Rabu, 17 Februari 2016

Menginjak Negara Lain Tanpa Paspor – 1. Timor Leste

Perbatasan RI-RDTL di Wini

Tahukah Kawan, hal yang paling menyedihkan ketika mendengar tas milik istri saya diambil maling dengan memecah kaca mobil? Tidak lain adalah keribetan mengurus surat2 baru. Plus kehilangan uangnya. Dan tasnya juga. Hmmm, apa lagi ya? HP… Eh, kaca mobil juga perlu diganti. Menyedihkan memang.

Dan benar saja sampai sekarang barangkali 3 tahun lebih KTP, SIM, STNK, ATM sudah berhasil dibuat kembali. Uang (Insya Allah) sudah diganti lebih banyak. HP sudah diganti oleh toko setelah saya menyerahkan uang. Koleksi tas istri sudah bertambah. Kaca mobil sudah laku dijual. Se mobil2nya tentu saja. Tapi paspor kami sekeluarga belum juga diurus gantinya saking ribet (mahal)nya. Tapi apakah membuat saya berasa seperti kena cekal tidak bisa bepergian ke luar negeri? Ternyata tidak, Kawan… bahkan saya telah 4 kali menginjak 3 negara dan kesemuanya tanpa paspor. Bagaimana ceritanya?

Pertama, pertengahan 2013 saat saya mendapat tugas –atau lebih tepatnya menugaskan diri- membuat sebuah film dokumenter tentang kegiatan kawan-kawan Bea Cukai Atambua (saat itu masih bernama Atapupu) menjaga perbatasan negara. Sebuah perbatasan unik, karena perbatasan ini dulunya tidak ada. Sampai saat Negara api menyerang… maksudnya sampai referendum memisahkan kedua saudara menjadi dua negera. Indonesia dan Timor Leste. Singkat cerita kedua Negara ini rukun kembali setelah sempat panas dingin macam dispenser. Kabar terbaru hubungan kedua Negara semakin mesra pasca dinikahinya Krisdayanti oleh Raul Lemos. Entah apa hubungannya….

Raul Lemos dan Kris Dayanti bersanding mesra.
Ternyata perjuangan kawan-kawan kami sungguh berat. Berkantor di sebuah desa bernama Atapupu, berdinding bukit dan berhampar laut, membuat jaringan komunikasi menjadi barang mewah. Di sana mereka dengan 20an personil harus menggawangi sedikitnya 6 pos perbatasan yang jauhnya minta ampun. Saya tahu bahwa cerita perjalanan harus mampu mendeskripsikan lokasi yang dikunjungi. Tapi lihatlah sendiri di peta, Kawan. Saya malas menggambarkan. Belum lagi kelangkaan BBM harus dinikmati sabagai santapan sehari-hari. Konon kabarnya sangat minimnya premium karena kebanyakan diselundupkan ke Timor Leste.

Bicara masalah arus perdagangan kedua Negara, bila dihitung-hitung Negara kita pasti mencatat surplus karena mayoritas barang konsumsi di Timor Leste didatangkan dari Indonesia. Sembako, makanan jadi, bahan bangunan, pakaian, dan lain sebagainya. Bisa dimaklumi karena mereka tidak banyak mampu memproduksi kebutuhannya sendiri. Kalaupun ada produksi yang surplus paling-paling berupa mimpi mandi minyak dari Celah Timor. Mimpi menjadi Kuwait rasa Portugal.

Bea Cukai RI dan Alfandega RDTL
Sementara produk ekspor Negara tetangga itu ke Indonesia hanya berupa hasil bumi berupa vanili, kopra, kemiri, dan buah asap. Belum tau buah asap? Sama, saya juga belum. Setahu saya sih asap itu merupakan buah daripada api. Merupakan suatu konsekuensi dari perbedaan tingkat kemakmuran antara 2 negara menyebabkan arus barang dengan segala permasalahannya. Contoh yang terjadi di sini, mungkin barang-barang kita yang keluar tidak ada masalah sebatas tidak ada pengaturannya seperti barang-barang konsumsi dan bahan bangunan. Namun seperti yang dijelaskan di atas, BBM jenis premium yang bersubsidi menjadi langka disinyalir banyak diseundupkan ke Timor Leste. Permasalahan kedua akan saya bahas di tulisan lain.

Kembali ke laptop, hubungan baik kedua Negara saya rasakan saat saya menyambangi pos perbatasan Wini di mana kordinasi dan persahabatan ditunjukkan oleh masing-masing personil CIQ-S. Hasilnya ya itu tadi, sesuai judul tulisan tapa paspor saya diijinkan untuk sejenak jalan-jalan di Negara orang ditemani petugas Alfandega (Customs-Porto). Di sebuah meja penjaga portal, saya lihat bendera RI-RDTL bersilangan mesra. Mirip Krisdayanti dan Raul Lemos. Abaikan Anang Hermansyah, biarlah the lucky man itu menikmati nasib baiknya yang saya yakin apabila diadakan voting via change.org niscaya nasibnya akan menjadi keajaiban dunia ke-8.

TNI dan petugas RDTL (Bea Cukai - Tentara - Kepolisian)
Koordinasi yang baik ini beberapa kali membuahkan hasil dengan ditegahnya narkoba yang akan dibawa masuk ke Indonesia. Malah beberapa saat yang lalu seorang kawan yang bertugas di BNN mengunjungi Dili untuk mengadakan sharing session mengenai penanggulangan terhadap penyalahgunaan dan perdagangan narkoba. Sebagaimana hasil pemetaan para pakar, saat ini Timor Leste menjadi tempat transit barang-barang terlarang yang akan masuk Indonesia. Bisa itu berupa narkoba, maupun pakaian bekas asal Malaysia atau Singapura yang sangat digemari di Indonesia.

Alhamdulillah film dokumenter yang dibuat di sana mendapat sambutan positif berbagi pihak. Tidak kurang Najwa Sihab yang menonton sewaktu tayang di Metro TV sampai menyatakan keinginannya mengeksplore perbatasan wilayah Atambua. Aktor utama film tersebut, sahabat saya Samdyss Halundaka sebagai Kepala Subseksi Kepatuhan dan Penyuluhan mendapat penghargaan dari World Customs Organization (WCO) di bidang komunikasi pada awal tahun 2014 dan tahun 2015 mendapat penghargaan khusus dari Dirjen BC atas kiprahnya di perbatasan.

Saya berada di Timor Leste, sahabat saya Deny masih berada di Republik Indonesia

Satu lagi yang cukup membanggakan, entah kebetulan atau tidak, pesan rekan-rekan di perbatasan untuk dapat memindah lokasi kantor ke Atambua (lokasi ibukota kabupaten) agar bisa hidup lebih layak akhirnya diakomodir oleh pimpinan Bea Cukai. Bahkan status kantor yang tadinya tipe Pratama (setingkat eselon 4) dinaikkan menjadi Madya (eselon 3). Ucapan terima kasih saya terima dari kawan-kawan saat kali kedua saya, April 2015, mengunjungi mereka untuk mendampingi Dirjen Bea Cukai meresmikan status kantor baru (dan mengulang kejadian serupa menjejakkan kaki di RDTL tanpa paspor). Disangkanya itu usaha saya, padahal bukan. Heheheheee…. Apalah mas….saya ini kan hanya butiran debu.

4 komentar:

  1. HP sudah diganti oleh toko setelah saya menyerahkan uang,,woooolhaini ini namanya bener-bener skuniku :D

    Main-main ke www.balimaning.com ya Bapaaak.. suwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehee.... Bisa jadi asmuni. Asal mununi.
      Siap meluncur balimaning. Sukses ya...

      Hapus
  2. Kisah dari sudut pandang yang mengalami selalu asik untuk dibaca. Keren Mas Arlen, ditunggu tetus postingannya 👍

    Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks bro... Masih banyak yg bisa jadi bahan cerita, tunggu saja :)

      Hapus