Jumat, 26 Februari 2016

Sebidang Tanah dan Sepetak Cinta


(Based on true story. Pernah dipublish pada Note Facebook 27 Juli 2009 dan mendapat komentar beragam terutama dari para perempuan)

Sabtu sore memang hari yang paling indah untuk dinikmati terlebih setelah setengah harian piket di kantor melayani informasi dan menerima komplain dari para klien. Ya, sore itu kami - saya dan istri - tengah duduk santai di teras rumah sambil menikmati teh panas (bukan hangat) ternikmat di dunia racikan istriku. Resep ini diturunkan dari ibuku kepada istri beberapa hari setelah pernikahan kami hampir 10 tahun yang lalu (atau 16 tahun kalau dihitung sekarang). “Ndhuk, suamimu itu penggemar berat teh tubruk. Sini ibu ajarin cara membuatnya” kata ibuku. Lalu bak seorang bartender beliau mempraktekkan cara mengoplos dan meramu berbagai merk teh sehingga menghasilkan teh terlezat dengan ramuan tetap terjaga hingga kini. 

Teras rumah kami, menjadi tempat yang paling menyenangkan untuk menikmati saat-saat santai seperti ini. Rumah kami yang luas tanahnya tak banyak lebihnya dari 100 m persegi di pinggiran kota Jakarta yang hawanya tidak sepanas Tanjung Priok dan harganya tidak semahal Menteng. ”Alhamdulillah, biar pinggiran tapi tetap warganya Bang Foke Kumis (gubernur DKI waktu itu)” begitu pikirku. ”Ngapain juga di Jakarta kalo cuma dapet pinggiran” kata temanku yang tinggal di lingkungan super elit di kota sebelah Jakarta. Ah, apapun itu - prinsipnya atau prinsipku – ya itulah rumahku, baitii jannatii. Pendapat-pendapat itu tidak akan sedikitpun menggoyahkan Om Darmin Nasution (Dirjen Pajak waktu itu) untuk menambah atau mengurangi NJOP. 

Tanah itu kami beli 8 tahun lalu dari Pak Haji Sueb, seorang Betawi tulen yang saat itu sedang membutuhkan uang untuk menikahkan Zaenab, putri kedua dari istri pertamanya. Pak Haji Sueb, aku taksir usaianya sekitar 70 tahun adalah seorang yang sangat rajin beribadah dan saya hormati terlebih dari sikap kekeluargaan beliau yang tinggi sehingga sayapun memanggilnya dengan sebutan ’Babe’. Semur jengkol buatan istrinya sering tersedia di meja makan dan begitu pula sebaliknya mangut ikan lele khas Muntilan masakan istriku sering kami kirimkan kepada beliau. 

Rumah kami, yang baru selesai dibangun memang sebuah rumah mungil yang cukup untuk kami tinggali bersama dua putri kami, seorang keponakan dan satu kamar dipersiapkan untuk mengajak ibu mertua yang sampai saat ini masih sulit untuk diajak tinggal bersama kami dan meninggalkan tanah kelahirannya di Magelang (sekarang sudah wafat tahun 2010 sebelum bersedia pindah ke Jakarta). Garasi untuk sebuah mobil Grand Livina lungsuran dari kakakku di Solo, serta sebuah taman mungil dengan berbagai macam bunga tertata indah di tangan istri saya.

Kembali ke teras rumah kami, dalam obrolan sembari minum teh memang seperti biasa kami membicarakan hal-hal yang ringan dan lebih banyak bercanda ketimbang masalah serius seperti pekerjaan atau urusan orang lain apalagi membahas infotainment. Tapi percakapan kami sore itu agak serius dan melenceng dari pakem lantaran beberapa menit sebelumnya - ketika istriku sedang menyiapkan teh - Nina, istri teman kami lewat depan rumah dan menghentikan sepeda motornya begitu dia melihat saya. 

”Assalamu ’alaikum...” sapanya ramah. ”Wa ’alaikum salam” jawabku. 
”Tumben lewat sini mbak, dari mana?” tanyaku basa basi. 
”Ternyata kita bertetangga mas, saya baru saja mau menempati rumah di samping Musholla ujung gang ini” jawab Nina. 
”Alhamdulullah kalo begitu, bisa segera meninggalkan rumah negara. Biar rumah lama segera digantikan teman-teman lain yang tidak seberuntung kita” kataku 

Begitu istriku datang menghidangkan teh dan Nina sudah beranjak, segera kuceritakan hal tersebut. 
”Lho, ayah belum tahu?” tanya istriku. ”Tahu apa?” aku balik bertanya. 

Astaghfirullah, ternyata rumah tangga temanku yang lagi gonjang ganjing rupanya tidak dapat lagi terselamatkan. Dan rumah itu adalah pemberian suaminya agar Nina bersedia diceraikan. Na’uzubillahi min dzalik. Sebuah pernikahan yang ikatannya teramat kuat, mitsaqon gholidzo, yang juga disaksikan Allah swt selain oleh dua orang manusia sebagai saksi begitu saja berantakan disebabkan oleh manusia yang lain. 

”Ayah jadi teringat pendapat seorang sahabat” kataku membahas masalah ini. ”Bagaimana pendapatnya yah?” 
”Apabila akan membangun sebuah rumah baru, jangan sampai membongkar rumah lama. Bangun saja di samping rumah lama apabila masih mempunyai bidang tanah yang lain” jawabku menirukan perkataan sahabatku. 
Artinya dia harus mempunyai sepetak cinta untuk menerima orang lain tanpa merugikan orang yang datang sebelumnya. 

Kalimat terakhir itu hanya dalam hati saja. Rupanya istriku cukup cerdas menterjemahkan apa yang tersirat di balik pernyataan itu. Terlihat dari parasnya yang berubah menjadi serius khas seorang perempuan yang membahas masalah polygon, eh policarpus, eh... poligami maksudnya. Ah, istriku. Kuperhatikan parasmu dalam-dalam, walaupun termakan usia tapi di mataku terlihat makin cantik. Walaupun tidak sekencang dulu tapi ASI yang dikeluarkan telah membuahkan kesehatan dan kecerdasan putri-putriku. 

Meskipun perutmu tak selangsing dulu tapi kedua putriku pernah nyaman berada di dalamnya selama 9 bulan 10 hari. Kau nampak begitu sempurna di mataku. ”Bagaimana dengan ayah?” tanya istriku membuyarkan lamunanku. ”Maksud bunda?” tanyaku nggak mengerti. ”Barangkali bunda belum tahu, bagaimana dengan bidang tanah ayah?” jelas istriku. 

”Bunda tahu sendiri rumah kita, tanah yg tidak ada bangunannya cuma tinggal taman secuil. Bahkan kalau Ayah bawa mobil dinas Avanza kantor aja bingung mau parkir di mana...” jawabku diplomatis. 
”Bukan itu maksud bunda...” jawabnya 

Perbincangan kami terpaksa berakhir ketika putri kecilku muncul minta dibetulkan mainannya yang rusak gara-gara diperebutkan dengan kakaknya. 
”Bonekanya dipakai main bareng-bareng sama kakak ya, jangan rebutan. Kalo enggak ya dipakai gantian” pesanku setelah membetulkan boneka barbienya. Aku juga berpesan apabila mau legowo dan rukun dengan kakaknya, tidak harus satu mainan untuk satu anak dan ayah bunda tentu sangat gembira karena tidak perlu banyak-banyak memberlikan mainan. ”Iya ayah...” jawab putri kecilku singkat sambil berlari masuk ke dalam rumah. 

Tak terasa telah tiba waktu istriku untuk memasak menyiapkan santap malam keluarga kami. Segera saja istriku memberserkan gelas teh yang telah kosong dan membawanya ke dapur. Tinggalah aku sendiri di teras merenungi perbincangan kami sore itu. Pandanganku menerawang ke pohon rambutan samping rumah di kabun Pak Haji Sueb yang mulai berbuah. Di kebun itulah kedua putriku sering bermain-main dengan teaman sebayanya, kuajarkan camping dengan mendirikan tenda, atau tempat aku memarkir mobil kantor apabila kebetulan sedang membawa pulang ke rumah. 

Dari tetangga sebelah kemarin aku mendengar kalo Zainudin, anak pertama dari istri ketiga Pak Haji Sueb akan masuk kuliah kedokteran bulan depan yang berarti memerlukan banyak uang. Pohon rambutan tinggi dengan buah memerah memang begitu menggoda. Pikiranku semakin menerawang, sambil sesekali melirik ke dalam rumah khawatir istriku bisa membaca pikiranku.

3 komentar:

  1. Kalo menggoda segera di eksekusi sj bos dari pada jd bisol..hihi

    BalasHapus
  2. Kalo menggoda segera di eksekusi sj bos dari pada jd bisol..hihi

    BalasHapus