Jumat, 18 November 2016

Kaaba First Impression (A Pilgrim's Journey Eps 6)

  
Manusia berusaha, Allah jualah yang menentukan. Rencana yang telah disusun di tanah air kami diperkirakan tiba di Makkah pukul 2 dini hari dan langsung menjalankan umroh, molor lebih dari 3 jam sehingga harus dirubah untuk memberikan waktu istirahat dan jam 8.00 pagi berangkat ke Masjidil Haram. Dalam keadaan masih berihram dan kondisi fisik yang lelah setelah menempuh 38 jam perjalanan, dua jam jatah tidur malah tidak dapat saya manfaatkan dengan baik. 

Di wisma transit ini saya sekamar dengan Pak Kharis, yang di kalangan teman-temannya sering dipanggil Pak Kaji karena sebelumnya telah sekali melakukan ibadah Haji waktu mudanya dahulu. Ada Pak Hendy, Mas Amin, Mas Arif, dan Pak Zainuddin (69 tahun) yang memiliki semangat luar biasa dalam menjalankan ibadah haji namun cukup bandel tetap merokok melawan kecerewetan istrinya. Walaupun masih seusia bapak saya, namun Pak Zainuddin saya panggil ‘mbah’ karena fisiknya terlihat lebih tua dari usianya. Beliau ini termasuk ber'transmisi matik' (tanpa gigi) ditambah dengan dialek melayunya yang kental membuat saya mesti konsentrasi penuh menyimak ucapannya. Pak Kharis, Pak Hendi, Mas Amin dan Mas Arif adalah para senior (ditilik dari jabatan dan usia) di lingkungan kerja saya yang di sini otomatis hilanglah sekat-sekat birokrasi. 

Kiri ke kanan : saya, Pak Kharis, mas Amin, Mas Arif, dan pak Hendi
Tepat pukul 08.30, dengan jantung berdegup kencang (karena akan segera bertemu Ka’bah atau karena kurang tidur ya?) kami bergerak meninggalkan penginapan menuju Masjdil Haram. Berhubung sudah siang baru saat itulah suasana kota Makkah baru dapat terlihat. Tidak seperti malam dan dini hari sebelumnya yang tidak terlihat karena tidur bukan karena gelap. Tampak berbeda dengan Dubai yang hijau, bersih, rapi, mewah serta kendaraan yang mengkilap, Mekkah didominasi bukit-bukit batu gersang. Kendaraan yang (sebetulnya) mewah tampak kotor tidak terawat dan dibiarkan begitu saja bila ada penyok atau lecet. Ditambah lagi dengan gaya mengemudi standar metro mini menambah suasana pukul 08.30 menjadi sangat terik padahal saat ini adalah bulan November, saat bukan musim panas karena matahari berada di sisi selatan khatulistiwa. 

Mbah Zainuddin
Kurang dari 30 menit bus telah mendekati Masjidi Haram dan kami diharuskan berjalan kaki menuju ke sana karena terowongan yang biasa digunakan untuk mengedrop jamaah telah ditutup oleh petugas. Dari sisi jalan Ajyad, masjid termulia di dunia yang siapapun umat Islam pasti memimpikan untuk berkunjung ke sana telah terlihat. Menara megah yang sebelumnya hanya bisa disaksikan di gambar-gambar terlihat begitu anggun. Hanya ucapan tasbih yang dapat terucap begitu sosok Masjidil Haram semakin dekat. 

Masuk melalui pintu King Abdul Aziz kami segera memanjatkan doa, mulai terlihat jelas keagungan Ka’bah yang menjadi arah kiblat muslim di seluruh dunia. Hampir tidak percaya seolah ini mimpi begitu Ka’bah terlihat utuh di depan mata. Tak terasa air mata mengalir saat memanjatkan doa melihat Ka’bah. 
Allaahumma zid haadzalbaita tasyriifan wa ta'zhiiman wa takriiman wa mahaabatan wazid mansyarrafahu wa karramahu mimman hajjahu awi'tamarahu tasyriifan wa ta'zhiiman wa takriiman wa birraa’ 
(Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini, dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya di antara mereka yang berhaji atau yang ber-umrah padanya dengan kemuliaan, kebesaran, kehormatan dan kebaikan). 

Saat itu juga disambung dengan doa apapun yang kita kehendaki karena saat itu adalah salah satu waktu doa yang paling makbul. Seribu kalimat barangkali tak akan pernah cukup untuk menggambarkan takjubnya mata memandang Ka’bah untuk pertama kali. 

Mbah Zainuddin dan Mas Arif bahu membahu mengusir angin Pak Hendi