Senin, 19 September 2016

Ada Apa dengan Pengki



Niiit…. niiit…. niiit… krakk!!! Bunyi sensor parkir dan plastik pecah mengagetkanku. 

Seketika secara reflek kuinjak kuat-kuat rem mobil sebagai reaksi mendengar suara suara tersebut. Lihat-lihat sekeliling ternyata ban mobil dengan sukses nginjak pengki biru di pinggir carport. Pantesan karena si pengki nyempil di pinggir sehingga tidak terlihat di kamera mundur. Walhasil injakan ban meninggalkan bekas sobekan di pinggiran pengki walaupun secara fungsi masih bisa digunakan. Oh iya, Kawan-kawan tau pengki kan? Itu lho yang dlam bahasa Jawa biasa disebut cikrak atau bahasa kerennya disebut dust pan. Hmm…. Agak amazed juga tergilas mobil hampir 2 ton kok nggak hancur mengingat usia pakainya yang cukup lama. Kira-kira 17 tahun. Serius? Iya, setahun lebih tua dari anak sulung saya. 

Saya ingat persis, karena pengki itu termasuk harta pertama yang saya miliki (walaupun tidak masuk LHKPN dan SPT tahunan) yang saya belanja bersama beberapa barang lain yang sampai saat ini masih terpakai, antara lain vacuum cleaner dan kasur Airland ukuran king. Mengapa alat-alat kebersihan yang pertama saya miliki, karena sebelumnya saya menderita alergi debu lumayan parah sejak masih duduk di bangku SMA dan kondisi itu menuntut kondisi rumah yang selalu bersih. Dan juga kasur ukuran besar karena saya (katanya) selalu usil kalau tidur. Kasihan kan sebelah saya kalau terkena tendangan atau sikutan tak sengaja. 

Tepat sekali kalau Kawan menebak waktu itu saya adalah pengantin baru. Sebagaimana layaknya orang baru berumah tangga pasti membutuhkan peralatan yang akan dipakai sehari-hari. Mungkin yang membedakan hanya cara mempersiapkan masing-masing orang. Ada yang jauh jauh hari sebelumnya sudah mempunyai check list apa yang harus dibeli, ada pula yang membeli peralatan sambil jalan. Apa yang dibutuhkan dibeli saat itu juga. Saya termasuk yang kedua, setelah beberapa hari nebeng di kost istri merasa perlu membeli vacuum cleaner daripada malam-malam bersin mengganggu penghuni lain. Kan jadi ketahuan kalau tengah malam belum tidur. Lho, kok di kost istri tinggalnya? Nah, ini ada ceritanya.

Beberapa tahun lalu saat beberapa junior di kantor berencana akan berumah tangga dengan pria idaman masing-masing, saya jadi kepo pengen tahu seperti apa sih mereka mempersiapkan pernikanannya. Dari bincang-bincang ringan saya jadi tahu apa yang sudah mereka lakukan jauh hari menjelang pernikahannya. Mereka sudah mempersiapkan gedung yang dipakai resepsi, pakaian apa yang dikenakan, menu hidangan, tema pesta dengan segala tetek bengeknya hingga akan tinggal di mana setelah menikah nanti. Hehehee… saya jadi geli membandingkannya dengan persiapan yang saya lakukan. 

Saya dan (saat itu masih calon) istri yang sama-sama tinggal di Jakarta memang agak sulit memang mempersiapkan resepsi di tempat yang jauh. Apalagi karena satu dan lain hal dilakukan dua kali, Ijab qobul dan resepsi di Magelang plus seminggu setelah itu Ngundhuh Mantu di Wonogiri. Mengadakan acara di dua tempatpun mau tidak mau menggandakan segalanya; udangan, hidangan, pakaian, dan keruwetan-keruwetan lainnya. Ditambah lagi kebiasaan di kampung mertua sangat ribet untuk sebuah acara pernikahan sampai-sampai jarang sekali pernikahan di kampungnya yang dibuat acara perayaannya. 

Tidak sampai di situ, kok ndilalah sebulan sebelum nikah istri saya dikumandahkan ke Kantor Pusat dimana aturan kepegawaian tidak memungkinkan pegawai kumandah untuk mengambil cuti. Bayangkan, dalam kondisi seperti itu masih ditambah dengan kesulitan berkomunikasi dengan orang tua karena tidak adanya saluran telepon dan telepon seluler masih menjadi barang langka di jaman itu. (Jaman itu? Kok kesannya jadul banget ya?). Pokoknya pusing pala habibie lah…. 

Tapi di tengah-tengah proses itu ada juga kemudahan yang saya alami. Pak Achyas Tawil, calon mertua saya, sebagaimana layaknya orang tua yang akan melepas anak gadisnya untuk menikah biasanya akan banyak melakukan screening ketat sebelum memutuskan apakah si laki-laki layak untuk menerima amanah menggantikan tanggung jawabnya sejak bayi. Pasti akan memepertimbangkan bibit, bebet, bobot segala (dalam pandangan Islam mencari pasangan itu harus mempertimbangkan agama, keturunan, rupa dan harta). Intinya untuk memastikan Arona Asriningsih, anak gadisnya akan baik-baik saja setelah menikah dengan saya. Tapi Alhamdulillah calon mertua yang pendiam itu tidak cerewet kepada saya tentang hal itu. 



Akhirnya semua berjalan dengan lancar. Hari ini tepat 17 tahun yang lalu tanggal 19-09-1999 ijab qobul sudah terlaksana dan mulailah saya menjalani kehidupan dengan menyempurnakan setengah agama. Suatu ikatan yang kuat (mitsaqon gholidzo) telah terjalin dengan diucapkannya kalimat 

Qobiltu nikakhaha wa tadzwijaha linnafsii bimahril madzkuur 

Pun menyatukan dua anak manusia yang sebelumnya hidup masing-masing. 

Oh iya, menyatukan berarti setelah itu tinggal bersama-sama dong. Nah ini yang saking ribetnya persiapan acara jadi belum kepikiran setelah nikah mau tinggal di mana. Rumah belum punya, nyari kontrakan belum sempat. Atau karena tipikal saya yang terlalu easy going? Wong beberapa bulan sebelumnya pas acara lamaran saja kami berdua nggak pulang, tetap di Jakarta. Sibuk? Nggak juga, kami berdua malah jalan-jalan dengan teman-teman kantor ke Pulau Seribu. Heheheee… 

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta setelah mengambil cuti acara pernikahan (istri saya diijinkan tidak masuk 2 minggu atas kebaikan Alm. Pak Roy atasannya waktu itu) kami beristirahat di daerah Puncak sembari menikmati jagung bakar di pinggir kebun teh. Aneh juga ya, kebunnya teh tapi hasilnya jagung.

“Ngomong-ngomong setelah ini kita pulang ke mana, Mas?” Tanya istri. 

“Ke kos masing-masing lah...” jawab saya enteng, lupa kalau sudah menikah. 

“Hahahahaa….” Akhirnya kami tergelak bersama. 

Tapi itulah yang akhirnya terjadi malam itu. Saya pulang ke kos setelah sebelumnya mengantar istri ke tempat kosnya walaupun akhirnya beberapa hari setelah itu atas ijin pemilik rumah saya pindah ke kosnya. Sampai akhirnya sejak saat itu kemudian menempati rumah dinas hingga memiliki rumah sendiri semua dijalani dengan mudah atas ijin Allah SWT. Pasti ada saja pertolongan lewat orang baik yang datang membantu. 

Akhirul kalam, semoga artikel ini tidak dibaca oleh siapa saja yang nantinya akan menjadi menantu saya. Mengapa? Karena saya akan kehilangan beberapa pertanyaan. 


2 komentar:

  1. lah ente ki pake nikah jugak ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya pake lah, biarpun waktu itu masih jaman berburu dan meramu...

      Hapus