Jumat, 02 September 2016

Semua Bisa Dilakukan di Padang Pasir (A Pilgrim's Journey Eps 3)


  
Tanpa menunggu lama pesawat take off pukul 00.40 WIB. Sebagian besar penumpang maskapai Emirates adalah jamaah dari berbagai travel biro haji. Tidak dibayangkan bagaimana bila letusan Gunung Merapi masih berlangsung karena saat itu adalah hari-hari terakhir kedatangan jamaah haji sebelum Bandara King Abdul Aziz Jedah ditutup. Perjalanan memakan waktu 6,5 jam dan landing dengan mulus pukul 05.00 wkt Dubai (selisih 3 jam). 

Bandara Dubai adalah sebuah bandara yang sangat luas, modern dan megah. Jamaah sempat tertunda untuk keluar karena beberapa birokrasi yang membingungkan walaupun rombongan masuk kota Dubai hanya untuk transit saja. Uni Emirat Arab termasuk salah satu tujuan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia. Terbukti beberapa penumpang yang bersama saya sejak dari Bandara Soekarno Hatta adalah TKW yang akan kembali bekerja setelah pulang mudik ke Indonesia. Di salah satu ruang tunggu rombongan sempat bertemu seorang TKW asal Cianjur yang sudah 7 jam menunggu namun penjemput belum juga tiba. 

Sempat kebingungan di bandara Dubai
Setibanya di Hotel Millennium Dubai untuk transit, suasana haji yang diceritakan banyak orang mulai terlihat terutama dari banyaknya ras dengan segala kebiasaan, ciri fisik dan pakaiannya. Yang paling menarik adalah saudara-saudara kita dari Afrika dengan tubuh yang tinggi dan pakaiannya (terutama perempuan) yang berwarna cerah sungguh kontras dengan hitam kulitnya. Semua akomodasi selama berada di Dubai menjadi tanggungan maskapai Emirates karena tiket yang dibeli biro Haji kami adalah Jakarta-Jeddah. 

Perjalanan panjang dari Jakarta membuat sebagian besar rombongan lebih memilih untuk mempergunakan waktunya dengan beristirahat mengingat perjalanan ke depan akan lebih melelahkan lagi. Namun tawaran city tour dari pengelola hotel lebih menarik bagi kami bersama sepasang suami istri lain dari rombongan kami. Pak Ical dan Bu Lusi. Mumpung di Dubai, kenapa nggak jalan-jalan sekalian? Dubai adalah salah satu dari 7 kesultanan yang tergabung dalam Uni Arab Emirat yang manjadi pusat bisnisnya, sementara Abu Dhabi sebagai pusat pemerintahan/ibu kotanya.

Suasana kota Dubai
Pada tahun 2000, UAE bukanlah apa2. Tapi semenjak Dubai membangun Pulau buatan: Palm Jumeirah, Palm Deira, World, dll plus Burj Al Arab (Hotel 7 bintang), dan sekarang Burj Al Alam (tower tertinggi di dunia), UAE terutama Dubai menjadi kota modern. Jangan disangka Dubai kaya minyak seperti Saudi Arabia. Kenapa bisa kaya? Dengan free zone area, yang sebetulnya Indonesia lebih dulu punya konsep serupa, semua barang bebas keluar masuk tanpa pajak. Kemudahan ada di mana-mana. Mau mendirikan perusahaan mudah asal punya duit. Tidak peduli dari bangsa atau agama apapun karena Dubai lebih agak liberal dibanding 6 kesultanan lain di UAE. Tempat solat banyak, tempat maksiat juga ada. Yg bercadar banyak, yg serba terbuka juga tidak sedikit.

Perumahan di 'pulau' Palm Jumeirah
Efek dari itu semua membuat Dubai menjadi kota termahal di dunia. Misalnya sewa rumah di kawasan elit adalah sekitar 900 juta per tahun dengan minimal 3 tahun sewa. Kamar termurah dari hotel Burj Al Arab setara dengan 30 juta per malam atau hampir sama dengan ONH regular. Di gallery seni yang sempat saya singgahi, pasmina sutera seharga hampir 10 juta, sementara karpet hiasan dinding sebesar sajadah kecil seharga 11 juta. 

Bisa dikatakan Dubai bisa melakukan apapun di padang pasir. Proyek dimana2. Tidak punya taman, padang pasir diubah jadi taman indah. Tidak punya daerah tropis, lautan disulap jadi pulau-pulau yg bernuansa tropis dg bentuk pohon palm. Padang pasir, diubah jadi pusat bisnis lengkap dg gedung-gedung pencakar langit melebihi Oxford Street nya London atau La Defense nya Paris. Tidak punya danau, membuat danau sendiri di tengah padang pasir. Ingin merasakan ski di tengah dinginnya salju? Bisa dilakukan di tempat ski indoor. Dan semuanya dibuat dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun. 

Burj Al Arab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar