh from the oven yang (katanya) masih hangat. Konon katanya kotoran baru ini tidak berbau seperti yang sudah lama. Fungsi kotoran kerbau ini untuk memeperkuat struktur lantai agar tidak pecah-pecah saat panas dan mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah. Sementara lantainya sendiri terbuat dari tanah yang dicampur dengan sekam padi membuat suhu rumah tetap dingin pada siang hari dan hangat malam harinya. 

Kalau Kawan memperhatikan ikon Lombok, itu sebenarnya adalah bentuk gudang penyimpanan padi Suku Sasak. Sama seperti daerah lain, biasa disebut lumbung padi. Di Dusun Sade, satu lumbung dipakai bersama oleh 5-6 keluarga. Tidak ada pencatatatan atau pemisahan tersendiri setiap keluarganya, bahkan penggunaannyapun dibebaskan karena sistem yang diterapkan bersifat kekeluargaan. Sebagai masyarakat Agraris, mereka hanya panen sekali dalam satu tahun karena pengairan sawah dari tadah hujan. Ada aturan tersendiri yang boleh masuk untuk meletakkan dan mengambil padi di lumbung, yakni hanya untuk yang telah mempunyai keturunan karena diyakini bagi yang belum memiliki akan menyebabkan kemandulan. 

Inilah ikon Lombok, lumbung padi suku sasak
Selain bercocok tanam, warga Sade juga menenun kain dan membuat pernik-pernik seperti gantungan kunci, gelang, kalung yang dijual kepada wisatawan. Proses pembuatan kain tenun dimulai sejak pemintalan benang hasil tanaman kapas mereka sendiri. Kami bertemu seorang nenek (papuk nine) sedang memintal benang di depan rumahnya. Dengan bahasa isyarat beliau menawarkan kami untuk mencoba memintal benang. Setelah menjadi benang akan diwarnai dengan pewarna alami seperti akar, daun dan sebagainya.

Nenek pemintal benang
Penenun Dukuh Sade. Hanya dilakukan kaum perempuan
Proses penenunan dilakukan hanya oleh kaum perempuan dan merupakan pantangan bagi lelaki turut menenun karena akan dianggap sebagai banci. Biasanya anak gadis suku Sasak akan belajar menenun di usia 8 sampai 10 tahun, dan kalau sudah mahir membuat kain di situlah orang tua mesti berhati-hati karena dianggap sudah layak untuk dinikahi dan rawan penculikan. Di Dusun Sade tidak ada pernikahan seperti lazimnya kebiasaan di tempat lain. Hanya ada 2 kemungkinan, kawin lari (bila kedua pihak saling cinta) atau kawin paksa (bila gadis tidak cinta) yang keduanya dimulai dari penculikan. 
Warna warni cerah kain tenun. Hanya menggunakan bahan alami
Namun jangan dibayangkan penculikan ini akan seseram drama penculikan seperti dalam film-film, karena pada akhirnya ini hanya menjadi sebuah proses perjodohan suku Sasak. Di Dusun Sade terdapat pohon cinta yang menjadi saksi bisu bertemunya pasangan kawin lari untuk tempat bertemu sebelum kabur bersama. Setelah menculik, keluarga pria wajib memberitahukan kepada pihak keluarga wanita agar keluarganya tidak khawatir. Selama penculikan, si gadis akan dititpkan di suatu tempat yang tidak diketahui oleh keluarganya. Selanjutnya Kedua belah pihak didampingi kepala Desa membahas rencana pernikahan, dan pihak pria harus memenuhi persyaratan yang diminta. Setelah ijab Kabul, kedua mempelai akan diarak keliling kampung. Tradisi ini disebut Nyangkolan yang bertujuan untuk memperkenalkan pengantin baru ini ke warga desa.
Pohon cinta, secret rendezvous pasangan penculik-korban penculikan
Jadi, bagaimana Kawan? Sudah siap menjadi penculik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar