Kamis, 28 Juli 2016

Isyana Sarasvati


Lebih dari 40 tahun sebagai keponakannya tetap saja saya tidak tahu siapa nama aslinya. Tapi kami, para keponakannya memanggilnya Budhe Wardi karena sebagai istri dari almarhum Pakdhe Wardi beliau berhak menyandang gelar itu. Kami tidak berani memanggilnya Budhe Celine Dion atau Budhe Isyana Sarasvati karena akan terdengar wagu. Lebih wagu lagi kalau dipanggil Budhe Arnold Schwarzenegger. Beliau adalah kakak kandung Bapak selisih beberapa tahun. Menilik usia Bapak yang (diperkirakan) 72 tahun, dapat dipastikan usia beliau lebih dari itu. Ya iyalah… Okelah mari kita asumsikan usia beliau 77 tahun. Sepakat? 


Masa kecil kami, saya dan kedua kakak, sangat dekat dengan beliau karena rumah beliau di Wonogiri (agak) kota yang hanya sekira 500an meter dari rumah Bapak dapat dengan mudah dijangkau dengan sepeda jengki kebesaran kami bertiga. Kebesaran dalam arti sebenarnya karena untuk duduk di atas sadel atau kaki bisa mengayuh pedal adalah suatu dilema berat yang mau tidak mau harus dipilih. Oh iya, rumah kami berdekatan karena dipersatukan takdir sebagai sesama korban penggusuran pahlawan pembangunan Waduk Gajah Mungkur meski berasal dari kecamatan yang berbeda. Bapak yang asli Nguntoronadi telah menetap di Baturetno setelah mempersunting Ibu sedangkan Budhe tetap di kampung kelahirannya. 


Saat itu tahun 80an, Budhe berputra 3 orang dan dua di antaranya sudah menikah dan tinggal di lain pulau. Nalurinya sebagai seorang ibu yang telah ditinggal anak menikah pasti tetap menginginkan ditemani anak-anak agar hari-harinya tidak terasa sepi. Oleh karena itulah meski kata orang beliau galak tapi kami bertiga sangat dimanjakan bila main atau bermalam di rumahnya, terlebih kami ini lucu, menggemaskan, baik hati dan tidak sombong. Rajin menabung lagipula pintar. Oh, boy… Almarhum Pakdhe, sebagai pensiunan pegawai PJKA memang orangnya pendiam untuk mengimbangi Budhe yang cerewet. Hari-harinya diisi dengan kesibukan sesuai hobinya sebagai tukang kayu. Apapun dibuatnya sendiri dari kayu bekas bantalan rel kereta; meja, kursi, lemari, kulkas, dipan dan lain-lain. Pernah suatu kali berusaha membuat Pinokio, tapi gagal. Ditunggu berhari-hari tak juga hidup.

Kini kami sudah tidak bertetangga lagi. Bapak pindah ke Solo dan Budhe telah kembali ke tanah kelahirannya mengikuti anak bungsunya (yang sekarang sudah memiliki cucu) agar tetap ada yang merawat beliau. Setiap tahun kami selalu mengunjungi pada hari pertama lebaran untuk bersilaturahim. Ada perasaan getir yang kian lama kian terasa saat kami bertemu beberapa tahun belakangan. Ya, ingatan beliau semakin lama semakin terhapus meski secara fisik masih bugar. Awal-awalnya sih beberapa tahun yang lalu kami menganggap beliau sedang bercanda dengan berkali-kali menanyakan hal yang sama, karena memang bercanda itulah yang mendominasi obrolan selama bertamu. 


Terakhir, lebaran tahun ini seperti biasa kami ke sana. Bapak, Ibu, anak, mantu dan cucu lengkap 15 orang. Daya ingatnya makin memprihatinkan dimana hanya kami berlima yang mampu dikenalinya. Menantu apalagi cucu-cucu Bapak yang mulai dewasa sama sekali tidak diingatnya. Dalam 5 menit beliau bisa dua kali bertanya ‘Iki sopo’ ke anak-anak saya atau ke kakak ipar saya. Bahkan bagaimana beliau sangat exited mendengar saya sudah menikah sampai-sampai diciuminya istri saya berkali-kali. Maklum, keponakan tersayangnya ini waktu kecil dulu paling lucu, menggemaskan, baik hati dan tidak sombong. Rajin menabung lagipula pintar. Oh boy… 


Jangankan untuk mengingat kedatangan kami, beliau sering lupa bahwa suaminya telah meninggal. Sesekali bercerita suaminya ‘sudah berada di dalam tanah’ tapi 10 menit kemudian menjelaskan bahwa Pakdhelah yang selama ini menyapu lantai rumah. Setengah bercanda, sebelum berangkat silaturahim kakak saya mengusulkan kepada Bapak untuk tidak perlu ke sana karena percuma saja dalam beberapa jam setelahnya Budhe tidak bisa mengingat kehadiran kami. Bisa dimaklumi karena perjalanan Solo – Nguntoronadi yang sebetulnya mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi menjadi sangat memakan waktu di hari pertama lebaran. Tapi apa jawaban Bapak? 

“Memang Budhe sudah tidak ingat apa-apa sama kita, tapi yang penting kita yang masih ingat Budhe” 

Sehat terus ya Budhe Isyana... :) 


4 komentar:

  1. very nice artikelnya pak arief...oh boy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir bu :)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. very nice artikelnya pak arief...oh boy

    BalasHapus