Kamis, 30 Juni 2016

Ampun Dije....


Mata bocah itu polos menatap berkeliling di sebuah keriaan hajatan warga. Tubuhnya diam tak seperti lainnya. Menilik cara berdirinya yang canggung di pojok di sebuah tanah kosong di kampung pinggiran sungai yang membelah provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur menyiratkan bahwa dia asing di tempat itu, begitupun dari pakaian yang dikenakan sedikit lebih bagus dibanding orang-orang di sekitarnya. Mengenalan alas kaki, tak seperti kebanyakan pemuda-pemuda berkeringat di sekitarnya. Sementara itu ingar bingar musik dangdut memekakkan telinga berasal dari sepasang loudspeaker berukuran setinggi orang dewasa hanya berjarak dua tumbak dari tempatnya berdiri. Puluhan pemuda-pemuda berkeringat dengan tangan terangkat dan pinggul bergoyang tengah asik berjoget mengikuti hentakan suara kendang irama dangdut murni yang saat itu – tahun 80an – nuansa koplo belum ditemukan. 

Seorang pria paruh baya bermuka datar dengan rokok menyala di tangan sibuk mengoperasikan sebuah tape recorder dari mana suara menghentak itu berasal. Sesekali tangannya memutar tombol-tombol amplifier rakitan yang bocah itu tak mengerti apa pengaruhnya ke suara setiap sentuhan tombol. Puluhan kaset berderet di sebuah meja di sampingnya, sementara seorang yang lebih muda darinya sibuk memilih-milih kaset lagu yang sedang ngepop di jaman itu. Ia perlu memutar kaset dengan tape recorder kecil lain agar posisi pita ada di lagu yang dimaksud. Tak mau terganggu ingar bingar sekelilingnya, telinganya harus ditempelkan ke speaker tape kecil itu. 

Terbersit tanya di benaknya mengapa orang-orang berjoget begitu gembiranya hanya dengan mendengarkan sebuah tape recorder, hal bisa dilakukan kapanpun di rumah. Merasa bukan komunitasnya, tak lama si bocah beringsut meninggalkan tempat itu. “Kampungan…” dengusnya. Kelak si bocah baru mengerti bahwa tape recorder termasuk barang mewah dan langka di kampung itu. 

*

Belum lama malam menjelang dan coffee shop sebuah hotel berbintang 5 di Batam itu tampak lengang. Dengan asap rokok mengepul, di sudut ruang terlihat dua pria sedang ngobrol santai sambil menyecap coffee late tampak bahwa keduanya adalah kawan lama yang jarang bertemu. Seorang berbadan gemuk, berpenampilan santai dengan kaus dan sandal hotel dan seorang lagi pria berambut tipis mengenakan jaket kulit dan berpakaian lebih rapi menandakan dia yang mendatangi sang kawan di hotel tersebut. 

Alunan penyanyi bersuara mesosopran dengan iringan piano dan saksofon lembut acap kali menjeda obrolan keduanya untuk sejenak larut dalam irama lagu. Ya, karena keduanya sangat menikmati musik terutama yang dimainkan secara langsung. Bukan tanpa sengaja pemilihan hotel tempat menginap sang kawan adalah atas rekomendasi si rambut tipis karena kualitas bermusik dan pemilihan lagu si mesosopran - yang belakangan diketahui merupakan pasutri dengan pianis - sangat cocok dengan karakter keduanya yang usianya beranjak meninggalkan 30an. 

*

Sabtu, nyaris tengah malam penghujung Ramadhan di sebuah mall di Jakarta Utara, seorang pria nyaris gundul berusia di atas 40 tahun ditemani dua anak perempuannya yang tengah beranjak dewasa menyandar lelah pada railing lantai 2 di atara lalu lalang para pemburu barang diskon. Energi mereka bertiga sudah cukup terkuras - setelah seharian berpuasa dan sholat tarawih - untuk terus berbelanja memanfaatkan diskon besar dalam gelaran Jakarta Midnight Sale malam itu. Tak seperti ibu kedua gadis itu yang entah di toko mana masih bersemangat dan telaten berburu barang yang selama ini diidamkan namun belum kesampaian untuk dimiliki. Si pria memang membebaskan untuk membeli apapun yang diinginkan karena percaya sang istri tak akan membeli sesuatu yang berlebihan, karena kepercayaannya menuntun bahwa hasil kerja istri adalah hak istri sepenuhnya akan digunakan untuk apa.

Memandang ke lantai 1 tepat di bawahnya, ada sebuah hall terbuka mulai sepi meskipun acara belum selesai. Sebuah acara untuk anak-anak – karena produk yang dijual adalah mainan – yang entah mengapa hiburan di panggung berupa aksi Disc Jockey (DJ). Seorang perempuan muda berkulit putih bersih dan berambut panjang dengan pakaian trendy tengah memainkan alat yang di mata si nyaris gundul mirip kompor gas dua tungku milik ibunya. Yang membedakan hanya terdapat banyak tombol di tengahnya. 

Di kanan dan kiri mbak DJ, atau sekira dua tumbak dari tempatnya berdiri, sepasang loudspeaker setinggi orang dewasa memuntahkan suara berdentum memekakkan telinga irama dengan beat cepat diselingi bebunyian tak lazim. Sambil turut bergoyang, mbak DJ dengan jari lentiknya yang licah memainkan tombol-tombol di kompor gas yang lagi, bagi pria yang bersandar di railing lantai 2 tak mengerti apa pengaruhnya ke suara setiap sentuhan tombol. Sesekali tangan kiri si mbak DJ mendekatkan headphone beats ke telinganya seakan tak mau terganggu ingar bingar sekelilingnya,. Ingatan si pria melayang puluhan tahun yang lalu saat si “asisten DJ” menempelkan telinganya ke tape kecil nun jauh di sebuah kampung pinggir sungai.

Malam kian larut, efek kurang kafein yang jarang dikonsumsinya selama Ramadhan mulai membuat pria itu mengantuk. Matanya terasa berat. Pandangannya mulai kabur. Namun efeknya sungguh ajaib, dari balik kaca mata minusnya ia melihat lantai di depan mbak DJ yang tadinya diisi display mainan sontak dipenuhi puluhan remaja-remaja berpakaian modis, nyaris semua perempuannya berbusana seksi. Tangan mereka ke atas, sementara pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti dentuman irama. Lampu mendadak redup namun dipenuhi kilatan lampu warna warni. Tak percaya dengan pandangannya, pria itu kucek-kucek matanya. Ajaib! kerumunan berubah menjadi puluhan pemuda berkeringat sebagian tak beralas kaki masih dengan tangan di atas dan pinggul bergoyang-goyang.

Tak lama si pria beringsut meninggalkan tempat itu. Digandengnya tangan kedua anak gadisnya yang belum mengerti apa yang terjadi. “Kampungan….” dengusnya, entah ditujukan kepada siapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar