Senin, 23 Januari 2017

Hidden Paradise Gili Asahan

Selasa siang 2 Januari 2017, rintik gerimis menyambut kedatangan saya bersama rombongan 7 orang di Bandara Lombok. Saya bersama istri dan 2 anak plus adik ipar dan suami dengan satu anak. Itulah kali kedua saya menjejakkan kaki di pulau itu setelah sebelumnya 20 tahun yang lalu waktu mendaki gunung Rinjani. Segera saja kami tancap gas dengan mobil sewaan mencari rumah makan mengingat sedari pagi perut baru terganjal sebuah roti saja. Dengan mengandalkan aplikasi google maps saya pede saja mengemudikan mobil sendiri di jalur yang asing selama 4 hari ke depan. 

Tidak tersisa sedikitpun memori menyusuri jalanan antara Mataram – Lembar, pelabuhan penyeberangan arah Pulau Bali (tahun 1996 saya menggunakan angkutan bus dari Jakarta). Yang pasti kondisi jalan utama sangat mulus, berbeda dengan jalur alternatif yang sempat saya coba antara By Pass Bandara sampai Gerung, ibukota Kabupaten Lombok Barat. Sesampai Lembar perjalanan dilanjutkan ke arah Kecamatan Sekotong yang jalanannya didominasi kelokan menyisir pantai yang jernih. Selepas Sekotong jalan makin menyempit hingga pas-pasan saja untuk berpapasan dengan mobil lain. Di sepanjang jalur ini pemandangan makin indah dengan harmoni pantai, sawah, dan perbukitan. 

Tujuan pertama saya adalah ke Gili Asahan. Pulau yang memberikan sensasi tinggal di pulau pribadi. Atas rekomendasi Lia, yang pernah mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi di sana, menceritakan bagaimana kesederhanaan kondisi pendidikan di tengah kebersahajaan kehidupan masyarakatnya. (Siapakah gerangan Lia keponakan baru saya, kisah perkenalan saya dapat disimak di sini). Hmmm…. menarik nih, secara saya lebih suka membawa keluarga berwisata yang sedikit menantang. Memang selain keindahan taman bawah lautnya, di sini menawarkan ketenangan yang tidak diadapati terlebih di tiga gili bagian utara (air, meno dan trawangan) yang menurut saya terlalu mainstream

Serasa pulau milik sendiri, sensasi yang mustahil diperoleh di Gili Trawangan
Sebenarnya masih banyak Gili di Lombok selain tiga gili tersebut, bahkan ada puluhan jumlahnya. Di bagian barat ada Gili Gede, Nanggu, Rengit, Asahan dll, di bagian tengah ada Gili Anak Anjan, Krucut, Penginang, dll dan di bagian timur ada Gili Sulat, Kondo, Lampu, dll. Semuanya kesemuanya menawarkan keindahan masing-masing. 

Jalan perkampungan yang tenang dan damai
Gili Asahan nyaris luput dari wisatawan lokal tapi cukup menjadi destinasi favorit di kalangan wisatawan manca negara. Wisatawan mancapun kebanyakan yang mencari ketenangan seperti keluarga atau kelompok usia matang. Selain ketenangan, di sini wisatawan dapat lebih terlibat secara interaksi sosial dengan penduduk asli pulau ini. Pantai dengan pasir putih, pohon nyiur yang melambai, dan suasana yang tenang menciptakan suasana damai. Sangat cocok bagi mereka yang menyukai ketenangan. 

Tak perlu sulit mencari tanah lapang karena setiap sudut pulau adalah tempat mereka bermain.
Sebagaimana layaknya anak kota, anak-anak Gili Asahanpun tidak mau kalah dalam akses teknologi informasi

Tak perlu ke salon buat highlight, rambut si cantik ini asli memerah karena paparan sinar matahari
Letaknya yang nyaris di ujung barat pulau Lombok di Desa Batu Putih, Kecamatan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat membuat wisatawan kurang tertarik mengunjunginya. Rata-rata hanya akan sampai Gili Nanggu saja. Tapi apalah artinya selisih 45 menit dengan jalan mulus berkelok? itu sangat ‘murah’ bagi yang terbiasa menghadapi lalu lintas Jakarta. Sesampai Desa Batu putih telah ditunggu oleh Bang Safari, pemilik Avarat Cottages yang kami sewa. Dia adalah seorang penduduk asli Gili asahan yang seorang aktivis lingkungan penjaga kelestarian terumbu karang dan biota laut di Lombok. Di antara 30-an Kepala keluarga di sana terdapat pengelola villa bernama Luciano, seorang asing warga Italia yangbersahabat dan termasuk pecinta alam, yang telah tinggal di Indonesia selama 20 tahun dan turut menjaga lingkungan sekitarnya dengan baik. 

Salma di depan Avatar Cottages milik Bang Safari. Saya merekomendasikan tempat ini karena sebagian keuntungan sewa akan dipergunakan untuk pelestarian lingkungan laut.
Selain pemukiman dan villa, di Gili Asahan terdapat bekas kantor perusahaan bududaya mutiara beserta beberpa fasilitasnya seperti asrama, masjid, dan penginapan yang dibiarkan rusak. Ini adalah sisa-sisa peninggalan masa kejayaan mutiara tahun 90-an dimana harganya jauh di atas harga emas. 

Dua hari di sana kami nikmati dengan jalan-jalan di tepi pantai, menikmati sunset dan sunrise, memotret, berinteraksi dengan warga yang ramah, wisatawan manca, dan bermain air. Keheningan malam benar-benar dapat kami nikmati di tepi pantai di bawah taburan bintang bahkan tanpa gangguan pekerjaan karena sinyal telefon seluler yang ada hanya dari operator Telkomsel sementara published number saya adalah Indosat. What a wonderful world! 

Tak lengkap rasanya hanya bermain air tanpa melihat isi di dalamnya. Esok paginya kami dengan diantar Bang Safari snorkeling di pulau-pulau sekitar Gili Asahan yang terkenal akan keindahan bawah lautnya. Terumbu Karang yang indah serta arus laut yang kuat membuat banyak para diver merasa tertantang untuk menyelam di daerah tersebut. Ada banyak penyedia jasa diving guide merekomendasikan anda untuk mengunjungi diving spot di salah satu dari banyak Gili di Lombok Barat ini. Dan yang berada di Batu Putih atau Gili Asahan adalah Dive Zone. Hmmm…. Melihat keindahan bawah laut rasanya ingin kembali aktif diving setelah lama vakum sejak tahun 2003 lalu. 

Let's go!
Terumbu karang di sekitar Gili Layar
Selain diving dan snorkeling menikmati keindahan alam Gili Asahan yang cukup tenang, Gili Asahan juga dikaruniai bukit-bukit yang bisa didaki. Malas mendaki? Keliling menyisir pulau juga sangat memungkinkan, paling-paling hanya butuh waktu 2 jam saja. Alam Gili Asahan masih menyajikan keanekaragaman fauna. Ada kicauan ratusan burung menyambut pagi. Bahkan menurut ponuturan penduduk, dulunya masih banyak babi hutan dan rusa berkeliaran di hutan sebelum habis diburu. Sayang sekali. 

Kunjungan saya di Gili Asahan diakhiri dengan menyantap nikmatnya ikan bakar di tepi pantai yang bening ditambah lagi dengan badan penat setelah snorkeling dan berenang di laut. Rasanya malas sekali beranjak kalau saja pengunjung cottage berikutnya belum datang. Siang itu, sekelompok peneliti dari WCS (Wildlife Conservation Society) rekan Bang Safari telah menanti menggantikan kami tinggal di situ. 

Terima kasih Bang Safari, tetap jaga keindahan laut Lombok. Suatu saat nanti kami akan datang kembali.

Senin, 16 Januari 2017

Separuh Asu


Awalnya saya menganggap bahwa anjing adalah binatang menjijikkan, berperangai buruk dan menyebalkan (mungkin) karena doktrin yang telah berhasil tertanam selama berpuluh tahun dalam benak saya dan jutaan orang lainnya melalui keterwakilannya sebagai kata umpatan, kasar level dua di bawah kata baj*ngan. Saya tidak tahu asal muasalnya mengapa makhluk ciptaan Allah itu digunakan untuk memaki, pun tidak faham apa kesalahan kusir gerobak sapi sehingga namanya dijadikan kata umpatan level satu. Yang saya tahu hanyalah menurut pandangan agama saya bahwa air liur dan kotoran anjing itu termasuk najis berat dan dagingnya haram dikonsumsi. 

Saya lahir dan besar di lingkungan yang nyaris tidak ditemukan anjing liar di sekitar tempat tinggal. Paling ada satu atau dua peliharaan warga yang dilepas, dan itu yang membuat saya sewaktu kecil ketakutan setiap melihat anjing. Mengapa? Mungkin karena mereka merasa sebagai binatang langka (tidak seperti kucing) kebanyakan anjing yang saya kenal pasti belagu, sok galak dan agresif. Apalagi di depan tuannya. Kalau ibu minta untuk belanja ke warung, saya akan suka rela lebih memilih memutar jalan melalui tujuh bukit halimun dan lima lembah berduri daripada lewat depan rumah tetangga yang memelihara anjing. 

Dari kecil saya lebih suka memelihara kucing kampung. Alasannya simpel, yang doyan nasi tempe sisa makanan saya ya cuma kucing meskipun kadang-kadang suka naik meja makan mendahului saya mengambil jatah tempe. Kesukaan saya memelihara kucing akhirnya menurun ke anak-anak saya (baca artikel sebelumnya di sini). Bukan hanya kucing, mereka juga menyukai semua jenis binatang dan lucunya, semua binatang akan dipanggil dengan nama panggilan kucing peliharaannya. Makanya jangan heran, dalam liburan bernuansa adventure keluarga kami di Lombok dan Bali kemarin banyak sekali yang disebut Momo. Sapi, kerbau, kambing, monyet liar, dan…. anjing liar. Mengherankan memang dimana pulau Lombok yang biasa disebut pulau seribu masjid banyak berkeliaran momo liar. Eh, anjing liar. Malah Fey, bungsu kami minta untuk memelihara di rumah setiap binatang yang ditemui. Sapi, kerbau, monyet… 

Ternyata nama asli Gepeng adalah Ical. Semua penduduk Gili Asahan mengenalnya karena sifatnya yang playboy
Agak sedikit berbeda kalau anak-anak agak lama berinteraksi dengan binatang yang ditemuinya, mereka akan dinamakan dengan apa saja sesuai imajinasinya. Misalnya waktu di desa Batu Putih, Sekotong menunggu penyeberangan ke Gili Asahan anak-anak bermain dengan dua ekor kucing yang dinamai Nga dan Wow, yang diambil dari suara masing-masing. Dua hari di Gili Asahan, segera anak-anak akrab dengan Gepeng, kucing yang dinamai dari bentuk badannya. Malah si Gepeng dibiarkan makan di atas meja bersama-sama kami yang sedang menyantap ikan bakar di tepi pantai nan biru bening. 

Di Sembalun kaki gunung Rinjani tempat saya 20 tahun yang lalu memulai pendakian, kami bertemu seekor kucing kecil yang oleh anak-anak dinamai kucing adat karena ditemui di rumah adat Suku Sasak. Uniknya si kucing adat ini seperti tahu diajak interaksi dan diperhatikan lalu mengikuti kami terus bahkan sampai mendaki bukit Selong, turun lagi dan diam di kolong mobil seolah tidak mau ditinggal. Hiks… 

Si Kucing Adat mengikuti kami sampai Bukit Selong  
Dan begitulah Kawan, tidak hanya manusia binatangpun juga memliliki naluri untuk disayang dan diperhatikan. Mereka juga akan memberikan respon balik setiap tindakan kita, tidak terkecuali anjing yang sebelumnya saya anggap menyebalkan. Sedikit cerita yang merubah pandangan saya tentang anjing adalah di Pantai Kuta Lombok. Saat itu kami membawa sendiri bekal makan siang karena dua hari sebelumnya mengalami kelaparan sebab kesulitan menemukan warung makan mengingat tempat yang kami datangi adalah daerah sepi termasuk tidak lazim bagi wisatawan lain. Seperti daerah lain di Pantai Kuta banyak sekali anjing liar berkeliaran dan setelah diusir hanya tertinggal satu ekor setia menunggu kami makan makan bekal nasi bungkus dengan tatapan mata memelas. Mata itu mengingatkan saya pada Momo, dan baiklah kita namai saja demikian. 

Momo berteduh menunggui saya berfoto di tepi pantai
 Momo ini tidak seperti tipikal anjing yang terpatri dalam benak saya. Arogan, rese, galak dan agresif. Dia hanya diam saja menunggui kami makan dan menjaga jarak seolah dia tahu bahwa tubuhnya mengandung najis berat. Akhirnya nasi bungkus yang sengaja tidak saya habiskan dilahap dengan cepat oleh Momo hingga bersih dengan dijilatinya. Terpaksa saya harus menggunakan plastik sebagai sarung tangan untuk membuang bungkusnya ke tempat sampah. Apa yang terjadi setelah itu? Mirip si kucing adat Momo mengikuti ke mana-mana. Saya ke tepi pantai untuk berfoto-foto dia berteduh menunggui di bawah pohon, ke minimarket dia setia menunggu di luar sampai terakhir kali mata memelasnya melepas kepergian kami ke obyek wisata berikutnya. 

Hmmm..... Kok jadi pengen memelihara anjing ya? 

Kucing di Gili Asahan rata-rata bersih dan sehat. Tebak apa yang dimainkan anak-anak di belakang? Betul.... tablet dan smartphone!

Banyaknya bangunan tak terpakai milik perusahaan budidaya mutiara dimanfaatkan kambing untuk beristirahat

Keluarga monyet di Pusuk Sembalun

Selasa, 10 Januari 2017

Jangan Lamar Gadis Sade!

 
Kalau Kawan jatuh hati dan ingin menikahi gadis Sade, salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, jangan coba-coba untuk bersikap gentlemen dengan mendatangi orang tuanya dan melamarnya baik-baik. Alih-alih simpati yang didapat, orang tua si gadis pasti akan marah karena merasa terhina karena itu dianggap ‘membeli’ anak gadisnya. Lantas bagaimana jika serius ingn menikahinya? Gampang, culiklah si gadis! 

Sade dikenal sebagai dusun yang masih mempertahankan adat dan menjaga keaslian desa suku Sasak, suku asli pulau Lombok, meski berlokasi persis di samping jalan raya. Jangan bayangkan sebuah kampung adat seperti halnya Baduy yang jauh dari akses jalan. Ada 150 Kepala Keluarga (KK) di Sade dengan penduduk sekitar 700 orang yang kesemuanya masih berkerabat. Dulu, penduduknya banyak yang menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari). Tapi sekarang, banyak penduduk Sade sudah meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya. 
Pemandu kami di beranda rumah
Islam waktu telu merupakan sisa proses penyebaran agama Islam di Lombok di mana telu (tiga) bukan hanya waktu sholatnya namun juga mencerminkan tiga kesatuan yang dijadikan pedoman, yakni Islam, Hindu, dan animisme. Waktu telu tersebut digambarkan dalam jumlah anak tangga rumah tradisonal mereka dari beranda ke ruangan yang lebih atas terdiri dari dapur dan kamar tidur anak gadis sekaligus tempat melahirkan. Setelah murni menjalankan syariat Islam, ditambahkan lagi 2 anak tangga dari pintu utama ke beranda sehingga kesemuanya berjumlah 5 yang melambangkan rukun Islam. Penempatan dapur di ruang yang lebih tinggi dimaksudkan untuk mengurangi resiko kebakaran mengingat material rumah terdiri dari bahan yang mudah terbakar seperti kayu, bambu, beratapkan jerami beralaskan tanah. 
Dapur yang berada di ruang lebih tinggi. 
Ruang tidur anak gadis merangkap ruang melahirkan

Ada satu hal unik pada lantai tanah rumah tradisional Sasak yang dinamakan ‘bale’ tersebut, yaitu kebiasaan warga desa mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. Bukan sembarang kotoran kerbau, tapi dipilih yang fresh from the oven yang (katanya) masih hangat. Konon katanya kotoran baru ini tidak berbau seperti yang sudah lama. Fungsi kotoran kerbau ini untuk memeperkuat struktur lantai agar tidak pecah-pecah saat panas dan mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah. Sementara lantainya sendiri terbuat dari tanah yang dicampur dengan sekam padi membuat suhu rumah tetap dingin pada siang hari dan hangat malam harinya. 

Kalau Kawan memperhatikan ikon Lombok, itu sebenarnya adalah bentuk gudang penyimpanan padi Suku Sasak. Sama seperti daerah lain, biasa disebut lumbung padi. Di Dusun Sade, satu lumbung dipakai bersama oleh 5-6 keluarga. Tidak ada pencatatatan atau pemisahan tersendiri setiap keluarganya, bahkan penggunaannyapun dibebaskan karena sistem yang diterapkan bersifat kekeluargaan. Sebagai masyarakat Agraris, mereka hanya panen sekali dalam satu tahun karena pengairan sawah dari tadah hujan. Ada aturan tersendiri yang boleh masuk untuk meletakkan dan mengambil padi di lumbung, yakni hanya untuk yang telah mempunyai keturunan karena diyakini bagi yang belum memiliki akan menyebabkan kemandulan. 

Inilah ikon Lombok, lumbung padi suku sasak
Selain bercocok tanam, warga Sade juga menenun kain dan membuat pernik-pernik seperti gantungan kunci, gelang, kalung yang dijual kepada wisatawan. Proses pembuatan kain tenun dimulai sejak pemintalan benang hasil tanaman kapas mereka sendiri. Kami bertemu seorang nenek (papuk nine) sedang memintal benang di depan rumahnya. Dengan bahasa isyarat beliau menawarkan kami untuk mencoba memintal benang. Setelah menjadi benang akan diwarnai dengan pewarna alami seperti akar, daun dan sebagainya.

Nenek pemintal benang
Penenun Dukuh Sade. Hanya dilakukan kaum perempuan
Proses penenunan dilakukan hanya oleh kaum perempuan dan merupakan pantangan bagi lelaki turut menenun karena akan dianggap sebagai banci. Biasanya anak gadis suku Sasak akan belajar menenun di usia 8 sampai 10 tahun, dan kalau sudah mahir membuat kain di situlah orang tua mesti berhati-hati karena dianggap sudah layak untuk dinikahi dan rawan penculikan. Di Dusun Sade tidak ada pernikahan seperti lazimnya kebiasaan di tempat lain. Hanya ada 2 kemungkinan, kawin lari (bila kedua pihak saling cinta) atau kawin paksa (bila gadis tidak cinta) yang keduanya dimulai dari penculikan. 
Warna warni cerah kain tenun. Hanya menggunakan bahan alami
Namun jangan dibayangkan penculikan ini akan seseram drama penculikan seperti dalam film-film, karena pada akhirnya ini hanya menjadi sebuah proses perjodohan suku Sasak. Di Dusun Sade terdapat pohon cinta yang menjadi saksi bisu bertemunya pasangan kawin lari untuk tempat bertemu sebelum kabur bersama. Setelah menculik, keluarga pria wajib memberitahukan kepada pihak keluarga wanita agar keluarganya tidak khawatir. Selama penculikan, si gadis akan dititpkan di suatu tempat yang tidak diketahui oleh keluarganya. Selanjutnya Kedua belah pihak didampingi kepala Desa membahas rencana pernikahan, dan pihak pria harus memenuhi persyaratan yang diminta. Setelah ijab Kabul, kedua mempelai akan diarak keliling kampung. Tradisi ini disebut Nyangkolan yang bertujuan untuk memperkenalkan pengantin baru ini ke warga desa.
Pohon cinta, secret rendezvous pasangan penculik-korban penculikan
Jadi, bagaimana Kawan? Sudah siap menjadi penculik?

Senin, 09 Januari 2017

Eyang Youtube

 
Dengan berat kubuka mata di tengah kehaningan pagi yang lumayan panas di akhir Desember. Perlu waktu untuk mengumpulkan kesadaran sedang di mana aku demi merasakan di bawahku ada kasur dan bantal yang bukan biasanya, mirip-mirip dengan buffering nonton youtube menggunakan paket murahan. Sejurus kutengok sebelah, Alhamdulillah masih orang yang biasanya tidur bersamaku. Sayup-sayup terdengar lantunan suara mengaji. Tidak salah lagi itu suara bapak ditilik dari cengkok jawa yang telah berpuluh tahun lalu aku dengar meskipun separuh lebih dari usiaku kulewatkan di tanah rantau. Itulah bapakku, sedang mengaji di ‘meja kerja’nya yang sengaja diletakkan di teras depan rumah. 

Ya, pagi itu aku melewatkan azan Subuh karena malamnya sulit sekali memejamkan mata di tengah gaduhnya sura cekikan anak-anak hingga lewat tengah malam. Dan seperti itulah kabiasaan setiap pulang ke rumah bapak, anak-anakku dan sepupunya selalu melepas kangen dengan bercanda sepanjang malam. Bisa dibayangkan 6 ABG berusia 13-19 tahun pasti tidak akan kehabisan topik pembicaraan. Malah kadang-kadang kalau mereka lapar di tengah malam pasti kegaduhan akan bergeser ke dapur, persis di depan jendela kamar di mana aku tidur. Duh!

Tanaman lengkleng mulai berbuah. Buahnya besar dan rasanya manis. Sayang dagungnya tipis karena bijinya besar.
Cara mereka bercanda yang beberapa bulan lalu sempat membuat ibu tidak habis fikir, bagaimana bisa 6 anak dengan masing-masing memegang kotak – begitu istilah ibu menyebut gawai – dengan tangan dan mata terfokus pada gawai masing-masing tapi kompak dan saling bersahutan. Mudah ditebak, dengan grupchat mereka para Gen Z merasa lebih nyaman berkomunikasi dalam satu majelis. Waktu itu memang baru 2 jenis komunikasi yang dikenal ibu; telefon dan sms walaupun sudah memiliki ‘kotak’ sendiri berupa tablet yang biasa dipakai untuk pengajian. Beberapa aplikasi seperti Alquran, Hadits, Tafsir, dsb telah diinstall oleh kakakku yg kedua. 

Awalnya beliau heran dengan seorang ustadz yang setiap kali membaca referensi baik berupa ayat maupun hadits dari perangkat ‘kotak besar’ dengan stylus yang mengingatkan pada sabak (batu tulis) waktu SR dulu. “Kae opo to le?” tanya beliau ke Alif, ponakanku. Dengan gamblang Alif menerangkan kegunaan, fungsi, lengkap dengan cara pakainya. Lalu beliaupun mangut-mangut dan beberapa hari berikutnya beliau mentipkan sejumlah uang kepada kakakku untuk dibelikan tablet. Sejak saat itu beliau faham pemakaian sebatas offline saja. 

Selain burung kenari, bapak mencoba membiakkan perkutut.
Lain ibu lain pula bapak. Beliau juga memiliki ‘kotak’ sendiri hadiah ulang tahunnya dengan penggunaannya yang berbeda. Bapak yang tidak pernah mau diam – apapun dikerjakannya mulai dari berkebun, memelihara burung, membetulkan benda apapun di rumah - lebih suka install lagu-lagu campur sari dan lagu-lagu pop tahun 60-70an era Titiek Sandora atau Mus Mulyadi. Satu lagi hal yang meyebabkan memorinya cepat penuh, hobinya memfoto apapun dengan tablet. 

Itulah orang tuaku, Kawan. Mereka yang di usia senjanya masih ingin mengikuti perkembangan teknologi informasi dengan caranya masing-masing. Memang tidak dipungkiri teknologi sangat mempermudah kehidupan kita sampai-sampai kita merasa tak mampu melakukan apapun tanpanya. Mari kita hitung, berapa kali kita menggunakan perangkat tersebut dalam sehari. Sekedar komunikasi untuk tetap keep in touch dengan komunitas, memantau jalan yang akan dilewati, mencari berita, hingga ajang unjuk eksistensi diri (seperti blog ini) . 

Tunas bayam merah dalam pot sabut kelapa buatan bapak dan ibu
  Kembali ke kepulanganku akhir tahun ini setelah dua bulan sebeumnya, ada perubahan signifikan di rumah bapak. Halaman mungil menjadi lebih rapi dengan beberapa pot terbuat dari sabut kelapa berisi tanaman sayuran berjajar rapi di atas pagar. Kandang burung perkutut lengkap dengan telurnya, tanaman lengkeng berbuah, dan....perangkat router wi-fi

Kini, ibu telah lancar menggunakan whatsapp untuk berkomunikasi dengan anak cucu, grup pengajian dan lainnya. Bahkan keahliannya membuat rajutan dengan beberapa model didapatnya dari youtube! “Pingin gawe tas koyo nggone ibune Salma kae lho, mosok mung koyo ngono wae larange ra umum” kata ibu. Ternyata yang dimaksud adalah tas Dowa milik istriku. Sementara bapak? Beliau tetap lebih memilih untuk menyalin manual bahan-bahan tausiahnya dari beberapa buku. Mungkin belum tertarik mengikuti ibu menggunakan internet. 

Bapak tetap setia dengan cara konvensional menyalin tanpa menggunakan internet di 'meja kerja'nya. Sesekali sambil terkantuk-kantuk :)
Sore hari sebelum kembali ke Jakarta sambil mengemasi pakaian di kamar kudengar percakapan ibu dengan mbok Yem, perempuan 70 tahunan tukang cuci part time di rumah ibu, 

“Pot-e sabut klopo Eyang ndamel piyambak to?” 

“Enggih” jawab ibu. 

“Lha nopo carane mirsani saking youtube?”