Jumat, 18 November 2016

Kaaba First Impression (A Pilgrim's Journey Eps 6)

  
Manusia berusaha, Allah jualah yang menentukan. Rencana yang telah disusun di tanah air kami diperkirakan tiba di Makkah pukul 2 dini hari dan langsung menjalankan umroh, molor lebih dari 3 jam sehingga harus dirubah untuk memberikan waktu istirahat dan jam 8.00 pagi berangkat ke Masjidil Haram. Dalam keadaan masih berihram dan kondisi fisik yang lelah setelah menempuh 38 jam perjalanan, dua jam jatah tidur malah tidak dapat saya manfaatkan dengan baik. 

Di wisma transit ini saya sekamar dengan Pak Kharis, yang di kalangan teman-temannya sering dipanggil Pak Kaji karena sebelumnya telah sekali melakukan ibadah Haji waktu mudanya dahulu. Ada Pak Hendy, Mas Amin, Mas Arif, dan Pak Zainuddin (69 tahun) yang memiliki semangat luar biasa dalam menjalankan ibadah haji namun cukup bandel tetap merokok melawan kecerewetan istrinya. Walaupun masih seusia bapak saya, namun Pak Zainuddin saya panggil ‘mbah’ karena fisiknya terlihat lebih tua dari usianya. Beliau ini termasuk ber'transmisi matik' (tanpa gigi) ditambah dengan dialek melayunya yang kental membuat saya mesti konsentrasi penuh menyimak ucapannya. Pak Kharis, Pak Hendi, Mas Amin dan Mas Arif adalah para senior (ditilik dari jabatan dan usia) di lingkungan kerja saya yang di sini otomatis hilanglah sekat-sekat birokrasi. 

Kiri ke kanan : saya, Pak Kharis, mas Amin, Mas Arif, dan pak Hendi
Tepat pukul 08.30, dengan jantung berdegup kencang (karena akan segera bertemu Ka’bah atau karena kurang tidur ya?) kami bergerak meninggalkan penginapan menuju Masjdil Haram. Berhubung sudah siang baru saat itulah suasana kota Makkah baru dapat terlihat. Tidak seperti malam dan dini hari sebelumnya yang tidak terlihat karena tidur bukan karena gelap. Tampak berbeda dengan Dubai yang hijau, bersih, rapi, mewah serta kendaraan yang mengkilap, Mekkah didominasi bukit-bukit batu gersang. Kendaraan yang (sebetulnya) mewah tampak kotor tidak terawat dan dibiarkan begitu saja bila ada penyok atau lecet. Ditambah lagi dengan gaya mengemudi standar metro mini menambah suasana pukul 08.30 menjadi sangat terik padahal saat ini adalah bulan November, saat bukan musim panas karena matahari berada di sisi selatan khatulistiwa. 

Mbah Zainuddin
Kurang dari 30 menit bus telah mendekati Masjidi Haram dan kami diharuskan berjalan kaki menuju ke sana karena terowongan yang biasa digunakan untuk mengedrop jamaah telah ditutup oleh petugas. Dari sisi jalan Ajyad, masjid termulia di dunia yang siapapun umat Islam pasti memimpikan untuk berkunjung ke sana telah terlihat. Menara megah yang sebelumnya hanya bisa disaksikan di gambar-gambar terlihat begitu anggun. Hanya ucapan tasbih yang dapat terucap begitu sosok Masjidil Haram semakin dekat. 

Masuk melalui pintu King Abdul Aziz kami segera memanjatkan doa, mulai terlihat jelas keagungan Ka’bah yang menjadi arah kiblat muslim di seluruh dunia. Hampir tidak percaya seolah ini mimpi begitu Ka’bah terlihat utuh di depan mata. Tak terasa air mata mengalir saat memanjatkan doa melihat Ka’bah. 
Allaahumma zid haadzalbaita tasyriifan wa ta'zhiiman wa takriiman wa mahaabatan wazid mansyarrafahu wa karramahu mimman hajjahu awi'tamarahu tasyriifan wa ta'zhiiman wa takriiman wa birraa’ 
(Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini, dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya di antara mereka yang berhaji atau yang ber-umrah padanya dengan kemuliaan, kebesaran, kehormatan dan kebaikan). 

Saat itu juga disambung dengan doa apapun yang kita kehendaki karena saat itu adalah salah satu waktu doa yang paling makbul. Seribu kalimat barangkali tak akan pernah cukup untuk menggambarkan takjubnya mata memandang Ka’bah untuk pertama kali. 

Mbah Zainuddin dan Mas Arif bahu membahu mengusir angin Pak Hendi

Selasa, 25 Oktober 2016

Antara Aku, Lia, dan Gentho


“Ting…” notifikasi percakapan WA masuk Jumat sore ketika waktunya beres-beres kerjaan kantor mengingat Senin dan Selasa depan saya mendapat tugas ke luar kota. Sebuah private message masuk, karena percakapan grup sengaja saya set silent karena di HP saya kebanyakan grup dan beberapa di antaranya teramat sangat aktif 24 jam sehari 7 hari seminggu. Dan saya tidak ingin terganggu karenanya tersebab untuk leave group saja saya tidak mampu. 

“Sampai ketemu di Bali, Pakdhe…” disertai foto tampak belakang seorang gadis berhijab panjang di atas kapal penyeberangan. Hmmm…ponakan baru saya ini masih belum pengen menunjukkan penampakannya batinku. Namanya Lia. Sebut saja Lia karena nama panjangnya agak susah dicerna, eh….dieja. Mendadak saja kami cepat akrab meskipun sebelumnya belum pernah sekalipun bertemu karena sama-sama suka bercanda di grup WA hingga menyadari perbedaan umur yang menyebabkan saya dipanggil Pakdhe. 

Ternyata ini penampakan Lia (tengah). Diapit Bunga dan NW Nuratni.
Berani taruhan, NW itu singkatan dari Ni Wayan.
Macetnya Jakarta Jumat sore membuat saya leluasa texting “Tengok kanan dong..” balasku. Ya, hanya sekedar ingin tahu wajahnya saja karena saya tidak ingin pas ketemu nanti tidak mengenali dan diem-dieman canggung. Pasti kawan yang lama aktif di sosmed paham maksud saya bahwa ada jenis manusia yang sangat aktif bersosialisasi di dunia maya, sering nge-like status/foto, komen, menyapa, memuji, merayu, menggombal, hingga mengaku single ternyata orangnya pemalu di dunia nyata bahkan lebih banyak menunduk saat bertemu.

Tapi nyatanya Lia tidak seperti itu, begitu apa adanya tanpa malu-malu cenderung malu-maluin :P. Dia adalah contoh generasi Y yang begitu aktif, penuh kejutan dan penuh ide-ide brilian, selalu mencoba hal yang baru dan begitu peduli dengan teknologi, lebih terbuka dalam komunikasi dan reaktif terhadap perubahan di sekelilingnya. Kegiatan mengajar yang baru pertama kali diadakan oleh Kemenkeu ini bukan barang baru baginya yang telah terbiasa mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi dan itu terlihat dari keluwesannya menghadapi anak-anak kelas 2 SD. Tak jarang dengan gemasnya Lia mencubit manja pipi gembul anak-anak yang tanpa sepengetahuannya setelah itu sebagian anak akan mengelap pipinya tujuh kali. Salah satunya dengan debu. Eh enggak ding…

Menginspirasi generasi Z meraih cita-cita
Salah satu membuat saya geleng-geleng kepala adalah ternyata Lia nekat mengendarai sepeda motor dari Selong, Lombok Timur tempatnya berdinas di Kantor Perbendaharaan ke Denpasar, Bali. Satu hal yang mustahil saya ijinkan ke anak perempuan saya yang hanya terpaut beberapa tahun dengannya. Bahkan dia rela berangkat jam 4 pagi katanya mau mengejar entah sunrise apa sunset di Pura Ulun Danu, Beratan di pegunungan yang hawanya tau sendiri dinginnya. Mengaku sebagai anak rumahan, Lia terbiasa karena awalnya terpaksa mandiri setelah merantau dari asalnya di kota bandeng, Juwana Pati untuk menuntut ilmu di STAN sambil mencari tambahan uang saku dengan memberikan pelajaran tambahan untuk anak-anak sekolah.

Semoga saja keinginannya untuk mendapatkan sosok imam dalam hidupnya segera terkabul supaya segala petualangannya (yang menurut pengakuannya nekat namun penuh perhitungan) ada yang mendampingi karena, bagaimanapun, berdua akan lebih baik. (Acha Septriasa-2010).  Aamiin.

******* 

Tingkah bocah laki-laki gendut itu sangat lincah berlari kesana kemari menarik perhatian saya. Keringat membasahi wajah hingga lehernya yang tidak bisa dikatakan putih meskipun mentari pagi masih menyisakan kesejukannya. Dari tingkahnya terbersit superioritas yang ingin ditampakkan, sesekali mengusili temannya, maklumlah namanya juga anak-anak. Sementara di beberapa sudut beberapa anak perempuan asik menyapu guguran daun dan bunga kamboja di sekitar halaman SDN 9 Sumerta Denpasar. Dandanan mereka sama, kuncir atau kepang 2 dengan pita merah. 

Kerja bakti harian membersihkan halaman sekolah. Otomatis tanpa komando guru
Saya dan beberapa relawan pengajar masih berdiri mematung di pinggir halaman tak tahu apa yang akan dikerjakan. Sementara puluhan anak yang telah tiba di sekolah juga heran dengan keberadaan kami. Beberapa saat antara kubu kami, relawan dan kubu murid-murid mirip manusia purba yang baru pertama kali bertemu dengan hanya saling tatap tanpa interaksi hingga saya mulai dengan mengeluarkan ‘jurus kamera’. Ya, mudah saja. Cekrek…. cekrek…. dengan berbekal kamera saya foto mereka yang awalnya malu-malu dan menunjukkan hasilnya pada mereka. Dan, jreng jreeeeng…. Beberapa detik kemudian lebih banyak lagi anak-anak berlarian ke arah kami dan kebekuan iceberg telah mencair.

Si gendut, berhubung saya belum tahu namanya tapi saya namakan dia Gentho, sebut saja begitu seperti kebiasaan di daerah asal saya untuk menggambarkan sosok biang onar, susah diatur (dan biasanya) berperawakan gendut berkulit hitam, dengan cueknya meminjam kamera saya untuk memfoto teman-temannya, lalu menunjukkan hasilnya diselingi gelak tawa dan teriakan dalam Bahasa Bali yang saya tidak mengerti artinya. Setengah ketir-ketir saya merelakan dan melihat dia otak atik settingan kamera sambil berharap tidak terjadi apa-apa dengan satu-satunya kamera yang saya beli second setahun yang lalu itu. 

Si Gentho alias Rangga dan Dindin, berbagi pengetahuan dalam menjawab pertanyaan Putu Yanti.
Nun jauh di sana, Vani rekan Yanti sesama fasilitator .
Pagi itu, Senin 24 Oktober 2016, adalah hari pelaksanaan Kemenkeu Mengajar yang digelar serentak di 35 Sekolah Dasar di 6 kota : Banda Aceh, Jakarta, Denpasar, Balikpapan, Makassar dan Sorong yang melibatkan hampir 600 orang relawan pengajar dan dokumentator dari seluruh unit di Kementerian Keuangan mulai Ditjen, Setjen, Itjen, Badan, Pusat hingga Lembaga. Kemenkeu mengajar ini adalah sebuah program yang diadakan oleh instansi induk kami berupa kegiatan mengajar sehari di SD terpilih tentang profesi atau bidang pekerjaan yang ada di kemenkeu dengan tujuan agar anak-anak paham dan diharapkan dapat terinspirasi terhadap peranan negara dalam pendidikan dan kehidupan mereka. 

Bagi saya pribadi, tujuan melibatkan diri sebagai pengajar adalah tidak lebih dari menerima tantangan untuk mencoba berhadapan dengan anak-anak. Ya, selama ini saya terbiasa melakukan sosialisasi kepada orang dewasa mulai dari anak SMA, Mahasiswa, masyarakat umum hingga pemangku kepentingan. Tentu saja penyampaian kepada anak-anak memerlukan metode, Bahasa, dan kedalaman materi yang sangat jauh berbeda. Oh iya satu lagi, saya ingin merasakan bagaimana yang dilakukan Bapak dan Ibu saya sebagai guru selama hampir 40 tahun. 

Tahukah kawan, bagi kami yang sehari-hari berkutat dengan dunia birokrasi ternyata mengakui kesulitan untuk memberikan pengajaran kepada anak SD bahkan sekedar mencari kesempatan untuk menarik perhatianpun kadang-kadang mati gaya. Tenggorokan saya sampai serak kebanyakan teriak hanya agar suara saya dapat di dengar di tengah gaduhnya suara anak-anak. Apakah usaha itu saya lakukan agar penjelasan saya yang didengar? Tidak. Hanya agar permintaan untuk mereka tenang itu yang didengar. Relawan lain, Regine, si manis petugas Bea Cukai Ngurah Rai yang asli Bali karena suaranya begitu halus mesti menggunakan pengeras suara. Bahkan sahabat saya Erwin yang dikenal tenggorokannya dilengkapi dengan Toa saking lantang suaranya mengaku sampai tidak mendengar suaranya sendiri. 

Hanya sampai di situkah 'penderitaan' kami? Belum. Kami harus menghadapi anak-anak yang menangis karena berantem sekaligus mendamaikannya. Yaaah mirip-miriplah dengan misi kontingen Garuda di Kongo. Untung kami sudah mempersiapkan sebelumnya peralatan game edukasi untuk mereka yang sejenak mampu menarik perhatian. Tapi begitu game selesai, selesailah kita… hingga tiba ujian terakhir bagi saya, mendapat giliran mengajar di kelasnya si Gentho. Alamak, ternyata ada 7 sampai 9 orang yang tingkahnya sama. Hingga partner saya, sebut saja Bunga… Maaf ini bukan nama samaran tapi nama asli. Bunga Herlina mojang Bogor yang bekerja di Kantor Pajak Ganyar ini sempat mati gaya tak tahu apa yang dilakukan. 

Bu Lusiani, The Only Baby Boomer Generation, Kakanwil DJP Jateng II kelelahan menghadapi anak didik.
Sementara Lailirizqi, M. Muhajir yang mirip Soleh Solihun  berusaha tegar dan Regine Utami, sibuk dengan kameranya.
Akhirnya rencana berubah, kami membuat metode dadakan dengan bercerita dan mendengarkan. Saya duduk di samping Gentho dengan ganknya. Pelan-pelan saya ajak bicara hingga membuat saya kaget. Ternyata bocah ini cerdas sekali. Dia tahu persis sejarah proklamasi, siapa yang mengkonsep, mengetik naskah, menjahit bendera hingga sakitnya Bung Karno pada waktu pembacaan. Di lain waktu dia bercerita apa itu PBB, lengkap dengan Bahasa Inggrisnya, kapan dan mengapa Indonesia pernah keluar dan bergabung kembali. Semua pengetahuan itu ia peroleh dari internet. Sampai dia memperagakan keahliannya menari dan minta doa restu agar dalam perlombaan tari bulan depan bisa dimenanginya. Belakangan saya tahu nama aslinya adalah Rangga. Lebih mengejutkan lagi belakangan saya mendapat informasi dari Kepala Sekolah bahwa waktu masuk kelas 1 bicaranya gagap. Analisa saya bahwa itu karena kecepatan otaknya melebihi gerakan mulutnya membuat Kepala Sekolah tergelak. 

Dindin, sang ‘wakil kepala gank’, mengaku asli Bandung benama asli Wahyudin. Tidak ada yang dia ceritakan selain pesawat terbang. Ia tahu bentuk dan jenis-jenis pesawat tempur dari internat. Tidak sulit menebak cita-citanya untuk menjadi seorang pilot. Bagas, agak kurus dan sedikit kalem, menceritakan keinginannya untuk melihat Jakarta. Cahya, yang duduk di sebelahnya tak lepas dari seputaran dunia sepak bola. Susan, suka sekali merawat kebun bunga dan ada Diah yang bercita cita menjadi desainer batik. Nah, di sela-sela obrolan itulah saya sisipkan materi mengenai profesi dan nilai-nilai Kementeria Keuangan sesuai panduan. Saya lirik di pojok kelas, Bunga terlihat sudah rileks dikelilingi kumbang, eh dikelilingi anak-anak yang sudah mulai dapat ‘dikendalikan’. Saya sempat tesipu ketika Ni Kadek Nadine, gadis centil kelas 4 itu bilang saya ganteng meski masih kalah dari bintang Korea idolanya yang sering ditonton melalui youtube. Hmmm… jangan ragukan kejujuran anak-anak, Kawan.

Putu Yanti, fasilitator kami tetap enerjik di bawah terik matahari


Bagaimanapun, mereka itulah profil generasi Z yang oleh Steve Jobs disebut juga dengan generasi internet atau Gen I. Mereka lahir dan besar di era digital dan teknologi canggih dimana informasi dengan mudah didapat. Tak jarang pertanyaan yang dilontarkan sulit untuk dijawab. Tumbuh kembang di era ini berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian mereka yang berkiblat pada internet sebagai sumber informasi. Kelebihan generasi ini adalah kefasihan mereka dengan teknologi digital, intens terhadap komunikasi, ekspresif dan spontan apa yang ada di benak mereka dan relatif toleran dengan perbedaan kultur, multitasking, namun kurang dalam komunikasi verbal. 

Rangga, Bagas, Cahya, Susan, Diah, Nadine. Bahkan sebelum masuk kelas saya masih berfikir bahwa satu dalam kelas diprediksi 55% bernama Wayan, 25% Made, 15% Nyoman, dan 5% Ketut. Ternyata saya salah, meskipun masih tetap dipakai di samping nama keren mereka, jangan harap nama itu dipakai panggilan sebagaimana layaknya ditemui di generasi X, teman-teman saya. Kejarlah cita-citamu anak-anakku. Apapun profesi yang kamu inginkan jangan lupa harus pegang teguh integritas, bekerja profesional dengan bersinergi bersama alam semesta seisinya, layani lingkungan sekitarmu dan jangan setengah-setengah, lakukan semua itu dengan sempurna (perfect).

********* 

Dunia terus berkembang bahkan terkadang begitu cepat dirasakan. Generasi akan terus berganti sesuai sunnatullah. Perkembangan sosio-ekonomi, gaya hidup, cara berfikir, semangat, dan pengaruh kekuatan generasi itu sendiripun akan selalu berubah. Setiap generasi tak terlahir secara sempurna, saya sebagai perwakilan Gen X, Lia mewakili Gen Y dan Gentho sebagai Gen Z akan tetap hadir sesuai jamannya untuk saling melengkapi dan memahami. Sesuatu yang kurang pada suatu generasi akan ditingkatkan di generasi berikutnya sebagai penyeimbang. Hingga tercapai harmoni.
Bunga, Muhajir, Mas Budhi, Regine, Stephanie, Laili dan Bu Lusi

Keceriaan dunia anak
Yusup. Itu anak-anak terpana apa terhipnotis?
Stephanie in action
Florentina, sudah mirip ibu guru asli :)

Inilah calon Dirjen Bea Cukai masa depan

NB : Terima kasih untuk capture pengalaman dan keceriaan bersama bagi yang tidak disebut atau terlihat dalam foto ; Ari Prabowo, Dian M. Taufik, dan M. Raditya (dokumentator jangan berharap masuk foto ya...)

Jumat, 07 Oktober 2016

Tak Ada Yang Jual Stok Kesabaran (A Pilgrim's Journey Eps 5)


Setelah 3 jam melalui proses administrasi bandara di episode sebelumnya, akhirnya rombongan bisa menghirup udara segar (karena saking penuhnya bandara udara jadi terasa pengap). Keluar dari terminal King Abdul Aziz, rombongan dijemput oleh tim travel dipimpin oleh Khalid Sayuti, abang Ikbal yang telah bertahun-tahun bermukim di Arab Saudi. Ada pula Habibi, mahasiswa asal Kijang, Riau yang menuntut ilmu di sebuah universitas di Madinah serta Khalid Matutu yang belakangan saya ketahui seorang hafidz muda berdarah Makasar (masih kerabat Ikbal) kelahiran Arab Saudi yang penampilannya khas anak muda, suka berkaus oblong dan bercelana jeans. 

Harapan untuk segera menuju baitullah menatap langsung Ka’bah guna menjalankan ibadah Umrah harus disimpan dalam-dalam karena ternyata di teras bandara yang kurang nyaman ini kami masih diuji lagi kesabarannya. Entah birokrasi apa lagi yang diperlukan, tim penjemput tampak sibuk mondar mandir ke beberapa tempat. Bahkan demi pelayanan ke jamaahnya beberapa kali Khalid sempat bersitegang dengan beberapa orang sesama pengurus travel lain untuk berbagi tempat. Saat itu, bus adalah benda buatan manusia yang sangat kami dambakan hadir di depan mata. 

Di sinilah yang banyak dikeluhkan oleh beberapa rekan jamaah yang kurang kesabaran karena sejak landing ba’da Maghrib hingga pukul 2 dini hari baru menunjukkan tanda-tanda akan diberangkatkan ke Makkah, padahal rombongan jamaah yang mendarat belakangan beberapa telah berangkat lebih dahulu. Sayang sekali di terminal Bandara ini tidak ada mini market yang menjal stok kesabaran. Sebenarnya saya ingin sekali berbagi namun apa daya kesabaran tidak bisa dipindahtangankan. Berhubung tidak bisa tidur karena tidak terbiasa di tempat yang tidak nyaman, waktu menunggu saya gunakan untuk memulai membaca Al Quran dimulai dari Iqro’ jilid I. Enggak ding, juz 1 maksudnya. 

7 jam melewati tengah malam di sini
Menjelang naik bus, paspor yang sempat dikembalikan diminta lagi oleh petugas. Perjalanan dari Jeddah menju Makkah kurang begitu tarasa karena inilah waktunya terlelap tidur. Entah berapa lama perjalanan bis telah sampai di check point (semula saya sempat mengira terminal) yang di situ petugas membagikan kartu identitas dan gelang karet tanda maktab. Seorang petugas Arab membagikan meal box yang terdiri dari air minum kemasan, dua jenis biscuit, dan kacang dengan berpesan “satu satu…” Beberapa hari kemudian saya baru tahu sangat banyak warga Arab yang mampu berbahsa Indonesia. Terutama pada pedagang.

Perjalanan dilanjutkan hingga akhirnya tibalah di tempat pemondokan, sebuah wisma transit yang baru saja selesai buru-buru dibangun (tampak dari finishing yang ala kadarnya) di derah Bathkha’ Quraisy. Belum juga puas dapat menyelonjorkan kaki, azan subuh berkumandang. Waktu telah menunjukkan pukul 05.15 hari Rabu 10 November 2010. Terhitung sejak keberangkatan hari Senin sore ba’da Maghrib, kami telah menjalani 38 jam perjalanan yang menguras energi, mental dan kesabaran. 

Ada hal kecil yang menarik perhatian saya, sebagai Negara penghasil minyak bumi Arab Saudi mempunyai hampir 20% cadangan minyak dunia dan merupakan pengekspor minyak terbesar mungkin tidak mengalami masalah dengan pasokan energi listriknya. Selama tinggal kurang lebih 5 hari di wisma transit ini, AC dan lampunya selalu menyala 24 jam. Jangankan menggunakan lampu hemat energi, bohlam yang digunakanpun jenis yang telah jarang dipakai di Indonesia.

Senin, 19 September 2016

Ada Apa dengan Pengki



Niiit…. niiit…. niiit… krakk!!! Bunyi sensor parkir dan plastik pecah mengagetkanku. 

Seketika secara reflek kuinjak kuat-kuat rem mobil sebagai reaksi mendengar suara suara tersebut. Lihat-lihat sekeliling ternyata ban mobil dengan sukses nginjak pengki biru di pinggir carport. Pantesan karena si pengki nyempil di pinggir sehingga tidak terlihat di kamera mundur. Walhasil injakan ban meninggalkan bekas sobekan di pinggiran pengki walaupun secara fungsi masih bisa digunakan. Oh iya, Kawan-kawan tau pengki kan? Itu lho yang dlam bahasa Jawa biasa disebut cikrak atau bahasa kerennya disebut dust pan. Hmm…. Agak amazed juga tergilas mobil hampir 2 ton kok nggak hancur mengingat usia pakainya yang cukup lama. Kira-kira 17 tahun. Serius? Iya, setahun lebih tua dari anak sulung saya. 

Saya ingat persis, karena pengki itu termasuk harta pertama yang saya miliki (walaupun tidak masuk LHKPN dan SPT tahunan) yang saya belanja bersama beberapa barang lain yang sampai saat ini masih terpakai, antara lain vacuum cleaner dan kasur Airland ukuran king. Mengapa alat-alat kebersihan yang pertama saya miliki, karena sebelumnya saya menderita alergi debu lumayan parah sejak masih duduk di bangku SMA dan kondisi itu menuntut kondisi rumah yang selalu bersih. Dan juga kasur ukuran besar karena saya (katanya) selalu usil kalau tidur. Kasihan kan sebelah saya kalau terkena tendangan atau sikutan tak sengaja. 

Tepat sekali kalau Kawan menebak waktu itu saya adalah pengantin baru. Sebagaimana layaknya orang baru berumah tangga pasti membutuhkan peralatan yang akan dipakai sehari-hari. Mungkin yang membedakan hanya cara mempersiapkan masing-masing orang. Ada yang jauh jauh hari sebelumnya sudah mempunyai check list apa yang harus dibeli, ada pula yang membeli peralatan sambil jalan. Apa yang dibutuhkan dibeli saat itu juga. Saya termasuk yang kedua, setelah beberapa hari nebeng di kost istri merasa perlu membeli vacuum cleaner daripada malam-malam bersin mengganggu penghuni lain. Kan jadi ketahuan kalau tengah malam belum tidur. Lho, kok di kost istri tinggalnya? Nah, ini ada ceritanya.

Beberapa tahun lalu saat beberapa junior di kantor berencana akan berumah tangga dengan pria idaman masing-masing, saya jadi kepo pengen tahu seperti apa sih mereka mempersiapkan pernikanannya. Dari bincang-bincang ringan saya jadi tahu apa yang sudah mereka lakukan jauh hari menjelang pernikahannya. Mereka sudah mempersiapkan gedung yang dipakai resepsi, pakaian apa yang dikenakan, menu hidangan, tema pesta dengan segala tetek bengeknya hingga akan tinggal di mana setelah menikah nanti. Hehehee… saya jadi geli membandingkannya dengan persiapan yang saya lakukan. 

Saya dan (saat itu masih calon) istri yang sama-sama tinggal di Jakarta memang agak sulit memang mempersiapkan resepsi di tempat yang jauh. Apalagi karena satu dan lain hal dilakukan dua kali, Ijab qobul dan resepsi di Magelang plus seminggu setelah itu Ngundhuh Mantu di Wonogiri. Mengadakan acara di dua tempatpun mau tidak mau menggandakan segalanya; udangan, hidangan, pakaian, dan keruwetan-keruwetan lainnya. Ditambah lagi kebiasaan di kampung mertua sangat ribet untuk sebuah acara pernikahan sampai-sampai jarang sekali pernikahan di kampungnya yang dibuat acara perayaannya. 

Tidak sampai di situ, kok ndilalah sebulan sebelum nikah istri saya dikumandahkan ke Kantor Pusat dimana aturan kepegawaian tidak memungkinkan pegawai kumandah untuk mengambil cuti. Bayangkan, dalam kondisi seperti itu masih ditambah dengan kesulitan berkomunikasi dengan orang tua karena tidak adanya saluran telepon dan telepon seluler masih menjadi barang langka di jaman itu. (Jaman itu? Kok kesannya jadul banget ya?). Pokoknya pusing pala habibie lah…. 

Tapi di tengah-tengah proses itu ada juga kemudahan yang saya alami. Pak Achyas Tawil, calon mertua saya, sebagaimana layaknya orang tua yang akan melepas anak gadisnya untuk menikah biasanya akan banyak melakukan screening ketat sebelum memutuskan apakah si laki-laki layak untuk menerima amanah menggantikan tanggung jawabnya sejak bayi. Pasti akan memepertimbangkan bibit, bebet, bobot segala (dalam pandangan Islam mencari pasangan itu harus mempertimbangkan agama, keturunan, rupa dan harta). Intinya untuk memastikan Arona Asriningsih, anak gadisnya akan baik-baik saja setelah menikah dengan saya. Tapi Alhamdulillah calon mertua yang pendiam itu tidak cerewet kepada saya tentang hal itu. 



Akhirnya semua berjalan dengan lancar. Hari ini tepat 17 tahun yang lalu tanggal 19-09-1999 ijab qobul sudah terlaksana dan mulailah saya menjalani kehidupan dengan menyempurnakan setengah agama. Suatu ikatan yang kuat (mitsaqon gholidzo) telah terjalin dengan diucapkannya kalimat 

Qobiltu nikakhaha wa tadzwijaha linnafsii bimahril madzkuur 

Pun menyatukan dua anak manusia yang sebelumnya hidup masing-masing. 

Oh iya, menyatukan berarti setelah itu tinggal bersama-sama dong. Nah ini yang saking ribetnya persiapan acara jadi belum kepikiran setelah nikah mau tinggal di mana. Rumah belum punya, nyari kontrakan belum sempat. Atau karena tipikal saya yang terlalu easy going? Wong beberapa bulan sebelumnya pas acara lamaran saja kami berdua nggak pulang, tetap di Jakarta. Sibuk? Nggak juga, kami berdua malah jalan-jalan dengan teman-teman kantor ke Pulau Seribu. Heheheee… 

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta setelah mengambil cuti acara pernikahan (istri saya diijinkan tidak masuk 2 minggu atas kebaikan Alm. Pak Roy atasannya waktu itu) kami beristirahat di daerah Puncak sembari menikmati jagung bakar di pinggir kebun teh. Aneh juga ya, kebunnya teh tapi hasilnya jagung.

“Ngomong-ngomong setelah ini kita pulang ke mana, Mas?” Tanya istri. 

“Ke kos masing-masing lah...” jawab saya enteng, lupa kalau sudah menikah. 

“Hahahahaa….” Akhirnya kami tergelak bersama. 

Tapi itulah yang akhirnya terjadi malam itu. Saya pulang ke kos setelah sebelumnya mengantar istri ke tempat kosnya walaupun akhirnya beberapa hari setelah itu atas ijin pemilik rumah saya pindah ke kosnya. Sampai akhirnya sejak saat itu kemudian menempati rumah dinas hingga memiliki rumah sendiri semua dijalani dengan mudah atas ijin Allah SWT. Pasti ada saja pertolongan lewat orang baik yang datang membantu. 

Akhirul kalam, semoga artikel ini tidak dibaca oleh siapa saja yang nantinya akan menjadi menantu saya. Mengapa? Karena saya akan kehilangan beberapa pertanyaan. 


Jumat, 16 September 2016

Ketemu Satgas Parpol di Bandara Jeddah (A Pilgrim's Journey Eps 4)



Setelah pada episode sebelumnya saya ceritakan bagaimana perjalanan saya menyusuri kota Dubai, sekembalinya ke hotel dengan tetap menyimpan kekaguman saya hanya punya waktu kurang dari 1 jam untuk menikmati kenyamanan kamar hotel karena harus segera mandi sunah ihrom. Seperti sarapan paginya, makan siang di hotel ini mengharuskan perut untuk segera menyesuaikan diri dengan makanan ala arab, utamanya adalah nasi berbumbu ringan yang tiap bulirnya 2-3 kali lebih panjang dari nasi di tanah air. Jangan berharap ketemu sayur asem di sini.

Check out pukul 12.30 sudah berpakaian ihrom menuju bandara Dubai, karena akan mengambil miqat di dalam pesawat. Sopir bis yang mengantar rombongan, seorang pekerja asal India begitu amazed diajak ngobrol dengan bahasa tamil oleh Ustadz Faisal, pembimbing kami yang lulusan S2 di Pakistan. Dalam waktu singkat keduanya sudah akrab ngobrol ngalor ngidul sesekali diiringi gelak tawa. Mendadak saya merasa sedang menonton film Bollywood yang genre actionnya super lebay.

Sedikit tentang pekerja asing di Dubai, seperti di Negara-negara Timur Tengah lainnya Indonesia dikenal sebagai penyuplai tenaga kerja unskill. Sementara pekerja Asia Tenggara lainnya seperti Filipina biasanya bekerja dengan kasta lebih tinggi misalnya di hotel, restoran atau perkantoran. Kenapa ya di Indonesia penyalur tenaga kerja kok cuma Asisten Rumah Tangga (ART) saja? Padahal insinyur, dokter, akuntan, dan pekerja kantoran lain masih melimpah, malah banyak sekali fresh graduate yang masih menganggur. Itung-itung kalau pekerja dari Indonesia bukan ART, kan bisa menaikkan ‘harga diri’ bangsa. 

Masuk kembali Bandara Dubai, untuk sampai ke terminal keberangkatan harus melalui deretan pertokoan modern yang menjual barang kelas dunia mulai dari pakaian, parfum sampai perhiasan. Tampak kontras rombongan haji berpakaian ihrom yang identik dengan ukhrowi melalui hamparan kemewahan duniawi. Sampai di sini pandangan mata istri saya masih lurus tampa tergoda kiri kanan. Kelak di beberapa episode berikutnya kau akan tahu maksud saya, Kawan. 

Take off pukul 17.00. Karena Bandara Dubai adalah hub bagi maskapai Emirates, dari sini pesawat yang digunakan lebih besar daripada penerbangan Jakarta-Dubai dan isinyapun hampir semua jamaah haji dari berbagai negara, semua berpakaian ihrom. Ketika pesawat diperkirakan melintas di atas Dzulhulaifah, diumumkan agar para penumpang mengucapkan niat umroh dan dimulailah hukum / larangan-larangan ihrom. Ibadahpun dimulai… 

Pesawat landing dengan mulus pukul 18.30 waktu Jeddah (1 jam lebih lambat dari Dubai). Ujian dimulai di sini, karena pesawat parkir di tempat yang remote dari terminal haji bandara King Abdul Aziz sehingga harus lama menunggu bis untuk membawa ratusan penumpang ke terminal. Proses imigrasi juga membutuhkan waktu yang saaaangat lama mengingat banyaknya jamaah. Setelah pemeriksaan imigrasi masih harus ke beberapa meja lagi yang saya tidak tahu persis petugas administrasi apa karena semua identitas di seragamnya memakai huruf arab gundul semua. Meskipun saya sudah khatam iqro jilid terakhir tapi hanya mampu membaca nama saja. Itupun masih dengan mengira-ira. 

Petugas di Jeddah sangat jauh berbeda dalam penampilan dan sikap dengan petugas di bandara Dubai. Di Dubai kami dilayani oleh petugas yang secara fisik ganteng dan cantik, pakaian khas arab yang rapi dan sikap yang ramah. Di Jeddah, petugas tidak jauh beda dengan satgas parpol di Indonesia yang berpakaian ala ala militer yang petentang petenteng dan kehabisan stok senyum. Sudah menjadi kebiasaan bahwa jamaah haji Indonesia sedikit mendapat kemudahan dalam pemeriksaan di sini, yang katanya karena mayoritas orang Indonesia itu tertib dan kooperatif. 

Keluar dari area imigrasi dan lain-lain ternyata masih ada lagi pengecekan lagi oleh instansi apa, yang kembali memeriksa paspor jamaah. Tiba giliran kami hanya ditanyakan apakah berasal dari Indonesia, dan ketika diiyakan kami boleh lewat begitu saja tanpa pemeriksaan paspor seperti jamaah dari negara lainnya. Sedikit berbeda dengan saya, istri saya yang diperiksa oleh petugas lain masih ada pertanyaan tambahan. Indonesia? Na’am…. Jawa? Na’am… Oke, lewat.

Jumat, 02 September 2016

Semua Bisa Dilakukan di Padang Pasir (A Pilgrim's Journey Eps 3)


  
Tanpa menunggu lama pesawat take off pukul 00.40 WIB. Sebagian besar penumpang maskapai Emirates adalah jamaah dari berbagai travel biro haji. Tidak dibayangkan bagaimana bila letusan Gunung Merapi masih berlangsung karena saat itu adalah hari-hari terakhir kedatangan jamaah haji sebelum Bandara King Abdul Aziz Jedah ditutup. Perjalanan memakan waktu 6,5 jam dan landing dengan mulus pukul 05.00 wkt Dubai (selisih 3 jam). 

Bandara Dubai adalah sebuah bandara yang sangat luas, modern dan megah. Jamaah sempat tertunda untuk keluar karena beberapa birokrasi yang membingungkan walaupun rombongan masuk kota Dubai hanya untuk transit saja. Uni Emirat Arab termasuk salah satu tujuan pengiriman Tenaga Kerja Indonesia. Terbukti beberapa penumpang yang bersama saya sejak dari Bandara Soekarno Hatta adalah TKW yang akan kembali bekerja setelah pulang mudik ke Indonesia. Di salah satu ruang tunggu rombongan sempat bertemu seorang TKW asal Cianjur yang sudah 7 jam menunggu namun penjemput belum juga tiba. 

Sempat kebingungan di bandara Dubai
Setibanya di Hotel Millennium Dubai untuk transit, suasana haji yang diceritakan banyak orang mulai terlihat terutama dari banyaknya ras dengan segala kebiasaan, ciri fisik dan pakaiannya. Yang paling menarik adalah saudara-saudara kita dari Afrika dengan tubuh yang tinggi dan pakaiannya (terutama perempuan) yang berwarna cerah sungguh kontras dengan hitam kulitnya. Semua akomodasi selama berada di Dubai menjadi tanggungan maskapai Emirates karena tiket yang dibeli biro Haji kami adalah Jakarta-Jeddah. 

Perjalanan panjang dari Jakarta membuat sebagian besar rombongan lebih memilih untuk mempergunakan waktunya dengan beristirahat mengingat perjalanan ke depan akan lebih melelahkan lagi. Namun tawaran city tour dari pengelola hotel lebih menarik bagi kami bersama sepasang suami istri lain dari rombongan kami. Pak Ical dan Bu Lusi. Mumpung di Dubai, kenapa nggak jalan-jalan sekalian? Dubai adalah salah satu dari 7 kesultanan yang tergabung dalam Uni Arab Emirat yang manjadi pusat bisnisnya, sementara Abu Dhabi sebagai pusat pemerintahan/ibu kotanya.

Suasana kota Dubai
Pada tahun 2000, UAE bukanlah apa2. Tapi semenjak Dubai membangun Pulau buatan: Palm Jumeirah, Palm Deira, World, dll plus Burj Al Arab (Hotel 7 bintang), dan sekarang Burj Al Alam (tower tertinggi di dunia), UAE terutama Dubai menjadi kota modern. Jangan disangka Dubai kaya minyak seperti Saudi Arabia. Kenapa bisa kaya? Dengan free zone area, yang sebetulnya Indonesia lebih dulu punya konsep serupa, semua barang bebas keluar masuk tanpa pajak. Kemudahan ada di mana-mana. Mau mendirikan perusahaan mudah asal punya duit. Tidak peduli dari bangsa atau agama apapun karena Dubai lebih agak liberal dibanding 6 kesultanan lain di UAE. Tempat solat banyak, tempat maksiat juga ada. Yg bercadar banyak, yg serba terbuka juga tidak sedikit.

Perumahan di 'pulau' Palm Jumeirah
Efek dari itu semua membuat Dubai menjadi kota termahal di dunia. Misalnya sewa rumah di kawasan elit adalah sekitar 900 juta per tahun dengan minimal 3 tahun sewa. Kamar termurah dari hotel Burj Al Arab setara dengan 30 juta per malam atau hampir sama dengan ONH regular. Di gallery seni yang sempat saya singgahi, pasmina sutera seharga hampir 10 juta, sementara karpet hiasan dinding sebesar sajadah kecil seharga 11 juta. 

Bisa dikatakan Dubai bisa melakukan apapun di padang pasir. Proyek dimana2. Tidak punya taman, padang pasir diubah jadi taman indah. Tidak punya daerah tropis, lautan disulap jadi pulau-pulau yg bernuansa tropis dg bentuk pohon palm. Padang pasir, diubah jadi pusat bisnis lengkap dg gedung-gedung pencakar langit melebihi Oxford Street nya London atau La Defense nya Paris. Tidak punya danau, membuat danau sendiri di tengah padang pasir. Ingin merasakan ski di tengah dinginnya salju? Bisa dilakukan di tempat ski indoor. Dan semuanya dibuat dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun. 

Burj Al Arab

Rabu, 24 Agustus 2016

Teguran Pertama (A Pilgrims's Journey eps 2)


Keberangkatan saya bersama istri ba’da maghrib Senin, 8 November 2010 ketika itu agak beda dengan orang yang akan berangkat haji lainnya. Di rumah memang telah berkumpul orang tua dan saudara-saudara dekat untuk mendoakan, namun pas berangkat hanya diantar oleh keponakan yang menyetir mobil dan kakak ipar yang menemani. Saya jadi teringat musim haji tahun 1984 ketika keberangkatan Mbah Putri ke Pendopo Kabupaten Wonogiri tempat keberangkatan ibadah haji dengan diantar keluarga besar plus upacara pemberangkatan yang penuh sesak. Padahal saat itu saya ingat sekali, sekabupaten tidak lebih dari 10 orang yang berangkat. 

Pak, Bu, mohon doa restu....dan nitip anak-anak ya
Upacara pelepasan di Jakata Airport Hotel diadakan secara sederhana oleh biro haji kami. Rombongan sendiri dipimpin oleh Ikbal Sayuti, pengusaha muda pimpinan Nursa Tour travel yang kami gunakan. Sedangkan pembimbing yang menyertai dari tanah air adalah Ustadz Faisal, ustadz muda lulusan S2 dari Pakistan. Sebagai tambahan informasi bahwa dua hari sebelumnya pesawat Emirates sempat tidak berani terbang ke Jakarta karena khawatir efek hujan abu dari letusan Gunung Merapi. Alhamdulillah hari itu adalah hari pertama maskapai penerbangan Emirates membuka kembali penerbangannya ke Jakarta. Akibatnya keberangkatan jamaah haji dua hari sebelumnya di-delay sampai hari itu juga. 

Sebelum keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta
Di sini dibagikan kartu GSM Arab Saudi untuk berkomunikasi selama ibadah haji. Perlengkapan lain seperti sajadah, kain ihram, kantong batu jumroh, dan sandal telah dibagikan sebelumnya. Untuk keperluan komunikasi dengan keluarga di rumah, melalui browsing internet saya sudah menentukan provider mana yang memberikan tarif paling murah untuk menelfon ke arab Saudi (satelindo dengan tarif Rp30/detik). Hanya saja untuk sebaliknya (Arab Saudi ke Indonesia) saya salah menetukan karena yang diperhitungkan paling murah (telkomsel Rp5.000/menit) ternyata untuk musim haji tahun lalu, sementara yang berlaku sekarang adalah Rp14.000/menit). Akhirnya nomor lokal Arab Saudi itulah yang saya pakai selama beribadah haji baik untuk menelfon lokal ataupun ke Indonesia. 

Tiba waktunya untuk boarding, sayang sekali teh panas paling enak buatan Ibu yang saya bawa dilarang dibawa masuk ke dalam pesawat sesuai regulasi penerbangan. Malam itu saya harus merelakan tanaman hias terminal 2E, walaupun kepanasan, menikmati teh buatan Ibu. 

Sempat terjadi sedikit hal yang membuat sibuk pimpinan rombongan ketika salah satu jamaah kehilangan boarding passnya menjelang masuk terminal 2D Bandara Soekarno Hatta setelah pemerksaan imigrasi. Sebagai orang yang pernah menjadi pelanggan jasa penerbangan, saya sempat berfikir apakah orang ini tidak pernah naik pesawat sebelumnya sehingga boarding pass bisa lepas dari pengawasan. Kok ya katrok begitu bahasa gaulnya. Memang sejak manasik haji baru saya sadari bahwa tidak semua jamaah haji yang menggunakan ONH plus adalah dari kalangan menengah ke atas saja, faktanya adalah banyak rombongan travel yang berprofesi sebagai petani. 

Boarding Pass yang sempat membuat panik.
Saya segera mengucap istighfar setelah tak lama kemudian karena mengalami hal serupa. Waktu itu gate untuk boarding sudah dibuka. Sebagaimana layaknya pesawat berbadan lebar kami memasuki pesawat diurutkan berdasar zona seat. Saat tiba giliran saya masuk ke dalam pesawat keringat dingin keluar begitu menyadari boarding pass tidak berada di kantong maupun di tas pinggang. Berkali-kali mencari hasinya nihil. Setengah putus asa saya berdiri dengan niat pura-pura bodoh nekat masuk ke pesawat. Alhamdulillah boarding pass tergeletak dengan indahnya di bawah tas ransel. Rupanya Allah mengingatkan saya agar selalu berfikir positif, tidak memandang rendah serta menghargai orang lain.

Baiklah....

Kamis, 18 Agustus 2016

Labbaika Allahumma Labbaik (A Pilgrim's Journey eps 1)


Sebentar lagi serangkaian kegiatan dalam musim Haji tahun 1437 H/2016 M dimulai. Momen ini saya rasa tepat untuk mempublikasikan catatan perjalanan ibadah haji yang saya lakukan enam tahun yang lalu. Maklum baru awal 2016 ini saya mempunyai blog pribadi. Mudah-mudahan tulisan-tulisan yang akan saya sajikan secara bersambung bisa menjadi alternatif acuan bagi kawan-kawan yang akan segera menjalankan ibadah haji dan syukur-syukur bisa menumbuhkan niat bagi kawan yang belum berniat. Dokumentasi perjalanan ini dibuat untuk melengkapi foto-foto karena bagi saya perjalanan ibadah Haji pada tahun 1431 H/2010M adalah perjalanan saya yang penuh makna, berkesan, fun dan tentunya tak akan pernah terlupakan. 

Wajib bagi umat Islam yang mampu mengadakan perjalanan ke sana dan kondisi dalam keadaan aman. ’Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkar, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.’ [Ali ’Imran:97] 

Walaupun hukumnya wajib, namun bagi saya mengandung dua kewajiban yang harus ditunaikan. Pertama adalah kewajiban haji itu sendiri dan kedua adalah kewajiban membayar nadzar yang saya ucapkan tahun 2008 lalu. Ketika itu saya telah memasuki tahun ketiga bertugas di Batam dan keinginan untuk berkumpul kembali dengan keluarga tercinta makin kuat, mengucapkan nazar apabila dipindahtugaskan ke Jakarta saya akan segera menjalankan kewajiban rukun Islam kelima tersebut. Mudah-mudahan dengan dua kewajiban yang melekat itu pahalanyapun akan digandakan juga. Amin… 

Alhamdulillah akhir tahun itu juga keluar skep mutasi ke Jakarta yang artinya saya harus segera menyusun rencana keberangkatan ke tanah suci. Karena satu dan lain hal pada musim haji tahun 2009 belum dapat dilaksanakan karena tengah menyelesaikan proyek renovasi rumah tinggal. Satu hal yang patut disesalkan yaitu datangnya kesempatan berangkat pada musim haji tahun 2010M/1431H ternyata tidak dapat diikuti oleh ibunda mertua yang telah terlebih dahulu dipanggil Allah 9 bulan sebelum keberangkatan. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun. 



renovasi - before and after
Meskipun mental telah dipaksakan untuk siap, namun tak urung sedikit perasaan ragu sempat muncul ketika kepastian keberangkatan kami terima akhir Juli 2010 atau kurang dari 5 bulan sebelum keberangkatan. Benar-benar siapkah kami mengunjungi rumahMu ya Allah…. begitu pertanyaan dalam hati sambil berintrospeksi diri. Pantaskah saya menyandang gelar haji walaupun sekedar gelar itu tidak saya harapkan. Apakah niat saya hanya sekedar menggugurkan kewajibanMu? Apakah ibadah saya hanya murni mengharap ridhoMu tanpa terkotori setitikpun niat riya? Apakah keikhlasan saya sudah 100%? Apakah biaya dan bekal yang saya pergunakan 100% halal? Telah bersihkah hati ini dari perasaan iri dan dengki? Seberapa luas hati ini mampu membentangkan kesabaran? Sekuat apa otak ini mampu mengendalikan diri dari prasangka? 

cek dan ricek logistik
Persiapan fisik yang cukup mengkhawatrikan adalah kondisi kesehatan yang kurang kuat daya tahannya bila terus menerus beraktifitas fisik, semantara ibadah haji benar-benar memerlukan kesehatan yang prima. Ditambah lagi dengan kondisi perut yang tidak pernah mau kompromi di pagi hari sempat membuat saya cari info sana sini untuk menyiasatinya. Dari cerita mereka yang pernah menunaikan ibadah haji pasti menceritakan bagaimana romantikanya mengantri toilet terutama di kawasan armina (Arafah, Muzdalifah, Mina) dengan segala suka dukanya. 

Tanggal keberangkatan semakin mendekat namun hafalan surat belum juga bertambah, hafalan doa masih itu-itu saja, bangun subuh masih saja terasa berat, kesabaran masih belum terjangkau, otak masih penuh prasangka, badan masih sering masuk angin dan perut masih belum mau kompromi. Ya Allah hanya kekuatanMulah yang bisa menghadirkan jiwa dan raga ini mengunjungi rumahMu. Namun rupanya Allah mempunyai rencana lain terhadap kendala yang masih saya rasakan diantaranya dengan serangkaian ujian. Ujian kesabaran dimulai dari ketika harus transfer pelunasan BPIH ke bank, pulangnya harus lama menunggu mobil parkir paralel yang menghalangi jalan keluar. Ketika hal ini saya jadikan status di facebook, beragam komentar masuk yang rata-rata mengompori untuk memancing emosi. Namun saya malah geli teringat istri yang pernah melakukan hal serupa, parkir paralel dengan mobil bertransmisi otomatis. Handbrake sih tidak ditarik, tapi tuas transmisi di posisi P (parkir) ya sama saja bohong… 


salah pakai masker
Ujian kedua sewaktu besama Fey, putri kecil saya yang (saat itu) berusia 7 tahun hendak pergi ke tukang jahit untuk mempermak beberapa celana baru uang akan digunakan selama melakukan ibadah haji. Maklum selama ini saya hanya punya celana jeans di samping celana dinas tentunya. Ini anak memang tidak pernah mau jauh dengan ayahnya. Seperti biasa Fey ikut membonceng sepeda lipat Giant di depan sambil ikut memegangi setang. Selama perjalanan berangkat setir kok ransanya berat dan goyang-goyang tidak stabil. Berhubung tangan Fey yang ikut memegang setang sepeda dialah yang saya tegur selama perjalanan untuk tidak banyak bergerak. Namun alangkah kagetnya dalam perjalanan pulang tidak terjadi lagi, rupanya beban bungkusan platik berisi 3 helai celana yang digantung di setanglah yang membuat jalan menjadi tidak stabil. Astaghfirullah…. begitu mudahnya prasangka dilayangkan kepada anak kecil yang tidak bersalah, dan mungkin sudah berapa orang yang selam ini terzalimi oleh prasangka saya. Namun dari sini saya sadar bahwa membersihkan hati dan meluruskan niat harus diawali dari diri sendiri dan biarlah Allah yang menunjukkan jalan. Bismillah…… perjalanan panjang siap dimulai! 

"kalau dibonceng jangan usil ya Fey..." Hihihiii...

Kamis, 28 Juli 2016

Isyana Sarasvati


Lebih dari 40 tahun sebagai keponakannya tetap saja saya tidak tahu siapa nama aslinya. Tapi kami, para keponakannya memanggilnya Budhe Wardi karena sebagai istri dari almarhum Pakdhe Wardi beliau berhak menyandang gelar itu. Kami tidak berani memanggilnya Budhe Celine Dion atau Budhe Isyana Sarasvati karena akan terdengar wagu. Lebih wagu lagi kalau dipanggil Budhe Arnold Schwarzenegger. Beliau adalah kakak kandung Bapak selisih beberapa tahun. Menilik usia Bapak yang (diperkirakan) 72 tahun, dapat dipastikan usia beliau lebih dari itu. Ya iyalah… Okelah mari kita asumsikan usia beliau 77 tahun. Sepakat? 


