Selasa, 25 Oktober 2016

Antara Aku, Lia, dan Gentho


“Ting…” notifikasi percakapan WA masuk Jumat sore ketika waktunya beres-beres kerjaan kantor mengingat Senin dan Selasa depan saya mendapat tugas ke luar kota. Sebuah private message masuk, karena percakapan grup sengaja saya set silent karena di HP saya kebanyakan grup dan beberapa di antaranya teramat sangat aktif 24 jam sehari 7 hari seminggu. Dan saya tidak ingin terganggu karenanya tersebab untuk leave group saja saya tidak mampu. 

“Sampai ketemu di Bali, Pakdhe…” disertai foto tampak belakang seorang gadis berhijab panjang di atas kapal penyeberangan. Hmmm…ponakan baru saya ini masih belum pengen menunjukkan penampakannya batinku. Namanya Lia. Sebut saja Lia karena nama panjangnya agak susah dicerna, eh….dieja. Mendadak saja kami cepat akrab meskipun sebelumnya belum pernah sekalipun bertemu karena sama-sama suka bercanda di grup WA hingga menyadari perbedaan umur yang menyebabkan saya dipanggil Pakdhe. 

Ternyata ini penampakan Lia (tengah). Diapit Bunga dan NW Nuratni.
Berani taruhan, NW itu singkatan dari Ni Wayan.
Macetnya Jakarta Jumat sore membuat saya leluasa texting “Tengok kanan dong..” balasku. Ya, hanya sekedar ingin tahu wajahnya saja karena saya tidak ingin pas ketemu nanti tidak mengenali dan diem-dieman canggung. Pasti kawan yang lama aktif di sosmed paham maksud saya bahwa ada jenis manusia yang sangat aktif bersosialisasi di dunia maya, sering nge-like status/foto, komen, menyapa, memuji, merayu, menggombal, hingga mengaku single ternyata orangnya pemalu di dunia nyata bahkan lebih banyak menunduk saat bertemu.

Tapi nyatanya Lia tidak seperti itu, begitu apa adanya tanpa malu-malu cenderung malu-maluin :P. Dia adalah contoh generasi Y yang begitu aktif, penuh kejutan dan penuh ide-ide brilian, selalu mencoba hal yang baru dan begitu peduli dengan teknologi, lebih terbuka dalam komunikasi dan reaktif terhadap perubahan di sekelilingnya. Kegiatan mengajar yang baru pertama kali diadakan oleh Kemenkeu ini bukan barang baru baginya yang telah terbiasa mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi dan itu terlihat dari keluwesannya menghadapi anak-anak kelas 2 SD. Tak jarang dengan gemasnya Lia mencubit manja pipi gembul anak-anak yang tanpa sepengetahuannya setelah itu sebagian anak akan mengelap pipinya tujuh kali. Salah satunya dengan debu. Eh enggak ding…

Menginspirasi generasi Z meraih cita-cita
Salah satu membuat saya geleng-geleng kepala adalah ternyata Lia nekat mengendarai sepeda motor dari Selong, Lombok Timur tempatnya berdinas di Kantor Perbendaharaan ke Denpasar, Bali. Satu hal yang mustahil saya ijinkan ke anak perempuan saya yang hanya terpaut beberapa tahun dengannya. Bahkan dia rela berangkat jam 4 pagi katanya mau mengejar entah sunrise apa sunset di Pura Ulun Danu, Beratan di pegunungan yang hawanya tau sendiri dinginnya. Mengaku sebagai anak rumahan, Lia terbiasa karena awalnya terpaksa mandiri setelah merantau dari asalnya di kota bandeng, Juwana Pati untuk menuntut ilmu di STAN sambil mencari tambahan uang saku dengan memberikan pelajaran tambahan untuk anak-anak sekolah.

Semoga saja keinginannya untuk mendapatkan sosok imam dalam hidupnya segera terkabul supaya segala petualangannya (yang menurut pengakuannya nekat namun penuh perhitungan) ada yang mendampingi karena, bagaimanapun, berdua akan lebih baik. (Acha Septriasa-2010).  Aamiin.

******* 

Tingkah bocah laki-laki gendut itu sangat lincah berlari kesana kemari menarik perhatian saya. Keringat membasahi wajah hingga lehernya yang tidak bisa dikatakan putih meskipun mentari pagi masih menyisakan kesejukannya. Dari tingkahnya terbersit superioritas yang ingin ditampakkan, sesekali mengusili temannya, maklumlah namanya juga anak-anak. Sementara di beberapa sudut beberapa anak perempuan asik menyapu guguran daun dan bunga kamboja di sekitar halaman SDN 9 Sumerta Denpasar. Dandanan mereka sama, kuncir atau kepang 2 dengan pita merah. 

Kerja bakti harian membersihkan halaman sekolah. Otomatis tanpa komando guru
Saya dan beberapa relawan pengajar masih berdiri mematung di pinggir halaman tak tahu apa yang akan dikerjakan. Sementara puluhan anak yang telah tiba di sekolah juga heran dengan keberadaan kami. Beberapa saat antara kubu kami, relawan dan kubu murid-murid mirip manusia purba yang baru pertama kali bertemu dengan hanya saling tatap tanpa interaksi hingga saya mulai dengan mengeluarkan ‘jurus kamera’. Ya, mudah saja. Cekrek…. cekrek…. dengan berbekal kamera saya foto mereka yang awalnya malu-malu dan menunjukkan hasilnya pada mereka. Dan, jreng jreeeeng…. Beberapa detik kemudian lebih banyak lagi anak-anak berlarian ke arah kami dan kebekuan iceberg telah mencair.

Si gendut, berhubung saya belum tahu namanya tapi saya namakan dia Gentho, sebut saja begitu seperti kebiasaan di daerah asal saya untuk menggambarkan sosok biang onar, susah diatur (dan biasanya) berperawakan gendut berkulit hitam, dengan cueknya meminjam kamera saya untuk memfoto teman-temannya, lalu menunjukkan hasilnya diselingi gelak tawa dan teriakan dalam Bahasa Bali yang saya tidak mengerti artinya. Setengah ketir-ketir saya merelakan dan melihat dia otak atik settingan kamera sambil berharap tidak terjadi apa-apa dengan satu-satunya kamera yang saya beli second setahun yang lalu itu. 

Si Gentho alias Rangga dan Dindin, berbagi pengetahuan dalam menjawab pertanyaan Putu Yanti.
Nun jauh di sana, Vani rekan Yanti sesama fasilitator .
Pagi itu, Senin 24 Oktober 2016, adalah hari pelaksanaan Kemenkeu Mengajar yang digelar serentak di 35 Sekolah Dasar di 6 kota : Banda Aceh, Jakarta, Denpasar, Balikpapan, Makassar dan Sorong yang melibatkan hampir 600 orang relawan pengajar dan dokumentator dari seluruh unit di Kementerian Keuangan mulai Ditjen, Setjen, Itjen, Badan, Pusat hingga Lembaga. Kemenkeu mengajar ini adalah sebuah program yang diadakan oleh instansi induk kami berupa kegiatan mengajar sehari di SD terpilih tentang profesi atau bidang pekerjaan yang ada di kemenkeu dengan tujuan agar anak-anak paham dan diharapkan dapat terinspirasi terhadap peranan negara dalam pendidikan dan kehidupan mereka. 

Bagi saya pribadi, tujuan melibatkan diri sebagai pengajar adalah tidak lebih dari menerima tantangan untuk mencoba berhadapan dengan anak-anak. Ya, selama ini saya terbiasa melakukan sosialisasi kepada orang dewasa mulai dari anak SMA, Mahasiswa, masyarakat umum hingga pemangku kepentingan. Tentu saja penyampaian kepada anak-anak memerlukan metode, Bahasa, dan kedalaman materi yang sangat jauh berbeda. Oh iya satu lagi, saya ingin merasakan bagaimana yang dilakukan Bapak dan Ibu saya sebagai guru selama hampir 40 tahun. 

Tahukah kawan, bagi kami yang sehari-hari berkutat dengan dunia birokrasi ternyata mengakui kesulitan untuk memberikan pengajaran kepada anak SD bahkan sekedar mencari kesempatan untuk menarik perhatianpun kadang-kadang mati gaya. Tenggorokan saya sampai serak kebanyakan teriak hanya agar suara saya dapat di dengar di tengah gaduhnya suara anak-anak. Apakah usaha itu saya lakukan agar penjelasan saya yang didengar? Tidak. Hanya agar permintaan untuk mereka tenang itu yang didengar. Relawan lain, Regine, si manis petugas Bea Cukai Ngurah Rai yang asli Bali karena suaranya begitu halus mesti menggunakan pengeras suara. Bahkan sahabat saya Erwin yang dikenal tenggorokannya dilengkapi dengan Toa saking lantang suaranya mengaku sampai tidak mendengar suaranya sendiri. 

Hanya sampai di situkah 'penderitaan' kami? Belum. Kami harus menghadapi anak-anak yang menangis karena berantem sekaligus mendamaikannya. Yaaah mirip-miriplah dengan misi kontingen Garuda di Kongo. Untung kami sudah mempersiapkan sebelumnya peralatan game edukasi untuk mereka yang sejenak mampu menarik perhatian. Tapi begitu game selesai, selesailah kita… hingga tiba ujian terakhir bagi saya, mendapat giliran mengajar di kelasnya si Gentho. Alamak, ternyata ada 7 sampai 9 orang yang tingkahnya sama. Hingga partner saya, sebut saja Bunga… Maaf ini bukan nama samaran tapi nama asli. Bunga Herlina mojang Bogor yang bekerja di Kantor Pajak Ganyar ini sempat mati gaya tak tahu apa yang dilakukan. 

Bu Lusiani, The Only Baby Boomer Generation, Kakanwil DJP Jateng II kelelahan menghadapi anak didik.
Sementara Lailirizqi, M. Muhajir yang mirip Soleh Solihun  berusaha tegar dan Regine Utami, sibuk dengan kameranya.
Akhirnya rencana berubah, kami membuat metode dadakan dengan bercerita dan mendengarkan. Saya duduk di samping Gentho dengan ganknya. Pelan-pelan saya ajak bicara hingga membuat saya kaget. Ternyata bocah ini cerdas sekali. Dia tahu persis sejarah proklamasi, siapa yang mengkonsep, mengetik naskah, menjahit bendera hingga sakitnya Bung Karno pada waktu pembacaan. Di lain waktu dia bercerita apa itu PBB, lengkap dengan Bahasa Inggrisnya, kapan dan mengapa Indonesia pernah keluar dan bergabung kembali. Semua pengetahuan itu ia peroleh dari internet. Sampai dia memperagakan keahliannya menari dan minta doa restu agar dalam perlombaan tari bulan depan bisa dimenanginya. Belakangan saya tahu nama aslinya adalah Rangga. Lebih mengejutkan lagi belakangan saya mendapat informasi dari Kepala Sekolah bahwa waktu masuk kelas 1 bicaranya gagap. Analisa saya bahwa itu karena kecepatan otaknya melebihi gerakan mulutnya membuat Kepala Sekolah tergelak. 

Dindin, sang ‘wakil kepala gank’, mengaku asli Bandung benama asli Wahyudin. Tidak ada yang dia ceritakan selain pesawat terbang. Ia tahu bentuk dan jenis-jenis pesawat tempur dari internat. Tidak sulit menebak cita-citanya untuk menjadi seorang pilot. Bagas, agak kurus dan sedikit kalem, menceritakan keinginannya untuk melihat Jakarta. Cahya, yang duduk di sebelahnya tak lepas dari seputaran dunia sepak bola. Susan, suka sekali merawat kebun bunga dan ada Diah yang bercita cita menjadi desainer batik. Nah, di sela-sela obrolan itulah saya sisipkan materi mengenai profesi dan nilai-nilai Kementeria Keuangan sesuai panduan. Saya lirik di pojok kelas, Bunga terlihat sudah rileks dikelilingi kumbang, eh dikelilingi anak-anak yang sudah mulai dapat ‘dikendalikan’. Saya sempat tesipu ketika Ni Kadek Nadine, gadis centil kelas 4 itu bilang saya ganteng meski masih kalah dari bintang Korea idolanya yang sering ditonton melalui youtube. Hmmm… jangan ragukan kejujuran anak-anak, Kawan.

Putu Yanti, fasilitator kami tetap enerjik di bawah terik matahari


Bagaimanapun, mereka itulah profil generasi Z yang oleh Steve Jobs disebut juga dengan generasi internet atau Gen I. Mereka lahir dan besar di era digital dan teknologi canggih dimana informasi dengan mudah didapat. Tak jarang pertanyaan yang dilontarkan sulit untuk dijawab. Tumbuh kembang di era ini berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian mereka yang berkiblat pada internet sebagai sumber informasi. Kelebihan generasi ini adalah kefasihan mereka dengan teknologi digital, intens terhadap komunikasi, ekspresif dan spontan apa yang ada di benak mereka dan relatif toleran dengan perbedaan kultur, multitasking, namun kurang dalam komunikasi verbal. 

Rangga, Bagas, Cahya, Susan, Diah, Nadine. Bahkan sebelum masuk kelas saya masih berfikir bahwa satu dalam kelas diprediksi 55% bernama Wayan, 25% Made, 15% Nyoman, dan 5% Ketut. Ternyata saya salah, meskipun masih tetap dipakai di samping nama keren mereka, jangan harap nama itu dipakai panggilan sebagaimana layaknya ditemui di generasi X, teman-teman saya. Kejarlah cita-citamu anak-anakku. Apapun profesi yang kamu inginkan jangan lupa harus pegang teguh integritas, bekerja profesional dengan bersinergi bersama alam semesta seisinya, layani lingkungan sekitarmu dan jangan setengah-setengah, lakukan semua itu dengan sempurna (perfect).

********* 

Dunia terus berkembang bahkan terkadang begitu cepat dirasakan. Generasi akan terus berganti sesuai sunnatullah. Perkembangan sosio-ekonomi, gaya hidup, cara berfikir, semangat, dan pengaruh kekuatan generasi itu sendiripun akan selalu berubah. Setiap generasi tak terlahir secara sempurna, saya sebagai perwakilan Gen X, Lia mewakili Gen Y dan Gentho sebagai Gen Z akan tetap hadir sesuai jamannya untuk saling melengkapi dan memahami. Sesuatu yang kurang pada suatu generasi akan ditingkatkan di generasi berikutnya sebagai penyeimbang. Hingga tercapai harmoni.
Bunga, Muhajir, Mas Budhi, Regine, Stephanie, Laili dan Bu Lusi

Keceriaan dunia anak
Yusup. Itu anak-anak terpana apa terhipnotis?
Stephanie in action
Florentina, sudah mirip ibu guru asli :)

Inilah calon Dirjen Bea Cukai masa depan

NB : Terima kasih untuk capture pengalaman dan keceriaan bersama bagi yang tidak disebut atau terlihat dalam foto ; Ari Prabowo, Dian M. Taufik, dan M. Raditya (dokumentator jangan berharap masuk foto ya...)

Jumat, 07 Oktober 2016

Tak Ada Yang Jual Stok Kesabaran (A Pilgrim's Journey Eps 5)


Setelah 3 jam melalui proses administrasi bandara di episode sebelumnya, akhirnya rombongan bisa menghirup udara segar (karena saking penuhnya bandara udara jadi terasa pengap). Keluar dari terminal King Abdul Aziz, rombongan dijemput oleh tim travel dipimpin oleh Khalid Sayuti, abang Ikbal yang telah bertahun-tahun bermukim di Arab Saudi. Ada pula Habibi, mahasiswa asal Kijang, Riau yang menuntut ilmu di sebuah universitas di Madinah serta Khalid Matutu yang belakangan saya ketahui seorang hafidz muda berdarah Makasar (masih kerabat Ikbal) kelahiran Arab Saudi yang penampilannya khas anak muda, suka berkaus oblong dan bercelana jeans. 

Harapan untuk segera menuju baitullah menatap langsung Ka’bah guna menjalankan ibadah Umrah harus disimpan dalam-dalam karena ternyata di teras bandara yang kurang nyaman ini kami masih diuji lagi kesabarannya. Entah birokrasi apa lagi yang diperlukan, tim penjemput tampak sibuk mondar mandir ke beberapa tempat. Bahkan demi pelayanan ke jamaahnya beberapa kali Khalid sempat bersitegang dengan beberapa orang sesama pengurus travel lain untuk berbagi tempat. Saat itu, bus adalah benda buatan manusia yang sangat kami dambakan hadir di depan mata. 

Di sinilah yang banyak dikeluhkan oleh beberapa rekan jamaah yang kurang kesabaran karena sejak landing ba’da Maghrib hingga pukul 2 dini hari baru menunjukkan tanda-tanda akan diberangkatkan ke Makkah, padahal rombongan jamaah yang mendarat belakangan beberapa telah berangkat lebih dahulu. Sayang sekali di terminal Bandara ini tidak ada mini market yang menjal stok kesabaran. Sebenarnya saya ingin sekali berbagi namun apa daya kesabaran tidak bisa dipindahtangankan. Berhubung tidak bisa tidur karena tidak terbiasa di tempat yang tidak nyaman, waktu menunggu saya gunakan untuk memulai membaca Al Quran dimulai dari Iqro’ jilid I. Enggak ding, juz 1 maksudnya. 

7 jam melewati tengah malam di sini
Menjelang naik bus, paspor yang sempat dikembalikan diminta lagi oleh petugas. Perjalanan dari Jeddah menju Makkah kurang begitu tarasa karena inilah waktunya terlelap tidur. Entah berapa lama perjalanan bis telah sampai di check point (semula saya sempat mengira terminal) yang di situ petugas membagikan kartu identitas dan gelang karet tanda maktab. Seorang petugas Arab membagikan meal box yang terdiri dari air minum kemasan, dua jenis biscuit, dan kacang dengan berpesan “satu satu…” Beberapa hari kemudian saya baru tahu sangat banyak warga Arab yang mampu berbahsa Indonesia. Terutama pada pedagang.

Perjalanan dilanjutkan hingga akhirnya tibalah di tempat pemondokan, sebuah wisma transit yang baru saja selesai buru-buru dibangun (tampak dari finishing yang ala kadarnya) di derah Bathkha’ Quraisy. Belum juga puas dapat menyelonjorkan kaki, azan subuh berkumandang. Waktu telah menunjukkan pukul 05.15 hari Rabu 10 November 2010. Terhitung sejak keberangkatan hari Senin sore ba’da Maghrib, kami telah menjalani 38 jam perjalanan yang menguras energi, mental dan kesabaran. 

Ada hal kecil yang menarik perhatian saya, sebagai Negara penghasil minyak bumi Arab Saudi mempunyai hampir 20% cadangan minyak dunia dan merupakan pengekspor minyak terbesar mungkin tidak mengalami masalah dengan pasokan energi listriknya. Selama tinggal kurang lebih 5 hari di wisma transit ini, AC dan lampunya selalu menyala 24 jam. Jangankan menggunakan lampu hemat energi, bohlam yang digunakanpun jenis yang telah jarang dipakai di Indonesia.