Jumat, 13 Mei 2016

Menginjak Negara Lain Tanpa Paspor - 3. Papua Nugini



Setelah dua tulisan terdahulu pengalaman saya menginjakkan kaki di RDTL dan Malaysia tanpa paspor, Negara terakhir yang saya kunjungi tanpa paspor adalah…. Yak betul, Papua Nugini. Karena hanya 3 negara itu yang berbatasan darat langsung dengan Indonesia. Sebetulnya ada beberapa Negara lagi yang berbatasan laut dengan Indonesia. Tapi tidak bisa diinjak. Bisa juga sih, tapi langsung klelep. Halah, gak penting banget. 

Juni 2014. Termasuk penugasan yang tidak terlupakan ketika saya masuk ke dalam tim redaksi majalah Media Keuangan edisi khusus Perbatasan yang akan diterbitkan bertepatan dengan ulang tahun RI ke 69, Agustus 2014. Dalam edisi tersebut diulas kiprah unit-unit Kemenkeu yang berlokasi di ujung-ujung negeri dari 4 penjuru angin. Dan saya kebagian tugas ke Merauke, ujung timur Indonesia. 

Menikmati senja di pelabuhan Merauke. Pada saat yang sama pelabuhan Merak yang tidak oke matahari masih eksis, dan fotografer senior saya -Mas Kurnia- masih menyiapkan kameranya.
 Merauke, siapa tak kenal kota itu? Ingatan saya melayang ke tahun 2005 saat bertugas di Merak. Tapi ternyata yang ini nggak pake oke. Baiklah kita mundurkan lagi memori ke masa kecil dimana anak-anak sekolah sering menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke sebagai salah satu lagu wajib. Seperti layaknya anak-anak yang dibesarkan di masa informasi masih sulit didapat, saya tidak tahu Sabang itu di mana, Merauke itu di mana. Setahu saya antara kedua kota itu berjajar pulau pulau. Lalu sambung menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia. Biarlah saya kasih tahu Kawan, bahkan sampai sekarangpun saya belum tahu mengapa ada lagu-lagu yang dikategorikan lagu wajib. Pun saya tidak pernah menjumpai lagu sunnah atau lagu makruh. 

Waktu tercepat memerlukan 7 jam untuk mencapai kota ujung timur itu dari Jakarta dengan pesawat terbang dengan sekali transit. Jam 12 malam bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta, hanya membutuhkan waktu 5 jam untuk sampai jam 07.00 WIT sesampai di Jayapura. Transit satu jam, lalu melanjutkan penerbangan selama 1 jam hingga landing di Bandara Mopah di Merauke. Alangkah luasnya Indonesia Kawan, waktu tempuh sepanjang itu masih berada di wilayah Negara yang sama. Beda sekali waktu saya dinas di Batam, tidak sampai 1 jam penyeberangan sudah berada di luar negeri.

Taman Nasional Wasur. Berbagai jenis satwa seperti burung migran, walabi dan kasuari sering datang dan menghuni Danau Rawa Biru. Oleh karena itu, Danau Rawa Biru disebut “Tanah Air” karena ramainya berbagai kehidupan satwa. Lokasi ini sangat cocok untuk mengamati atraksi satwa yang menarik dan menakjubkan (Wikipedia).
Singkat cerita selama 2 hari kami menggali berita sepak terjang abdi Negara di kota Merauke mulai dari kantor Bea Cukai, Pajak, dan KPPN. Mulai dari sektor pelayanan, pengawasan, potensi penerimaan Negara, administrasi perbendaharaan, karakter stakeholder, hambatan atau tantangan, sekaligus kisah-kisah heroik yang para punggawa keuangan Negara alami di sana. Sungguh berat kondisi yang dihadapi. 

Sebagai contoh tugas dan fungsi mengumpulkan pajak oleh aparat pajak Merauke, harus ketemu karakter masyarakat yang menganggap kepemilikan adat adalah harga mati sementara amanah yang diemban dari Negara adalah menarik pajak antara lain PBB. Tanah mereka kok disuruh bayar, begitu kata mereka. Boro-boro menjelaskan struktur APNB, pentingnya pajak untuk pembangunan dan hasilnya untuk apa sangat sulit wong mereka tidak pernah merasakan manfaatnya. Suatu ketika terjadi pegawai pajak harus lari menyelamatkan diri dikejar parang. Maksudnya dikejar orang yang membawa parang. Jelas? 

Keterbatasan komunikasi dan transportasi di tengah bentang alam papua, juga dihadapi pegawai Bea Cukai yang wilayah pengawasannya sangat luas. Ada seorang pegawai perempuan terpaksa menginap di tengah hutan berlumpur karena mobil terkena banjir hingga setengah badan mobil terendam, pegawai yang lain pernah mengalami mati mesin speedboat di tengah sungai yang penuh buaya. Perlu seharian mendayung mengikuti arus hingga sampai ke tujuan. Dibanding mereka, malu rasanya saya pada semut merah yang berbaris di dinding bila masih saja mengeluhkan kekurangan ini itu.

Warga papua berjualan ikan hasil tangkapan.
Di samping mendengar cerita-cerita seru (oot : CCS masih ada nggak ya? ) di atas yang tidak kalah menarik adalah sesi jalan-jalan dengan diantar teman-teman Bea Cukai Merauke. Mulai dari menikmati sunset di pelabuhan Merauke yang kebetulan ada kapal penumpang sandar sore itu. Kuberitahu Kawan, bahwa momentum kapal sandar atau berangkat menjadi hal yang istimewa bagi saudara-saudara kita di Merauke dan daeah-daerah lain di wilayah timur. Sehingga sore itu kami dapat banyak obyek foto masyarkat setempat yang berkumpul di pelabuhan. 

KM. Tatamailau  sandar di pelabuhan Merauke menjadi hiburan tersendiri bagi warga. Kapal ini melayani daerah-daerah timur antara lain Agats, Timika, Babang (Bacan), Bitung, Banggai, Bau-Bau, Makassar, Fak-Fak, Sorong, Kaimana, dan Tual. Silakan buka peta untuk mengetahui lokasi masing-masing.
Juga kesempatan berkeliling wilayah transmigran dan pemukiman masyarakat setempat yang dibangun oleh pemerintah. Bedanya pemukiman transmigran masih terawat dan ditempati, sementara pemukiman masyarakat asli papua kosong karena ditinggalkan kembali ke hutan dan rusak. Pembinaan pemerintah untuk menggiring mereka menjadi masyarakat agraris rupanya tidak mudah. Mungkin mindset selama ini bahwa semua dapat dengan mudah diperoleh dengan cara berburu mengapa harus susah-susah beternak dan menanam. Kalau bisa membeli sate kenapa harus memelihara kambing. Ups... 

Pemukiman transmigran
 Tujuan terakhir yang kami datangi adalah sesuai judul tulisan ini, perbatasan RI-PNG di Distrik Sota. Distrik adalah wilayah setingkat Kecamatan di daerah lain. Jaraknya kurang lebih 80 km dari Merauke dengan jalan yang cukup mulus membelah hutan melalui Taman Nasinal Wasur. Tadinya saya berfikir Sota adalah wilayah terakhir dan jalan raya menembus perbatasan hingga ke Papua Nugini, ternyata perkiraan saya salah! Jalan raya masih sangat panjang menuju Digul. (Ingin tau Digul? Silakan baca sejarah Bung Karno). Yang menandakan Sota sebagai ikon ujung Indonesia sebagaimana dimaksud lagu wajib di atas adalah adanya tugu kembar km 0 di Sabang di tengah pertigaan ke arah tapal batas. 

Tugu 0 kilometer yang (katanya) kembaran tugu serupa di Sabang.
 Kurang lebih 1 km setelah berbelok ke kanan, kita akan menemukan pos pamtas TNI dan 500 m setelah itu terdapat gerbang dan taman yang di dalamnya terdapat sebuah tugu perbatasan yang dibuat oleh surveyor Australia. Cerita menarik tentang taman tersebut konon dibuat secara swadaya dipimpin oleh Ipda Makruf Suroto, Kapolsek Sota yang telah 24 tahun mengabdi di daerah ini. Begitu cintanya beliau dengan Sota hingga secara sukarela membangun taman, menjadi guide bagi tamu sekaligus membuka warung makan. 

Muchayad, saat menjabat sebagai Kepala Bea Cukai Merauke (kiri) dan Langgeng, rekan dari Setjen Kemenkeu (tidak perlu dijelaskan yang mana, hehehee...) bersama warga asli di Pelabuhan Merauke
Sota bukan merupakan perbatasan dengan status PLB (pos lintas batas) karena itu tidak ada aparat imigrasi dan karantina di sana. Hanya saja untuk menjaga perbatasan aparat Bea Cukai tetap ada. Hampir tidak ada lalu lintas barang impor dan ekspor melalui perbatasan ini kecuali penduduk PNG yang berbelanja kebutuhan sehari-hari. Umumnya merekadengan sepeda ala kadarnya membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti minyak goreng, tepung, beras, gula, dll. Penduduk PNG di sekitar perbatasan masih berkerabat dengan suku Marin di Merauke dengan ciri khas postur tinggi besar. Untuk daerah perbatasan yang masih dianggap rawan seperti Sota (walapun kenyataannya jauh lebih aman daripada Skouw di sisi utara), keberadaan pamtas TNI lebih dominan dan familier dibanding CIQ. 

Warga PNG 'mengekspor' sembako selepas belanja kebutuhan sehari-hari di Sota
 Dengan kondisi tersebut Pos Bea Cukai Sota secara bergantian dijaga oleh satu orang petugas Bea Cukai dibantu oleh tenaga pramubhakti karena keterbatasan personil. Sedikit cerita unik ketika rombongan penduduk PNG melihat keberadaan beberapa petugas Bea Cukai di depan pos, mereka ketakutan bahkan satu orang terjatuh dari sepeda saking groginya. Dengan pendekatan seorang pegawai harian lepas asli Papua akhirnya para pelintas bersedia diwawancara dan foto bersama. Berbeda dengan perbatasan Skouw – Wutung yang baik di sisi kedua Negara terdapat kantor CIQ, tidak ditemui aparat apapun di seberang sana. Sehingga kita bisa bebas berjalan-jalan masuk hutan sampai wilayah PNG. Perlu paspor? Tidak. Hanya perlu nyali saja. 

Saya bersama Muchayad, Kepala Bea Cukai Merauke saat itu. Kami sudah berada di hutan wilayah PNG
Siswa SD di Sota, Merauke. Mereka berangkat dan pulang sekolah 2 jam lebih awal dibanding siswa di Jakarta. Serius!
Kanguru yang sadar kamera. Menyeberangi garis Wallace sekali lagi membuktikan luasnya Indonesia. Wilayah di sebelah timur garis ini merupakan habitat hewan berkantung yang selama ini seolah-olah dimonopoli sebagai ikon Australia.
Musamus, apartemen koloni yang orang lokal menyebut semut (padahal sebenarnya adalah rayap)  Meski terbuat dari tanah, rumput kering dan liur tapi kekuatannya luar biasa dan mampu menjaga dari hawa panas dan dingin yang ekstrim. Karena di Indonesia hanya dapat ditemuai di Merauke, musamus diabadikan sebagai nama sebuah perguruan tinggi di Kota Merauke. Tolong fokus ya, bagi yang belum tahu musamus itu berwarna coklat sebelah kanan. Yang kaus hitam unyu sebelah kiri namanya Iin. Nomor kontaknya ada di saya.