Rabu, 24 Agustus 2016

Teguran Pertama (A Pilgrims's Journey eps 2)


Keberangkatan saya bersama istri ba’da maghrib Senin, 8 November 2010 ketika itu agak beda dengan orang yang akan berangkat haji lainnya. Di rumah memang telah berkumpul orang tua dan saudara-saudara dekat untuk mendoakan, namun pas berangkat hanya diantar oleh keponakan yang menyetir mobil dan kakak ipar yang menemani. Saya jadi teringat musim haji tahun 1984 ketika keberangkatan Mbah Putri ke Pendopo Kabupaten Wonogiri tempat keberangkatan ibadah haji dengan diantar keluarga besar plus upacara pemberangkatan yang penuh sesak. Padahal saat itu saya ingat sekali, sekabupaten tidak lebih dari 10 orang yang berangkat. 

Pak, Bu, mohon doa restu....dan nitip anak-anak ya
Upacara pelepasan di Jakata Airport Hotel diadakan secara sederhana oleh biro haji kami. Rombongan sendiri dipimpin oleh Ikbal Sayuti, pengusaha muda pimpinan Nursa Tour travel yang kami gunakan. Sedangkan pembimbing yang menyertai dari tanah air adalah Ustadz Faisal, ustadz muda lulusan S2 dari Pakistan. Sebagai tambahan informasi bahwa dua hari sebelumnya pesawat Emirates sempat tidak berani terbang ke Jakarta karena khawatir efek hujan abu dari letusan Gunung Merapi. Alhamdulillah hari itu adalah hari pertama maskapai penerbangan Emirates membuka kembali penerbangannya ke Jakarta. Akibatnya keberangkatan jamaah haji dua hari sebelumnya di-delay sampai hari itu juga. 

Sebelum keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta
Di sini dibagikan kartu GSM Arab Saudi untuk berkomunikasi selama ibadah haji. Perlengkapan lain seperti sajadah, kain ihram, kantong batu jumroh, dan sandal telah dibagikan sebelumnya. Untuk keperluan komunikasi dengan keluarga di rumah, melalui browsing internet saya sudah menentukan provider mana yang memberikan tarif paling murah untuk menelfon ke arab Saudi (satelindo dengan tarif Rp30/detik). Hanya saja untuk sebaliknya (Arab Saudi ke Indonesia) saya salah menetukan karena yang diperhitungkan paling murah (telkomsel Rp5.000/menit) ternyata untuk musim haji tahun lalu, sementara yang berlaku sekarang adalah Rp14.000/menit). Akhirnya nomor lokal Arab Saudi itulah yang saya pakai selama beribadah haji baik untuk menelfon lokal ataupun ke Indonesia. 

Tiba waktunya untuk boarding, sayang sekali teh panas paling enak buatan Ibu yang saya bawa dilarang dibawa masuk ke dalam pesawat sesuai regulasi penerbangan. Malam itu saya harus merelakan tanaman hias terminal 2E, walaupun kepanasan, menikmati teh buatan Ibu. 

Sempat terjadi sedikit hal yang membuat sibuk pimpinan rombongan ketika salah satu jamaah kehilangan boarding passnya menjelang masuk terminal 2D Bandara Soekarno Hatta setelah pemerksaan imigrasi. Sebagai orang yang pernah menjadi pelanggan jasa penerbangan, saya sempat berfikir apakah orang ini tidak pernah naik pesawat sebelumnya sehingga boarding pass bisa lepas dari pengawasan. Kok ya katrok begitu bahasa gaulnya. Memang sejak manasik haji baru saya sadari bahwa tidak semua jamaah haji yang menggunakan ONH plus adalah dari kalangan menengah ke atas saja, faktanya adalah banyak rombongan travel yang berprofesi sebagai petani. 

Boarding Pass yang sempat membuat panik.
Saya segera mengucap istighfar setelah tak lama kemudian karena mengalami hal serupa. Waktu itu gate untuk boarding sudah dibuka. Sebagaimana layaknya pesawat berbadan lebar kami memasuki pesawat diurutkan berdasar zona seat. Saat tiba giliran saya masuk ke dalam pesawat keringat dingin keluar begitu menyadari boarding pass tidak berada di kantong maupun di tas pinggang. Berkali-kali mencari hasinya nihil. Setengah putus asa saya berdiri dengan niat pura-pura bodoh nekat masuk ke pesawat. Alhamdulillah boarding pass tergeletak dengan indahnya di bawah tas ransel. Rupanya Allah mengingatkan saya agar selalu berfikir positif, tidak memandang rendah serta menghargai orang lain.

Baiklah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar