Jumat, 07 Oktober 2016

Tak Ada Yang Jual Stok Kesabaran (A Pilgrim's Journey Eps 5)


Setelah 3 jam melalui proses administrasi bandara di episode sebelumnya, akhirnya rombongan bisa menghirup udara segar (karena saking penuhnya bandara udara jadi terasa pengap). Keluar dari terminal King Abdul Aziz, rombongan dijemput oleh tim travel dipimpin oleh Khalid Sayuti, abang Ikbal yang telah bertahun-tahun bermukim di Arab Saudi. Ada pula Habibi, mahasiswa asal Kijang, Riau yang menuntut ilmu di sebuah universitas di Madinah serta Khalid Matutu yang belakangan saya ketahui seorang hafidz muda berdarah Makasar (masih kerabat Ikbal) kelahiran Arab Saudi yang penampilannya khas anak muda, suka berkaus oblong dan bercelana jeans. 

Harapan untuk segera menuju baitullah menatap langsung Ka’bah guna menjalankan ibadah Umrah harus disimpan dalam-dalam karena ternyata di teras bandara yang kurang nyaman ini kami masih diuji lagi kesabarannya. Entah birokrasi apa lagi yang diperlukan, tim penjemput tampak sibuk mondar mandir ke beberapa tempat. Bahkan demi pelayanan ke jamaahnya beberapa kali Khalid sempat bersitegang dengan beberapa orang sesama pengurus travel lain untuk berbagi tempat. Saat itu, bus adalah benda buatan manusia yang sangat kami dambakan hadir di depan mata. 

Di sinilah yang banyak dikeluhkan oleh beberapa rekan jamaah yang kurang kesabaran karena sejak landing ba’da Maghrib hingga pukul 2 dini hari baru menunjukkan tanda-tanda akan diberangkatkan ke Makkah, padahal rombongan jamaah yang mendarat belakangan beberapa telah berangkat lebih dahulu. Sayang sekali di terminal Bandara ini tidak ada mini market yang menjal stok kesabaran. Sebenarnya saya ingin sekali berbagi namun apa daya kesabaran tidak bisa dipindahtangankan. Berhubung tidak bisa tidur karena tidak terbiasa di tempat yang tidak nyaman, waktu menunggu saya gunakan untuk memulai membaca Al Quran dimulai dari Iqro’ jilid I. Enggak ding, juz 1 maksudnya. 

7 jam melewati tengah malam di sini
Menjelang naik bus, paspor yang sempat dikembalikan diminta lagi oleh petugas. Perjalanan dari Jeddah menju Makkah kurang begitu tarasa karena inilah waktunya terlelap tidur. Entah berapa lama perjalanan bis telah sampai di check point (semula saya sempat mengira terminal) yang di situ petugas membagikan kartu identitas dan gelang karet tanda maktab. Seorang petugas Arab membagikan meal box yang terdiri dari air minum kemasan, dua jenis biscuit, dan kacang dengan berpesan “satu satu…” Beberapa hari kemudian saya baru tahu sangat banyak warga Arab yang mampu berbahsa Indonesia. Terutama pada pedagang.

Perjalanan dilanjutkan hingga akhirnya tibalah di tempat pemondokan, sebuah wisma transit yang baru saja selesai buru-buru dibangun (tampak dari finishing yang ala kadarnya) di derah Bathkha’ Quraisy. Belum juga puas dapat menyelonjorkan kaki, azan subuh berkumandang. Waktu telah menunjukkan pukul 05.15 hari Rabu 10 November 2010. Terhitung sejak keberangkatan hari Senin sore ba’da Maghrib, kami telah menjalani 38 jam perjalanan yang menguras energi, mental dan kesabaran. 

Ada hal kecil yang menarik perhatian saya, sebagai Negara penghasil minyak bumi Arab Saudi mempunyai hampir 20% cadangan minyak dunia dan merupakan pengekspor minyak terbesar mungkin tidak mengalami masalah dengan pasokan energi listriknya. Selama tinggal kurang lebih 5 hari di wisma transit ini, AC dan lampunya selalu menyala 24 jam. Jangankan menggunakan lampu hemat energi, bohlam yang digunakanpun jenis yang telah jarang dipakai di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar