Senin, 30 April 2018

Cerita Sabtu Sore


Aplikasi google map berwarna merah pekat pertanda kemacetan parah di seputaran stasiun Gambir, tujuan saya sore kemarin untuk mengantar si bungsu jalan-jalan bersama rombongan sekolahnya. Sebetulnya sedari pagi obrolan di beberapa WA group mengabarkan kemacetan sekitar monas yang saya sendiri kurang tertarik menyimak karena toh sudah sangat sering monas digunakan untuk show of force menghimpun massa bertajuk apapun mulai aksi solidaritas sampai pesta-pestaan mengatasnamakan rakyat. 

Hari makin sore mendekati waktu kumpul sementara dari chat si bungsu mengabarkan beberapa temannya terjebak macet. 

“Tugu Tani macet Yah… temenku ngak bergerak sudah sejam” katanya. 

Tak mau bernasib sama, segera saja kuputar otak bagaimana caranya sampai tujuan dengan cepat. Ojek? Bagaimana mungkin kami kan bertiga plus satu kopor. Busway? Selama bus Transjakarta tak bersayap pasti idem tak berdaya. Lagipula mesti naik dari mana... Kereta? Ini paling memungkinkan. Tapi bagaimana caranya, seumur umur kami belum pernah naik Commuter Line (CL). Duluuuu sih pernah sekali naik kendaraan rakyat ini waktu layanan kereta belum bereformasi dan kereta masih bernama... apa ya, saya lupa. Maklum, sudah 20an tahun yang lalu. 

Di kota lain negara tetangga semisal KL atau Singapura saya bisa dengan mudah menemukan cara bagaimana membeli tiket dan informasi tujuan dengan cepat. Tapi ini Jakarta vroh... Dengan niat agar tidak ketinggalan kereta, bismillah mobil saya belokkan ke salah satu gedung dengan tempat parkir yang memadai di depan stasiun Cikini, setelah sebelumnya tidak menemukan tempat parkir di stasiun Manggarai. 
 
"Lompat pagar saja pak, kalau pintu masuknya jauh di sana" sambil menunjuk 100 meter ke arah kiri. kata seorang Bapak berbaik hati melihat kami celingukan mencari pintu masuk.

Ah, bapak.... terima kasih atas petunjuknya. Bapak benar-benar mencerminkan orang Indonesia deh... Dalam hal ini kepedulian dan kendablegannya. Akhirnya dengan jalan sedikit memutar, tanya-tanya petugas bagaimana cara menggunakan kartu (kebetulan kami punya kartu pembayaran elektronik salah satu bank) sampailah kami di peron lantai atas. 

Begitu masuk ke dalam gerbong saya meraskan aroma modern seperti di negara tetangga. Informasi suara berupa stasiun, peringatan untuk berhati-hati dalam dua bahasa. Di dinding kereta terpampang rute stasiun jaringan CL. Hmmm…. Ndeso sekali ya saya. Seingat saya penyatuan beberapa jenis kereta menjdi CL dulu sempat diwarnai protes masyarakat tertutama mengenai besaran tarifnya. Iseng-iseng biar keliatan membaur bertanyalah saya ke penumpang sebelah, eh baru tahu bahwa kereta tidak berhenti di stasiun Gambir. Nah, malah semakin keliatan ndesonya kan? 

Dituntut bertindak cepat, kembali saya buka google map untuk tahu stasiun terdekat dari Gambir. Oke, stasiun Gondangdia yang notabenenya stasiun pertama setelah Cikini. Sampai keluar dari stasiun saya tidak juga tahu berapa tarif yang harus kami bayar untuk perjalanan tadi. Keluar dari stasiun langsung saja naik bajaj biru yang (lagi-lagi) baru pertama kali saya naiki setelah 20an tahun lalu familier dengan bajaj orange 2 tak yang suaranya aduhai itu... 

Dari cerita si abang bajaj yang masih kental logat ngapaknya, ternyata di monas diadakan pesta rakyat yang membuat kemacetan luar biasa dari pagi. Ini pula yang membuat si abang mematok harga lebih tinggi karena dari siang tidak bisa bergerak ke mana-mana. 

"Tigapuluh pak..." 

Ketika saya tanya kenapa enggak ikut pesta rakyat, kan lumayan dapat sembako sambil saya tunjuk beberapa orang berjalan kaki menenteng kardus di antara kemacetan. Kali ini sambal menebak, (tanpa mengurangi rasa hormat) toh rakyat seperti dia yang disasar penggagas acara. 

“Saya nggak mau dibodohi dua kali” ujarnya tanpa memerinci kekecewaan apa yang pernah dia dapatkan.  sayapun malas untuk bertanya menghindari obrolan yang mengarah ke politik.

"Tidak sebanding antara yang didapat dengan perjuangannya pak. Dari pagi sudah pada datang. Antre berjam-jam mana desak-desakan lagi. Bayangkan saja sampai hari gini baru bisa pulang". Di tengah kemacetan, sebagai Ayah yang baik dari dua anak generasi milenial saya memposting video untuk live di Instagram. heheheheee.... Kalah narsis deh kalian wahai anak-anakku.


Selap selip menembus macet, alhamdulillah sampai Gambir 30 menit sebelum rombongan anak masuk ke Stasiun. Turun dari bajaj langsung saja bajaj diperebutkan beberapa emak dan bapak-bapak yang bisa dipastikan peserta pesta rakyat yang tidak mendapatkan tumpangan bis seperti berangkatnya. Naik kendaraan umum juga mustahil karena sopir kesulitan menjangkau tempat itu. Merasa di atas angin, abang bajaj memasang tarif tinggi. 

"Mahal amat?" Protes emak-emak calon penumpang. 

"Lah, kan empok yang habis dapet bingkisan" jawabnya cuek sambil menutup pintu dan meninggalkan calon penumpang. 

"Ah, bingkisan apaan...." setengah menggerutu si empok terpaksa menelan kecewa. Begitu yang sayup saya sambil bergegas masuk stasiun. 

Singkat cerita, setelah sholat Maghrib dan si bungsu telah berkumpul bersama teman-teman dan gurunya, kami harus kembali ke Cikini untuk mengambil mobil. Waktu menunujukkan pkl 19.15 dan kepadatan lalu lintas mulai mencair. Kembali kami harus berebut bajaj dengan calon penumpang lain yang masih mencoba menawar ongkos barangkali mempertimbangkan cost & benefit yg diperoleh dari pesta tadi siang. 

Di perjalanan Gambir-Cikini yang masih padat merayap, abang bajaj yg (lagi-lagi) berlogat ngapak punya banyak cerita tentang apa yang dinamatkan pesta rakyat tadi. Tapi maaf, berhubung kegiatan pesta rakyat ditengarai berhubungan dengan kelompok tertentu dan rentan untuk menjadi debat, saya lebih baik mengungkap apa yang diutarakan si abang bajaj. 

Dalam perjalanan pulang setelah mengambil mobil, saya merenungi pelajaran yang telah didapat sore ini. Bagaimana berinteraksi dengan banyak orang, mempraktikkan ilmu komunikasi yang diperoleh di beberapa pelatihan, hingga mencoba beberapa moda transportasi yang sudah lama sekali saya tinggalkan dan sekaligus memperkenalkannya kepada anak yang menurut pendapatnya sebagai sesuatu yang seru. Terlebih lagi merasakan betapa pentingnya arti pembagian gratis bagi sebagian masyarakat kita meskipun kadang-kadang akhirnya kenyataan tidak sesuai dengan harapan. 

Kalau sudah begini, memang tidak ada satupun nikmat Tuhan yang pantas untuk didustakan.

Senin, 15 Januari 2018

Coba Kau Katakan Padaku


Kegundahanku belakangan ini -kalau boleh jujur- memang bersumber pada kesalahanku sendiri yang terlalu menuruti keinginan tanpa banyak petimbangan. Tapi di sisi hatiku yang lain terselip pembenaran "apa salahnya jika yang diidamkan sejak dulu tiba-tiba ada di depan mata?", toh kesempatan belum tentu datang dua kali. Pasti para motivator manajemen hebat sekelas Mario Teguh, Tung Desem Waringin hingga Naek L. Tobing akan tersenyum puas mendukung keputusanku. Atau kebodohanku. 

Semua berawal beberpa bulan lalu ketika kami, beberapa kawan (sebetulnya telah sangat lama saling mengenal) yang mulai merasa mapan dalam usia dan ekonomi, ingat ya, baru merasa… tiba-tiba makin akrab karena tersatukan oleh kegemaran yang sama. Apa lagi sih kebahagiaan dan kesempurnaan para pria, selain kalau dalam istilah jawa bila sudah memliki 5 hal yang biasa disebut sebagai wanito, wismo, turonggo, kukilo, dan curigo. 
  
Perlu penjelasan? Baiklah… wanita, wisma…. cukup jelas lah ya. Turangga, secara harfiah berarti kuda. Maksudnya pria mesti mempunyai tunggangan yang bisa mengantar ke mana-mana. Tidak harus Honda HRV, nanti malah dikira kasubdit atau kepala kantor. Tapi Honda Scoopy sudah masuk kriteria ini. Kukila, berarti burung. Pria harus punya burung. Bukan maksudnya burung dalam sangkar GT Man atau Rider, tapi burung sebagai kelangenan, hoby, atau sesuatu yang diminati. Jangan pula diartikan Minati Atmanegara, karena secara siklus hidup sudah menjelang expired. Boleh jadi golf, fotografi, koleksi miniatur, atau sepeda sebagai hobi (bukan kategori turangga). Yang terakhir curiga, maknanya keris yang dimaksud yaitu “sesuatu yang bisa diandalkan” mungkin itu berupa cadangan deposito, mertua kaya raya namun sakit-sakitan, keahlian/profesi/jabatan dan sebagainya. 

Kembali ke topik ya… perkenalanku dengannya memang berasal dari teman-teman tadi, dan saya telah kebablasan dengan salah satu efek buruk pengaruh pertemanan. Jujur saja, sosoknya pasti menjadi impian pria bahkan sejak masa akil balig dan sebagai bocah yang normal dibersarkan di era Ali Topan, sejak kecil idaman sayapun ingin memiliki yang seperti dia. Berawal dari melihat fotonya di grup WA, jumpa darat pertama membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun sudah agak berumur tapi posturnya yang ramping tinggi semampai dengan kaki jenjang saya yakin masih mampu membuat pria menatap ngiler. 

Kini secara sah dan meyakinkan dia telah jadi milikku. Dengan selembar surat yang meskipun bukan berupa sepasang buku hijau coklat terbitan Kementerian Agama namun secara hukum agama telah terjadi akad dan penyerahan mahar. Harusnya senang dong sudah bisa memiliki? Iya betul di satu sisi. Tapi di sisi lain bingung bagaimana caranya membawa pulang dan selama belum dibawa pulang dan dititipkan di sautu tempat statusnya hanya akan menjadi simpanan. Belum tentu istri saya setuju kalau saya bawa pulang. Sebagai perempuan pasti alasannya klasik, yang di rumah sudah ada. Bagaimana berbaginya, bisa adil apa tidak, dll. Sempat terbersit sedikit penyesalan mengapa dulu saya tidak minta pertimbangan istri sebelum meminangnya. Tapi mungkinkah…? 

Coba kau katakan padaku, Kawan…. Apa yang seharusnya aku lakukan? 













catatan : gambar di atas hanyalah untuk ilustrasi semata, wujud asli simpanan saya adalah sbb :
 

Kamis, 16 November 2017

Jangan Salahkan Gajah Mada


Derap langkah kuda dengan iringan prajurut gagah berani meninggalkan kepulan debu tipis memecah keheningan sore itu. Mentari yang tengah menuju peraduan di balik laut biru masih menyisakan kehangatan seolah menyambut keberhasilan pasukan Sultan Babullah (1570-1583) setelah mengalahkan pasukan Portugis di Benteng di Kastela (Santo Paolo Pedro) dan mengambil jenazah ayahnya, Sultan Khairun yang dibunuh secara kejam oleh tentara Portugis didalam benteng tersebut. 

Di belakang sana, semburat keemasan puncak Gunung Gamalama menambah suasana syahdu. Lirih iringan tetabuhan terasa makin jelas di telinga saya seiring dengan memudarnya imajinasi derap kaki prajurit nan gagah menjadi lincah gerak kaki bocah kecil seirama dengan hentakan iringan tifa. Sejurus kemudian di depan saya beberapa murid SD menarikan Soya Soya Sisi, tarian tradisonal Maluku Utara yang diadopsi dari tari Soya Soya yaitu suatu tarian yang menggambarkan patriotisme pasukan Sultan Babullah. Dalam perkembangannya di kemudian hari tarian ini menjadi ritual penyambutan tamu kehomatan yang berkunjung ke Kesultanan Ternate. 

Siswa SDN 44 Ternate mempersiapkan tari Soya Soya Sisi, penghormatan bagi tamu
Tapi hari ini, 23 Oktober 2017 kamilah yang menjadi tamu kehormatan itu. Para relawan Kemenkeu Mengajar 2 SDN 44 Kota Ternate yang datang untuk sekedar berbagi inspirasi ke anak negeri. Rasanya sulit dibayangkan bahwa 3 hari sebelumnya saya masih meringkuk menggigil di atas kasur. Kalaulah tidak ingat keseruan acara Kemenkeu Mengajar tahun lalu mungkin saya akan lebih merelakan tiket promo yang dibeli jauh hari hangus ketimbang menempuh perjalanan ribuan kilometer demi bertemu wajah polos dan bening mata anak-anak pewaris negeri di Jazirah Al Mulk bagian timur Indonesia ini. 

"piss...."
 
Mengulang sukses gelaran tahun lalu, masih dalam rangka memperingati Hari Oeang ke 71 Kementerian Keuangan kembali mengadakan acara bertajuk Kementerian Keuangan Mengajar 2, suatu kegiatan non DIPA berupa kegiatan mengajar sehari di SD tentang profesi atau bidang pekerjaan yang ada di kemenkeu. Kegiatan ini bertujuan agar anak-anak paham dan diharapkan dapat terinspirasi terhadap peranan negara dalam pendidikan dan kehidupan mereka. Maksud Non DIPA? Sederhananya kami harus membiayai sendiri segala biaya yang timbul dalam kegiatan tersebut dan instansi hanya memberi dispensasi tidak masuk kerja selama satu hari. Bila tahun lalu hanya dilaksanakan di 5 kota dengan melibatkan 600 relawan, tidak tanggung-tanggung tahun ini diselenggarakan secara serentak di 51 kota/kabupaten, 138 sekolah, 36.614 siswa dan 2.500an relawan. 

Biaya yang harus dikeluarkan relawan itu mulai dari akomodasi (terutama bila memilih luar kota), bahan/materi ajar, hingga perlengkapan lenong yang perlu demi menarik perhatian anak-anak. Ini sangat penting, karena mereka adalah kids jaman now yang tidak bakal bisa diberi penjelasan hanya dengan metode auditorial saja, Bila tidak dilengkapi dengan visual dan kinestetik, siap-siap saja mati gaya menghadapi anak-anak yang super aktif itu. Kemudian masih diperlukan lagi perangkat pendukung lain seperti banner, backdrop, asesoris seperti topi, alat tulis dan sebagainya. Kalau ditanya kok mau-maunya sih keluar biaya sendiri? Ya, justru saya tanya balik mengapa tidak, tidak kurang yang telah kita dapatkan dari pengabdian kita ke negeri ini dan tidak ada salahnya sesekali berbagi untuk berkontribusi bagi kemajuan generasi mendatang. Banyak trik dan tips untuk mendapatkan akomodasi murah yang bisa dicari di internet, bukan?

Waktu seumuran anak ini, saya belum pernah berfoto bersama petugas Bea Cukai lho...
Bila tahun lalu saya memilih kota Denpasar untuk berpartisipasi sebagai relawan pengajar (cerita selengkapnya di sini), tahun ini saya tertantang untuk turut menginspirasi anak usia sekolah di kota Ternate. Bukan kebetulan, beberapa alasan bagi saya mendatangi negeri para raja tersebut. Pertama, siapa yang tidak kenal kejayaan Kesultanan Ternate – Tidore? Asal tidak ngantuk waktu pelajaran IPS waktu SD pasti mengenal kejayaan serta kekayaan alam yang dimilikinya di masa lampau. Kekayaan itu yang membuat bangsa lain ngiler untuk menguasai. Kedua, saya tertarik dengan cerita dua orang sahabat baik yang sering meng-explore Ternate dan Maluku Utara dengan cara mereka masing-masing. Mereka adalah Arif Wibowo (www.arifkancil.com) dan Shiddiq Gandhi, rekan seprofesi yang bertugas di sana. Alasan ketiga, boleh dong sekalian travelling, hehehe....

Di luar dugaan di sini saya banyak bertemu dengan kawan-kawan baru relawan yang satu ide dengan saya. Ada Mbak Yanti dari Jakarta (yang ternyata punya hidden agenda), Teh Efie dari Bandung, Dion dari Kupang, Mbak Ida dari Klaten, ada yang dari Manado, dan satu lagi dari mana saya lupa namanya. Masih wilayah Maluku Utara tapi perlu 10 jam mengarungi laut untuk menuju Ternate. Salut Kawan... Kesimpulan pertama, Maluku Utara saja luas apalagi Indonesia.

Itulah mengapa hari ini saya berada di sini, di depan ratusan murid SD dan disambut bak tamu penting usai upacara bendera yang khidmat. Kusapu pandanganku ke arah anak-anak yang akan menjadi muridku hari ini, mencari dan mengantisipasi adanya sosok Gentho yang menjadi “hantu” seperti di Denpasar tahun lalu. Hmmm....harapan saya tidak ada. Dan itu menjadi pelajaran bagi saya, bahwa bisa jadi satu harapan terpenuhi tapi mungkin muncul masalah lain. Sejauh ini saya telah menarik kesimpulan kedua, berharap atau berdoalah yang lengkap.

Di sebelah kanan saya adalah Pak Musafak, Kepala Bea Cukai Ternate yang mendadak menjadi Inspektur Upacara

“Selamat pagi anak-anak...” sapaku. 

“Selamat pagi Bapak” jawab mereka kompak. Termasuk kompak dalam melafalkan “e” seperti caraku melafalkan ‘setan’. 

Menurut penjelasan MC acara penyambutan seorang pak guru yang saya bahkan lupa menanyakan namanya atau memperhatikan nama di dada kanannya, jangankan dalam percakapan sehari-hari, bahkan cukup sulit mencari MC kelas provinsi sekalipun yang bisa dengan tepat melafalkan huruf ‘e’. Ditambahkan oleh guru kelahiran Manado yang menghabiskan waktu belajarnya di pesantren Gontor, S1 di Malang dan S2 di Solo ini bahwa biasanya tes pertama seorang MC terutama bila ada tamu dari Jakarta adalah simpel, cukup melafalkan huruf itu. Okelah kita sebut saja dia Pak Guru MC. 

Selanjutnya mengalir saja, mereka sangat antusias mengetahui saya datang dari Jakarta. 

“Setinggi apa monas itu Bapak?” tanya salah seorang murid. 

Setengah gelagapan karena tidak tahu persisnya, kujawab diplomatis “Sangat tinggi Nak, kira-kira sepuluh kali batang kelapa. Tapi setinggi apapun Monas, cita-citamu harus lebih tinggi dari itu” 

“Anak-anak, tahukah kalian di mana kekayaan alam terbesar beberapa abad yang lalu tersimpan? Yang membuat bangsa kulit putih berebutan menguasai tanah dan kekayaan berbentuk rempah-rempah itu?” 

Kriik kriik…..mereka diam. 

“Tidak usah kalian mencarinya jauh-jauh. Tanah itu ada di sini, di bawah kalian. Yang setiap hari kalian injak. Berbanggalah…. Kejayaan nusantara berabad-abad lalu berawal dari sini. Tidak ada apa-apa di Jawa, tidak ada apa-apa di Jakarta. Setelah kalian besar, bangunlah tanah kelahiranmu karena kalau bukan akan masuk bangsa lain yang mengincar dan bisa jadi sejarah akan terulang. Kuasai cara becocok tanam, cara menangkap dan bududaya ikan agar kalian dapat mengembalikan kejayaan rempah seperti berabad lalu. Ingat, kejayaan itu yang membuat bangsa Eropa ingin memiliki dan menguasai tanah ini. Contohlah kegigihan Sultan Khairun dan Sultan Babullah…! Panjang lebar saya gambarkan bagaimana kita dimanja dengan limpahan kekayaan alam dari yang Mahakuasa. 

Mereka masih diam, pandangan matanya entah antusias entah tersihir atau apa. Puas sekali rasanya bisa membangkitkan inspirasi mereka, paling tidak harapanku seperti itu. Rasa-rasanya saat itu saya menjadi Bung Karno yang diberi 10 orang pemuda. 

Sesi selanjutnya barulah saya memberikan materi sesuai petunjuk yang diberikan Shiddiq sekalu koordinator kota Ternate untuk Kemenkeu Mengajar 2 sehari sebelumnya, yaitu penanaman nilai-nilai luhur dan nilai-nilai Kementerian Keuangan kepada murid dan motivasi untuk menggapai apapun cita-cita mereka. Seperti tahun lalu, sesi ini suara saya nyaris tenggelam dalam keriuhan celotehan mereka. Kesimpulan ketiga, Denpasar = Ternate.

Satu, dua, tiga..... terbangkan cita-citamu dan ketuklah pintu langit agar tercapai suatu hari nanti
Yang menarik bagi saya ialah saat siang hari saat kegiatan belajar selesai. Murid-murid berkumpul di lapangan upacara untuk menerbangkan cita-cita yang diwakili oleh pesawat kertas buatan masing-masing yang tertulis nama dan cita-citanya. Itu adalah simbol bahwa cita-cita harus setinggi mungkin. Beragam profesi ada di situ, yang bisa dipastikan beberapa jam sebelumnya beberapa di antara mereka belum tahu cita-cita yang sekarang mereka tulis. Pajak, Bea Cukai, Bendahara dan sebagainya. 

Usai itu, pemberian cindera mata dan bunga dari pihak sekolah dan murid-murid. Di sini baru terlihat perbedaan usia dimana relawan muda dan ganteng menjadi pusat perhatian, diajak foto bersama, ditarik-tarik, dimintai tanda tangan, diberi banyak bunga yang sampai akhir acara saya tidak mendapatkan satupun. Bahkan belakangan saya ketahui sudah ada WA group antara relawan dengan murid-murid yang menggunakan profil Putra, pegawai Bea Cukai muda di KPBC Ternate. Kesimpulan keempat, bila Kawan ingin berpartisipasi dalam kegiatan kerelawanan atau minimal ingin mendapat bunga, mulailah sejak muda.
Putra sang idola
Kemeriahan sambutan luar biasa masih berlanjut. Di ruang kantor SD telah tertata rapi dua meja hidangan, satu menu nasional dan satu menu tradisinal. Sebagai omnivora sejati saya dengan lahap menyantap berbagai olahan sayuran dan ikan yang saya tak perlu bertanya apa nama masakannya dan apa nama ikannya. Mungkin kalau tahu lima jenis ikan yang ada di meja, saya akan mendapatkan sebuah sepeda dari Pak Presiden Jokowi. Setelah perut kenyang, tambah lagi kebahagiaan saya ketika rombongan kami didaulat ibu-ibu guru untuk menari bersama mereka mengikuti irama musik. Kata mereka, itu sudah menjadi budaya setempat. Ya, siapa tak kenal tarian Poco poco. Dari sinilah tarian itu yang lamaaa sekali jadi iringan wajib senam di Jakarta sebelum tergusur Maumere. 

Makin muda makin banyak bunga. Paling kiri Bobye, pegawai Bea Cukai Ternate asli Maluku kawan sekantor saya di Tanjung Priok 9 tahun yang lalu. Dia yang paling komunikatif dengan murid-murid. 
“Program pertukaran pelajar itu banyak postifnya lho Pak” sambung Pak Guru MC dalam obrolannya. “Entah mengapa itu seperti tidak ada kelanjutan lagi. Saya bertahun-tahun merantau di Jawa masih kesulitan dalam adaptasi. Tentang kebudayaan kita yang sangat beragam, adat istiadat dan sebagainya” 

“Betul Pak” jawab saya “Negara kita luas sekali, keberagaman harus kita jaga. Saling memahami dan menghormati adalah kuncinya”. Nyambung nggak ya? Pokoknya itulah maksud saya. Jangan sampai Sumpah Palapa Patih Gajah Mada ternoda. Kesimpulan kelima, Patih Gajah Mada turut menyumbang keuntungan maskapai penerbangan nasional karena banyak rekan seprofesi kami terpaksa LDR sehingga bolak balik ke tempat tugas dan homebase akibat wilayah Majapahit cikal bakal Indonesia terlalu luas.

Pak Guru MC melanjutkan “Termasuk dalam hal Bahasa, perlu juga Bapak ketahui bahwa anak-anak di sini dalam berkomunikasi sulit memahami Bahasa Indonesia baku yang diucapkan orang Jakarta” 

Makjlebbb…. Seketika terbayang tatapan mata anak-anak di kelas tadi. Dan di situ kadang saya merasa sedih. (Yang ini tidak usah disimpulkan).






Bonus :

Rabu, 31 Mei 2017

Umrah (A Pilgrim's Journey Eps 7)



Thawaf umroh saat itu bukan tanpa perjuangan dengan sesaknya umat Islam dari seluruh penjuru dunia berniat hal yang sama. Bagaimana nati dengan towaf ifadah? Pasti akan lebih penuh sesak lagi. Baru kali ini saya menyaksikan satu dari keagungan Allah yang mana telah menciptakan berbagai ras manusia di muka bumi, dan semua terkumpul di Masjidil Haram. Walaupun berbeda-beda tetapi hanya satu tujuan mereka, yaitu mencari ridlo Illahi sebagai insan yang bertaqwa. Terasa benar firman Allah 
‘Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’ (QS. 49:13). 
Tidak lama kami telah berbaur dengan ribuan manusia - tua muda, laki-laki perempuan, dari yang gagah tinggi besar sampai yang tua bongkok hingga tubuhnya nyaris 90 derajat - memulai putaran thowaf pada rukun Hajar Aswad. Untuk menandai garis lurus pojok Ka’bah sebagai garis start dan finish sekaligus perhitungan putaran thowaf, di sisi kanan (pada bangunan masjid) terdapat lampu sebagai tanda. Satu putaran baru terselesaikan namun keringat telah membasahi kepala dan seluruh tubuh karena teriknya sinar matahari saat itu meskipun waktu baru menunjukkan pukul 10. Tapi apalah artinya panas jika tak dirasakan dalam hati yang tenggelam dalam kekhusyukan ibadah. 

Singkat cerita 7 putaran telah terselesaikan setelah berjuang sekuat tenaga agar tidak terpisah dari rombongan. Meskipun telah berusaha, namun tubuh kecil orang Indonesia dan sifatnya yang rata-rata suka mengalah tak urung membuat rombongan kami terpencar juga, terdorong kadang menjauhi ka’bah, kadang dekat dengan ka’bah. Jamaah Afrika dan Turki rata-rata paling solid mempertahankan rombongan meskipun harus mengesampingkan adanya jamaah lain. Main dorong saja yang dianggap mengganggu di depannya. Ya sudahlah, mending melakukan thowaf dalam rombongan kecil saja daripada ibadah terganggu konsentrasi agar tidak terlepas dari rombongan besar atau hati dongkol disikut orang berbadan gede. Hitam lagi… 

Selepas thowaf, kami segera mencari tempat belakang Maqam Ibrahim guna melakukan sholat 2 rokaat. Lagi-lagi perlu perjuangan ekstra untuk mencari sekedar sejengkal ruang kosong untuk melakukan sholat. Meskipun sudah menggunakan jurus 'mata elang mencari mangsa' saya mencari tempat, tak urung harus sholat terpisah dari istri juga karena sulitnya mencari tempat untuk sholat bersama. Itupun dengan posisi sujud dagu nyaris menempel dengan dengkul. Mirip orang meringkuk kedinginan. 

Seusai sholat segera saja kami mencari air zamzam disamping itulah yang dicontohkan oleh Nabi saw, tubuh ini rasanya hampir mengalami dehidrasi selepas terpanggang matahari saat thowaf. Setelah memanjatkan doa ‘Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an wa rizqon waasi’an wa syifaa’an min kulli daa’in’ (Ya Allah aku memohon padamu ilmu yang manfaat, rizqi yang luas, obat dari segala penyakit), dinginnya air zamzam terasa nikmat sekali membasahi kerongkongan. Subhanallah, pertama kali minum air zamzam langsung dari sumbernya makin merasakan kedekatan hamba yang hina ini dengan penciptanya. 

Ritual terakhir dari rangkaian umroh adalah sa’i atau berlari lari kecil dari bukit shofa dan bukit marwa sebanyak tujuh kali sebagaimana perjuangan Siti Hajar mencari air untuk Ismail putra tercintanya. Memasuki putaran keempat, jalur sa'i semakin sempit karena jamaah yang akan sholat dzuhur telah menampati mas’a (jalur sa’i). Semakin lama jalur bertambah sempit, ditambah lagi dengan anjuran membaca doa pada waktu baik di shofa maupun marwa sambil menghadap kiblat. Ini sulit dilakukan karena ketika berhenti untuk berdoa pasti ditabrak dari belakang. Minimal didorong. Akhirnya doa dibacakan sambil tetap berjalan saja. Sa’i selesai tepat saat iqomah dikumandangkan. 

Berhubung sudah tidak lagi bisa berjalan karena sesaknya manusia, saya langsung sholat di tempat itu meskipun di depan saya tetap dijadikan lalu lalang orang lain. Bahkan sempat harus sujud di bawah langkah kaki yang berwarna hitam. Buka karena jarang dicuci tapi memang karena begitu sejak beliau sang empunya kaki dilahirkan. Sebetulnya mas’a ini walaupun menempel tatapi dianggap terpisah dari Masjidil Haram dan bukan bagian dari masjid. Oleh karenanya perempuan yang sedang berhalangan tetap diperkenankan melakukan sa’i. 

Keinginan saya untuk khusyuk dalam ibadah cukup berhasil merubah sikap yang semula sulit untuk mengalah menjadi penuh tepo seliro terhadap orang lain. Sikap ini juga yang membuat saya dan istri terpisah dari rombongan. Usai sholat Dzuhur kami berdua segera menuju meeting point favorit, di depan Zamzam tower. Lautan putih sempat membuat kebingungan mencari di mana rombongan kami. Alhamdulillah syal warna pink yang sebelumnya sempat saya keluhkan karena warnanya kurang maskulin (lagipula Februari masih 3 bulan lagi) cukup memandu rombongan untuk berkumpul kembali. Pengalaman Ikbal sebagai penyelenggara memilih warna itu ternyata karena warna-warna yang lain –merah, biru, hijau, kuning, dan sebaginya- sudah terlalu banyak digunakan oleh rombongan lain. 

Bagian yang paling disukai ibu-ibu : belanja
Saat menunggu bis datang, karena di sekitar Masjidil Haram banyak sekali toko-toko penjual souvenir beberapa ibu-ibu tidak tahan untuk tidak sekedar window shopping atau sekedar bertanya harga-harga souvenir yang sebetulnya telah dibelinya di pasar tanah abang. Mungkin hanya sekedar membandingkan harga saja. Menjelang waktu Ashar telah sampai di penginapan untuk (benar-benar) beristirahat.

Jumat, 28 April 2017

Roti Sisir


Mungkin penamaan makanan ini agak sensitif dan membuat baper bagi sebagian orang, termasuk saya. Lha bagaimana tidak kalo setangkup roti saja kok dinamakan benda yang sudah bertahun lamanya tidak saya butuhkan. Apa ya ndak ada nama lain? Roti stapler misalnya, atau roti sikat gigi, roti jam wekker, roti bunga tulip Babah Liong, roti payung teduh atau apalah wong bentuknya juga begitu-begitu saja sebagaimana layaknya roti. Masih mending kalau bentuknya menyerupai pisang yang dalam satuannya ada yang disebut sisir. Ah sudahlah apa arti sebuah nama, yang penting rasanya Bung! 

Bagi generasi sekarang mungkin tidak banyak lagi yang mengenal roti ini karena sekarang banyak ragam jenis roti dan makanan tercipta dari berbagai merk. Tapi bagi generasi (agak) jadul roti ini memiliki kenangan tersendiri. Saya tidak tahu persis kapan mulai ada, yang jelas tahun 80an saat SD saya gemar sekali makanan ini. Berbentuk agak menyerupai setengah lingkaran dan biasanya berlapis dua atau tiga berlapis gula dan mentega yang lezat, lidah saya tidak lupa rasanya sampai saat ini. Bisa jadi jaman dulu belum banyak ragam roti atau memang beliau juga suka, yang jelas Ibu saya sering membawakan oleh-oleh roti sisir dibanding Bapak yang membawakan roti semir yang tak kalah lezatnya. Silakan dibayangkan sendiri seperti apa bentuk roti semir. Saya malas membahasnya. 

Seperti Kamis malam minggu lalu di minimarket kawasan parkir bandara Adi Sucipto Yogyakarta, kenangan masa kecil roti sisir menuntun tangan saya untuk mengambil sebungkus roti sisir disamping sebotol air mineral untuk menemani perjalanan Yogya – Solo dengan mobil sewaan. Sedikit lega setelah landing di kota ini saya baru tersadar perut minta diisi setelah berjam-jam dalam kondisi panik dan tidak menentu melupakan makan siang. Pagi sebelumnya, agak kaget juga menerima kabar dari kakak perempuan saya bahwa Bapak disarankan untuk operasi hernia. Whaat? Sejak kapan Bapak menderita sakit, wong baru 2 minggu sebelumnya beliau pulang dari Jakarta dan selama tiga minggu di rumah tetap saja tidak bisa diam mengerjakan ini dan itu padahal saya hanya minta untuk mengawasi tukang cat di rumah. 

Memang begitulah Bapak, di usianya yang 72 tahun kondisi fisiknya sangat prima. Tidak pernah mau berhenti mengerjakan sesuatu yang bahkan yang menurut kami, anak-anaknya, sudah tidak seharusnya dilakukan oleh orang seusianya. Saya paling ngeri melihat beliau naik tangga sekedar membetulkan atau membersihkan sesuatu yang tinggi. 
Hari itu juga saya memonitor terus perkembangan dan siangnya bertambah kaget waktu Ibu sms (padahal biasanya komunikasi lewat WA) bahwa Bapak akan dioperasi sore itu juga. Setahu saya hanya kondisi luar biasa yang mengharuskan demikian, seperti keputusan untuk mengoperasi sesar istri saya hampir 17 tahun lalu saat air ketuban terlanjur habis. Satu hal yang sedikit melegakan adalah suara Bapak di ujung telefon yang suaranya sama sekali tidak terlihat sebagai orang sakit. 

Siang itu juga langsung saya putuskan untuk pulang ke Solo dengan hanya memberi tahu kakak-kakak karena saya tahu persis Ibu akan melarang kalua saya beri tahu. Sambil menyelesaikan pekerjaan saya intip tiket ke Solo via online. Setengah tidak percaya melihat angka 7 digit di layar gawai, tambah syok mendengar jawaban agen travel langganan saya 15 menit berikutnya yang mengabarkan habis untuk semua tujuan Solo, Semarang dan Yogya bahkan transit Surabaya atau Denpasar telah ludes. Ada apa ini? Sementara long week end masih dua hari lagi. Tapi apapun yang terjadi saya tetap mengarahkan setir pulang ke rumah dan dengan sedikit persiapan segera menuju bandara dengan taksi. Sebelumnya saya telah minta bantuan teman-teman protokoler bandara untuk mengusahakan tiket ke Solo, Yogya atau Semarang. Alhamdulillah dalam perjalanan saya menerima infomasi tiket ke Yogya berhasil didapat dan akan boarding 45 menit lagi. Thanks sobat… 

Kamis malam pukul 22.00 sambil mengucap salam perlahan kubuka kamar VVIP 6 RS Kustati Solo. Ibuku tampak kaget melihat kedatanganku, sementara Bapak tak kalah kagetnya mencoba untuk bangun menyambut kedatanganku, lupa bahwa pengaruh bius masih membuat tubuh bagian bawah tidak mapu digerakkan. Tapi dari situ saya sudah cukup lega melihat langsung kondisi beliau yang bugar meskipun sebelumnya kakak sudah memberitahu bahwa sesaat setelah operasipun beliau tetap mampu aktif berkomunikasi. 

Setelah sedikit berbasa basi menanyakan kabar akhirnya saya tahu alasan operasi yang mendadak sore tadi. Memang sebetulnya penyakit hernia yang diderita Bapak belum pada tahap yang mengkhawatirkan, malah sebetulnya dokter menawarkan apabila masih akan berikhtiar penyembuhan non operasi. Tapi pertimbangan Ibu dan kakak-kakak agar sekalian tuntas dioperasi saja dan kebetulan kondisi hari itu semuanya telah memenuhi syarat untuk operasi. Dokter ada, ruang rawat tersedia, kondisi kesehatan Bapak yang Alhamdulillah selalu prima (tekanan darah, gula darah dsb dalam kondisi normal) dan hari itu seperti biasa Bapak menjalankan puasa sunnah. 

Sekali lagi terasa lega, baru terasa perut mulai lapar. Sambil tetap ngobrol dengan Bapak dan Ibu segera kurogoh backpack mengambil sisa roti sisir yang tadi dibeli di bandara. Kali ini terasa lebih lezat daripada yang telah saya makan di perjalanan tadi. Lembut, gurih, manis tercecap di lidah meski dinikmati di rumah sakit. Rasanya persis 36 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1980 waktu saya kelas 2 SD harus dirawat di rumah sakit lantaran demam berdarah, roti sisirlah satu satunya makanan yang masuk ke perut kecil saya waktu itu.