Selasa, 16 Februari 2016

Donggala, Sisa Kejayaan Masa Lampau

Kantor Bea Cukai Donggala tampak belakang

Yang saya sukai dari penugasan kantor adalah bila berkunjung ke kota lain yang belum pernah dikunjungi sebelumnya terlebih punya waktu luang untuk sekedar berjalan-jalan dan tentu saja ada yang bertindak sebagai pemandu. Plus sopir. Kunjungan saya ke Donggala (sekitar 30 km dari Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah) kali ini merupakan side effect dari penugasan meliput profil Pangkalan Sarana Operasi (PSO) Pantoloan, Oktober 2014. 

Penuturan salah seorang kawan yang betugas di PSO Pantoloan bahwa railing balkon bekas kantor di Donggala masih bertuliskan ‘douane’ sangat menarik untuk dilewatkan. Benar saja, di sana saya menjumpai sebuah kantor Bea Cukai berdiri di antara pergudangan di kawasan pelabuhan yang meskipun tidak terpakai namun masih dirawat dengan baik. Gedung yang direnovasi pada tanggal 11 Desember 1967 ini masih menyisakan ornamen yang jelas menandakan identitas Douane. Bagi orang awam tentu akan bertanya bagimana instansi Bea Cukai berada di pelabuhan yang kini nyaris tak ada aktifitas tersebut.

Merasa tertarik, sayapun mencoba untuk mencari lebih dalam sejarah Donggala. Embrio kota ini bermula dari tempat tambat bagi perahu nelayan dan tempat persinggahan bagi kapal-kapal tradisonal untuk mengisi perbekalan air tawar. Dalam perkembangannya pelabuhan ini semakin ramai dikunjungi kapal-kapal niaga dan tercatat bahwa pada tahun 1430 pelabuhan Donggala di bawah Kerajaan Banawa dikenal sebagai pelabuhan yang memperdagangkan hasil bumi seperti kopra, damar, kemiri dan ternak sapi. Hingga akhirnya VOC menguasai Indonesia pelabuhan ini semakin ramai terlebih saat booming komoditi kopra pada tahun 1920 hingga 1939. 

Railing balkon tertulis Douane dengan latar belakang gudang tak terpakai.
Kebesaran nama Pelabuhan Donggala turut menginspirasi setidaknya dua penulis besar dalam karya mereka. Dalam buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijck milik Buya Hamka, dan Tetralogi Pulau Buru milik sastrawan Pramoedya Ananta Toer, kedua buku itu menyebut nama Donggala disebut sebagai tempat singgah para pelaut nusantara dan mancanegara. 

Posisinya yang strategis berada di tengah-tengah jalur perdagangan Selat Makassar yang saat itu menjadi jalur utama kapal-kapal menuju Eropa selain Selat Malaka menjadikan Donggala sebagai titik penting bagi VOC dalam menancapkan kuku kekuasannya. Sepeninggal VOC dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang menguasai penuh Donggala dimulai dengan cara memaksa Raja Banawa ke-VI, I Sandudongie, pada tahun 1824 untuk menandatangani berbagai kontrak sehingga Belanda dapat membangun Kantor Douane dan berbagai fasilitas perkantoran dalam rangka memperlancar monopoli perdagangan dan kekuasaan segala hal. Pada 28 Agustus 1903, Belanda menempatkan Asisten Residen pertamanya, A.J.N. Engelenberg. Pada tanggal 1 April 1907 kebijakan tol (pemungutan kepabeanan) yang diperkirakan berupa pelaksanaan Undang-Undang Tarif mulai diterapkan di Donggala sebagai tata niaga perdagangan laut.

Merah Putih tetap berkibar meski bangunan kantor tak terpakai


Dalam rentang waktu yang panjang tersebut tampak besarnya peranan Douane dalam megatur arus barang di pelabuhan. Dari sekian banyaknya barang ekspor dan impor lainnya, tercatat kopra sebagai komoditi utama yang diperdagangkan. Hal ini dibuktikan dengan adanya lembaga yang mengatur tata niaga kopra sejak Hindia Belanda, pendudukan Jepang hingga pemerintah Indonesia yang sekarang masih menyisakan bangunan sejarah, Yayasan Kopra Daerah (sebelumnya bernama Stichting Het Coprafonds). 

Keberadaan kantor Bea Cukai Donggala sempat mewarnai perjuangan politik pergerakan kemerdekaan saat terjadi penolakan pendudukan Belanda yang diboncengi Sekutu/NICA, barisan Pemuda Indonesia Merdeka (PIM) melakukan penurunan bendera merah-putih-biru milik pemerintah Hindia Belanda di halaman kantor pada tanggal 21 November 1945.

Masa redupnya Donggala adalah saat pelabuhan Pantoloan yang terletak di sisi seberang Teluk Palu mulai dibuka dan dioperasikan menjadi pelabuhan baru yang melayani kapal penumpang maupun barang pada tahun 1978. Pusat kota Donggala yang sebelumnya berada di pelabuhanpun sekarang telah bergeser hingga menyisakan kecantikan kota tua dengan kekhasan arsitekturnya. Dan hingga saat ini, pelabuhan Donggala menjadi pelabuhan rakyat di tengah-tengah sejarah kejayaannya di masa lampau dengan saksi bisu gedung-gedung tua di kawasan pelabuhan.

Suasana kota tua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar