Kamis, 16 November 2017

Jangan Salahkan Gajah Mada


Derap langkah kuda dengan iringan prajurut gagah berani meninggalkan kepulan debu tipis memecah keheningan sore itu. Mentari yang tengah menuju peraduan di balik laut biru masih menyisakan kehangatan seolah menyambut keberhasilan pasukan Sultan Babullah (1570-1583) setelah mengalahkan pasukan Portugis di Benteng di Kastela (Santo Paolo Pedro) dan mengambil jenazah ayahnya, Sultan Khairun yang dibunuh secara kejam oleh tentara Portugis didalam benteng tersebut. 

Di belakang sana, semburat keemasan puncak Gunung Gamalama menambah suasana syahdu. Lirih iringan tetabuhan terasa makin jelas di telinga saya seiring dengan memudarnya imajinasi derap kaki prajurit nan gagah menjadi lincah gerak kaki bocah kecil seirama dengan hentakan iringan tifa. Sejurus kemudian di depan saya beberapa murid SD menarikan Soya Soya Sisi, tarian tradisonal Maluku Utara yang diadopsi dari tari Soya Soya yaitu suatu tarian yang menggambarkan patriotisme pasukan Sultan Babullah. Dalam perkembangannya di kemudian hari tarian ini menjadi ritual penyambutan tamu kehomatan yang berkunjung ke Kesultanan Ternate. 

Siswa SDN 44 Ternate mempersiapkan tari Soya Soya Sisi, penghormatan bagi tamu
Tapi hari ini, 23 Oktober 2017 kamilah yang menjadi tamu kehormatan itu. Para relawan Kemenkeu Mengajar 2 SDN 44 Kota Ternate yang datang untuk sekedar berbagi inspirasi ke anak negeri. Rasanya sulit dibayangkan bahwa 3 hari sebelumnya saya masih meringkuk menggigil di atas kasur. Kalaulah tidak ingat keseruan acara Kemenkeu Mengajar tahun lalu mungkin saya akan lebih merelakan tiket promo yang dibeli jauh hari hangus ketimbang menempuh perjalanan ribuan kilometer demi bertemu wajah polos dan bening mata anak-anak pewaris negeri di Jazirah Al Mulk bagian timur Indonesia ini. 

"piss...."
 
Mengulang sukses gelaran tahun lalu, masih dalam rangka memperingati Hari Oeang ke 71 Kementerian Keuangan kembali mengadakan acara bertajuk Kementerian Keuangan Mengajar 2, suatu kegiatan non DIPA berupa kegiatan mengajar sehari di SD tentang profesi atau bidang pekerjaan yang ada di kemenkeu. Kegiatan ini bertujuan agar anak-anak paham dan diharapkan dapat terinspirasi terhadap peranan negara dalam pendidikan dan kehidupan mereka. Maksud Non DIPA? Sederhananya kami harus membiayai sendiri segala biaya yang timbul dalam kegiatan tersebut dan instansi hanya memberi dispensasi tidak masuk kerja selama satu hari. Bila tahun lalu hanya dilaksanakan di 5 kota dengan melibatkan 600 relawan, tidak tanggung-tanggung tahun ini diselenggarakan secara serentak di 51 kota/kabupaten, 138 sekolah, 36.614 siswa dan 2.500an relawan. 

Biaya yang harus dikeluarkan relawan itu mulai dari akomodasi (terutama bila memilih luar kota), bahan/materi ajar, hingga perlengkapan lenong yang perlu demi menarik perhatian anak-anak. Ini sangat penting, karena mereka adalah kids jaman now yang tidak bakal bisa diberi penjelasan hanya dengan metode auditorial saja, Bila tidak dilengkapi dengan visual dan kinestetik, siap-siap saja mati gaya menghadapi anak-anak yang super aktif itu. Kemudian masih diperlukan lagi perangkat pendukung lain seperti banner, backdrop, asesoris seperti topi, alat tulis dan sebagainya. Kalau ditanya kok mau-maunya sih keluar biaya sendiri? Ya, justru saya tanya balik mengapa tidak, tidak kurang yang telah kita dapatkan dari pengabdian kita ke negeri ini dan tidak ada salahnya sesekali berbagi untuk berkontribusi bagi kemajuan generasi mendatang. Banyak trik dan tips untuk mendapatkan akomodasi murah yang bisa dicari di internet, bukan?

Waktu seumuran anak ini, saya belum pernah berfoto bersama petugas Bea Cukai lho...
Bila tahun lalu saya memilih kota Denpasar untuk berpartisipasi sebagai relawan pengajar (cerita selengkapnya di sini), tahun ini saya tertantang untuk turut menginspirasi anak usia sekolah di kota Ternate. Bukan kebetulan, beberapa alasan bagi saya mendatangi negeri para raja tersebut. Pertama, siapa yang tidak kenal kejayaan Kesultanan Ternate – Tidore? Asal tidak ngantuk waktu pelajaran IPS waktu SD pasti mengenal kejayaan serta kekayaan alam yang dimilikinya di masa lampau. Kekayaan itu yang membuat bangsa lain ngiler untuk menguasai. Kedua, saya tertarik dengan cerita dua orang sahabat baik yang sering meng-explore Ternate dan Maluku Utara dengan cara mereka masing-masing. Mereka adalah Arif Wibowo (www.arifkancil.com) dan Shiddiq Gandhi, rekan seprofesi yang bertugas di sana. Alasan ketiga, boleh dong sekalian travelling, hehehe....

Di luar dugaan di sini saya banyak bertemu dengan kawan-kawan baru relawan yang satu ide dengan saya. Ada Mbak Yanti dari Jakarta (yang ternyata punya hidden agenda), Teh Efie dari Bandung, Dion dari Kupang, Mbak Ida dari Klaten, ada yang dari Manado, dan satu lagi dari mana saya lupa namanya. Masih wilayah Maluku Utara tapi perlu 10 jam mengarungi laut untuk menuju Ternate. Salut Kawan... Kesimpulan pertama, Maluku Utara saja luas apalagi Indonesia.

Itulah mengapa hari ini saya berada di sini, di depan ratusan murid SD dan disambut bak tamu penting usai upacara bendera yang khidmat. Kusapu pandanganku ke arah anak-anak yang akan menjadi muridku hari ini, mencari dan mengantisipasi adanya sosok Gentho yang menjadi “hantu” seperti di Denpasar tahun lalu. Hmmm....harapan saya tidak ada. Dan itu menjadi pelajaran bagi saya, bahwa bisa jadi satu harapan terpenuhi tapi mungkin muncul masalah lain. Sejauh ini saya telah menarik kesimpulan kedua, berharap atau berdoalah yang lengkap.

Di sebelah kanan saya adalah Pak Musafak, Kepala Bea Cukai Ternate yang mendadak menjadi Inspektur Upacara

“Selamat pagi anak-anak...” sapaku. 

“Selamat pagi Bapak” jawab mereka kompak. Termasuk kompak dalam melafalkan “e” seperti caraku melafalkan ‘setan’. 

Menurut penjelasan MC acara penyambutan seorang pak guru yang saya bahkan lupa menanyakan namanya atau memperhatikan nama di dada kanannya, jangankan dalam percakapan sehari-hari, bahkan cukup sulit mencari MC kelas provinsi sekalipun yang bisa dengan tepat melafalkan huruf ‘e’. Ditambahkan oleh guru kelahiran Manado yang menghabiskan waktu belajarnya di pesantren Gontor, S1 di Malang dan S2 di Solo ini bahwa biasanya tes pertama seorang MC terutama bila ada tamu dari Jakarta adalah simpel, cukup melafalkan huruf itu. Okelah kita sebut saja dia Pak Guru MC. 

Selanjutnya mengalir saja, mereka sangat antusias mengetahui saya datang dari Jakarta. 

“Setinggi apa monas itu Bapak?” tanya salah seorang murid. 

Setengah gelagapan karena tidak tahu persisnya, kujawab diplomatis “Sangat tinggi Nak, kira-kira sepuluh kali batang kelapa. Tapi setinggi apapun Monas, cita-citamu harus lebih tinggi dari itu” 

“Anak-anak, tahukah kalian di mana kekayaan alam terbesar beberapa abad yang lalu tersimpan? Yang membuat bangsa kulit putih berebutan menguasai tanah dan kekayaan berbentuk rempah-rempah itu?” 

Kriik kriik…..mereka diam. 

“Tidak usah kalian mencarinya jauh-jauh. Tanah itu ada di sini, di bawah kalian. Yang setiap hari kalian injak. Berbanggalah…. Kejayaan nusantara berabad-abad lalu berawal dari sini. Tidak ada apa-apa di Jawa, tidak ada apa-apa di Jakarta. Setelah kalian besar, bangunlah tanah kelahiranmu karena kalau bukan akan masuk bangsa lain yang mengincar dan bisa jadi sejarah akan terulang. Kuasai cara becocok tanam, cara menangkap dan bududaya ikan agar kalian dapat mengembalikan kejayaan rempah seperti berabad lalu. Ingat, kejayaan itu yang membuat bangsa Eropa ingin memiliki dan menguasai tanah ini. Contohlah kegigihan Sultan Khairun dan Sultan Babullah…! Panjang lebar saya gambarkan bagaimana kita dimanja dengan limpahan kekayaan alam dari yang Mahakuasa. 

Mereka masih diam, pandangan matanya entah antusias entah tersihir atau apa. Puas sekali rasanya bisa membangkitkan inspirasi mereka, paling tidak harapanku seperti itu. Rasa-rasanya saat itu saya menjadi Bung Karno yang diberi 10 orang pemuda. 

Sesi selanjutnya barulah saya memberikan materi sesuai petunjuk yang diberikan Shiddiq sekalu koordinator kota Ternate untuk Kemenkeu Mengajar 2 sehari sebelumnya, yaitu penanaman nilai-nilai luhur dan nilai-nilai Kementerian Keuangan kepada murid dan motivasi untuk menggapai apapun cita-cita mereka. Seperti tahun lalu, sesi ini suara saya nyaris tenggelam dalam keriuhan celotehan mereka. Kesimpulan ketiga, Denpasar = Ternate.

Satu, dua, tiga..... terbangkan cita-citamu dan ketuklah pintu langit agar tercapai suatu hari nanti
Yang menarik bagi saya ialah saat siang hari saat kegiatan belajar selesai. Murid-murid berkumpul di lapangan upacara untuk menerbangkan cita-cita yang diwakili oleh pesawat kertas buatan masing-masing yang tertulis nama dan cita-citanya. Itu adalah simbol bahwa cita-cita harus setinggi mungkin. Beragam profesi ada di situ, yang bisa dipastikan beberapa jam sebelumnya beberapa di antara mereka belum tahu cita-cita yang sekarang mereka tulis. Pajak, Bea Cukai, Bendahara dan sebagainya. 

Usai itu, pemberian cindera mata dan bunga dari pihak sekolah dan murid-murid. Di sini baru terlihat perbedaan usia dimana relawan muda dan ganteng menjadi pusat perhatian, diajak foto bersama, ditarik-tarik, dimintai tanda tangan, diberi banyak bunga yang sampai akhir acara saya tidak mendapatkan satupun. Bahkan belakangan saya ketahui sudah ada WA group antara relawan dengan murid-murid yang menggunakan profil Putra, pegawai Bea Cukai muda di KPBC Ternate. Kesimpulan keempat, bila Kawan ingin berpartisipasi dalam kegiatan kerelawanan atau minimal ingin mendapat bunga, mulailah sejak muda.
Putra sang idola
Kemeriahan sambutan luar biasa masih berlanjut. Di ruang kantor SD telah tertata rapi dua meja hidangan, satu menu nasional dan satu menu tradisinal. Sebagai omnivora sejati saya dengan lahap menyantap berbagai olahan sayuran dan ikan yang saya tak perlu bertanya apa nama masakannya dan apa nama ikannya. Mungkin kalau tahu lima jenis ikan yang ada di meja, saya akan mendapatkan sebuah sepeda dari Pak Presiden Jokowi. Setelah perut kenyang, tambah lagi kebahagiaan saya ketika rombongan kami didaulat ibu-ibu guru untuk menari bersama mereka mengikuti irama musik. Kata mereka, itu sudah menjadi budaya setempat. Ya, siapa tak kenal tarian Poco poco. Dari sinilah tarian itu yang lamaaa sekali jadi iringan wajib senam di Jakarta sebelum tergusur Maumere. 

Makin muda makin banyak bunga. Paling kiri Bobye, pegawai Bea Cukai Ternate asli Maluku kawan sekantor saya di Tanjung Priok 9 tahun yang lalu. Dia yang paling komunikatif dengan murid-murid. 
“Program pertukaran pelajar itu banyak postifnya lho Pak” sambung Pak Guru MC dalam obrolannya. “Entah mengapa itu seperti tidak ada kelanjutan lagi. Saya bertahun-tahun merantau di Jawa masih kesulitan dalam adaptasi. Tentang kebudayaan kita yang sangat beragam, adat istiadat dan sebagainya” 

“Betul Pak” jawab saya “Negara kita luas sekali, keberagaman harus kita jaga. Saling memahami dan menghormati adalah kuncinya”. Nyambung nggak ya? Pokoknya itulah maksud saya. Jangan sampai Sumpah Palapa Patih Gajah Mada ternoda. Kesimpulan kelima, Patih Gajah Mada turut menyumbang keuntungan maskapai penerbangan nasional karena banyak rekan seprofesi kami terpaksa LDR sehingga bolak balik ke tempat tugas dan homebase akibat wilayah Majapahit cikal bakal Indonesia terlalu luas.

Pak Guru MC melanjutkan “Termasuk dalam hal Bahasa, perlu juga Bapak ketahui bahwa anak-anak di sini dalam berkomunikasi sulit memahami Bahasa Indonesia baku yang diucapkan orang Jakarta” 

Makjlebbb…. Seketika terbayang tatapan mata anak-anak di kelas tadi. Dan di situ kadang saya merasa sedih. (Yang ini tidak usah disimpulkan).






Bonus :

Rabu, 31 Mei 2017

Umrah (A Pilgrim's Journey Eps 7)



Thawaf umroh saat itu bukan tanpa perjuangan dengan sesaknya umat Islam dari seluruh penjuru dunia berniat hal yang sama. Bagaimana nati dengan towaf ifadah? Pasti akan lebih penuh sesak lagi. Baru kali ini saya menyaksikan satu dari keagungan Allah yang mana telah menciptakan berbagai ras manusia di muka bumi, dan semua terkumpul di Masjidil Haram. Walaupun berbeda-beda tetapi hanya satu tujuan mereka, yaitu mencari ridlo Illahi sebagai insan yang bertaqwa. Terasa benar firman Allah 
‘Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’ (QS. 49:13). 
Tidak lama kami telah berbaur dengan ribuan manusia - tua muda, laki-laki perempuan, dari yang gagah tinggi besar sampai yang tua bongkok hingga tubuhnya nyaris 90 derajat - memulai putaran thowaf pada rukun Hajar Aswad. Untuk menandai garis lurus pojok Ka’bah sebagai garis start dan finish sekaligus perhitungan putaran thowaf, di sisi kanan (pada bangunan masjid) terdapat lampu sebagai tanda. Satu putaran baru terselesaikan namun keringat telah membasahi kepala dan seluruh tubuh karena teriknya sinar matahari saat itu meskipun waktu baru menunjukkan pukul 10. Tapi apalah artinya panas jika tak dirasakan dalam hati yang tenggelam dalam kekhusyukan ibadah. 

Singkat cerita 7 putaran telah terselesaikan setelah berjuang sekuat tenaga agar tidak terpisah dari rombongan. Meskipun telah berusaha, namun tubuh kecil orang Indonesia dan sifatnya yang rata-rata suka mengalah tak urung membuat rombongan kami terpencar juga, terdorong kadang menjauhi ka’bah, kadang dekat dengan ka’bah. Jamaah Afrika dan Turki rata-rata paling solid mempertahankan rombongan meskipun harus mengesampingkan adanya jamaah lain. Main dorong saja yang dianggap mengganggu di depannya. Ya sudahlah, mending melakukan thowaf dalam rombongan kecil saja daripada ibadah terganggu konsentrasi agar tidak terlepas dari rombongan besar atau hati dongkol disikut orang berbadan gede. Hitam lagi… 

Selepas thowaf, kami segera mencari tempat belakang Maqam Ibrahim guna melakukan sholat 2 rokaat. Lagi-lagi perlu perjuangan ekstra untuk mencari sekedar sejengkal ruang kosong untuk melakukan sholat. Meskipun sudah menggunakan jurus 'mata elang mencari mangsa' saya mencari tempat, tak urung harus sholat terpisah dari istri juga karena sulitnya mencari tempat untuk sholat bersama. Itupun dengan posisi sujud dagu nyaris menempel dengan dengkul. Mirip orang meringkuk kedinginan. 

Seusai sholat segera saja kami mencari air zamzam disamping itulah yang dicontohkan oleh Nabi saw, tubuh ini rasanya hampir mengalami dehidrasi selepas terpanggang matahari saat thowaf. Setelah memanjatkan doa ‘Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an wa rizqon waasi’an wa syifaa’an min kulli daa’in’ (Ya Allah aku memohon padamu ilmu yang manfaat, rizqi yang luas, obat dari segala penyakit), dinginnya air zamzam terasa nikmat sekali membasahi kerongkongan. Subhanallah, pertama kali minum air zamzam langsung dari sumbernya makin merasakan kedekatan hamba yang hina ini dengan penciptanya. 

Ritual terakhir dari rangkaian umroh adalah sa’i atau berlari lari kecil dari bukit shofa dan bukit marwa sebanyak tujuh kali sebagaimana perjuangan Siti Hajar mencari air untuk Ismail putra tercintanya. Memasuki putaran keempat, jalur sa'i semakin sempit karena jamaah yang akan sholat dzuhur telah menampati mas’a (jalur sa’i). Semakin lama jalur bertambah sempit, ditambah lagi dengan anjuran membaca doa pada waktu baik di shofa maupun marwa sambil menghadap kiblat. Ini sulit dilakukan karena ketika berhenti untuk berdoa pasti ditabrak dari belakang. Minimal didorong. Akhirnya doa dibacakan sambil tetap berjalan saja. Sa’i selesai tepat saat iqomah dikumandangkan. 

Berhubung sudah tidak lagi bisa berjalan karena sesaknya manusia, saya langsung sholat di tempat itu meskipun di depan saya tetap dijadikan lalu lalang orang lain. Bahkan sempat harus sujud di bawah langkah kaki yang berwarna hitam. Buka karena jarang dicuci tapi memang karena begitu sejak beliau sang empunya kaki dilahirkan. Sebetulnya mas’a ini walaupun menempel tatapi dianggap terpisah dari Masjidil Haram dan bukan bagian dari masjid. Oleh karenanya perempuan yang sedang berhalangan tetap diperkenankan melakukan sa’i. 

Keinginan saya untuk khusyuk dalam ibadah cukup berhasil merubah sikap yang semula sulit untuk mengalah menjadi penuh tepo seliro terhadap orang lain. Sikap ini juga yang membuat saya dan istri terpisah dari rombongan. Usai sholat Dzuhur kami berdua segera menuju meeting point favorit, di depan Zamzam tower. Lautan putih sempat membuat kebingungan mencari di mana rombongan kami. Alhamdulillah syal warna pink yang sebelumnya sempat saya keluhkan karena warnanya kurang maskulin (lagipula Februari masih 3 bulan lagi) cukup memandu rombongan untuk berkumpul kembali. Pengalaman Ikbal sebagai penyelenggara memilih warna itu ternyata karena warna-warna yang lain –merah, biru, hijau, kuning, dan sebaginya- sudah terlalu banyak digunakan oleh rombongan lain. 

Bagian yang paling disukai ibu-ibu : belanja
Saat menunggu bis datang, karena di sekitar Masjidil Haram banyak sekali toko-toko penjual souvenir beberapa ibu-ibu tidak tahan untuk tidak sekedar window shopping atau sekedar bertanya harga-harga souvenir yang sebetulnya telah dibelinya di pasar tanah abang. Mungkin hanya sekedar membandingkan harga saja. Menjelang waktu Ashar telah sampai di penginapan untuk (benar-benar) beristirahat.

Jumat, 28 April 2017

Roti Sisir


Mungkin penamaan makanan ini agak sensitif dan membuat baper bagi sebagian orang, termasuk saya. Lha bagaimana tidak kalo setangkup roti saja kok dinamakan benda yang sudah bertahun lamanya tidak saya butuhkan. Apa ya ndak ada nama lain? Roti stapler misalnya, atau roti sikat gigi, roti jam wekker, roti bunga tulip Babah Liong, roti payung teduh atau apalah wong bentuknya juga begitu-begitu saja sebagaimana layaknya roti. Masih mending kalau bentuknya menyerupai pisang yang dalam satuannya ada yang disebut sisir. Ah sudahlah apa arti sebuah nama, yang penting rasanya Bung! 

Bagi generasi sekarang mungkin tidak banyak lagi yang mengenal roti ini karena sekarang banyak ragam jenis roti dan makanan tercipta dari berbagai merk. Tapi bagi generasi (agak) jadul roti ini memiliki kenangan tersendiri. Saya tidak tahu persis kapan mulai ada, yang jelas tahun 80an saat SD saya gemar sekali makanan ini. Berbentuk agak menyerupai setengah lingkaran dan biasanya berlapis dua atau tiga berlapis gula dan mentega yang lezat, lidah saya tidak lupa rasanya sampai saat ini. Bisa jadi jaman dulu belum banyak ragam roti atau memang beliau juga suka, yang jelas Ibu saya sering membawakan oleh-oleh roti sisir dibanding Bapak yang membawakan roti semir yang tak kalah lezatnya. Silakan dibayangkan sendiri seperti apa bentuk roti semir. Saya malas membahasnya. 

Seperti Kamis malam minggu lalu di minimarket kawasan parkir bandara Adi Sucipto Yogyakarta, kenangan masa kecil roti sisir menuntun tangan saya untuk mengambil sebungkus roti sisir disamping sebotol air mineral untuk menemani perjalanan Yogya – Solo dengan mobil sewaan. Sedikit lega setelah landing di kota ini saya baru tersadar perut minta diisi setelah berjam-jam dalam kondisi panik dan tidak menentu melupakan makan siang. Pagi sebelumnya, agak kaget juga menerima kabar dari kakak perempuan saya bahwa Bapak disarankan untuk operasi hernia. Whaat? Sejak kapan Bapak menderita sakit, wong baru 2 minggu sebelumnya beliau pulang dari Jakarta dan selama tiga minggu di rumah tetap saja tidak bisa diam mengerjakan ini dan itu padahal saya hanya minta untuk mengawasi tukang cat di rumah. 

Memang begitulah Bapak, di usianya yang 72 tahun kondisi fisiknya sangat prima. Tidak pernah mau berhenti mengerjakan sesuatu yang bahkan yang menurut kami, anak-anaknya, sudah tidak seharusnya dilakukan oleh orang seusianya. Saya paling ngeri melihat beliau naik tangga sekedar membetulkan atau membersihkan sesuatu yang tinggi. 
Hari itu juga saya memonitor terus perkembangan dan siangnya bertambah kaget waktu Ibu sms (padahal biasanya komunikasi lewat WA) bahwa Bapak akan dioperasi sore itu juga. Setahu saya hanya kondisi luar biasa yang mengharuskan demikian, seperti keputusan untuk mengoperasi sesar istri saya hampir 17 tahun lalu saat air ketuban terlanjur habis. Satu hal yang sedikit melegakan adalah suara Bapak di ujung telefon yang suaranya sama sekali tidak terlihat sebagai orang sakit. 

Siang itu juga langsung saya putuskan untuk pulang ke Solo dengan hanya memberi tahu kakak-kakak karena saya tahu persis Ibu akan melarang kalua saya beri tahu. Sambil menyelesaikan pekerjaan saya intip tiket ke Solo via online. Setengah tidak percaya melihat angka 7 digit di layar gawai, tambah syok mendengar jawaban agen travel langganan saya 15 menit berikutnya yang mengabarkan habis untuk semua tujuan Solo, Semarang dan Yogya bahkan transit Surabaya atau Denpasar telah ludes. Ada apa ini? Sementara long week end masih dua hari lagi. Tapi apapun yang terjadi saya tetap mengarahkan setir pulang ke rumah dan dengan sedikit persiapan segera menuju bandara dengan taksi. Sebelumnya saya telah minta bantuan teman-teman protokoler bandara untuk mengusahakan tiket ke Solo, Yogya atau Semarang. Alhamdulillah dalam perjalanan saya menerima infomasi tiket ke Yogya berhasil didapat dan akan boarding 45 menit lagi. Thanks sobat… 

Kamis malam pukul 22.00 sambil mengucap salam perlahan kubuka kamar VVIP 6 RS Kustati Solo. Ibuku tampak kaget melihat kedatanganku, sementara Bapak tak kalah kagetnya mencoba untuk bangun menyambut kedatanganku, lupa bahwa pengaruh bius masih membuat tubuh bagian bawah tidak mapu digerakkan. Tapi dari situ saya sudah cukup lega melihat langsung kondisi beliau yang bugar meskipun sebelumnya kakak sudah memberitahu bahwa sesaat setelah operasipun beliau tetap mampu aktif berkomunikasi. 

Setelah sedikit berbasa basi menanyakan kabar akhirnya saya tahu alasan operasi yang mendadak sore tadi. Memang sebetulnya penyakit hernia yang diderita Bapak belum pada tahap yang mengkhawatirkan, malah sebetulnya dokter menawarkan apabila masih akan berikhtiar penyembuhan non operasi. Tapi pertimbangan Ibu dan kakak-kakak agar sekalian tuntas dioperasi saja dan kebetulan kondisi hari itu semuanya telah memenuhi syarat untuk operasi. Dokter ada, ruang rawat tersedia, kondisi kesehatan Bapak yang Alhamdulillah selalu prima (tekanan darah, gula darah dsb dalam kondisi normal) dan hari itu seperti biasa Bapak menjalankan puasa sunnah. 

Sekali lagi terasa lega, baru terasa perut mulai lapar. Sambil tetap ngobrol dengan Bapak dan Ibu segera kurogoh backpack mengambil sisa roti sisir yang tadi dibeli di bandara. Kali ini terasa lebih lezat daripada yang telah saya makan di perjalanan tadi. Lembut, gurih, manis tercecap di lidah meski dinikmati di rumah sakit. Rasanya persis 36 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1980 waktu saya kelas 2 SD harus dirawat di rumah sakit lantaran demam berdarah, roti sisirlah satu satunya makanan yang masuk ke perut kecil saya waktu itu.

Kamis, 13 April 2017

GET OUT

 
Awalnya kami menonton film ini awalnya ngasal saja. Boro-boro cari resensinya, siapa pemeran, seperti apa posternya atau cuplikan yang biasa terpampang di loket penjualan karcis saja sama sekali tidak kami lihat lebih dulu. Alasannya simple, hanya itu yang layak kami tonton. Sabtu siang menjelang sore itu anak-anak kami mengajak nonton bioskop selain karena telah cukup lama – lebih dari dua bulan – kami tidak pergi ke bioskop, mereka ingin nonton film nasional dengan genre horor kesukaan mereka, Danur I Can See Ghost. 

Berhubung istri saya sama sekali tidak tertarik dengan film horor, kami putuskan untuk mencari film yang berbeda dengan anak-anak. Alternatifnya ada Get Out, Ghost in The Shell, The Boss Baby, dan Beauty and The Beast. Ghost in The Shell langsung dicoret dari daftar walaupun belakangan ketahuan bukan film horor. Dua film berikutnya? Hmm…akan terlihat aneh bila pasangan seperti kami menonton film tersebut tanpa membawa anak-anak. Padahal jujur saja sebetulnya saya sangat suka film animasi anak-anak. Sebutlah Despicable Me, Monster Inc, Frozen, hingga Moana dan lain-lain sudah saya tonton. 

Membaca cast di awal film dijamin akan mengernyitkan dahi karena tidak ada pemeran papan atas. Walaupun bukan pula sekelas papan penggilesan. Film diawali dengan kegundahan Chris (diperankan Daniel Kaluuya) yang diajak sang pacar, Rose (diperankan oleh pendatang baru Allison Williams) untuk mengunjungi orang tuanya lantaran selama ini Rose tak pernah bercerita bahwa dia menjalin hubungan dengan pria berkulit hitam. Penah dengar nama dua pemeran di atas? Saya sih belum. Tahu sendiri kan, masalah ras di sana seakan tidak pernah selesai dan inilah yang oleh sutradara Jordan Peele dengan pintarnya diangkat ke kisah film dengan alur cerita yang ringan. Ya, ringan. Ternyata inilah alasan saya menyukai film anak-anak. Biasanya film yang rumit hanya akan membuat saya tertidur di gedung bioskop yang dingin. 

Tetapi walau ringan, film ini tetap menjadi thriller yang berkelas lewat skenario kuat yang juga ditulis oleh sang sutradara. Diawali adegan penculikan seorang kulit hitam oleh seseorang bertopeng besi, istri saya sempat merasa salah pilihan tontonan ketika selanjutnya banyak adegan mengagetkan dan menegangkan selayaknya thriller yang lain. Tidak diragukan lagi Get Out adalah film yang mengandalkan cerita yang disusun dengan seksama untuk membuat penonton terpaku pada kursi bioskop sampai filmnya habis. Terpaku pada kekuatan karakter pemain yang ternyata pada akhir film kita baru bisa membaca beberapa ekspresi bahwa mereka adalah pemain peran baik sebagai penipu calon korban maupun korban yang antara berada dalam pengaruh hipnotis dan pengaruh implan otak. 

Kembali ke cerita, ternyata kedua orang tua Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy (Catherine Keener) tetap menyambut sangat baik dan memperlakukan Chris dengan hangat. Chris sendiri merasa betah, meski saat dalam perjalanan dia dan sang kekasih sempat mengalami kejadian aneh seaneh sikap dua pelayan kulit hitam mereka yang belakangan ternyata mereka adalah kakek dan nenek Rose. Selain itu, dia juga sama sekali tak menyadari bahwa orang tuanya pacarnya itu memiliki benang merah dengan penculikan seorang pria berkulit hitam di di awal cerita. 

Lama-kelamaan Chris mulai merasakan sesuatu yang janggal. Dia mulai mencari-cari informasi, hingga kemudian bertemu dengan seorang pria berkulit hitam dalam sebuah pesta di rumah tersebut. Pria itu menghampirinya dan tiba-tiba berteriak histeris menyuruhnya untuk segera pergi. Hal yang sangat menarik dari Get Out misteri utama cerita yang tersimpan rapi yang membuat penonton mengalami hal yang sama dengan karakter Chris dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan menggiring kita menemukan jawabannya 10 menit terakhir. 

Hingga akhir cerita saya baru nyadar bahwa film ini termsuk low budget menilik settingan film dan properti yang digunakan. Dengan kejeniusan sang sutradara, hal tersebut tidak terasa karena setiap alur film dibuat sedemikian menarik dengan ketegangan-ketegangan. Pantas saja karena film ini diproduksi oleh Blumhouse Production yang juga memproduksi film-film horror berbudget murah tapi sukses di pasar seperti Insidious, The Purge, Oija, Sinister atau yang paling fenomenal Paranormal Activity.

Senin, 20 Maret 2017

Monokrom


Udara segar pagi musim penghujan ramah memenuhi rongga paru-paruku. Sementara mata lekat memandang nyaris tidak ada atmosfer yang berubah sepanjang jalan yang kususuri masih sama seperti 27 tahun yang lalu saat masih berseragam abu-abu putih bersama teman-teman. Deretan kantor, toko, pasar, taman kota, terminal masih berada di tempat semula. Bahkan tulisan nama tokopun sebagian masih sama semenjak aku baru mulai bisa membaca dan selayaknya anak yang baru bisa membaca hobinya semua tulisan yang ada di sekitarnya. Ini mungkin malah sudah nyaris 40 tahun berselang. Ada toko Erlangga, Sembodro, Baru, dan lainnya. Patung dua macan mangap di depan tukang gigi di dekat lampu bangjo Ponten masih setia memamerkan deretan rapi giginya (mungkin itu hubungannya icon macan dengan produk yang dijual). Semuanya membawaku sejenak terlempar ke masa silam puluhan tahun sebelumnya dimana aku menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota ini.
Masih seperti dulu
Inilah Wonogiri, Kawan. Kota kecil yang bagi sebagian perantau malu tidak secara terang-terangan untuk mengakuinya. Stigma negatif sebagai kota yang tidak berkembang karena kondisi alam yang tandus memang sempat melekat dan itu yang membuat sebagian perantau malu berterus terang. Seringkali aku mesti bertanya detil kepada Pakdhe Komar, pedagang mi ayam di pengkolan Jalan Poncol untuk mengetahui asalnya dari Girimarto. Atau Mbakyu Jasmine, penjual jamu gendong keliling asal Nambangan Selogiri. Rata-rata mereka akan mengatakan asal mereka dari Solo. Kalaupun 10 tahun belakangan aku mengatakan akan pulang kampung ke Solo, itu bukan dalam rangka malu mengakui kota kelahiranku tapi karena memang tujuan mudik telah berubah karena perpindahan domisili orang tua. 

Sebenarnya aku tak lebih dari 11 tahun saja tinggal di kota ini, usia 4 sampai lulus SD, dan selama 3 tahun masa SMA dan boleh dikata hanya sepenggal kecil dari perjalanan hidup. Namun masa kecil hingga remaja menyimpan banyak kisah yang tak terlupakan. Itulah mengapa saya langsung konfirmasi kehadiran saat menerima undangan reuni SMA tanggal 12 Maret berselang yang menurutku terlalu sayang untuk dilewatkan. Terlebih banyak teman sekolah yang sama sekali lost contact selama lebih dari 25 tahun. 25 tahun itu seperempat abad, Kawan. Reuni adalah waktu yang tepat untuk menyusun lagi kepingan-kepingan memori yang terserak dan tertumpuk panjangnya perjalanan waktu.
Aku masih ingat benar pertama kali menginjakkan kaki di halaman SMA N 1 Wonogiri tahun 1988. Saat itu merasa benar-benar terasing. Bagaimana tidak? Selepas menamatkan SMP di Solo praktis hanya teman-teman yang pernah satu SD saja yang kukenal. Aris, Jenar, Kandar, Alfi, Anton, dan Atik. Sementara mayoritas adalah lulusan SMP N 1 yang karena Bapak menjadi guru di SMP tersebut membuatku lebih cepat dikenal daripada aku mengenal teman-teman baruku. Lingkungan sekolah lamaku yang membuatku terbiasa bergaul dengan teman perempuan berjilbab, membuatku lebih cepat menghafal teman perempuan dari bentuk rambutnya daripada teman laki-laki. Bahkan sampai sekarang (meskipun bertemu lagi 27 tahun setelahnya) aku masih ingat betul jenis dan potongan rambut mereka. Dari sekian banyak teman perempuan, hanya satu yang membuatku cepat kuingat.
Itulah masa-masa yang menurut penuturan Pak Mulyadi, perwakilan guru yang dalam sambutannya dikatakan masa pencarian jati diri yang biasanya ditandai dengan kenakalan, usil, kreatif dan sebagainya sambil  mencontohkan beberapa kejadian yang entah sengaja atau tidak diakukan oleh satu orang saja seperti sabotase sepeda motor guru, menamai ulang tugas siswa lain dan sebagainya. Di akhir acara ‘si tersangka’ memohon maaf sambil mencium tangan sang guru yang dulu dikerjainya. Hmmm…cukup mengharukan.
Bu Yuli, KepalaSMA N 1 Wonogiri memberikan sambutan
Tak bisa dipungkiri, mengutip Bu Yuli sang Kepala Sekolah, yang paling seru adalah kisah asmara yang terjalin di sekolah. Meskipun tidak semua mengalaminya tapi bisa dipastikan ada benih-benih ketertarikan lawan jenis terjadi di SMA. Uniknya, di angkatan 91 ada sepasang murid yang menjadi ikon kisah cinta yang sekarang lagi di-booming-kan lagi dengan film sesuai nama mereka, Galih dan Ratna, mengadop dari film dan novel Gita Cinta dari SMA era tahun 70-an. Hanya saja perbedaannya pasangan ini tidak pernah terlibat dalam kisah asmara, malah penuturan Galih dalam sambutannya mewakili alumni, pernah naksirpun tidak. Ah, yang bener…

Galih, yang belakangan kuketahui keturunan Perancis akhirnya menjadi salah satu sahabat baikku hingga sekarang karena kebetulan mengambil kuliah yang sama, profesi yang sama, bahkan istriku dan istrinya juga berteman baik. Sementara Ratna, aku tidak banyak mengenal mantan anggota paskibra ini karena selepas lulus SMA nyaris tak sekali bertemu sebelum reuni kali ini. Secara fisik, bila disandingkan keduanya tak kalah dengan yang membintangi film tersebut.
 
The real Galih dan Ratna
Salah satu guru yang paling fenomenal saat itu yang hadir adalah Pak Soelarno, yang kami tahu beliau tidak suka dengan julukannya, Pak Tlenik. Entah dari mana asalnya setahuku julukan itu diturunkan dari senior kami. Mungkin dari senior dari seniornya lagi tanpa bisa ditelusuri lagi asal muasalnya. Beliau adalah sosok yang unik, misterius, serius dan cukup angker terlebih mata pelajaran yang dibawakannya adalah ‘hantu’ bagi sebagian orang, matematika. Satu hal yang yang lekat dalam ingatan kami adalah kebiasaannya yang secara humanis pada pertemuan pertama dan terakhir beliau tidak memberikan teori ataupun rumus matematika, tapi malah nuturi (memberikan nasehat) kepada murid-muridnya. Yang tidak terbantahkan dari pernyataan beliau adalah ‘Wong pinter kalah karo wong bejo’ (Orang pandai kalah dengan orang yang beruntung). Yes, absolutely true, Sir!. Perjalanan kami yang sudah cukup matang banyak membuktikan petuah Bapak.
The Legendary Pak Larno
Masalah atur mengatur jalan hidup, secara pribadi aku sangat puas dengan kedewasaan berfikir dan bersikap kawan-kawan semua. Maklumlah memang umur kita sudah menjelang setengah abad beberapa tahun lagi. Biasanya dalam setiap reuni pasti ada beberapa orang yang segan berpartisipasi karena masih adanya anggapan bahwa reuni dijadikan ajang pemer kesuksesan yang membuat beberpa kawan yang jalan hidupnya kurang beruntung merasa kurang nyaman. Alhamdulillah itu tidak terjadi baik reuni kelas maupun reuni angkatan. Barangkali karena sudah cukup amazed ketemu kawan lama dengan perubahannya masing-masing, percakapan yang kudengar hanya seputar “masih ingat aku nggak”, “kamu siapa ya”, “anakmu berapa”, atau “sekarang tinggal di mana”. 

Kami bahkan tidak perlu tahu kehidupan rumah tangga gadis yang pernah ditaksir. Atau si culun yang kini menjadi trainer ternama. Semua gembira berbaur tanpa mempedulikan lawan bicaranya itu siapa. Mengutip catatan FB sahabat saya Ade, mungkin ada di antara kami adalah pejabat eselon 2 atau 3 di pemerintahan, atau pengusaha dengan banyak karyawan, ataupun karyawan biasa, ibu rumah tangga, tapi kami lepaskan semua itu dan semua menyatu seperti waktu masih berseragam putih abu-abu. Sehari, kami benar-benar lupa umur ditingkahi canda tawa yang seperti pernah dilakukan 27 tahun sebelumnya. 

Hingga kini lebih seminggu setelah reuni masih banyak yang belum bisa move on dari suasana reuni ditilik dari ramainya 3 grupchat WA yang saya ikuti. Berbagai kisah kenangan masih sering dilontarkan di antara percakapan kondisi terkini yang membuat kami tersenyum kecil mengenang kembali serpihan puzzle dari perjalanan yang telah dilewati. Ada kisah manis dan getir tergambar di situ, sebuah gambar yang tak mungkin lagi dihapus atau dilukis kembali. Serpihan puzzle monokrom yang selayaknya disikapi sebagaimana adanya. Karena itu hanya menjadi bagian dari lukisan bersar kami masing-masing yang penuh warna. 
 

Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu
Kali pertama di hidupku
Manusia lain memelukku
Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu
Kue cokelat balon warna-warni
Pesta hari ulang tahunku
Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak kenangan indah
Kau melukis aku

(Monokrom-Tulus)
Ini memang bukan peserta reuni. Tapi pecel mi pentil yang sempat kinikmati pagi di CFD benar-benar enak dan murah. Sepincuk mi pecel dan dua tempe (gembus dan benguk) dihargai hanya 4 ribu rupiah. Sangat jauh dari harga jualannya Venny Rose yang minggu depan naik.