Selasa, 16 Februari 2016

Preambule : Mengapa Harus Ngeblog?

Ya, mengapa harus ngeblog? Kadang-kadang saya harus merumuskan jawaban bila Kawan bertanya hal itu. Mengingat dan memperhatikan bahwa blog sudah bukan barang yang booming saat ini, jelas sudah tidak ngetrend lagi. Terlebih usia saya yang kepala 4 juga bukan tipe makhluk hidup yang sedang mencari jati diri. Malah kalau boleh sombong justru jati diri yang mencari saya, hehehee…. 

Namun bolehlah Kawan jika saya kemukakan setidaknya ada 5 (enam) hal yang mendasari saya membuat blog pribadi :

1. Berawal dari hambatan saya dalam berkomunikasi lisan. Tahukah bahwa pertama kali saya menyampaikan speech di depan umum (meskipun hanya berjumlah 15-an orang) saat harus berpamitan kepada rekan kerja saat pindah penugasan tahun 2006 lalu? Dan pengalaman kedua saat memperkenalkan diri di tempat kerja beberapa hari setelahnya di depan 50-an orang. Lancar? Tentu saja tidak. Keringat dingin iya… Nah, bukankah dengan menulis jadi jauh lebih mudah menyampaikan ide atau cerita? Mau sambil ngupil juga pembaca gak bakalan tau.
NB : karena tuntutan tugas sekarang telah terbiasa bicara di depan ratusan orang. 

2. Perkembangan teknologi menulis dengan komputer menyamarkan satu lagi kelemahan saya, tulisan jelek. Dulu, kalau tulisan jelek pasti dikatakan seperti cakar ayam. Dan bagaimana nasib tulisan saya? Bahkan ayam pun malu mengakui tulisan saya sebagai cakarnya. 

3. Saya ini orangnya suka memperhatikan sekitar. Depan belakang, kiri kanan 360 derajat. Dari memperhatikan itu kadang-kadang muncul pemikiran-pemikiran karena saya juga suka berfikir. Tapi harap jangan ajak saya diskusi masalah teknologi, ekonomi, sampai konspirasi, karena itu hal berat bagi pikiran saya. Intinya yang ringan-ringan saja, misal masalah empati, eksistensi, atau koperasi. Suatu ketika saya pernah memperhatikan seorang ibu penyapu jalan selalu membawa anak balitanya ketika bekerja. Iseng-iseng saya tuangkan dalam milis, dan tidak dinyana sambutannya sangat mengesankan. Banyak yang terharu dan menyukai tulisan saya. Sayang sekali email sudah terhapus dan saat ini dalam rangka mencari naskah asli saya sedang berupaya keras menemukan di mana gerangan daun lontar itu berada. Bila sudah ketemu akan segera saya tulis di sini. Janji...

4. Perkenalan saya dengan anak-anak muda nan hebat dalam menulis dalam suatu komunitas. Yang membuat saya makin terpacu adalah selain mereka sangat produktif, juga mampu mengupas hal-hal atau kejadian-kejadian kecil menjadi sesuatu yang menarik atau bernilai lebih. Bahkan menurut saya sudah layak dikenai PPN karena nilai tambahnya itu. Saya coba lagi memperhatikan sekeliling, mundur ke belakang meniti tapak demi tapak perjalanan saya yang odometernya lebih tinggi dari mereka, seharusnya lebih banyak bahan cerita yang bisa dipoles hinggai punya nilai lebih. 

5. Menulis itu jauh lebih cepat daripada membatik. 

Bayangkan bila ngeblog harus dilakukan di atas kain. Oh iya, pria ganteng berjidat lebar di atas adalah saya sendiri.

6. Sampai saat ini saya belum menemukan kategori blog pribadi saya. Apa saja akan saya tulis, ada ide, perjalanan, pengalama, hobi, dan sebagainya. Gado-gadolah istilahnya. Tapi gak pake lontong karena Cak Lontong belum tentu punya blog. Juga gaya bahasa saya tidak selalu sama, suka-suka saya. Sak muniku (sesuka saya bicara), atau dalam bahasa pergaulan cukup disingkat dengan : sakuniku.

6 komentar:

  1. mantap lenj..
    seneng baca tulisanmu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. matur nuwun, semoga inspirasi tetap terjaga :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terima kasih sdh berkunjung ke blog pemula, cil:p

      Hapus
  3. okay.. saya mulai sdledukit nge-fans ke anda.. (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengapa baru sekarang? Mengapa tdk dari dulu??? Hiks, kamu jahat...!!!!

      Hapus