Senin, 09 Januari 2017

Eyang Youtube

 
Dengan berat kubuka mata di tengah kehaningan pagi yang lumayan panas di akhir Desember. Perlu waktu untuk mengumpulkan kesadaran sedang di mana aku demi merasakan di bawahku ada kasur dan bantal yang bukan biasanya, mirip-mirip dengan buffering nonton youtube menggunakan paket murahan. Sejurus kutengok sebelah, Alhamdulillah masih orang yang biasanya tidur bersamaku. Sayup-sayup terdengar lantunan suara mengaji. Tidak salah lagi itu suara bapak ditilik dari cengkok jawa yang telah berpuluh tahun lalu aku dengar meskipun separuh lebih dari usiaku kulewatkan di tanah rantau. Itulah bapakku, sedang mengaji di ‘meja kerja’nya yang sengaja diletakkan di teras depan rumah. 

Ya, pagi itu aku melewatkan azan Subuh karena malamnya sulit sekali memejamkan mata di tengah gaduhnya sura cekikan anak-anak hingga lewat tengah malam. Dan seperti itulah kabiasaan setiap pulang ke rumah bapak, anak-anakku dan sepupunya selalu melepas kangen dengan bercanda sepanjang malam. Bisa dibayangkan 6 ABG berusia 13-19 tahun pasti tidak akan kehabisan topik pembicaraan. Malah kadang-kadang kalau mereka lapar di tengah malam pasti kegaduhan akan bergeser ke dapur, persis di depan jendela kamar di mana aku tidur. Duh!

Tanaman lengkleng mulai berbuah. Buahnya besar dan rasanya manis. Sayang dagungnya tipis karena bijinya besar.
Cara mereka bercanda yang beberapa bulan lalu sempat membuat ibu tidak habis fikir, bagaimana bisa 6 anak dengan masing-masing memegang kotak – begitu istilah ibu menyebut gawai – dengan tangan dan mata terfokus pada gawai masing-masing tapi kompak dan saling bersahutan. Mudah ditebak, dengan grupchat mereka para Gen Z merasa lebih nyaman berkomunikasi dalam satu majelis. Waktu itu memang baru 2 jenis komunikasi yang dikenal ibu; telefon dan sms walaupun sudah memiliki ‘kotak’ sendiri berupa tablet yang biasa dipakai untuk pengajian. Beberapa aplikasi seperti Alquran, Hadits, Tafsir, dsb telah diinstall oleh kakakku yg kedua. 

Awalnya beliau heran dengan seorang ustadz yang setiap kali membaca referensi baik berupa ayat maupun hadits dari perangkat ‘kotak besar’ dengan stylus yang mengingatkan pada sabak (batu tulis) waktu SR dulu. “Kae opo to le?” tanya beliau ke Alif, ponakanku. Dengan gamblang Alif menerangkan kegunaan, fungsi, lengkap dengan cara pakainya. Lalu beliaupun mangut-mangut dan beberapa hari berikutnya beliau mentipkan sejumlah uang kepada kakakku untuk dibelikan tablet. Sejak saat itu beliau faham pemakaian sebatas offline saja. 

Selain burung kenari, bapak mencoba membiakkan perkutut.
Lain ibu lain pula bapak. Beliau juga memiliki ‘kotak’ sendiri hadiah ulang tahunnya dengan penggunaannya yang berbeda. Bapak yang tidak pernah mau diam – apapun dikerjakannya mulai dari berkebun, memelihara burung, membetulkan benda apapun di rumah - lebih suka install lagu-lagu campur sari dan lagu-lagu pop tahun 60-70an era Titiek Sandora atau Mus Mulyadi. Satu lagi hal yang meyebabkan memorinya cepat penuh, hobinya memfoto apapun dengan tablet. 

Itulah orang tuaku, Kawan. Mereka yang di usia senjanya masih ingin mengikuti perkembangan teknologi informasi dengan caranya masing-masing. Memang tidak dipungkiri teknologi sangat mempermudah kehidupan kita sampai-sampai kita merasa tak mampu melakukan apapun tanpanya. Mari kita hitung, berapa kali kita menggunakan perangkat tersebut dalam sehari. Sekedar komunikasi untuk tetap keep in touch dengan komunitas, memantau jalan yang akan dilewati, mencari berita, hingga ajang unjuk eksistensi diri (seperti blog ini) . 

Tunas bayam merah dalam pot sabut kelapa buatan bapak dan ibu
  Kembali ke kepulanganku akhir tahun ini setelah dua bulan sebeumnya, ada perubahan signifikan di rumah bapak. Halaman mungil menjadi lebih rapi dengan beberapa pot terbuat dari sabut kelapa berisi tanaman sayuran berjajar rapi di atas pagar. Kandang burung perkutut lengkap dengan telurnya, tanaman lengkeng berbuah, dan....perangkat router wi-fi

Kini, ibu telah lancar menggunakan whatsapp untuk berkomunikasi dengan anak cucu, grup pengajian dan lainnya. Bahkan keahliannya membuat rajutan dengan beberapa model didapatnya dari youtube! “Pingin gawe tas koyo nggone ibune Salma kae lho, mosok mung koyo ngono wae larange ra umum” kata ibu. Ternyata yang dimaksud adalah tas Dowa milik istriku. Sementara bapak? Beliau tetap lebih memilih untuk menyalin manual bahan-bahan tausiahnya dari beberapa buku. Mungkin belum tertarik mengikuti ibu menggunakan internet. 

Bapak tetap setia dengan cara konvensional menyalin tanpa menggunakan internet di 'meja kerja'nya. Sesekali sambil terkantuk-kantuk :)
Sore hari sebelum kembali ke Jakarta sambil mengemasi pakaian di kamar kudengar percakapan ibu dengan mbok Yem, perempuan 70 tahunan tukang cuci part time di rumah ibu, 

“Pot-e sabut klopo Eyang ndamel piyambak to?” 

“Enggih” jawab ibu. 

“Lha nopo carane mirsani saking youtube?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar