Jumat, 16 September 2016

Ketemu Satgas Parpol di Bandara Jeddah (A Pilgrim's Journey Eps 4)



Setelah pada episode sebelumnya saya ceritakan bagaimana perjalanan saya menyusuri kota Dubai, sekembalinya ke hotel dengan tetap menyimpan kekaguman saya hanya punya waktu kurang dari 1 jam untuk menikmati kenyamanan kamar hotel karena harus segera mandi sunah ihrom. Seperti sarapan paginya, makan siang di hotel ini mengharuskan perut untuk segera menyesuaikan diri dengan makanan ala arab, utamanya adalah nasi berbumbu ringan yang tiap bulirnya 2-3 kali lebih panjang dari nasi di tanah air. Jangan berharap ketemu sayur asem di sini.

Check out pukul 12.30 sudah berpakaian ihrom menuju bandara Dubai, karena akan mengambil miqat di dalam pesawat. Sopir bis yang mengantar rombongan, seorang pekerja asal India begitu amazed diajak ngobrol dengan bahasa tamil oleh Ustadz Faisal, pembimbing kami yang lulusan S2 di Pakistan. Dalam waktu singkat keduanya sudah akrab ngobrol ngalor ngidul sesekali diiringi gelak tawa. Mendadak saya merasa sedang menonton film Bollywood yang genre actionnya super lebay.

Sedikit tentang pekerja asing di Dubai, seperti di Negara-negara Timur Tengah lainnya Indonesia dikenal sebagai penyuplai tenaga kerja unskill. Sementara pekerja Asia Tenggara lainnya seperti Filipina biasanya bekerja dengan kasta lebih tinggi misalnya di hotel, restoran atau perkantoran. Kenapa ya di Indonesia penyalur tenaga kerja kok cuma Asisten Rumah Tangga (ART) saja? Padahal insinyur, dokter, akuntan, dan pekerja kantoran lain masih melimpah, malah banyak sekali fresh graduate yang masih menganggur. Itung-itung kalau pekerja dari Indonesia bukan ART, kan bisa menaikkan ‘harga diri’ bangsa. 

Masuk kembali Bandara Dubai, untuk sampai ke terminal keberangkatan harus melalui deretan pertokoan modern yang menjual barang kelas dunia mulai dari pakaian, parfum sampai perhiasan. Tampak kontras rombongan haji berpakaian ihrom yang identik dengan ukhrowi melalui hamparan kemewahan duniawi. Sampai di sini pandangan mata istri saya masih lurus tampa tergoda kiri kanan. Kelak di beberapa episode berikutnya kau akan tahu maksud saya, Kawan. 

Take off pukul 17.00. Karena Bandara Dubai adalah hub bagi maskapai Emirates, dari sini pesawat yang digunakan lebih besar daripada penerbangan Jakarta-Dubai dan isinyapun hampir semua jamaah haji dari berbagai negara, semua berpakaian ihrom. Ketika pesawat diperkirakan melintas di atas Dzulhulaifah, diumumkan agar para penumpang mengucapkan niat umroh dan dimulailah hukum / larangan-larangan ihrom. Ibadahpun dimulai… 

Pesawat landing dengan mulus pukul 18.30 waktu Jeddah (1 jam lebih lambat dari Dubai). Ujian dimulai di sini, karena pesawat parkir di tempat yang remote dari terminal haji bandara King Abdul Aziz sehingga harus lama menunggu bis untuk membawa ratusan penumpang ke terminal. Proses imigrasi juga membutuhkan waktu yang saaaangat lama mengingat banyaknya jamaah. Setelah pemeriksaan imigrasi masih harus ke beberapa meja lagi yang saya tidak tahu persis petugas administrasi apa karena semua identitas di seragamnya memakai huruf arab gundul semua. Meskipun saya sudah khatam iqro jilid terakhir tapi hanya mampu membaca nama saja. Itupun masih dengan mengira-ira. 

Petugas di Jeddah sangat jauh berbeda dalam penampilan dan sikap dengan petugas di bandara Dubai. Di Dubai kami dilayani oleh petugas yang secara fisik ganteng dan cantik, pakaian khas arab yang rapi dan sikap yang ramah. Di Jeddah, petugas tidak jauh beda dengan satgas parpol di Indonesia yang berpakaian ala ala militer yang petentang petenteng dan kehabisan stok senyum. Sudah menjadi kebiasaan bahwa jamaah haji Indonesia sedikit mendapat kemudahan dalam pemeriksaan di sini, yang katanya karena mayoritas orang Indonesia itu tertib dan kooperatif. 

Keluar dari area imigrasi dan lain-lain ternyata masih ada lagi pengecekan lagi oleh instansi apa, yang kembali memeriksa paspor jamaah. Tiba giliran kami hanya ditanyakan apakah berasal dari Indonesia, dan ketika diiyakan kami boleh lewat begitu saja tanpa pemeriksaan paspor seperti jamaah dari negara lainnya. Sedikit berbeda dengan saya, istri saya yang diperiksa oleh petugas lain masih ada pertanyaan tambahan. Indonesia? Na’am…. Jawa? Na’am… Oke, lewat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar