Senin, 23 Januari 2017

Hidden Paradise Gili Asahan

Selasa siang 2 Januari 2017, rintik gerimis menyambut kedatangan saya bersama rombongan 7 orang di Bandara Lombok. Saya bersama istri dan 2 anak plus adik ipar dan suami dengan satu anak. Itulah kali kedua saya menjejakkan kaki di pulau itu setelah sebelumnya 20 tahun yang lalu waktu mendaki gunung Rinjani. Segera saja kami tancap gas dengan mobil sewaan mencari rumah makan mengingat sedari pagi perut baru terganjal sebuah roti saja. Dengan mengandalkan aplikasi google maps saya pede saja mengemudikan mobil sendiri di jalur yang asing selama 4 hari ke depan. 

Tidak tersisa sedikitpun memori menyusuri jalanan antara Mataram – Lembar, pelabuhan penyeberangan arah Pulau Bali (tahun 1996 saya menggunakan angkutan bus dari Jakarta). Yang pasti kondisi jalan utama sangat mulus, berbeda dengan jalur alternatif yang sempat saya coba antara By Pass Bandara sampai Gerung, ibukota Kabupaten Lombok Barat. Sesampai Lembar perjalanan dilanjutkan ke arah Kecamatan Sekotong yang jalanannya didominasi kelokan menyisir pantai yang jernih. Selepas Sekotong jalan makin menyempit hingga pas-pasan saja untuk berpapasan dengan mobil lain. Di sepanjang jalur ini pemandangan makin indah dengan harmoni pantai, sawah, dan perbukitan. 

Tujuan pertama saya adalah ke Gili Asahan. Pulau yang memberikan sensasi tinggal di pulau pribadi. Atas rekomendasi Lia, yang pernah mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi di sana, menceritakan bagaimana kesederhanaan kondisi pendidikan di tengah kebersahajaan kehidupan masyarakatnya. (Siapakah gerangan Lia keponakan baru saya, kisah perkenalan saya dapat disimak di sini). Hmmm…. menarik nih, secara saya lebih suka membawa keluarga berwisata yang sedikit menantang. Memang selain keindahan taman bawah lautnya, di sini menawarkan ketenangan yang tidak diadapati terlebih di tiga gili bagian utara (air, meno dan trawangan) yang menurut saya terlalu mainstream

Serasa pulau milik sendiri, sensasi yang mustahil diperoleh di Gili Trawangan
Sebenarnya masih banyak Gili di Lombok selain tiga gili tersebut, bahkan ada puluhan jumlahnya. Di bagian barat ada Gili Gede, Nanggu, Rengit, Asahan dll, di bagian tengah ada Gili Anak Anjan, Krucut, Penginang, dll dan di bagian timur ada Gili Sulat, Kondo, Lampu, dll. Semuanya kesemuanya menawarkan keindahan masing-masing. 

Jalan perkampungan yang tenang dan damai
Gili Asahan nyaris luput dari wisatawan lokal tapi cukup menjadi destinasi favorit di kalangan wisatawan manca negara. Wisatawan mancapun kebanyakan yang mencari ketenangan seperti keluarga atau kelompok usia matang. Selain ketenangan, di sini wisatawan dapat lebih terlibat secara interaksi sosial dengan penduduk asli pulau ini. Pantai dengan pasir putih, pohon nyiur yang melambai, dan suasana yang tenang menciptakan suasana damai. Sangat cocok bagi mereka yang menyukai ketenangan. 

Tak perlu sulit mencari tanah lapang karena setiap sudut pulau adalah tempat mereka bermain.
Sebagaimana layaknya anak kota, anak-anak Gili Asahanpun tidak mau kalah dalam akses teknologi informasi

Tak perlu ke salon buat highlight, rambut si cantik ini asli memerah karena paparan sinar matahari
Letaknya yang nyaris di ujung barat pulau Lombok di Desa Batu Putih, Kecamatan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat membuat wisatawan kurang tertarik mengunjunginya. Rata-rata hanya akan sampai Gili Nanggu saja. Tapi apalah artinya selisih 45 menit dengan jalan mulus berkelok? itu sangat ‘murah’ bagi yang terbiasa menghadapi lalu lintas Jakarta. Sesampai Desa Batu putih telah ditunggu oleh Bang Safari, pemilik Avarat Cottages yang kami sewa. Dia adalah seorang penduduk asli Gili asahan yang seorang aktivis lingkungan penjaga kelestarian terumbu karang dan biota laut di Lombok. Di antara 30-an Kepala keluarga di sana terdapat pengelola villa bernama Luciano, seorang asing warga Italia yangbersahabat dan termasuk pecinta alam, yang telah tinggal di Indonesia selama 20 tahun dan turut menjaga lingkungan sekitarnya dengan baik. 

Salma di depan Avatar Cottages milik Bang Safari. Saya merekomendasikan tempat ini karena sebagian keuntungan sewa akan dipergunakan untuk pelestarian lingkungan laut.
Selain pemukiman dan villa, di Gili Asahan terdapat bekas kantor perusahaan bududaya mutiara beserta beberpa fasilitasnya seperti asrama, masjid, dan penginapan yang dibiarkan rusak. Ini adalah sisa-sisa peninggalan masa kejayaan mutiara tahun 90-an dimana harganya jauh di atas harga emas. 

Dua hari di sana kami nikmati dengan jalan-jalan di tepi pantai, menikmati sunset dan sunrise, memotret, berinteraksi dengan warga yang ramah, wisatawan manca, dan bermain air. Keheningan malam benar-benar dapat kami nikmati di tepi pantai di bawah taburan bintang bahkan tanpa gangguan pekerjaan karena sinyal telefon seluler yang ada hanya dari operator Telkomsel sementara published number saya adalah Indosat. What a wonderful world! 

Tak lengkap rasanya hanya bermain air tanpa melihat isi di dalamnya. Esok paginya kami dengan diantar Bang Safari snorkeling di pulau-pulau sekitar Gili Asahan yang terkenal akan keindahan bawah lautnya. Terumbu Karang yang indah serta arus laut yang kuat membuat banyak para diver merasa tertantang untuk menyelam di daerah tersebut. Ada banyak penyedia jasa diving guide merekomendasikan anda untuk mengunjungi diving spot di salah satu dari banyak Gili di Lombok Barat ini. Dan yang berada di Batu Putih atau Gili Asahan adalah Dive Zone. Hmmm…. Melihat keindahan bawah laut rasanya ingin kembali aktif diving setelah lama vakum sejak tahun 2003 lalu. 

Let's go!
Terumbu karang di sekitar Gili Layar
Selain diving dan snorkeling menikmati keindahan alam Gili Asahan yang cukup tenang, Gili Asahan juga dikaruniai bukit-bukit yang bisa didaki. Malas mendaki? Keliling menyisir pulau juga sangat memungkinkan, paling-paling hanya butuh waktu 2 jam saja. Alam Gili Asahan masih menyajikan keanekaragaman fauna. Ada kicauan ratusan burung menyambut pagi. Bahkan menurut ponuturan penduduk, dulunya masih banyak babi hutan dan rusa berkeliaran di hutan sebelum habis diburu. Sayang sekali. 

Kunjungan saya di Gili Asahan diakhiri dengan menyantap nikmatnya ikan bakar di tepi pantai yang bening ditambah lagi dengan badan penat setelah snorkeling dan berenang di laut. Rasanya malas sekali beranjak kalau saja pengunjung cottage berikutnya belum datang. Siang itu, sekelompok peneliti dari WCS (Wildlife Conservation Society) rekan Bang Safari telah menanti menggantikan kami tinggal di situ. 

Terima kasih Bang Safari, tetap jaga keindahan laut Lombok. Suatu saat nanti kami akan datang kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar