Kamis, 24 Maret 2016

Menginjak Negara Lain Tanpa Paspor - 2. Malaysia


Tidak punya paspor bukan berarti membuat saya bagaikan kena cekal Imigrasi. Setelah sebelumnya saya ceritakan bagaimana pengalaman menginjak Negara om Raul Lemos tanpa paspor, perjalanan kedua yang ingin saya ceritakan adalah ke negaranya tante Siti Nurhaliza. Yak, tepat sekali… Malaysia. Kebangetan kalau Kawan menyangka diva cantik itu berasal dari Papua Nugini.

Oktober 2013. Menjadi program kerja kehumasan Bea Cukai, setiap tahun diadakan acara Press Tour dimana para jurnalis media cetak dan online serta blogger diajak blusukan ke wilayah kerja Bea Cukai terutama yang kurang mendapat sorotan atau kurang dipahami realitasnya bila hanya diteropong dari Jakarta. Diharapkan dengan program tersebut dapat memberikan pemahaman bagi jurnalis sehingga dapat memberikan pemberitaan dengan porsi yang berimbang.

Perjalanan kali ini untuk melihat keseharian tugas Bea Cukai yang berada di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Untuk mencapai ke sana dari Jakarta setidaknya memerlukan dua kali penerbangan atau jalur laut. Dari Jakarta menggunakan penerbangan langung menuju Kota Tarakan atau transit di Balikpapan. Dari Tarakan harus disambung dengan penerbangan lokal dengan pesawat kecil atau menggunakan speedboat dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Bea Cukai Nunukan membawahi salah satunya pos Sungai Nyamuk di Pulau Sebatik. Kabarnya sekarang tidak ada lagi penyeberangan langsung ke Tawau sejak pemerintah Malaysia tidak mengijinkan kapal yang berasal dari pelabuhan ini masuk ke wilayahnya. Mungkin untuk meminimalisir resiko masuknya human trafficking. Namun kabar bagusnya adalah nyamuk masih tersedia sehingga pelabuhan sungai nyamuk tidak perlu berganti nama. 


Suasana di Pulau Sebatik.
Sudah menjadi konsekwensi perbatasan dua Negara yang berbeda tingkat kemakmurannya akan menjadi perlintasan barang-barang terutama barang konsumsi. Namun kali ini berbeda dengan perbatasan RI-RDTL, harus kita akui bahwa Malaysia lebih makmur daripada Indonesia. Sehingga perbatasan yang saya kunjungi kali ini lebih banyak didominasi arus masuk barang dari Negara paman Jiran tersebut. 

Kembali ke Pulau Sebatik, pulau ini sungguh unik dimana perbatasan Indonesia dengan Malaysia dipisahkan oleh garis lurus sehingga garis perbatasan bisa jatuh di mana saja. Bisa sungai, jalan, sawah, bahkan rumah. Ya, ada rumah yang sungguh ikonik di Desa Aji Kuning, dimana bagian depan rumah berada di Indonesia dan bagian dapur berada di Malaysia. Saya jadi berfikir, kalau aturan baku harus diberlakukan pastilah dalam seminggu paspor pemilik rumah akan penuh stempel imigrasi dan perlu diperbaharui. 

Aji Kuning, sisi depan rumah, di wilayah RI. Abaikan obyek yang berpose di depan rumah

Nih alamatmya siapa tau ada yang mau kirim surat
Dari deskripsi kondisi pebatasan tadi dapat ditarik kesimpulan kedekatan hubungan kedua Negara. Terutama hubungan perdagangannya, terlihat pada bagaimana cara penduduk setempat memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga efek yang ditimbulkannya. Kota terdekat dari Nunukan adalah Tawau, Malaysia. Kota yang cukup ramai dengan falilitas yang lengkap. Katanya sih, wong saya belum pernah ke sana. Untuk menuju Tawau cukup ditempuh kurang dari 1 jam perjalanan laut. Sementara kota terdekat dalam wilayah RI adalah Tarakan, yang apabila memerlukan fasilitas lebih lengkap harus ke Balikpapan.

Kondisi tersebut memaksa penduduk Nunukan dan Sebatik memilih memenuhi kebutuhan sehari-hari dari Tawau sesuai prinsip ekonomi untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Baik itu keperluan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, gas elpiji dll, kebutahan sandang seperti pakaian, sepatu dsb sampai urusan kesehatan bahkan hiburan. Padahal harus diingat, produk-produk tersebut kebanyakan memerlukan perijinan pada waktu pengimporannya. Misalnya produk makanan mesti ada ijin dari Badan POM, gas mesti ada SNI tabungnya, pakaian harus seijin kementerian perdagangan, bahkan beras malah dilarang diimpor kecuali saat-saat tertentu. 

Kapal patroli Bea Cukai 'terdampar' di Sungai Nyamuk saat laut surut
Pertanyaanya, haruskan Bea Cukai menerapkan secara kaku aturan yang ada? Padahal sudah jelas, Bea Cukai tidak diberikan wewenang pengecualian atau pertimbangan tertentu atas aturan-aturan titipan tadi. Kalaupun jawabannya iya, sudah mampukah Negara ini memberikan kecukupan atau minimal kemudahan akses masyarakat perbatasan untuk memperoleh kebutuhannya dari dalam negeri? Bila demikian, ada pertanyaan yang lebih besar lagi. Salahkah bila mereka yang merasa kesulitan memperoleh kebutuhan hidupnya akan berfikir untuk memilih bergabung dengan Negara tetangga bila ada kesempatan? Ini masalah nasionalisme, Kawan…

Akhirnya peserta tour para jurnalis dan blogger yang merasakan realitas tersbut akan memahami bahwa tidak mudah bagi Bea Cukai untuk mengemban tugas titipan yang diberikan oleh instansi lain. Terlebih dalam misinya sebagai community protector, pada dasarnya semua aturan tersebut adalah dalam rangka memberikan perlindungan kepada individu, komunitas maupun industri di dalam negeri. Namun bukan berarti Bea Cukai menjadi lengah dengan kondisi tersebut dan akan tetap bertindak tanpa kompromi terhadap penyelundupan barang-barang seperti miras dan narkoba. Berdasar catatan di pelabuhan penumpang tidak pernah lepas dari upaya sindikat narkotika memasukkan barang haram tersebut ke Indonesia. 

Sungai di belakang 'rumah yang terbelah'. Siapa sangka perahu-perahu kecil tersebut bisa mencapai Tawau
Berkeliling Pulau Sebatik cukup membangkitkan semangat patrioisme saya. Di setiap sudut dapat ditemui anak-anak dengan riang berangkat atau pulang sekolah dengan seragam yang di lengan kanannya tertempel bendera merah putih kebanggaan, khas anak-anak perbatasan. Pemendangan yang sungguh menyejukkan.... (sejuk karena yang berada di tempat ini adalah mereka, bukan anak-anak saya). Meski berada di tengah keterbatasan dan iming-iming kesejahteraan di seberang mereka tetap memilih NKRI harga mati. Bagimana dengan kita? 

Ini foto saya di tapal batas. Perhatikan beton kotak yang terinjak sepatu itu. Di dalamnya tertanam semacam sensor yang akan terbaca oleh satelit, itulah perbatasan RI-Malaysia. Artinya orang-orang dalam foto tersebut telah berada di Malaysia. Oh iya.... sudah pada tau kan, yang di depan itu bukan saya. Beliau Agung Kuswandono Dirjen BC waktu itu. Saya yang ada di belakangnya.
Sebagai penutup, Kawan masih ingat judul tulisan ini kan? Lalu kapan saya manginjak tanah Malaysia tanpa paspor? Memang itu saya tidak pernah saya lakukan. Karena saya menginjak tanah Malaysia dengan…..sepatu. 

Sekian.

Jumat, 04 Maret 2016

Raden Roro Dyah Ayu Kusumowardhani


Punya anak perempuan di ambang dewasa dan sekaligus punya kucing betina di masa puber memang sedikit merepotkan. Kita sebagai orang tua mesti pinter-pinter cari cara dengan bahasa yang tepat untuk menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan reproduksi. Dan itu pengalaman yang ingin saya ceritakan.

Beberapa bulan lalu kami sempat memelihara kucing jantan blasteran dari ibu jenis Persia dan bapak kucing garong. Secara fisik lebih terlihat sebagai kucing lokal (orang sering menyebut kucing kampung) namun berbodi gagah dan bulu lebih panjang dibanding bulu kucing kampung. Apalagi dibanding rambut saya. Yang unik adalah motifnya sangat mirip dengan american short hair. Saking miripnya, pernah suatu ketika kucing betina tetangga sebelah yang ketahuan suka main ke rumah saya ajak bicara baik-baik bahwa dia tidak pantas untuk American short hair, dan dia percaya begitu saja sambil ngeloyor pergi. Walaupun berat tapi saya yakin dia memahaminya.

Singkat cerita si short hair telah sampai pada ajalnya. Sedih sekali anak saya waktu itu, terutama yang bungsu. Tidak mau melihat si kecil sedih, saya dan ibunya anak-anak sepakat untuk mencarikan pengganti binatang peliharaan untuk anak-anak. Mulai dari ikan koi, burung kenari, ayam serama, belalang, kodok, beruang kutub hingga kelinci pernah saya coba pelihara. Tapi tetap saja tidak mempu move on dari binatang berbulu tersebut. Pucuk dicinta kucing tiba, salah seorang teman bersedia memberikan salah satu binatang peliharaannya kepada anak saya, seekor anak kucing betina.

Namanya juga kucing kecil, segala tingkah polahnya pasti lucu menggemaskan. Anak kami memberinya nama Momo. Sampai sejauh itu tidak ada masalah berarti selain sofa sobek-sobek, hingga setahun kemudian saat Momo sesuai dengan kodrat alaminya menunjukkan gejala berkehendak untuk melestarikan spesiesnya. Bagi kami gejala-gejala yang ditunjukkan kucing yang sedang birahi sudah jamak dan sering lihat namun belum pernah disaksikan oleh anak-anak kami. Sekedar informasi ringan saja, untuk kawan-kawan terutama yang tidak suka memperhatikan kucing atau sekedar ingin membandingkan dengan manusia beginilah ciri-ciri perubahan tingkah laku kucing betina dalam masa birahi :
• Kucing akan sering mengeong lama dan kaki belakangnya berjalan di tempat, suara mengeongnya kadang menjadi berat dan keras.
• Kucing lebih manja terhadap pemiliknya dan lebih sensitif, kadang suka berguling-guling. Tapi ingat, jangan dibuat hidangan seperti kambing guling. Karena saya pernah memelihara kambing dan dia sama sekali tidak manja.
• Bila dipegang dibagian punggung tepat nya di atas pangkal ekornya akan naik dan ekornya akan melengkung ke samping badannya. Ini mungkin semacam naluri alami untuk memberi jalan bagi kucing jantan untuk… ah, you know lah maksud saya
• Nafsu makan kucing juga jadi berkurang (menurun). Wajar saja karena nafsu yang lain sedang tinggi.
 • Bulu tubuhnya bersinar, bentuk tubuh menjadi bulat dan subur. Nah ini yang saya tidak bisa membuktikan karena waktu malam hari tetap saja tidak ada sinar dari bulunya.
• Gerak-geriknya lincah.
• Sering menggeser-geserkan tubuhnya ke dinding dan berguling-guling.

 Dan persisi sekali Momo memperlihatkan ciri-ciri tersebut. Suatu ketika si kecil khawatir karena kucing kesayangannya tidak doyan makan


“Yah, Momo sakit… Makanannya tidak berkurang sejak pagi” laporannya suatu hari.

Hari berikutnya semakin khawatir karena suara mengeongnya keras dan menampakkan ciri-ciri ketiga hingga menampakkan organnya kemerahan
“Kasihan Momo teriak-teriak kesakitan sampai guling-guling, pantatnya merah. Ayok dibawa ke dokter”

Sampai di sini saya pengen sekali memberi pemahaman apa yang sebetulnya terjadi. Tapi kebingungan memilih kata-kata yang tepat untuk anak seusia dia. Beberapa alternatif jawaban yang saya siapkan adalah sebagai berikut :

A. Dengan bahasa yang tidak ilmiah sama sekali, Momo pengen kawin. Tapi urung saya berikan karena definisi kawin menurut KBBI sangat luas :
kawin1/ka•win/ 1 v membentuk keluarga dengan lawan jenis; bersuami atau beristri; menikah: ia -- dengan anak kepala kampung; 2 v melakukan hubungan kelamin; berkelamin (untuk hewan); 3 v cak bersetubuh: 
-- sudah, menikah belum; 4 n perkawinan; 
-- acak Tern keadaan yang memungkinkan terjadinya perkawinan antara jantan dan betina dewasa secara acak; 
-- amanua kawin masuk; 
-- angkat bapak perkawinan antara seorang wanita yang sedang hamil di luar perkawinan yang sah dan seorang pemuda yang bersedia mengawini wanita itu, kadang-kadang dengan bayaran atau upah;
-- bantu perkawinan antarhewan jantan; 
-- batin perkawinan yang tidak disahkan oleh penghulu; 
-- belis perkawinan dengan istri pindah ke rumah suami dan menjadi anggota kerabat suaminya; 
-- campur Sos perkawinan di antara dua pihak yang berbeda agama, kebudayaan, golongan, atau suku bangsa; 
-- gantung 1 perkawinan yang sudah sah, tetapi suami dan istri belum boleh serumah (masih tinggal di rumah masing-masing); 2 perkawinan yang belum diresmikan penuh (pengesahannya ditunda setelah dewasa); 
-- kantor perkawinan yang dilaksanakan di kantor catatan sipil; 
-- kontrak kawin berjangka; 
-- lari perkawinan dengan cara melarikan gadis yang akan dikawininya dengan persetujuan gadis itu untuk menghindarkan diri dari tata cara adat yang dianggap berlarut-larut dan memakan biaya yang terlalu mahal; 
-- liwat kawin angkat bapak; 
-- masuk perkawinan dengan suami memasuki rumah tangga keluarga istri; 
-- mutah Isl perkawinan yang berdasarkan perjanjian dalam jangka waktu tertentu (yang dilarang dalam agama); 
-- roko 1 kawin lari yang dilakukan atas dasar kemauan bersama untuk menutup rasa malu karena calon pengantin laki-laki tidak mampu memberikan maskawin; 2 kawin lari yang dilakukan atas dasar kemauan calon suami dan calon istri karena orang tua si gadis tidak menyetujuinya; 
-- sirih pinang bentuk perkawinan dengan cara suami tinggal di tempat orang tua istri dan membantu pekerjaan orang tua itu sampai mahar yang harus dibayarnya dapat dilunasi (di Timor); 
-- sumbang perkawinan antara kerabat terdekat yang tidak diizinkan oleh hukum, adat, atau agama; 
-- suntik Tern pembenihan dengan jalan memasukkan benih jantan (sperma) ke dalam vagina dengan menggunakan (dengan bantuan) alat suntik (tidak melalui hubungan seksual); inseminasi; 
-- tambahan kawin angkat bapak (di Jawa Barat); 
-- tukar gadis Antr adat perkawinan yang menuntut seorang pria yang melamar seorang wanita menyediakan seorang saudara wanita dari kerabatnya sendiri untuk dikawinkan dengan seorang pria dari kerabat calon istrinya;

 Kebayang kan kalau harus menjelaskan satu per satu?


B. Dengan bahasa yang diperhalus, Momo ingin menikah. Tapi urung juga karena sesungguhnya pernikahan yang diakui di Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hanya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 dan tidak mengatur pernikahan sesama jenis. Maksud saya adalah sesama jenis kucing.

C. Momo tidak sakit, tapi hanya menunjukkan tanda-tanda alaminya sebagai makhluk hidup dalam rangka meneruskan kelangsungan hidup spesiesnya agar tidak punah di muka bumi sehingga dapat dipastikan beberapa abad ke depan yang namanya kucing adalah sama dengan yang didefinisikan sebagai kucing jaman sekarang. Bukan kucing robot seperti doraemon. Ribet ya? Batal juga deh penjelasan ini…

Kelamaan mikir cari cara penjelasan akhirnya beberapa hari kemudian si kecil paham sendiri apa yang terjadi dengan Momo.

“Yah, Momo kayaknya pengen menikah” katanya suatu sore sepulang saya kerja.

“Oh ya, tau dari mana?” tanyaku.

“Kucing temen aku juga seperti itu. Ciri-cirinya persis seperti itu, aku tadi baca di internet juga dijelasin kok. Malah aku sedang nanya-nanya temenku siapa yang punya kucing jantan mau aku nikahin” cerocosnya.

Legalah saya tidak punya PR lagi untuk menjelaskan. Selesai urusan penjelasan sekarang tinggal urusan si Momo. Benar bahwa menurut referensi yang saya baca gejala-gejala birahi seperti itu hanya muncul dalam beberapa hari saja, dan waktu semuanya sudah normal kembali termasuk nafsu makannya tinggalah Momo dengan bulu kotornya akibat guling-guling di tanah. Sabtu sore saya bawa dia ke pet shop baru dekat rumah untuk di-grooming. Memangnya wanita saja yang bisa memanjakan dirinya seharian di salon? Karena belum biasa grooming di pet shop tersebut, penjaga mendaftar lebih dulu.

 “Siapa nama kucingnya pak?”

“Tolong dicatat ya” jawab saya. “Raden Roro Dyah Ayu Kusumowardhani”.