Masa kecil kami, saya dan kedua kakak, sangat dekat dengan beliau karena rumah beliau di Wonogiri (agak) kota yang hanya sekira 500an meter dari rumah Bapak dapat dengan mudah dijangkau dengan sepeda jengki kebesaran kami bertiga. Kebesaran dalam arti sebenarnya karena untuk duduk di atas sadel atau kaki bisa mengayuh pedal adalah suatu dilema berat yang mau tidak mau harus dipilih. Oh iya, rumah kami berdekatan karena dipersatukan takdir sebagai sesama korban penggusuran pahlawan pembangunan Waduk Gajah Mungkur meski berasal dari kecamatan yang berbeda. Bapak yang asli Nguntoronadi telah menetap di Baturetno setelah mempersunting Ibu sedangkan Budhe tetap di kampung kelahirannya. 


Saat itu tahun 80an, Budhe berputra 3 orang dan dua di antaranya sudah menikah dan tinggal di lain pulau. Nalurinya sebagai seorang ibu yang telah ditinggal anak menikah pasti tetap menginginkan ditemani anak-anak agar hari-harinya tidak terasa sepi. Oleh karena itulah meski kata orang beliau galak tapi kami bertiga sangat dimanjakan bila main atau bermalam di rumahnya, terlebih kami ini lucu, menggemaskan, baik hati dan tidak sombong. Rajin menabung lagipula pintar. Oh, boy… Almarhum Pakdhe, sebagai pensiunan pegawai PJKA memang orangnya pendiam untuk mengimbangi Budhe yang cerewet. Hari-harinya diisi dengan kesibukan sesuai hobinya sebagai tukang kayu. Apapun dibuatnya sendiri dari kayu bekas bantalan rel kereta; meja, kursi, lemari, kulkas, dipan dan lain-lain. Pernah suatu kali berusaha membuat Pinokio, tapi gagal. Ditunggu berhari-hari tak juga hidup.

Kini kami sudah tidak bertetangga lagi. Bapak pindah ke Solo dan Budhe telah kembali ke tanah kelahirannya mengikuti anak bungsunya (yang sekarang sudah memiliki cucu) agar tetap ada yang merawat beliau. Setiap tahun kami selalu mengunjungi pada hari pertama lebaran untuk bersilaturahim. Ada perasaan getir yang kian lama kian terasa saat kami bertemu beberapa tahun belakangan. Ya, ingatan beliau semakin lama semakin terhapus meski secara fisik masih bugar. Awal-awalnya sih beberapa tahun yang lalu kami menganggap beliau sedang bercanda dengan berkali-kali menanyakan hal yang sama, karena memang bercanda itulah yang mendominasi obrolan selama bertamu. 


Terakhir, lebaran tahun ini seperti biasa kami ke sana. Bapak, Ibu, anak, mantu dan cucu lengkap 15 orang. Daya ingatnya makin memprihatinkan dimana hanya kami berlima yang mampu dikenalinya. Menantu apalagi cucu-cucu Bapak yang mulai dewasa sama sekali tidak diingatnya. Dalam 5 menit beliau bisa dua kali bertanya ‘Iki sopo’ ke anak-anak saya atau ke kakak ipar saya. Bahkan bagaimana beliau sangat exited mendengar saya sudah menikah sampai-sampai diciuminya istri saya berkali-kali. Maklum, keponakan tersayangnya ini waktu kecil dulu paling lucu, menggemaskan, baik hati dan tidak sombong. Rajin menabung lagipula pintar. Oh boy… 


Jangankan untuk mengingat kedatangan kami, beliau sering lupa bahwa suaminya telah meninggal. Sesekali bercerita suaminya ‘sudah berada di dalam tanah’ tapi 10 menit kemudian menjelaskan bahwa Pakdhelah yang selama ini menyapu lantai rumah. Setengah bercanda, sebelum berangkat silaturahim kakak saya mengusulkan kepada Bapak untuk tidak perlu ke sana karena percuma saja dalam beberapa jam setelahnya Budhe tidak bisa mengingat kehadiran kami. Bisa dimaklumi karena perjalanan Solo – Nguntoronadi yang sebetulnya mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi menjadi sangat memakan waktu di hari pertama lebaran. Tapi apa jawaban Bapak? 

“Memang Budhe sudah tidak ingat apa-apa sama kita, tapi yang penting kita yang masih ingat Budhe” 

Sehat terus ya Budhe Isyana... :) 


Kamis, 30 Juni 2016

Ampun Dije....


Mata bocah itu polos menatap berkeliling di sebuah keriaan hajatan warga. Tubuhnya diam tak seperti lainnya. Menilik cara berdirinya yang canggung di pojok di sebuah tanah kosong di kampung pinggiran sungai yang membelah provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur menyiratkan bahwa dia asing di tempat itu, begitupun dari pakaian yang dikenakan sedikit lebih bagus dibanding orang-orang di sekitarnya. Mengenalan alas kaki, tak seperti kebanyakan pemuda-pemuda berkeringat di sekitarnya. Sementara itu ingar bingar musik dangdut memekakkan telinga berasal dari sepasang loudspeaker berukuran setinggi orang dewasa hanya berjarak dua tumbak dari tempatnya berdiri. Puluhan pemuda-pemuda berkeringat dengan tangan terangkat dan pinggul bergoyang tengah asik berjoget mengikuti hentakan suara kendang irama dangdut murni yang saat itu – tahun 80an – nuansa koplo belum ditemukan. 

Seorang pria paruh baya bermuka datar dengan rokok menyala di tangan sibuk mengoperasikan sebuah tape recorder dari mana suara menghentak itu berasal. Sesekali tangannya memutar tombol-tombol amplifier rakitan yang bocah itu tak mengerti apa pengaruhnya ke suara setiap sentuhan tombol. Puluhan kaset berderet di sebuah meja di sampingnya, sementara seorang yang lebih muda darinya sibuk memilih-milih kaset lagu yang sedang ngepop di jaman itu. Ia perlu memutar kaset dengan tape recorder kecil lain agar posisi pita ada di lagu yang dimaksud. Tak mau terganggu ingar bingar sekelilingnya, telinganya harus ditempelkan ke speaker tape kecil itu. 

Terbersit tanya di benaknya mengapa orang-orang berjoget begitu gembiranya hanya dengan mendengarkan sebuah tape recorder, hal bisa dilakukan kapanpun di rumah. Merasa bukan komunitasnya, tak lama si bocah beringsut meninggalkan tempat itu. “Kampungan…” dengusnya. Kelak si bocah baru mengerti bahwa tape recorder termasuk barang mewah dan langka di kampung itu. 

*

Belum lama malam menjelang dan coffee shop sebuah hotel berbintang 5 di Batam itu tampak lengang. Dengan asap rokok mengepul, di sudut ruang terlihat dua pria sedang ngobrol santai sambil menyecap coffee late tampak bahwa keduanya adalah kawan lama yang jarang bertemu. Seorang berbadan gemuk, berpenampilan santai dengan kaus dan sandal hotel dan seorang lagi pria berambut tipis mengenakan jaket kulit dan berpakaian lebih rapi menandakan dia yang mendatangi sang kawan di hotel tersebut. 

Alunan penyanyi bersuara mesosopran dengan iringan piano dan saksofon lembut acap kali menjeda obrolan keduanya untuk sejenak larut dalam irama lagu. Ya, karena keduanya sangat menikmati musik terutama yang dimainkan secara langsung. Bukan tanpa sengaja pemilihan hotel tempat menginap sang kawan adalah atas rekomendasi si rambut tipis karena kualitas bermusik dan pemilihan lagu si mesosopran - yang belakangan diketahui merupakan pasutri dengan pianis - sangat cocok dengan karakter keduanya yang usianya beranjak meninggalkan 30an. 

*

Sabtu, nyaris tengah malam penghujung Ramadhan di sebuah mall di Jakarta Utara, seorang pria nyaris gundul berusia di atas 40 tahun ditemani dua anak perempuannya yang tengah beranjak dewasa menyandar lelah pada railing lantai 2 di atara lalu lalang para pemburu barang diskon. Energi mereka bertiga sudah cukup terkuras - setelah seharian berpuasa dan sholat tarawih - untuk terus berbelanja memanfaatkan diskon besar dalam gelaran Jakarta Midnight Sale malam itu. Tak seperti ibu kedua gadis itu yang entah di toko mana masih bersemangat dan telaten berburu barang yang selama ini diidamkan namun belum kesampaian untuk dimiliki. Si pria memang membebaskan untuk membeli apapun yang diinginkan karena percaya sang istri tak akan membeli sesuatu yang berlebihan, karena kepercayaannya menuntun bahwa hasil kerja istri adalah hak istri sepenuhnya akan digunakan untuk apa.

Memandang ke lantai 1 tepat di bawahnya, ada sebuah hall terbuka mulai sepi meskipun acara belum selesai. Sebuah acara untuk anak-anak – karena produk yang dijual adalah mainan – yang entah mengapa hiburan di panggung berupa aksi Disc Jockey (DJ). Seorang perempuan muda berkulit putih bersih dan berambut panjang dengan pakaian trendy tengah memainkan alat yang di mata si nyaris gundul mirip kompor gas dua tungku milik ibunya. Yang membedakan hanya terdapat banyak tombol di tengahnya. 

Di kanan dan kiri mbak DJ, atau sekira dua tumbak dari tempatnya berdiri, sepasang loudspeaker setinggi orang dewasa memuntahkan suara berdentum memekakkan telinga irama dengan beat cepat diselingi bebunyian tak lazim. Sambil turut bergoyang, mbak DJ dengan jari lentiknya yang licah memainkan tombol-tombol di kompor gas yang lagi, bagi pria yang bersandar di railing lantai 2 tak mengerti apa pengaruhnya ke suara setiap sentuhan tombol. Sesekali tangan kiri si mbak DJ mendekatkan headphone beats ke telinganya seakan tak mau terganggu ingar bingar sekelilingnya,. Ingatan si pria melayang puluhan tahun yang lalu saat si “asisten DJ” menempelkan telinganya ke tape kecil nun jauh di sebuah kampung pinggir sungai.

Malam kian larut, efek kurang kafein yang jarang dikonsumsinya selama Ramadhan mulai membuat pria itu mengantuk. Matanya terasa berat. Pandangannya mulai kabur. Namun efeknya sungguh ajaib, dari balik kaca mata minusnya ia melihat lantai di depan mbak DJ yang tadinya diisi display mainan sontak dipenuhi puluhan remaja-remaja berpakaian modis, nyaris semua perempuannya berbusana seksi. Tangan mereka ke atas, sementara pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti dentuman irama. Lampu mendadak redup namun dipenuhi kilatan lampu warna warni. Tak percaya dengan pandangannya, pria itu kucek-kucek matanya. Ajaib! kerumunan berubah menjadi puluhan pemuda berkeringat sebagian tak beralas kaki masih dengan tangan di atas dan pinggul bergoyang-goyang.

Tak lama si pria beringsut meninggalkan tempat itu. Digandengnya tangan kedua anak gadisnya yang belum mengerti apa yang terjadi. “Kampungan….” dengusnya, entah ditujukan kepada siapa.

Jumat, 17 Juni 2016

Nasar


Membaca judul tulisan ini jangan salah sangka saya telah berubah menjadi biang gossip ya, Bukan… bukan Nassar penyanyi itu (gambar kiri) yang ingin saya bahas, Kawan. Kali ini tulisan saya adalah mengenai burung. Oh bukan, bukan burungnya Nassar, karena saya tidak tahu persis Nassar punya burung apa tidak. Justru saya yang harus berbangga karena biarpun kecil saya punya burung dan berfungsi dengan sempurna. Ya, saya mempunyai peliharaan seekor burung kenari kecil berwarna kuning tweety yang sesuai fungsinya bersuara aduhai merdu lagi panjang nian… 

Sekali lagi bukan kenari kecil yang saya bahas. Sesuai cover di atas, yuk kita berkenalan dengan burung nasar (gambar kanan). Bagi sebagian orang barangkali akan merasa jijay bajay dengan keberadaan burung ini. Bagaimana tidak? Melihat bangkai binatang saja - apalagi yang setengah membusuk - kita jijik bergidik,.lha kok malah dijadikan makanan main course-nya. Dapat dimaklumi jika sebagian dari kita mengidentikkan burung nasar dengan keserakahan dan kerakusan dilihat dari bagaimana caranya saling berebut makanan yang saling sikut dengan sesamanya. Tapi apakah benar binatang ini Allah ciptakan dengan stigma negatif tersebut?

Sekilas Nasar ini bener-bener burung yang tidak punya perikemanusiaan. Masih ingatkah Kawan dengan kasus Kevin Carter seorang jurnalis foto yang bunuh diri setelah mendapat penghargaan Pulitzer namun menuai kecaman atas fotonya di Sudan tahun 1993? Ya, foto yang menghebohkan tersebut adalah tentang seorang gadis cilik kelaparan yang kesulitan merangkak sementara seekor burung Nasar mengintai dengan tidak sabar menunggu menjadi bangkai dan siap memangsanya. Mengapa harus menunggu menjadi bangkai, karena kodratnya bukan sebagai predator jadi sangat jarang ditemui burung ini menyerang mangsanya. Meski Carter berulang kali menjelaskan bahwa pada akhirnya gadis tersebut selamat namun rasa bersalah tetap menghantuinya dimana seharusnya dia menolong dan bukan mengambil fotonya. 

Menjadi pemangsa bangkai mungkin bukanlah pilihan jalan hidup yang harus dijalani burung ini. Tapi apa daya beratnya beban hidup sehingga ia harus berdamai dengan takdir untuk menerima peran sebagai tukang bersih-bersih bangkai yang harus dijalani dengan ikhlas. Ya, tukang bersih-bersih. Mirip seperti tukang sampah petugas kebersihan berwarna oranye yang sering kita temui di jalanan. Bayangkan apa jadinya sebuah kota tanpa adanya petugas kebersihan. Begitu pula dapat dibayangkan apa jadinya ekosistem besar dunia ini bila sebagian besar binatang liar yang mati menunggu waktu yang lama untuk menjadi busuk dan terurai. Bayangkan bau yang ditimbulkan dari jutaan bangkai, berkembang pesatnya serangga hingga penyakit yang tersebar mulai rabies hingga anthrax yang bukan band metal itu. 

Peran penting burung nasar bagi keseimbangan ekosistem itu tidak terlepas dari keunikan sistem pencernaannya dimana asam dalam perutnya mampu membunuh patogen. Jadi sangat jarang ditemui burung nasar belanja obat diare di apotik gara-gara dia salah makan, entah itu di*tab, entr*stop atau n*rit. Itu semua tidak terlepas dari didikan induknya yang sejak kecil sudah melatih dengan makan bangkai binatang sebagai makanan pendamping ASI. Subhanallah ya… Oh iya, masalah berkeluarga biarpun makanannya jorok tapi jangan diragukan lagi kesetiaan burung ini terhadap pasangan hidupnya. Burung nasar adalah makhluk monogami yang hanya mempunyai satu pasangan selama hidupnya. Co cwiiiiit…. 

Sangat disayangkan eksistensi burung ini menghadapi ancaman serius bahkan beberapa spesies telah dinyatakan punah. Bukan karena perilaku monogami itu lho ya penyebabnya…. Jika predator alami bagi nasar adalah ular dan kucing besar, saya yakin Allah sudah mengatur keseimbangan jumlah masing-masing mata rantai makanan di bumi ini. Ancaman terbesar bagi burung ini adalah siapa lagi kalau bukan manusia dengan segala keserakahannya. Untuk dimakan? Tentu saja tidak. 

Perburuan liar terhadap binatang eksotis di Afrika misalnya untuk mengambil gading gajah dan cula badak turut berperan dalam pembunuhan masal burung nasar. Para pemburu akan meninggalkan bangkai gajah atau badak setelah mengambil gading ataui cula dan menaburkan racun pada binatang tersebut. Mengapa? Agar kawanan burung nasar yang mempu melihat bangkai dalam jarak 30 km itu akan segera mati setelah makan bangkai sehingga tidak menimbulkan kecurigaan jagawana yang dapat mendeteksi kegiatan perburuan dari keriuhan burung bangkai. 

Masih dalam penggunaan racun, sifat pendendam manusia terhadap predator binatang ternak mereka – semisal singa – turut menyumbang kematian masal burung nasar. Biasanya setelah menyerang kandang ternak dan membunuhnya seekor singa tidak langsung memakan korbannya. Pemilik ternak yang dendam kadang-kadang menaburi racun untuk membunuh sang predator, yang akan kembali bersama kawanannya untuk menyantap buruannya. Akibatnya kawanan singa mati keracunan, dan selanjutnya bisa ditebak kawanan burung nasar yang memakan bangkai singa akan menyusul mati. 

Akibat rusaknya rantai makanan di atas menimbulkan akibat yang luar biasa bagi manusia. Akibat tidak langsung (selain merebaknya penyakit) misalnya tercatat di India dimana mayoritas sapi mati begitu saja karena tidak dikonsumsi sementara populasi sapi terbesar ada di sana. Bangkai sapi menjadi monopoli anjing liar yang segera melonjak 4 kali lipat dalam 11 tahun, pun demikian dengan populasi tikus. Kematian manuisia akibat rabies meningkat drastis dan diperkirakan merugikan 460 trilyun rupiah untuk pengurusan jenazah, pengobatan dan sebagainya. 

 Peningkatan populasi manusia diperkirakan turut mengancam kelangsungan hudup nurung nasar. Dengan semakin banyaknya penduduk bumi, semakin banyak lahan pertanian yang diperlukan untuk menghidupi mereka yang otomatis akan menggusur hutan sebagai habitat binatang yang dapat dimangsa burung nasar. 

Jadi, masihkah kita peru jijik dengan Nasar? Atau perlukah kita mencintai Nasar? Tarik maaaang...


(sumber : NGI, Hanter, dll)