Jumat, 29 April 2016

Nadia



Apakah yang Kawan sering lakukan dalam perjalanan dengan pesawat? Cobalah sesekali amati teman-teman seperjalanan di sekitar kita, dengan pura-pura (atau betulan) ke toilet akan lebih banyak penumpang yang kita lihat. Pasti akan Kawan temukan sebagian besar memilih untuk tidur baik penerbangan pendek ataupun panjang, terlebih jadwal penerbangan pagi. Bisa dimaklumi perjalanan ke bandara dari rumah yang bisa memakan waktu 2 atau 3 kali lipat dari penerbangannya sendiri menuntut bangun lebih cepat sebelum waktunya bencong pulang ke rumah. 

Bagi saya sendiri sensasi berada di dalam pesawat terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Lebay yak? Karena selain kesempatan itu jarang juga banyak hal yang patut disyukuri. Syukur karena kebanyakan perjalanan saya akhir-akhir ini adalah tanpa biaya karena dalam rangka menjalankan tugas kedinasan, dan terlebih lagi karena kondisi tidak memaksa saya untuk terlalu sering naik pesawat seperti ketika masih berdinas di luar kota. 

Loh, apa hubungannya tidur di pesawat dengan Nadia? Sik to, sabaar… 

Seperti awal April lalu saya berkesempatan untuk melakukan perjalanan dinas ke Medan, saya selalu menikmati hiburan yang disediakan daripada tidur. Kalau mau tidur mah di rumah aja. Dan kebiasaan saya adalah bila tidak terdapat layar pribadi di depan seat, saya akan membaca inflight magazine yang rata-rata berisi perjalanan ke destinasi wisata yang menarik daripada membaca koran yang isinya informasi serius. Namun bila ada, tentu menonton film yang dipilih. Dan majalahnya dibawa pulang.

Penerbangan dari Jakarta ke Medan memakan waktu hampir 2 jam menarik minat saya untuk sesekali nonton film sampai selesai. Biasanya penugasan jarak dekat tidak akan sempat nonton film sinema sehingga film pendek seperti dokumenter atau Just for Laugh yang menjadi pilihan. Senarai film pada layar membuat mata saya segera tertuju dan segera memutuskan untuk menonton sebuah film Indonesia bertajuk Surga Yang Tak Dirindukan. Mengapa? Pertama saya memang tidak pernah memilih film asing karena maskapai Garuda ini menyebalkan tidak memberikan teks bahasa Indonesia. Sebaliknya film Indonesia malah yang dilengkapi teks bahasa Inggris. Heran…. Kedua, kalaupun mau bersusah payah mendengarkan dialog berbahasa Inggris tidak didukung headphone yang sungguh memprihatinkan kualitasnya. Masih mending maskapai Batik Air yang film asingnya dilengkapi teks meskipun earphone mesti beli jika tidak bawa dari rumah. Alasan ketiga, emmm…. Sebentar, ganti alinea dulu biar gak kepanjangan. 

Alasan ketiga yaitu karena beberapa waktu sebelumnya saya ketemu dengan penulis naskah film ini, Asma Nadia. Bukan ketemu sih tepatnya, tapi sebagai peserta dan nara sumber dalam sebuah workshop penulisan yang diadakan di instansi saya. Apa yang menarik dengan Asma Nadia? Sebagai seorang feminis beliau sangat memperhatikan perempuan dan pendidikan karakter remaja dalam novel-novelnya. Sebut saja selain yang telah difilmkan di atas antara lain Rembulan di Mata Ibu, Serial Aisyah Putri, Jangan Jadi Muslimah Nyebelin!, Muhasabah Cinta Seorang Istri, Catatan Hati Bunda, dan Catatan Hati Seorang Istri. Sempat tergelitik ketika ada peserta bertanya mengapa tidak membuat novel Catatan Hati Seorang Suami? 

“Karena tidak ada suami yang curhat sama saya” jawabnya. 

“Tidak ada yang curhat karena jarang ada suami yang teraniaya” sahut saya dalam hati. Disambut gerrrr….. ketawa peserta lain. 

Sering kali dalam novel yang difilmkan, saya akan membaca novel setelah nonton filmnya atau segera menonton film setelah membaca novelnya untuk membandingkan kekuatan imajinasi otak dan mata. Sebut saja seri klasik Godfathernya Mario Puzo, genre misteri seperti Ring, romantis seperti Memoirs of a Geisha, fiksi modern seri Divergent, serial 99 Cahaya di Langit Eropa hingga karya spektakuler penulis idola saya Andrea Hirata, seri Laskar Pelangi, sudah saya baca dan tonton semua. Memang rata-rata film tidak berhasil menterjemahkan karya sebuah novel seutuhnya menjadi sebuah film, terlebih bila sutradara atau produser film berkiblat ke Bollywood.

Apakah setelah menonton film membuat saya ingin membaca novel karya Ama Nadia itu? Tidak sama sekali, Kawan. Kualitas film arahan Kuntz Agus yang diproduseri Manoj Punjabi (yang sampai sekrang saya masih belum tahu jenis kelaminnya) itu telah menghilangkan selera membaca saya, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Asma Nadia. Bagaimana tidak? Alur cerita, teknik pengambilan gambar, dialog pemain dan sebagainya terlalu amat saaangat sederhana seperti sinetron. Loh, kok saya yang anti sinetron jadi bisa menyamakan kalau tidak penah nonton sinetron?

Satu-satunya hal menarik setidaknya bagi saya adalah (apalagi kalau bukan) kecantikan pemain-pemainnya, Laudya Cynthia Bella sebagai Arini dengan pipi chubby-nya yang menggemaskan dipadu hijab cantik sungguh menyejukkan pandangan laki-laki soleh seperti saya. Raline Shah yang kebule-bulean meskipun keturunan Pakistan mampu menampilkan sosok wanita tegar yang walau setegar-tegarnya tetap berniat untuk bunuh diri dua kali. Fedi Nuril? Hmmm…maaf ya, saya tidak sedang dalam kondisi yang kompeten untuk berkomentar.

Berhubung saya bukan termasuk pengamat poligami maka saya hanya tahu ada 2 film Indonesia berbasis novel laris yang mengangkat tema poligami, dan kebetulan dua-duanya diperankan oleh aktor yang sama. Kebetulan juga dua-duanya tidak bertanggungjawab untuk meneruskan kisah poligaminya. Ayat-Ayat Cinta mematikan tokoh Maria, Isri kedua Fahri, dan di film ini diakhiri dengan minggatnya Meirose, istri kedua Pras. Masih kebetulan lagi kedua istri muda tersebut seoang mualaf. Ada sedikit kreatifitas garing di film ini ketika Pras ditusuk penjahat waktu menyelamatkan seorang wanita, bagi yang pernah menonton film Ayat-Ayat Cinta pasti menduga Pras akan meninggal dalam rangka ketidakbertanggungjawaban sutradara menceritakan kisah poligami. Namun terlalu mudah bagi saya untuk menebak bahwa Pras tidak meninggal hanya dari durasi waktu yang masih tersisa lumayan banyak. Maaf ya Kuntz… 

Ada lagi satu hal yang mengganggu saya dalam menikmati film tersebut. Diceritakan ketika Meirose dalam upaya kedua kalinya bunuh diri dengan terjun dari ketinggian 19 meter, dengan susah payah wanita yang baru saja operasi sesar bergelantungan dengan satu tangan hingga naik mencapai atap bangunan dalam dunia nyata pasti sudah cukup untuk membuyarkan jahitan di perutnya. Saya tidak tahu persis ini kerjaan Asma, Manoj atau Agus. Kebetulan saja saya tahu bagaimana sakitnya pasca operasi sesar karena istri saya dua kali mengalaminya. 

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada insan perfilman Indonesia, rasa-rasanya kualitas film kita masih sangat jauh dari yang diharapkan. Maksudnya saya harapkan. Padahal kita harus mampu bersaing dengan gempuran produk Hollywood yang terus-terusan meracuni anak-anak kita dengan propagandanya yang kita sadari atau tidak. Segeralah lepas dari kualitas sinetron murahan yang hanya menjual mimpi dan tampang keren. Atau mimpi bertampang keren. 

Namun paling tidak film itu sudah menghibur saya selama hampir 2 jam perjalanan seperti Just for Laugh yang telah menghibur selama ini. Terima kasih Kuntz Agus, Manoj Punjabi, Asma Nadia. Dan saya akan selalu mengingat penulis novel ini dari tokoh nama anak Pras-Arini di film itu. Sepadan ingatan saya dengan Hanum Salsabiela Rais yang numpang nampang di film 99 Cahaya di Langit Eropa sebagai seorang bule. Bule? Iya, Bule. Bukan Paklek.

Kamis, 14 April 2016

Gayus Tambunan dan Tukang Parkir


Selasa, 12 April 2016 DJP berduka dengan gugurnya putra terbaik mereka saat bertugas. Duka mereka adalah duka kami, aib mereka adalah aib kami. Berikut sebuah tulisan lama yang ingin saya publish kembali. 

Pagi mulai beranjak siang ketika sang mentari mulai unjuk gigi di lapangan parkir Monas. Dengan antusias Pak Udin (bukan nama sebenarnya) yang berseragam biru, berkalung handuk kecil dan bertopi salah satu produk minuman berenergi bergambar macan, memperhatikan kesibukan saya sambil sesekali ikut membantu mengemas 4 buah sepeda ke dalam mobil. Satu sepeda lipat istri yg merupakan kado ulang tahunnya yang ketigapuluh sekian dengan mudah masuk, satu sepeda mini milik anak kedua saya –bukan sepeda lipat tetapi dipaksa ‘dilipat’ setangnya- dengan susah payah akhirnya masuk ke kabin mobil. Sepeda hybrid dan sepeda onroad sukses bertengger di bike carrier di belakang mobil. Sebenarnya saya ingin sekali menceritakan satu per satu sepeda-sepeda tersebut karena semuanya memiliki sejarah masing-masing, tapi kasihan Pak Udin udah nunggu mau ditulis ceritanya. Om Gayus mah biar saja ditulis belakangan walaupun namanya juga dipakai untuk judul tulisan. 

Ahad pagi dua kali sebulan (saat itu CFD belum setiap pekan) merupakan waktu favorit kami sekeluarga untuk mengisi hari libur bertepatan dengan program pemerintah DKI Jakarta untuk melarang kendaraan bermotor menggunakan ruas jalan Sudirman-Thamrin. Kesempatan itu kami dan ribuan warga Jakarta lainnya manfaatkan untuk menggunakan jalan tersebut sesuai kesukaanya. Ada yang jalan santai, jalan buru-buru, meluncur di atas sepatu roda, menggembala anjing, ada juga yang lebih suka berjualan, ada yang menyanyi di pinggir jalan, sebagian polisi lebih suka mengatur lalu lintas daripada ikut-ikutan bersepeda atau jualan. Semuanya bebas dilakukan hanya dengan satu syarat : tidak menggunakan kendaraan bermotor (kecuali bus transjakarta). 

Biasanya saya memarkir kendaraan di lapangan parkir Monas, setelah itu baru bersepeda menyusuri Jalan Thamrin dan Sudirman sampai Senayan dan kembali lagi ke monas. Itulah hiburan yang murah meriah bagi kami, yang sepakat mendidik kedua anak kami untuk sebisa mungkin menjauhi mall untuk mengisi hari libur (kecuali terpaksa tentunya). Selesai olahraga bersepeda dan istirahat sejenak di taman monas sambil menikmati makanan ringan yang disajikan para ‘penjaja siap lari’ yang matanya sigap mengawasi satpol PP, kami segera beranjak meninggalkan taman Monas.

Rupanya tokoh kita kali ini -Pak Udin yang berseragam biru, berkalung handuk kecil dan bertopi salah satu produk minuman berenergi bergambar macan- memperhatikan sebuah map biru yang tergeletak di kabin belakang mobil saat memperhatikan saya memasukkan sepeda lipat. Dan tahukah Kawan, pak Udin yang belakangan aku ketahui sebagai petugas parkir resmi ini termasuk orang yang berwawasan luas. Melihat logo sepasang sayap dalam bidang persegi lima sudah cukup untuk mengetahui instansi tempat saya bernaung. 

‘Bapak temannya Gayus ya?’ Bla bla bla…. Lanjutnya sambil terus mengeluarkan opininya tanpa menunggu jawaban ataupun penjelasan. 
Sebenarnya sebagai seseorang yang menangani unit kehumasan di kantor saya tertantang untuk memberi pemahaman kepada Pak Udin yang gagal paham ini. Tapi dari raut muka anak-anak yang sudah kecapekan terpaksa saya mengurungkan niat itu. 

‘Enak ya pak kalau punya wewenang dan peluang, bisa cari uang sebanyak-banyaknya. Sampai milyaran pula’ sambung Pak Udin. 

‘Yahh… itu kan tergantung orangnya Pak’ jawab saya asal-asalan, terdengar klise namun sarat makna. Haiyah….. 

‘Pak, kalau punya uang segitu saya mah pilih pulang kampung, jadi juragan sawah, kawin lagi…’ dan masih panjang lagi celotehannya yang menunjukkan bagaimana ketidaksukaannya kepada perilaku korup yang saya tanggapi sekenanya saja. Bukan malas menghadapi suara rakyat kecil dengan pemahaman yang pas-pasan macam ini, tapi memang saya sendiri tidak suka mendengar nama itu. 

Kenapa tidak suka? Salah satunya alasannya adalah... (Alinea ini sengaja tidak saya teruskan karena ada hubungannya dengan ucapan sepupu saya yang sudah wafat – Allahummaghfirlahu). Tulisan aslinya sih masih ada di note akun facebook saya. Hahahaaaa…. 

Mari kawan kita kembali ke tempat parkir lapangan Monas. Selesai berbasa basi sebentar, sayapun mohon diri meninggalkan tempat parkir kepada Pak Udin. Setelah mempersiapkan karcis tanda parkir yang harus dibayarkan di pintu keluar, dengan kaca mobil yang masih terbuka saya lambaikan tangan kepada Pak Udin. 

‘Pak….’ katanya sambil menyodorkan tangannya seperti seseorang yang minta bayaran. 

‘Bayarnya di depan kan?’ tanya saya (pura-pura) polos. 

‘Iya pak, tapi di sini belum’ jawabnya. 

‘Lho, di sini kan tanpa tanda terima?’ timpal saya. 

‘Buat saya pak…’ Gotcha… kata saya dalam hati sambil memberhentikan mobil. 

‘Pak, tahu nggak kalau Gayus itu sudah punya gaji resmi tapi masih mencari-cari di luar haknya? Apa bedanya dengan Bapak, hanya kebetulan saja dia punya wewenang bisa minta ratusan juta kepada kliennya. Lha kalau bapak hanya bisa minta seribu-dua ribu. Itu cuma masalah jumlah pak, kalau masalah mental sama saja. (waktu itu belum musim revolusi mental, jadi belum bisa saya kampanyekan ke Pak Udin). Siapa yang bisa menjamin kalau bapak jadi petugas pajak akan lebih baik dari Gayus?’ saya nyerocos menumpahkan unek-unekku yang tersumbat. Mirip suami yang tidak ketemu istrinya berbulan-bulan. 

‘Maklumlah pak, mana cukup gaji kami utk hidup di Jakarta yang serba mahal begini?’ tanyanya mulai memelas. ‘Beda dong dengan Gayus yang gajinya sudah besar’. 

Capek deh pak…, minta pengecualian melulu. ‘Tau nggak pak, kalau Gayus juga beralasan serupa bahwa gajinya nggak bakal cukup untuk membeli rumah mewah di kawasan elit, perhiasan mewah dan jalan-jalan ke luar negeri?’ 

‘Pak, kalau udah rejaki mah gak ke mana. Ada orang yang kasih dengan ikhlas karena puas dengan pelayanan Bapak ya terima saja, Insya Allah halal dan berkah. Tapi jangan minta yang bukan haknya pak’ sambung saya sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan. ‘Ini ikhlas pak’ tambah saya sambil menjalankan mobil meninggalkan Pak Udin -yang berseragam biru, berkalung handuk dan bertopi salah satu produk minuman berenergi bergambar macan- sahabatku pagi itu, yang berdiri mematung antara gengsi atau sayang.

Di perjalanan pulang sayapun merenungkan kata-kata saya sendiri. ‘Mencari-cari di luar haknya’ itu identik dengan mengambil hak orang lain karena toh korupsi itu pada akhirnya juga mengesampingkan hak orang lain. Mampukah kita semua menghindari hal itu? Di tengah-tengah godaan pedang wewenang yang telah diamanatkan di pundak kita masing-masing? Saya yakin setiap orang mempunyai wewenang baik yang besar atau kecil. Dari anggota dewan sampai pawang hewan, dari presiden sampai pesinden, dari ketua PSSI sampai penjual terasi, dari wong licik sampai yang mengaku pembela wong cilik, dari satpol PP sampai peternak lele, pasti semua memiliki wewenang. Tidak terkecuali Pak Udin -yang berseragam biru, berkalung handuk dan bertopi salah satu produk minuman berenergi bergambar macan- sahabatku pagi itu. 

Selama perjalanan pulang saya memperhatikan ternyata sebegitu banyaknya pelanggaran hak-hak orang lain yang dilakukan para pemegang wewenang. Sopir angkot yang ngetem sembarangan membuat macet sehingga hak orang lain untuk lancar menjadi hilang, pedagang kaki lima hingga tukang tambal ban nangkring di trotoar mengambil hak pejalan kaki, busway yang gak mau bikin jalur sendiri tapi memilih mengambil paksa jalur umum, mobil plat merah yang melenggang di hari libur, perokok di bus kota yang mengambil hak udara segar penumpang di sebelahnya dan masih banyak lagi. Pertanyaannya adalah, apa bedanya mereka dengan Gayus kalau sama-sama suka mengambil hak orang lain? Saya yakin 100% para pelaku pelanggaran hak itu bila ditanya pasti kompak menjawab bahwa mereka benci dengan yang namanya korupsi, seperti halnya Pak Udin -yang berseragam biru, berkalung handuk kecil dan bertopi salah satu produk minuman berenergi bergambar macan- sahabatku pagi itu. 

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa sopir angkot, pedagang kali lima, tukang tambal ban, perokok di bus kota akan lebih baik dari Gayus bila bertugas di Pajak. Ada pertanyaan memenuhi benak saya yang sedikit berbau su’udzon, apakah mereka membenci Gayus dan kelakuannya hanya karena mereka tidak berkesempatan melakukannya? Astaghfirullah, ternyata kita masih begitu mudahnya menemukan kesalahan orang lain tanpa mampu untuk menemukan kesalahan pada diri sendiri. Ibarat kata gajah di seberang empang begitu tampak jelas, sedangkan kuman di depan mata tidak terlihat. 

Yaa Allah, berilah kami kekuatan untuk membenci sesuatu yang tidak Engkau sukai, ringankanlah langkah kami untuk tetap berada di jalurMu, berkahilah kami dengan rizkiMu yang berlimpah agar kami mampu untuk istiqomah tidak mengharap yang bukan hak kami. Kuatkan hati kami ya Allah karena sesungguhnya engkau Maha Kuat dan kami ini lemah. Ingatkan kami apabila kami lupa karena Engkau Maha Ingat sedangkan kami ini pelupa. Amiin. 

Singkat kata karena tidak banyak kemacetan kamipun telah sampai depan rumah. Kulirik kaca spion dalam dan terlihat kedua anak kami masih terlelap tidur. Perlahan kuucapkan salam kepada Pak Haji Sueb, tetangga idola saya yang sedang duduk santai di teras rumahnya. Masih ingat Pak Haji Sueb? Beliau sudah pernah saya ulas sebelumnya (Sebidang Tanah dan Sepetak Cinta). Dengan perlahan segera saya buka pintu gerbang dan memarkir mobil di carport. Deg…! Kuman di depan mata itu akhirnya terlihat, baru tersadar rupanya sedari tadi saya memakai mobil dinas kantor. Di hari Ahad….