Jumat, 17 Juni 2016

Nasar


Membaca judul tulisan ini jangan salah sangka saya telah berubah menjadi biang gossip ya, Bukan… bukan Nassar penyanyi itu (gambar kiri) yang ingin saya bahas, Kawan. Kali ini tulisan saya adalah mengenai burung. Oh bukan, bukan burungnya Nassar, karena saya tidak tahu persis Nassar punya burung apa tidak. Justru saya yang harus berbangga karena biarpun kecil saya punya burung dan berfungsi dengan sempurna. Ya, saya mempunyai peliharaan seekor burung kenari kecil berwarna kuning tweety yang sesuai fungsinya bersuara aduhai merdu lagi panjang nian… 

Sekali lagi bukan kenari kecil yang saya bahas. Sesuai cover di atas, yuk kita berkenalan dengan burung nasar (gambar kanan). Bagi sebagian orang barangkali akan merasa jijay bajay dengan keberadaan burung ini. Bagaimana tidak? Melihat bangkai binatang saja - apalagi yang setengah membusuk - kita jijik bergidik,.lha kok malah dijadikan makanan main course-nya. Dapat dimaklumi jika sebagian dari kita mengidentikkan burung nasar dengan keserakahan dan kerakusan dilihat dari bagaimana caranya saling berebut makanan yang saling sikut dengan sesamanya. Tapi apakah benar binatang ini Allah ciptakan dengan stigma negatif tersebut?

Sekilas Nasar ini bener-bener burung yang tidak punya perikemanusiaan. Masih ingatkah Kawan dengan kasus Kevin Carter seorang jurnalis foto yang bunuh diri setelah mendapat penghargaan Pulitzer namun menuai kecaman atas fotonya di Sudan tahun 1993? Ya, foto yang menghebohkan tersebut adalah tentang seorang gadis cilik kelaparan yang kesulitan merangkak sementara seekor burung Nasar mengintai dengan tidak sabar menunggu menjadi bangkai dan siap memangsanya. Mengapa harus menunggu menjadi bangkai, karena kodratnya bukan sebagai predator jadi sangat jarang ditemui burung ini menyerang mangsanya. Meski Carter berulang kali menjelaskan bahwa pada akhirnya gadis tersebut selamat namun rasa bersalah tetap menghantuinya dimana seharusnya dia menolong dan bukan mengambil fotonya. 

Menjadi pemangsa bangkai mungkin bukanlah pilihan jalan hidup yang harus dijalani burung ini. Tapi apa daya beratnya beban hidup sehingga ia harus berdamai dengan takdir untuk menerima peran sebagai tukang bersih-bersih bangkai yang harus dijalani dengan ikhlas. Ya, tukang bersih-bersih. Mirip seperti tukang sampah petugas kebersihan berwarna oranye yang sering kita temui di jalanan. Bayangkan apa jadinya sebuah kota tanpa adanya petugas kebersihan. Begitu pula dapat dibayangkan apa jadinya ekosistem besar dunia ini bila sebagian besar binatang liar yang mati menunggu waktu yang lama untuk menjadi busuk dan terurai. Bayangkan bau yang ditimbulkan dari jutaan bangkai, berkembang pesatnya serangga hingga penyakit yang tersebar mulai rabies hingga anthrax yang bukan band metal itu. 

Peran penting burung nasar bagi keseimbangan ekosistem itu tidak terlepas dari keunikan sistem pencernaannya dimana asam dalam perutnya mampu membunuh patogen. Jadi sangat jarang ditemui burung nasar belanja obat diare di apotik gara-gara dia salah makan, entah itu di*tab, entr*stop atau n*rit. Itu semua tidak terlepas dari didikan induknya yang sejak kecil sudah melatih dengan makan bangkai binatang sebagai makanan pendamping ASI. Subhanallah ya… Oh iya, masalah berkeluarga biarpun makanannya jorok tapi jangan diragukan lagi kesetiaan burung ini terhadap pasangan hidupnya. Burung nasar adalah makhluk monogami yang hanya mempunyai satu pasangan selama hidupnya. Co cwiiiiit…. 

Sangat disayangkan eksistensi burung ini menghadapi ancaman serius bahkan beberapa spesies telah dinyatakan punah. Bukan karena perilaku monogami itu lho ya penyebabnya…. Jika predator alami bagi nasar adalah ular dan kucing besar, saya yakin Allah sudah mengatur keseimbangan jumlah masing-masing mata rantai makanan di bumi ini. Ancaman terbesar bagi burung ini adalah siapa lagi kalau bukan manusia dengan segala keserakahannya. Untuk dimakan? Tentu saja tidak. 

Perburuan liar terhadap binatang eksotis di Afrika misalnya untuk mengambil gading gajah dan cula badak turut berperan dalam pembunuhan masal burung nasar. Para pemburu akan meninggalkan bangkai gajah atau badak setelah mengambil gading ataui cula dan menaburkan racun pada binatang tersebut. Mengapa? Agar kawanan burung nasar yang mempu melihat bangkai dalam jarak 30 km itu akan segera mati setelah makan bangkai sehingga tidak menimbulkan kecurigaan jagawana yang dapat mendeteksi kegiatan perburuan dari keriuhan burung bangkai. 

Masih dalam penggunaan racun, sifat pendendam manusia terhadap predator binatang ternak mereka – semisal singa – turut menyumbang kematian masal burung nasar. Biasanya setelah menyerang kandang ternak dan membunuhnya seekor singa tidak langsung memakan korbannya. Pemilik ternak yang dendam kadang-kadang menaburi racun untuk membunuh sang predator, yang akan kembali bersama kawanannya untuk menyantap buruannya. Akibatnya kawanan singa mati keracunan, dan selanjutnya bisa ditebak kawanan burung nasar yang memakan bangkai singa akan menyusul mati. 

Akibat rusaknya rantai makanan di atas menimbulkan akibat yang luar biasa bagi manusia. Akibat tidak langsung (selain merebaknya penyakit) misalnya tercatat di India dimana mayoritas sapi mati begitu saja karena tidak dikonsumsi sementara populasi sapi terbesar ada di sana. Bangkai sapi menjadi monopoli anjing liar yang segera melonjak 4 kali lipat dalam 11 tahun, pun demikian dengan populasi tikus. Kematian manuisia akibat rabies meningkat drastis dan diperkirakan merugikan 460 trilyun rupiah untuk pengurusan jenazah, pengobatan dan sebagainya. 

 Peningkatan populasi manusia diperkirakan turut mengancam kelangsungan hudup nurung nasar. Dengan semakin banyaknya penduduk bumi, semakin banyak lahan pertanian yang diperlukan untuk menghidupi mereka yang otomatis akan menggusur hutan sebagai habitat binatang yang dapat dimangsa burung nasar. 

Jadi, masihkah kita peru jijik dengan Nasar? Atau perlukah kita mencintai Nasar? Tarik maaaang...


(sumber : NGI, Hanter, dll)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar